
Elsubha.com – Biji Mutiara Pertama; Kitab ‘Anqa’ Mughrib fi Khatam al-Auliya wa Syams-ul Maghrib wa Nuktah Sirr Al-Syifa’ fi al-Qarn al-Lahiq bi Qarn al-Mushthafa
Tugas manusia adalah melepaskan diri dari hakikatnya yang tunggal itu, dengan cara menyaksikan hakikat Tuhan yang menciptakannya. Sehingga ketika cahaya matahari-Nya mengenai dirinya itu, di tempat-Nya yang suci, maka ia segera fana dari dirinya sendiri. Dengan demikian Muhammad memiliki pengetahuan universal, dan hukum-hukumnya terus berpengaruh. Orang yang memiliki maqam ini tidak pernah menyerah menjawab segala macam pertanyaan yang datang padanya. Bagaimana mungkin, orang yang memiliki pengetahuan universal tidak bisa menjawab pertanyaan?!
Proses memperoleh pengetahuan yang demikian ketika ada orang yang bertanya padanya (Muhammad) adalah satu hal yang membedakan dirinya dari Dzat Yang Mahatinggi. Ini sama halnya dengan perbedaan yang ada antara dirinya dan Dzat Yang Mahatahu tentang kemuliaan dan kehinaan; Dzat yang tak terbatas dan tidak pernah lemah. Terkadang Muhammad bertanya dan melihat dirinya sendiri, lalu dia mengetahui tentang apa yang ada di waktu siang maupun malam, dia tahu apa yang bergerak di alam semesta. Ini adalah kemampuan yang dimiliki oleh orang yang sudah memperoleh penyingkapan agung; maqam yang mulia nan indah.
Janganlah engkau menipu dirimu sendiri. Jangan biarkan awan menutupi mataharimu, kecuali orang yang memintamu menurunkan hujan padanya adalah orang yang tanah kebunnya subur. Karena dikhawatirkan dia akan meninggalkan kewajiban-kewajiban fardhu; lalu sebagian hidupnya akan binasa. Jauhkanlah orang semacam itu dari awan mendungmu, sampai dia betul-betul mau menjadi sahabatmu. Lalu dia tahu bahwa semua yang dia cari selama ini ada pada dirimu. Jika memang begitu, maka berikanlah mendung hujanmu itu, dan persedikitlah tiupan anginnya, sehingga engkau bisa menyirami tanah orang itu dengan deras sampai matahari muncul dari balik awan, tampak di mata.
Ketika seseorang telah mengetahui tentang sifat-sifat ini, memperoleh hakikat berkat adanya penyingkapan agung, maka bagi dia tidak ada lagi perbedaan antara ada dan tiada, antara hamba dan tuhannya. Pertama-tema memang tidak ada perbedaan, karena dia telah mendapatkan dua wujud sekaligus, dan baginya dua ketiadaan juga amat sangat nyata sekali. Dan penjelesan tentang ketiadaan yang ketiga terbagi dua. Sedangkan ilmu, baginya, hanya tinggal huruf ‘ain, huruf lam untuk kelembutan Tuhan yang Mahadahulu (luthfil qadim), dan huruf mim untuk materi.
Di dalam maqam yang demikian, yang ada hanyalah ilmu (pengetahuan) dan penampakan kebenaran, baik kebenaran yang dahulu maupun yang terus-menerus diperbaharui.
