
Elsubha.com – Mutiara tentang Cara Menghadapi Orang yang Memburu Binatang dengan Gunting; Kitab ‘Anqa’ Mughrib fi Khatam al-Auliya wa Syams-ul Maghrib wa Nuktah Sirr Al-Syifa’ fi al-Qarn al-Lahiq bi Qarn al-Mushthafa
Setelah kita tahu bahwa penciptaan Muhammad dengan kedudukannya yang mulia itu, sebagai asal muasal dari segala penciptaan makhluk seluruhnya, dan ia layak mendapatkan pujian yang tak layak bagi selain dirinya, begitu pula Allah SWT menjadikan sifat manfaat sekaligus mudharat yang ada pada Muhammad sebagai perwujudan dari keadilan Allah, keutamaan, pengumpul sekaligus pemisah, dan Allah ingin menyempurnakan penghormatan kepada Muhammad secara meteriil sebagaimana telah menyempurnakannya secara spirituil.
Maka Allah SWT menciptakan Muhammad di dunia materiil dengan tubuh fisik yang manusiawi, setelah berakhirnya suatu perputaran dimana perjalanan akhirnya bersatu dengan perjalanan pertamanya, dan di tengah-tengahnya terdapat hal-hal penyempurna. Allah SWT memberi nama tubuh fisik yang mulia dan tampak secara kasat mata itu dengan sebutan Muhammad, menjadikannya pemimpin bagi seluruh umat manusia, tuan bagi sekalian alam, dan dengan lidah fisiknya itu Muhammad bersabda:
أَنَا سَيِّدُ وَلَدِ آدَمَ وَلَا فَخْرَ
“Aku adalah tuan bagi seluruh keturunan Adam, namun tidak perlu disombongkan.”
la turun menemui manusia sebagai seorang guru, lalu merasa butuh. Ia berulang-ulang mempertegas kepada mereka, dan berpikir keras. la berkata:
قُلْ اِنَّمَاۤ اَنَاۡ بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ يُوْحٰۤى اِلَيَّ اَنَّمَاۤ اِلٰهُكُمْ اِلٰـهٌ وَّا حِدٌ ۚ فَمَنْ كَا نَ يَرْجُوْا لِقَآءَ رَبِّهٖ فَلْيَـعْمَلْ عَمَلًا صَا لِحًـاوَّلَايُشْرِكْ بِعِبَا دَةِ رَبِّهٖۤ اَحَدًا
qul innamaaa ana basyarum mislukum yuuhaaa ilayya annamaaa ilaahukum ilaahuw waahid, fa mang kaana yarjuu liqooo-a robbihii falya’mal ‘amalang shoolihaw wa laa yusyrik bi’ibaadati robbihiii ahadaa
“Katakanlah (Muhammad), “Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang telah menerima wahyu, bahwa sesungguhnya Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa.” Maka barang siapa mengharap pertemuan dengan Tuhannya, maka hendaklah dia mengerjakan kebajikan dan janganlah dia menyekutukan dengan sesuatu pun dalam beribadah kepada Tuhannya.”
(QS. Al-Kahf 18: Ayat 110)
Hal itu dikarenakan kita semua memang menyerupai beliau, dan beliau adalah perumpaan atau percontohan bagi kita. Satu sisi beliau sangatlah suci, di sisi lain beliau satu jenis dengan kita. Beliau datang lebih dulu, dan kita menyusulnya. Beliau orang yang jujur, dan kita orang yang membenarkannya.
Setelah kita juga tahu bahwa bentuk fisik beliau adalah penutup bagi maqam kenabian, tidak ada lagi bentuk penciptaan lain, sebagaimana beliau adalah permulaan bagi keberadaan alam semesta, bagi tampaknya benda-benda, maka putaran falak beliau adalah putaran falak seorang raja, dan putaran yang paling awal adalah putaran falaknya raja. Boleh jadi engkau bertanya: bagaimana bisa terjadi seorang raja mendahului kerajaan? Sementara kerajaan masih hancur dan belum ada? Lantas kepada siapa kerajaan itu disandarkan? Siapa pula yang mengurusi segala urusannya?
Nah, inilah saya yang akan menjelaskan alasannya, menunjukkan jalan, dan memberitahu kamu tentang peranan dan kesesuaian hakikat-hakikat.
