You dont have javascript enabled! Please enable it!
Elsubha menjamin Garansi 100% Uang Kembali jika barang yang diterima adalah PALSU

Biji Mutiara Kesembilan; Kitab ‘Anqa’ Mughrib fi Khatam al-Auliya wa Syams-ul Maghrib wa Nuktah Sirr Al-Syifa’ fi al-Qarn al-Lahiq bi Qarn al-Mushthafa

بسم الله الرحمن الرحيم اللهم صل على سيدنا محمد الفاتح لما أغلق والخاتم لما سبق ناصر الحق بالحق والهادي إلى صراطك المستقيم وعلى آله حق قدره ومقداره العظيم

Elsubha.com – Biji Mutiara Kesembilan; Kitab ‘Anqa’ Mughrib fi Khatam al-Auliya wa Syams-ul Maghrib wa Nuktah Sirr Al-Syifa’ fi al-Qarn al-Lahiq bi Qarn al-Mushthafa

Demikianlah ciri-ciri alam musyahadah (dunia menyaksikan Tuhan), sebuah alam kesempurnaan yang melebihi lainnya, sekaligus titik penting sebuah alam kehidupan. Alam musyahadah adalah tempat berkumpulannya segala jenis rahasia, tempat memancarkan semua ragam cahaya. Layak kita memberikan pujian untuknya, karena dia betul-betul telah berjuang keras ketika berkata: “aku adalah tuan bagi sekalian alam.”

Orang itu boleh berkata: “Akal tidak memiliki ilmu pengetahuan sedikit pun, kecuali setelah akal itu bersemayam dan terbenam di dalam tubuh fisik ini.”

Jika dia berkata:

قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ

“Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu”

Tanpa harus ditambah apapun, maka tidak ada pencampurbauran dan kerancuan dalam ungkapan di atas.

Manusia, dalam dirinya sendiri, adalah makhluk yang memiliki dua bentuk sekaligus. Sama halnya ketika dia berpuasa, dia memiliki dua kebahagiaan sekaligus. Bentuk pertama adalah indra-indranya. yang akan merasakan kenikmatan setelah berbuka puasa dan makan. Bentuk kedua adalah akal pikirannya, yang akan merasa bahagia dan nikmat apabila berjumpa dengan Tuhannya. Tuhan Yang Maha Esa adalah seperti gambar (Mitsal), dan manusia adalah patungnya (Timtsal). Kepemilikian atas roh telah ada, namun kerajaannya belum ada. Akan tetapi, Tuhan dapat menyaksikan itu di setiap tahap perpindahan roh dari tulang-tulang sulbi ke tempat-tempat lain yang terpisah dari tulang sulbi. Barangsiapa yang telah meninggalkan tulang sulbinya, maka dia akan merasakan kelezatan dekat dengan-Nya, dan barangsiapa yang lebih mendahulukan kepentingan rohnya daripada kebutuhan indrawinya, maka dia akan berhasil meraih kedudukan suci. Barangsiapa yang mengatur dengan baik kerajaan dirinya untuk digunakan dalam dunia spiritual, maka Allah akan menyelamatkan orang tersebut dari keraguan dan keraiban (tak pernah berjumpa dengan Allah penj.). Barangsiapa yang sekalipun tubuhnya berupa manusia keturunan Adam namun perjalanan spiritualnya seperti Muhammad, maka dia telah berhasil meraih seluruh maqam-magam mulia. Tuhan Yang Mahaperkasa akan berbincang-bincang kepadanya dengan pelantara siksaan neraka lebih dahulu bagi orang yang pernah berbuat durhaka sebelumnya.

Demikianlah orang yang berjalan atas nama orang lain, maka dia akan pulang dengan membawa kebaikan-kebaikannya. Jika dia berjalan atas nama Tuhan maka dia berada di tempat yang tepat dan benar.

Pahamilah, engkau akan mendapat petunjuk.

Sumber : Terjemah Kitab ‘Anqa’ Mughrib fi Khatam al-Auliya wa Syams-ul Maghrib wa Nuktah Sirr Al-Syifa’ fi al-Qarn al-Lahiq bi Qarn al-Mushthafa karya Syaikh Abu Abdullah Muhammad bin Ali bin Muhammad bin Al-‘Arabi al-Khatimi al-Tha’i al-Andalusi radhiyallahu ‘anhu

Tulis Komentar