
Elsubha.com – Biji Mutiara Kedelapan; Kitab ‘Anqa’ Mughrib fi Khatam al-Auliya wa Syams-ul Maghrib wa Nuktah Sirr Al-Syifa’ fi al-Qarn al-Lahiq bi Qarn al-Mushthafa
Demikianlah kondisi seseorang yang hatinya telah dipenuhi oleh kehadiran Allah. Alam nyata dan alam gaib orang itu menjadi sama: yaqut-yaqutnya bersatu padu, waktu-waktu yang dijalani musnah tak bersisa. Pada waktu seperti itulah, Tuhan menyamai hamba-hamba-Nya, sebagai anugerah dan rahmat dari-Nya untuk mereka.
Inilah perbedaan antara seorang nabi dan seorang wali, seperti perbedaan orang-orang penduduk Tihamah dan penduduk Nejd. Seorang nabi mampu berjalan sendiri untuk menjumpai Allah, Tuhan Yang Mahaagung lagi Maha Pencipta. Sedangkan dalam kasus seorang wali, Allah sendirilah yang datang menjumpainya. Seorang wali tidak memiliki kemampuan untuk berjalan sendiri menjumpai Allah, karena dia masih terikat dengan materi, dan sangat menyerupai alam semesta.
Namun apabila sifat-sifat rohaniah mendominasi dalam jiwa wali tersebut, dan sifat-sifat ketuhanan lebih dominan dalam dirinya, maka seorang wali akan mampu berjalan menjumpai Allah seperti yang dilakukan oleh seorang nabi. Seorang wali akan mengendarai “Burraq amal salehnya sendiri.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
مَنْ كَا نَ يُرِيْدُ الْعِزَّةَ فَلِلّٰهِ الْعِزَّةُ جَمِيْعًا ۗ اِلَيْهِ يَصْعَدُ الْـكَلِمُ الطَّيِّبُ وَا لْعَمَلُ الصَّا لِحُ يَرْفَعُهٗ ۗ وَ الَّذِيْنَ يَمْكُرُوْنَ السَّيِّاٰتِ لَهُمْ عَذَا بٌ شَدِيْدٌ ۗ وَمَكْرُ اُولٰٓئِكَ هُوَ يَبُوْرُ
mang kaana yuriidul-‘izzata fa lillaahil-‘izzatu jamii’aa, ilaihi yash’adul-kalimuth-thoyyibu wal-‘amalush-shoolihu yarfa’uh, wallaziina yamkuruunas-sayyi-aati lahum ‘azaabung syadiid, wa makru ulaaa-ika huwa yabuur
“Barang siapa menghendaki kemuliaan, maka (ketahuilah) kemuliaan itu semuanya milik Allah. Kepada-Nyalah akan naik perkataan-perkataan yang baik, dan amal kebajikan Dia akan mengangkatnya. Adapun orang-orang yang merencanakan kejahatan mereka akan mendapat azab yang sangat keras, dan rencana jahat mereka akan hancur.”
(QS. Fatir 35: Ayat 10)
Allah datang bersatu dengannya, dan Dia pula yang pergi berpisah darinya. Barangsiapa yang berminat mendapat penjelasan lebih luas tentang persoalan ini, maka silahkan baca kitab karya kami yang lain yang berjudul Kitab al-Isra’. Dari kitab itu, seseorang akan mengetahui dimana kedudukan dirinya, dan akan mengenal derajatnya sendiri.
