
Elsubha.com – Biji Mutiara Kesepuluh; Kitab ‘Anqa’ Mughrib fi Khatam al-Auliya wa Syams-ul Maghrib wa Nuktah Sirr Al-Syifa’ fi al-Qarn al-Lahiq bi Qarn al-Mushthafa
Jika seorang yang arifbillah adalah orang yang jejaknya layak diikuti, kata-katanya patut didengarkan, dia berhasil mengalami pengalaman musyahadah (menyaksikan Tuhan) di alam gaibnya, memperoleh derajat wali qutub, rahasia-rahasia gaib berada di genggamannya, cahaya-cahaya bersinar dari balik tabir tirai-tirai, maka pada dasarnya orang itu bagaikan matahari. Segala sesuatunya menerima hakikat matahari itu. Jika sudah mendapat cahaya maka ia segera berubah. Hal itu kembali lagi pada proses reinkarnasi (takwir).
Tidaklah sama antara tubuh yang bersih mengkilat dengan tubuh yang kotor dalam hal penerimaan atas Cahaya Tuhan Yang Bersinar. sekalipun keduanya menerima satu pancarannya yang sama. Demikian pula yang terjadi pada derajat-derajat hati manusia ketika mengalami pancaran cahaya Tuhan. Hati bisa melepas cahayanya, namun keberadaan fisiknya tetap tidak menanggalkan tabir-tabirnya, tubuh orang itu tidak menurunan tirai-tirai dirinya. Kegaiban tetap ada pada keberadaan dirinya, namun bukan pada pandangan mataharinya.
Memberi (al-Imdad): sifatnya dari satu pihak (witriy). Menerima (al-Qubul): sifatnya melibatkan dua pihak sekaligus (syaf “iy), bisa juga datang dari satu pihak.
Cahaya makrifat bagaikan lentera, apa yang dekat dengan sumbu. maka semakin lebih gelap. Dan apa yang jauh dari lentera itu, maka ia tidak bisa terlihat, hilang. Lentera itu bersinar dan dapat menerangi sekelilingnya. Demikian pula dengan cahaya makrifat. Cahaya makrifat yang melebur bersama alam nyata (kasat mata), maka sinarnya akan sedikit lebih redup; antara awan dan air hujannya saling bertumpukan. Karena tempat untuk disinggahi cahaya itu sifatnya kasar dan keras. Sedangka sifat dasar cahaya itu sendiri sangatlah lembut dan halus.
Sementara itu, hal yang halus sukar melebur bersama benda kasar. Cahaya makrifat yang bersentuhan dengan akal dan jiwa akan memberikan sinar yang lebih terang. Sama halnya dengan benda-benda kasat mata, ia tetap seperti kondisi semula; tampak nyata, karena ia lepas dari sifat samar dan tersembunyi.
Sebagaimana halnya dengan sumbu lentera, apabila di ujung sumbunya terdapat asap hitam yang bersentuhan dengan cahaya lentera itu, maka cahaya akan menyusup ke dalam celah-celah asap itu, sampai tiba di ujung sumbu. Ia pun menyala redup sekali. Lantas apa bayanganmu tentang cahaya makrifat yang bersinar redup? Begitu pula dengan seorang yang arifbillah, apabila hatinya terbakar oleh rasa rindu, hasratnya naik ke puncak yang tinggi di atas, lalu ia bertemu dengan cahaya makrifat dari Dzat yang bisa diketahui, maka Tuhan akan menyematkan pengetahuan dan makrifat terindah di dalam hati hamba yang arif itu. Dia akan hidup sambil menikmati lezatnya makrifat tersebut, dan dengan makrifat itu dia akan mampu menerangi penjuru dunia.
Seperti halnya cahaya lentera, apabila sinar matahari terbit maka cahaya lentera itu hanya bersinar pada dirinya sendiri. Begitu pula dengan cahaya makrifat di dalam hati hamba yang arifbillah, apabila Allah menampakkan diri-Nya di hadapan mata dan menampakkan kesucian dzat-Nya, maka cahaya dari penampakan Allah menerangi sekalian alam, dan hamba tersebut juga mendapat penerangan dan tambahan cahaya dari-Nya. Karenanya, sang hamba tersebut memancarkan dua cahaya sekaligus dan mampu melihat Allah dari dua arah sekaligus.
Seperti halnya api lentera yang selama-lamanya akan mengarah ke atas, demikian pula dengan cahaya makrifat, ia juga akan bergantung kepada Allah. Apabila ada hembusan angin, maka cahaya lentera itu akan bergoyang-goyang seperti tarian penari. Jika angin semakin kencang bertiup, maka cahaya api lentera itu akan padam. Begitu pula dengan cahaya makrifat di dalam hati seorang hamba yang arifbillah, jika di dalam hatinya terdapat keinginan duniwai maka cahaya makrifatnya akan bergoyang-goyang tidak kokoh, dan apabila keinginan itu berupa hasrat yang semakin kuat, maka hatinya tidak akan lagi merasakan nikmatnya penampakan Tuhan.
Seperti halnya cahaya lentera yang padam sesuai seberapa kuat angin bertiup, dan sedikit dari cahaya itu yang masih bersinar, maka demikian pula dengan cahaya makrifat, ia tidak padam seluruhnya.
Akan tetapi, cahaya yang padam hanyalah bagian-bagian tertentu yang memiliki keterkaiatan dan kecenderungan pada makhluk, dan yang bercahaya adalah bagian yang masih bergantung pada Allah.
Seperti halnya cahaya lentera yang bisa padam lantaran ditiup seketika, maka demikian pula dengan pikiran-pikiran yang bercabang-cabang akan memadamkan cahaya makrifat seketika pula, dan tidak membiarkannya menyala. Jika pada lentera itu masih tersisa asap, yaitu keinginan, maka suatu saat cahaya itu akan kembali bersinar. Hamba itu cukup duduk saja. Jika sama sekali tidak tersisa asap, maka ini alamat kehancuran.
Seperti halnya cahaya lentera yang padam lantaran kehabisan minyak, demikian pula cahaya makrifat yang tidak diiringi dengan ketakwaan akan segera padam.
Seperti halnya cahaya lentera yang tidak akan terlihat oleh mata jika tidak bersenyawa dengan benda-benda jisim, maka demikian pula cahaya makrifat dalam kaitannya dengan alam ini.
Seperti halnya cahaya lentera yang hanya bisa memberi penerangan pada benda-benda di dalam kegelapan, demikian halnya peranan cahaya makrifat di dalam tubuh fisik manusia ini.
Seperti halnya cahaya lentera yang hanya menerangi orang-orang di dekatnya, maka demikian pula dengan cahaya makrifat yang hanya dapat dinikmati oleh orang-orang yang mendekatinya.
Seperti halnya cahaya lentera yang tidak bisa menerangi benda-benda jauh, demikian pula cahaya makrifat yang tidak bisa dinikmati oleh orang-orang yang durhaka dan pengingkar.
Seperti halnya cahaya lentera yang bisa dilihat oleh orang yang jauh maupun yang dekat, dan sifat dasarnya memang unik, demikian pula cahaya makrifat dapat dilihat oleh orang yang sering berbuat baik maupun orang yang jarang berbuat kebaikan.
Seperti halnya orang yang berada dekat dengan cahaya lentera, dia tidak bisa melihat benda-benda yang jauh darinya, demikian pula orang yang berada di dekat cahaya makrifat, dia hanya bisa melihat cahaya makrifat itu sendiri.
Seperti halnya cahaya lentera yang dimanfaatkan oleh manusia di bumi, dan tidak merusak unsur-unsurnya, demikian pula dengan cahaya makrifat apabila seluruh ciri-ciri dan karakternya tampak secara kasat mata.
Seperti halnya cahaya lentera yang semakin dekat dengan sumbu maka cahayanya semakin lebar, dan yang jauh dari sumbu maka cahayanya hilang begitu saja, dan bersinar. Demikian pula dengan cahaya makrifat, apabila cahaya itu bersentuhan dengan amal perbuatan, maka cahaya makrifat akan meluas seluas dan sebanyak amal kebaikan yang dilakukannya, namun jika cahaya itu bersentuhan dengan Allah maka cahayanya akan menyempit dan melemah, karena amal perbuatannya tidak bisa diandalkan di hadapan Allah.
Menggunakan lentera sebagai objek perbandingan sangatlah tidak cukup untuk menjelaskan persoalan ini, dan hakikat yang diinginkan juga belum memuaskan. Lantas, bagaimana seandainya kita menggunakan objek matahari atau bulan dalam rangka menjelaskan kesempurnaan dan kekurangannya, atau bahkan menggunakan objek alam semesta untuk tujuan itu, niscaya waktu tidak cukup digunakan menjelaskan segala rahasia ini. Ambillah apa yang sudah kami terangkan, gunakanlah apa yang telah kami tinggalkan. Inilah sepuluh mutiara berharga mahal yang mesti manusia miliki. Sebagian dari kesepuluh mutiara itu telah dijelaskan dengan penjelasan yang universal dan bersifat umum, karena kata-kata tidak cukup mewakili untuk menjelaskannya secara terperinci.
Allah selalu memberi petunjuk ke jalan kebenaran dan ke jalan yang lurus.
