
Elsubha.com – Mutiara Penciptaan Unsur-Unsur Pertama dari Cahaya Muhammad SAW; Kitab ‘Anqa’ Mughrib fi Khatam al-Auliya wa Syams-ul Maghrib wa Nuktah Sirr Al-Syifa’ fi al-Qarn al-Lahiq bi Qarn al-Mushthafa
Muhammad SAW menatap dirinya sendiri dengan sorot yang tajam, karena Allah SWT menjadikan dirinya sebagai tempat bagi penghitungan. Kemudian Muhammad menatap apa saja yang ada dalam dirinya, ia pun menemukan keberisian yang paling tinggi dan yang paling rendah. Sementara dunia tengah dan yang paling jauh tidak ditemukannya. Muhammad pun berpikir untuk mengadakan bahan dasar alam semesta yang paling rendah, cahaya yang paling jauh. Karena adalah sebuah keniscayaan, setiap yang tinggi memiliki lawannya, yakni rendah; dan setiap yang baik memiliki lawannya pula, yakni buruk.
Ketika sedang menatap seperti itu, Muhammad mendapat pelimpahan cahaya dari Allah SWT, dan dari balik pikirannya itu tercurahlah keagungan dan kemuliaan, agar cahaya-cahaya yang tersisa dalam kegaiban segera keluar memancar.
Ketika persoalan ini semakin menguat, tekanan semakin dahsyat, keadilan dan perintah mulai tampak padanya, maka meneteslah kesukaran dari diri Muhammad. Tetesan itu berupa air. Kemudian ia sedikit bernapas. Tarikan napasnya itu adalah udara. Selanjutnya Muhammad menempatkan tetesan air itu di suatu tempat yang rahasia, yang menyimpan kebahagian dan penuh keadilan, dalam keadaan berdiri sejajar dengan dirinya. Air itu mendidih dan berkilat-kilat. Kilatan cahayanya itu adalah api.
Kemudian timbangan keadilan menutupi api itu dengan tabir keagungan sehingga bertemu dengan dinginnya kasih sayang. Api itu pun segera mengering. Sifat kering dan dingin itulah yang menjelma menjadi tanah di bumi yang kokoh.
Allah SWT memanggil dari arah depan, “Wahai Muhammad! Ini semua adalah bahan dasar alam semesta. Semuanya dipasrahkan padamu. Campurlah satu sama lain. Darinya akan tercipta angkasa dan bumi. Dan yang mewakili dari kesemuanya itu adalah manusia.
Inilah maksud yang pernah diisyaratkan oleh orang-orang yang arifbillah. Mereka berkata, “Kemungkinannya, tidak ada yang lebih indah dari penciptaan alam ini. Di sini terdapat perbedaan sekaligus kesamaan. Bentuk dan gambar tampak jelas. Setiap ciptaan, dibanding dengan penciptaan manusia, lebih gampang. Dan setelah kedatangan manusia, setiap ciptaan akan kembali kepadanya. Engkau akan memahami firman Allah SWT:
لَقَدْ خَلَقْنَا الْاِ نْسَا نَ فِيْۤ اَحْسَنِ تَقْوِيْمٍ
laqod kholaqnal-ingsaana fiii ahsani taqwiim
“Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya,”
(QS. At-Tin 95: Ayat 4)
ثُمَّ رَدَدْنٰهُ اَسْفَلَ سَا فِلِيْنَ
summa rodadnaahu asfala saafiliin
“kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya,”
(QS. At-Tin 95: Ayat 5)
Yaitu bahan dasar penciptaannya; tanah.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
اِلَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ فَلَهُمْ اَجْرٌ غَيْرُ مَمْنُوْنٍ
illallaziina aamanuu wa ‘amilush-shoolihaati fa lahum ajrun ghoiru mamnuun
“kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan; maka mereka akan mendapat pahala yang tidak ada putus-putusnya.”
(QS. At-Tin 95: Ayat 6)
Sehingga mereka tahu dari mana asal mereka datang dan kesesatan lenyap darinya. Kemudian Allah berfirman:
فَلَهُمْ اَجْرٌ غَيْرُ مَمْنُوْنٍ
fa lahum ajrun ghoiru mamnuun
“maka mereka akan mendapat pahala yang tidak ada putus-putusnya.”
(QS. At-Tin 95: Ayat 6)
Dengan cara menyaksikan kekuasaan.
فَمَا يُكَذِّبُكَ بَعْدُ بِا لدِّيْنِ
fa maa yukazzibuka ba’du bid-diin
“Maka apa yang menyebabkan (mereka) mendustakanmu (tentang) hari Pembalasan setelah (adanya keterangan-keterangan) itu?”
(QS. At-Tin 95: Ayat 7)
Yaitu, ketika kebenaran yang pasti disingkapkan baginya.
اَلَيْسَ اللّٰهُ بِاَ حْكَمِ الْحٰكِمِيْنَ
a laisallohu bi-ahkamil-haakimiin
“Bukankah Allah hakim yang paling adil?”
(QS. At-Tin 95: Ayat 8)
Di antara orang-orang ahlul barzakh yang saling bertentangan pendapat, dan di antara orang-orang golongan kanan dan golongan kiri.
Jagalah baik-baik mutiara-mutiara ini. Simpanlah dan sembun yikan.!
