
Elsubha.com – Mutiara Falak; Kitab ‘Anqa’ Mughrib fi Khatam al-Auliya wa Syams-ul Maghrib wa Nuktah Sirr Al-Syifa’ fi al-Qarn al-Lahiq bi Qarn al-Mushthafa
Falak adalah jiwa-jiwa langit. Lintasan yang berjumlah tujuh dan bintang-bintang diciptakan darinya. Setelah penciptaan Kursi rampung dan di sekelilingnya penuh oleh isi, ia beralih pada cahaya rujuh tanda. Dari cahaya tujuh tanda itu muncul tujuh lintasan yang saling berdempetan. Tujuh lintasan itu hendak dijadikan sebagai atap bagi sebuah hamparan yang akan tercipta belakangan setelah adanya perintah bagi penciptaannya.
Perintah itu akan berbunyi:
بَدِيْعُ السَّمٰوٰتِ وَا لْاَ رْضِ ۗ وَ اِذَا قَضٰۤى اَمْرًا فَاِ نَّمَا يَقُوْلُ لَهٗ كُنْ فَيَكُوْنُ
badii’us-samaawaati wal-ardh, wa izaa qodhooo amrong fa innamaa yaquulu lahuu kung fa yakuun
“(Allah) Pencipta langit dan bumi. Apabila Dia hendak menetapkan sesuatu, Dia hanya berkata kepadanya, “Jadilah!” Maka jadilah sesuatu itu.”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 117)
Dan bintang-bintang adalah ujung cahaya-cahaya yang ada dalam kekosongan sempurna. Ia memancar terang dan menyebar ke segala arah. Falak-falak tercipta dan mulai berputar. Ujung-ujung cahaya itu utuh seperti semula, bersinar terang di tempatnya.
Falak adalah bersambungnya sinar cahaya Muhammad dan magam-magamnya. Bintang-bintang yang besar maupun yang kecil datang kembali karena bersentuhan dengan dzat Muhammad yang mulia; bersentuhan dengan mata air Muhammad yang jernih mengalir. Sedangkan alasan perputaran falak-falak universal itu, yakni yang menjadi sifat bagi benda-benda tengah dan gerakannya, adalah tuntutan persyaratan dari sebuah ikatan janji.
Bintang-bintang al-Manazil diperuntukkan secara khusus bagi Kursi yang mulia, karena kedudukannya sebagai wahana dimana segala kebijaksanaan diterangkan. Sadarlah, hai pelupa. Renungkanlah, hai orang yang berakal, tentang rahasia penting ini; kitab tersembunyi ini, yang hanya boleh disentuh orang-orang suci.
Setalah falak-falak ini berputar dengan membentuk lingkaran elips, dan di dalam lingkaran itu terdapat benda-benda dunia falak: dan juga setelah rampungnya penciptaan kehidupan dunia atas, yang terus berjalan sembari mencari pengaruh namun tidak pernah berhasil, maka falak-falak itu berpulang menuju tabir Tuhan Yang Maha Esa dalam keadaan sangat membutuhkan-Nya. Falak-falak itu bersimpuh dengan raca cinta yang membara, mencari kerajaan-Nya. Malaikat-malaikat di langit berteriak keras. Saat itulah tidak ada rahasia nama-nama yang tertinggal, karena telah muncul bumi, air, api, dan udara.
