
Elsubha.com – Perbuatan Allah; Kitab ‘Anqa’ Mughrib fi Khatam al-Auliya wa Syams-ul Maghrib wa Nuktah Sirr Al-Syifa’ fi al-Qarn al-Lahiq bi Qarn al-Mushthafa
Perbuatan Allah (Af’al) bagaikan gelombang yang menghempas karang pantai, lalu menyusut. la meninggalkan permata dan cangkang mutiara. Sebagian orang ada yang tidak peduli, sebagian lagi ada yang berebutan.
Mengingat bintang-bintang yang berotasi di langit dan yang menyerupai sebagian nama-nama dari sisi isyarat, yaitu sisi peraturan-peraturannya, terbagi ke dalam beberapa macam:
Pertama, hal-hal yang bertujuan meniadakan sifat-sifat ketidaksempurnaan dan keserupaan (tasybih) Allah SWT dengan makhluk-Nya. Di kehidupan duniawi, inilah bagian kita dalam konteks pengetahuan tentang Dzat Allah.
Kedua, hal-hal yang menjadi syarat wajib bagi ketuhanan (uluhiyah).
Ketiga, sesuatu yang seandainya boleh eksis pada esensi, maka esensi tersebut tidak akan berkurang sekalipun sesuatu tersebut menghilang.
Keempat, sesuatu yang menghubungkan penciptaan materi di alam semesta ini. Yang demikian adalah bentuk nyata dari perbuatan-perbuatan Allah (Af’al).
Berpijak pada empat barometer di atas, untuk konteks asma-asma Allah, kami katakan bahwa asma-asama Allah semisal: al-Quddus (Mahasuci), al-Aziz (Mahaagung), al-Ghani (Mahakaya), adalah sifat-sifat keagungan Allah.
Kami katakan bahwa asma-asma Allah semisal: al-‘Alim (Maha Mengetahui), al-Sami” (Maha Mendengar), al-Bashir (Maha Melihat), adalah sifat-sifat kesempurnaan Allah.
Kata katakan bahwa asma-asma Allah semisal: al-Khaliq (Maha Menciptakan), al-Bari (Maha Membuat), al-Mushawwir (Maha Membentuk), adalah sifat-sifat perbuatan Allah.
Segala puji bagi Allah, semua sifat-sifat itu kita sebagai manusia biasa memiliki kaki untuk melangkah menuju sifat-sifat itu, kita mengetahui jalannya yang pernah ditempuh oleh umat manusia terdahulu. Ini adalah bab untuk membahas sifat-sifat perbuatan Allah. Ini adalah bab yang panjang dan mendalam, penuh keutamaan dan kenikmatan, serta pemberian dari Allah.
Pertama-tama Allah SWT membuat susunan kewajiban-kewajiban, akan tetapi peraturan-peraturan wajib tersebut tidak berlaku untuk Allah, tidak memaksa kepada Allah. Sebaliknya, Allah bebas memilih antara ada (wujud) dan tiada (‘adam). Allah pun memilih salah satu dari dua pilihan itu dengan alasan tertentu dan untuk kebahagiaan hamba-Nya. Selanjutnya kekuasaan Allah berkaitan erat dengan kita, antara ada dan tiada, tidak di antara dua-duanya. Sehingga yang tampak nyata dalam pandangan kasat mata adalah keterkaitan kuasa Allah (al-qudrah) itu, dan bukannya cara (kaifiyat) kuasa itu bekerja. Karena kaifiyat di sini tidak berkaitan dengan benda-benda yang ada (maujud), juga tidak berkaitan dengan ketiadaan (mafqud).
Persoalan ini bagaikan samudra yang tak berdasar. Kita pasrahkan saja kepada Tuhan yang Mahadahulu. Saya dalam hal ini tidak boleh menjadi hakim yang menjustis. Hal itu karena seandainya kita tahu hakikat kekuasaan Allah yang azali dan esensi kekuasaan itu di alam semesta, niscaya kita akan tahu bagaimana kekuasaan itu bisa muncul, kapan berhubungan. Sementara dalam kitab ini kita tidak bisa menganalogikan hal-hal yang gaib dengan hal-hal yang kasat mata. Karena kita tidak bisa sepakat dalam satu persoalan yang sama. Begitu juga karena kekuasaan yang dimiliki manusia tidak mempunyai berhubungan dengan penciptaan awal alam semesta. Penciptaan alam semesta ini adalah sebab alamiah bagi pandagan mata sekaligus tabir penghalang pandangan yang diciptakan Allah sejak awal penciptaan.
Tujuannya agar Allah dapat menyesatkan orang yang dikehendaki-Nya sekaligus memberi hidayah mereka yang dikehendaki-Nya pula. Terkadang, perbuatan adalah objek yang dikerjaan itu sendiri karena adanya keserupaan dan kemiripan. Seperti firman Allah:
هٰذَا خَلْقُ اللّٰهِ فَاَ رُوْنِيْ مَا ذَا خَلَقَ الَّذِيْنَ مِنْ دُوْنِهٖ ۗ بَلِ الظّٰلِمُوْنَ فِيْ ضَلٰلٍ مُّبِيْنٍ
haazaa kholqullohi fa aruunii maazaa kholaqollaziina ming duunih, balizh-zhoolimuuna fii dholaalim mubiin
“Inilah ciptaan Allah, maka perlihatkanlah olehmu kepadaku apa yang telah diciptakan oleh (sesembahanmu) selain Allah. Sebenarnya orang-orang yang zalim itu berada di dalam kesesatan yang nyata.”
(QS. Luqman 31: Ayat 11)
Yang dimaksud inilah ciptaan Allah adalah makhluk Allah.
Terkadang, perbuatan adalah sebuah ungkapan yang menunjuk pada suatu kondisi ketika sang subjek (pelaku) berhubungan erat dengan objek, cara bagaimana kekuasaan azali Allah berhubungan dengan proses penciptaan yang kerap membuat akal dan indra kebingungan memikirkannya. Setiap orang yang hendak memahaminya selalu saja berujung pada kesia-siaan dan kegagalan. Seperti firman Allah:
مَاۤ اَشْهَدْتُّهُمْ خَلْقَ السَّمٰوٰتِ وَا لْاَ رْضِ وَلَا خَلْقَ اَنْفُسِهِمْ ۖ وَمَا كُنْتُ مُتَّخِذَ الْمُضِلِّيْنَ عَضُدًا
maaa asy-hattuhum kholqos-samaawaati wal-ardhi wa laa kholqo angfusihim wa maa kungtu muttakhizal-mudhilliina ‘adhudaa
“Aku tidak menghadirkan mereka (Iblis dan anak cucunya) untuk menyaksikan penciptaan langit dan bumi dan tidak (pula) penciptaan diri mereka sendiri; dan Aku tidak menjadikan orang yang menyesatkan itu sebagai penolong.”
(QS. Al-Kahf 18: Ayat 51)
Allah juga menyinggung tentang diri manusia, dan Allah memuliakan mereka. Seperti firman-Nya:
وَاِ ذْ قَا لَ اِبْرٰهٖمُ رَبِّ اَرِنِيْ كَيْفَ تُحْيِ الْمَوْتٰى ۗ قَا لَ اَوَلَمْ تُؤْمِنْ ۗ قَا لَ بَلٰى وَلٰـكِنْ لِّيَطْمَئِنَّ قَلْبِيْ ۗ قَا لَ فَخُذْ اَرْبَعَةً مِّنَ الطَّيْرِ فَصُرْهُنَّ اِلَيْكَ ثُمَّ اجْعَلْ عَلٰى كُلِّ جَبَلٍ مِّنْهُنَّ جُزْءًا ثُمَّ ادْعُهُنَّ يَأْتِيْنَكَ سَعْيًا ۗ وَا عْلَمْ اَنَّ اللّٰهَ عَزِيْزٌ حَكِيْمٌ
wa iz qoola ibroohiimu robbi arinii kaifa tuhyil-mautaa, qoola a wa lam tu-min, qoola balaa wa laakil liyathma-inna qolbii, qoola fakhuz arba’atam minath-thoiri fa shur-hunna ilaika summaj’al ‘alaa kulli jabalim min-hunna juz-ang summad’uhunna ya-tiinaka sa’yaa, wa’lam annalloha ‘aziizun hakiim
“Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata, “Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang mati.” Allah berfirman, “Belum percayakah engkau?” Dia (Ibrahim) menjawab, “Aku percaya, tetapi agar hatiku tenang (mantap).” Dia (Allah) berfirman, “Kalau begitu, ambillah empat ekor burung, lalu cincanglah olehmu, kemudian letakkan di atas masing-masing bukit satu bagian, kemudian panggillah mereka, niscaya mereka datang kepadamu dengan segera.” Ketahuilah bahwa Allah Maha Perkasa, Maha Bijaksana.”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 260)
Allah SWT menampakkan bekas-bekas yang menunjukkan adanya kekuasaan Nya kepada Ibrahim a.s, bukan hubungan kekuasaan itu sendiri. Dari sanalah Ibrahim as dapat mengetahui dengan pasti bagaimana cara kerja penciptaan makhluk, bagaimana pula proses bersambungnya potongan-potongan tubuh burung itu sehingga kembali menjadi tubuh-tubuh yang utuh seperti semula. Akan tetapi, Ibrahim a.s tidak melihat hubungan (ta’alluq) dan penampakan (tahaqquq) kekuasaan (qudrat) Allah SWT itu dengan kasat mara.
Allah Yang Maha Mengetahui dan Mahateliti berfirman kepada Ibrahim a.s:
“Ketahuilah bahwa Allah Maha Perkasa, Maha Bijaksana.” (QS al-Baqarah: 260)
Firman itu diucapkan karena Ibrahim as telah telah melihat langsung bentuk utuh burung-burung itu, lalu dipecah-pecah ke dalam banyak potongan. Peristiwa ini sama halnya ketika Nabi Isa a.s meniupkan roh (nyawa) ke dalam gumpalan tanah, lalu ia menjelma seorang burung yang bisa terbang. Nabi Isa a.s mampu membuat burung itu dengan indah dan bagus. Mukjizat peniupan roh itu adalah tabir pengahalang. Hubungan (ta’alluq) kekuasaan itu sendiri tidak tampak kasat mata. Untuk itulah, setiap kali Allah SWT berkehendak melakukan apapun, Allah hanya butuh berfirman “Jadilah!, maka itu pun terjadi.” Kemampuan seperti ini hanya milik Allah, Dia satu-satunya yang mampu mengetahui rahasia-rahasia penciptaan. Perbedaan-perbedaan yang terdapat di dalam makhluk ciptaan Nya adalah takdir dan perintah Allah. Karenanya, manusia adalah makhluk religius yang mengandung unsur-unsur rabbani, karena setiap yang dikehendaki Allah berasal dan bersumber dariNya. Sedangkan selain manusia bukan makhluk religius, karena tidak adanya unsur-unsur rabbani tersebut, tidak memilikinya. Sekalipun dalam konteks penciptaan, mereka sama dengan manusia. Mahasuci Tuhan yang telah memberikan keistimewaan khusus dalam proses penciptaan manusia. Engkau menyebut Tuhan itu dengan sebutan Yang Maha Esa dan Mahabenar, tidak ada Tuhan selain Dia yang Mahaagung dan Bijaksana.
