
Elsubha.com – Adab Berdzikir
Abul Abbas Ahmad bin Muhyi Al Haitami pernah mengatakan berkaitan dengan dzikiran, “Dzikiran itu memiliki adab yang perlu dipenuhi sebelum memulai berdzikir, pada saat berdzikir dan juga adab setelah berdzikir. Dalam hal ini para ulama pun telah menjelaskannya. Adab yang perlu dipenuhi sebelum berdzikir adalah seorang murid haruslah bertobat nasuha, maksudnya bertobat dengan tobat yang ikhlas; yaitu yang mencakup persyaratan yang tiga; yaitu: fib min
1. Menyesali umur yang sudah terlewat tanpa ketaatan kepada-Nya.
2. Berupaya melepaskan diri dari ragam perkara itu saat itu juga.
3. Bertekad untuk tidak kembali pada kesalahan tersebut dan mencari seseorang yang alim yang memehami tentang martabat tobat, sebab itu adalah kunci segala kebaikan dan asas ketakwaan diri, yang dengannya mampu membuka ragam pintu bermu’amalah dengan Allah. Sebab orang yang ingin membangun sebuah keluarga tanpa asas tersebut, maka bangunan keluarga itu malah akan hancur. Diapun seyogyanya membersihkan batinnya dari kesombongan, begitu pula sisi zhahirnya juga perlu dibersihkan dari kesombongan diri. Sucinya batin merupakan asal dari sucinya zhahir, maka sucinya batin akan diikuti dengan sucinya zhahir, sebab sisi yang zhahir akan ikut pada sisi batin. Maka batin perlu disucikan dari ragam penyakit yang menyerang kalbu.
Seorang ulama berkata, “Setiap mukallaf wajib mengetahui penyakit batin ini agar ia dapat mengobatinya. Sebab, jika didalam kalbunya masih ada penyakit, maka iapun tidak dapat bertemu dengan Allah dengan kalbu yang selamat (sehat) sekalipun sudah diobati oleh seribu dokter, lapun tidak dibenarkan bersuluk dalam sebuah thariqah dan tidak pernah bisa mencium bau surga. Sebab penyakit kalbu adalah hijab yang besar dari Allah sesuai dengan perkataan seorang Arifbillah, “Cahaya akan terhalang masuk ke dalam kalbu, selagi didalamnya terdapat perkara yang Allah benci dari penyakit kalbu, yang mana itu merupakan dosa-dosa besar seperti sombong, dengki, hasud, khianat, melihat orang kaya dengan pandangan penuh penghormatan lantaran kekayaannya, mengejek orang-orang fakir lantaran kemiskinannya, haus dan terus berlomba mengejar dunia serta berbangga diri dengan dunia. Bersolek untuk manusia dengan gaya yang diharamkan, meremehkan kebatilan, mencari sanjungan tanpa mengerjakannya, sibuk dengan aib orang lain dibandingkan aib sendiri, lupa atas nikmat Allah dan tidak mensyukurinya, berantusias dengan selain Allah, ujub, tidak ridha dengan ketentuan Allah, tidak sabar, tidak tawakal kepada Allah. Semua ini dan semisalnya adalah perkara yang diharamkan sesuai pendapat ulama, sebagaimana yang telah dikatakan oleh Imam Al Ghazali: “Sebagian dosa-dosa besar ini berkaitan dengan kalbu, sebagian lainnya berkaitan dengan sisi zhahir dan sebagian lainnya berkaitan dengan sisi batin (kalbu) dan zhahir (jasad). Siapapun yang telah diberikan kalbu yang selamat dari ragam penyakit diatas, maka hendaknya dia memuji Allah Swt atas nikmat agung tersebut.”
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
اِلَّا مَنْ اَتَى اللّٰهَ بِقَلْبٍ سَلِيْمٍ
illaa man atalloha biqolbing saliim
“kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih,”
(QS. Asy-Syu’ara’ 26: Ayat 89)
Orang yang menemukan penyakit ini dalam hatinya, hendaknya ia mengobatinya dengan bertobat seraya memohon pertolongan kepada Allah, agar Allah mengeluarkan perkara tersebut dari hatinya secara bertahap hingga penyakitnya tersebut hilang.
Para ulama berkata, “Jika ia tidak mengobatinya, maka ia berdosa, tidak ada keselamatan yang lebih memberi manfaat selain ia berlindung pada Allah dan tunduk pada-Nya. Ketika itu ia bisa melapor pada syaikhnya jika ia memiliki syaikh, sebab beliau adalah dokter yang bisa menggambarkan rasanya kematian dan berdialog seputar hisab, selebihnya, maka itu urusan Allah. Syaikhnya pun bisa menggambarkan hina dan buruknya dunia, pasang surutnya dunia, iapun akan masuk ke dalam kuburan seorang diri dan terasingkan, tertawan dengan ragam amalannya, dimana pada saat itu harta dan anak tidak lagi memberikan manfaat kecuali orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih (salim).
Jangan engkau abaikan dirimu dari itu semua wahai saudaraku. Sebab semua itu adalah dosa besar selain kemusyrikan. Allah Swt menganugerahi banyak manusia dengan keselamatan dari kesyirikan dan kekufuran, dimana keduanya merupakan dosa paling besar lagi paling buruk, maka janganlah engkau putus asa dari rahmat Allah Swt dan sisi keutamaan-Nya, berupayalah semaksimal mungkin niscaya Allah akan memberikanmu perkara yang lebih dari yang engkau inginkan serta menganugerahimu dengan ragam pemberian ilahiyyah dan sungguh Allah Maha Perkasa dan mampu melakukan itu semua.
Aku katakan: Ragam ini tidaklah disyaratkan kecuali pada orang yang tidak biasa menyibukkan diri dengan bershalawat kepada Nabi Saw. Sementara bagi orang yang senantiasa menyibukkan diri dengan bershalawat pada Nabi Saw, maka perkara itulah yang akan menggembleng akhlak dan memperbaiki kondisi jiwanya. Oleh karena itu, Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra menalqinkan wiridan beliau untuk orang tua, anak-anak, orang yang bodoh, orang yang pintar, lelaki dan juga wanita tanpa ragam persyaratan di atas, sebab wiridan beliau Ra diasaskan pada shalawat pada Nabi Saw, itu merupakan obat segala penyakit, cacat, kotoran, kiriman dari musuh; berupa santet dan lain sebagainya.
Sedangkan adab berdzikir ketika melaksanakannya yaitu berupa:
1. Keikhlasan diri.
2. Bersihnya ruangan.
3. Bersihnya pakaian dengan wewangian yang harum untuk berdzikir bersama ikhwan dan hadirnya para malaikat serta jin mukmin.
4. Duduk menghadap kiblat jika ia berdzikir sendirian, namun jika ia berdzikir dalam majelis dzikir, maka ia bisa duduk sebisanya.
5. Sang murid sibuk dengan memuji Allah Swt.
6. Mengosongkan kalbu sehingga tidak ada di dalam hatinya kecuali Allah Swt.
7. Tubuhnya mencerminkan kekhusyu’an dan ikhlas.
8. Menaruh kedua tangan di atas kedua pahanya.
9. Memejamkan kedua matanya.
10. Memulai dzikiran dengan membaca ta’awwudz, basmalah, surah Al Fatihah satu kali atau beberapa kali sesuai kemudahan dirinya.
11. Berupaya mengosongkan hatinya dari selain Allah sehingga tidak ada lagi was-was. Andai sang murid berada di bawah tarbiyah seorang syaikh, maka hendaknya ia berkhayal seolah-olah syaikhnya berada di depannya, sebab beliau adalah teman sekaligus penunjuk jalan dalam thariqah.
12. Hendaknya ia meminta madad dengan himmah Syaikh dari Nabi Saw melalui kalbunya ketika awal ia memulai dzikiran. Sebab, sejatinya madad Nabi Saw itu datang dari Allah Swt.u
13. Hendaknya ia berdzikir dengan kekuatan sempurna yang dimiliki dengan penuh penghormatan dan juga menghadirkan makna dzikiran di kalbunya.
Sementara adab setelah berdzikir, setelah ia usai membaca dzikirannya, hendaknya ia menghadirkan kalbunya guna menerima luapan cahaya ilahiyyah yang datang; yaitu dengan tertidur sesaat setelah selesai membaca dzikiran, bisa jadi ketika itu, terjadi luapan cahaya dari Allah Swt yang masuk ke dalam kalbunya, sehingga ia mendapatkan dalam sekejap yang lebih banyak daripada ketika ia melakukan mujahadah dan riyadhah dalam kurun waktu 30 tahun.
Adab inilah yang membuat seseorang yang membaca dzikiran senantiasa dalam kesadaran, terkait dengan ragam cahaya yang datang dan juga ragam asrar yang datang padanya. Ragam adab diatas adalah bagi orang yang membaca dzikiran dengan lisannya, sedangkan orang yang membaca dzikirannya dengan kalbu atau sirr (jiwa), maka tidak perlu lagi ragam adab diatas.
Bagi seorang faqir (pesuluk thariqah) pemula, seyogyanya menata kalbunya saat berdzikir serta memposisikan dirinya untuk senantiasa hadir dan merasa selalu diawasi Allah. Ketika jiwanya diganggu dengan ragam kekhawatiran, maka hendaknya ia segera kembali menyibukkan diri dengan membaca shalawat kepada Nabi Muhammad Saw sebanyak 10 kali atau lebih dari itu.
Imam An-Nawawi memberikan penjelasan dalam Al Adzkar. Seyogyanya orang yang berdzikir berada dalam sifat yang paling sempurna; andai ia berdzikir dalam kondisi duduk menghadap kiblat dengan posisi bersila, maka hendaknya ia dalam posisi khusyu’, tenang dan menunjukkan nuansa teduh serta kepala tertunduk. Namun jika ia berdzikir selain dengan kondisi ini, maka itu pun diperbolehkan, namun jika ini ia lakukan tanpa adanya udzur, maka ia telah meninggalkan perkara yang paling afdhal.
Dalil yang menunjukkan bahwa berdzikir dalam posisi apapun bukanlah perkara yang dimakruhkan,
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
اِنَّ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَا لْاَ رْضِ وَا خْتِلَا فِ الَّيْلِ وَا لنَّهَا رِ لَاٰ يٰتٍ لِّاُولِى الْاَ لْبَا بِ
inna fii kholqis-samaawaati wal-ardhi wakhtilaafil-laili wan-nahaari la-aayaatil li-ulil-albaab
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal,”
(QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 190)
الَّذِيْنَ يَذْكُرُوْنَ اللّٰهَ قِيَا مًا وَّقُعُوْدًا وَّعَلٰى جُنُوْبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُوْنَ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَا لْاَ رْضِ ۚ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هٰذَا بَا طِلًا ۚ سُبْحٰنَكَ فَقِنَا عَذَا بَ النَّا رِ
allaziina yazkuruunalloha qiyaamaw wa qu’uudaw wa ‘alaa junuubihim wa yatafakkaruuna fii kholqis-samaawaati wal-ardh, robbanaa maa kholaqta haazaa baathilaa, sub-haanaka fa qinaa ‘azaaban-naar
“(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Maha Suci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka.”
(QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 191)
Dalam hadits shahih pun dijelaskan:
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا، قَالَتْ: كَانَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَّكِئُ فِي حِجْرِي وَأَنَا حَائِضٌ فَيَقْرَأُ الْقُرْآنَ
Diriwayatkan dari Aisyah Ra, ia berkata: “Rasulullah pernah berada dipangkuanku ketika aku sedang haid, dan beliau membaca Al Qur’an.” (HR. Al Bukhari dan Muslim).
Diriwayatkan pula dari ‘Aisyah Ra, ia berkata: “Sungguh aku membaca hizib-ku, sementara aku dalam posisi tiduran di atas kasurku.”
Kemudian An-Nawawi berkata: “Seyogyanya tempat yang digunakan untuk membaca dzikiran itu bersih, karena itu adalah perkara yang lebih agung dalam rangka menghormati dzikiran dan yang didzikiri (Allah). Oleh karena itu, berdzikir dianjurkan untuk dilakukan di masjid dan ragam tempat yang mulia.”
Diriwayatkan dari Imam Abi Maisaroh Ra, ia berkata: “Tidaklah Allah diingat kecuali pada tempat yang baik. Seyogyanya pula mulutnya bersih, andai ada sesuatu yang berubah pada mulutnya, maka ia bisa menghilangkannya dengan menggunakan siwak, andai ada najisnya maka ia pun bisa membersihkannya dengan berkumur dengan air, namun jika ia sengaja tidak membersihkannya dan berdzikir maka itu makruh baginya. Begitu juga jika ia membaca Al Qur’an dan di mulutnya ada najis, maka itu pun makruh, sementara ada juga ulama yang mengatakan bahwa itu haram lantaran dua sisi.”
Rasulullah Saw bersabda,
الْمُؤْمِنُوْنَ هَيِّنُوْنَ لَيِّنُوْنَ مِثْلَ الْجَمَلِ إِنْ قَدَتْهُ إِنْقَادَ وَإِنْ اسْتَنَخْتَهُ نَاخَ
“Orang-orang mukmin itu lemah lembut seperti unta, andai engkau tunggangi, ia pun bisa dikendalikan dan andai engkau derumkan, maka ia pun mudah untuk diderumkan.”
Oleh karena itu para ulama berkata: “Seolah-olah adab itu adalah dua pertiga dari agama.”
Al Imam Abdullah bin Al Mubarok pernah mengatakan, “Adab adalah hal yang paling mulia dari akhlak seorang hamba.’
Beliaupun pernah mengatakan, “Adab yang sedikit itu lebih kami butuhkan daripada banyaknya ilmu.”
Beliau juga pernah mengatakan, “Adab bagi seorang yang ‘Arifbillah itu seperti tobat bagi pendosa.”
Ats-Tsauri pernah mengatakan, “Barangsiapa yang tidak beradab terhadap waktu, maka waktulah yang akan membencinya.”
Abu ‘Ali Ad-Daqqaq pernah mengatakan, “Seorang hamba bisa sampai ke surga dengan ketaatannya, dan dia tidak bisa sampai pada Allah kecuali dengan adab dalam ketaatan pada-Nya.”
Abu Ali Ad-Daqqaq pun pernah mengatakan, “Orang yang meninggalkan adab, maka ia patut diusir. Orang yang adabnya buruk, maka ia akan tertolak. Orang yang beradab buruk di pintu, maka ia akan tertolak kembali pada tempat turunnya hewan.”
Abu Bakar Ad-Danuri, “Tidaklah orang diangkat dari kalangan orang yang diangkat derajatnya dengan puasanya, tidak pula dengan shalatnya, tidak pula dengan sedekahnya akan tetapi ia terangkat derajatnya lantaran adab dan akhlak yang baik.”
Abus-Su’ûd bin Abil ‘Asya’ir pernah berkata, “Tidaklah para wali Allah bisa wushul kepada Allah kecuali dengan adab.”
Sayyidi Ali Khowwas pernah mengatakan, “Azab yang paling berat adalah tercabutnya ruh, nikmat yang paling sempurna adalah tercabutnya nasfu, ilmu yang paling nikmat adalah ma’rifat kepada Allah, perbuatan yang paling utama adalah adab, permulaan Islam adalah penyerahan diri, permulaan keimanan adalah keridhaan diri.”
Sayyidi Ali Al Khowwas juga pernah mengatakan, “Tiga perkara yang dengannya engkau tidak merasa terasingkan: Meninggalkan orang yang ragu, beradab baik dan tidak menyakiti orang lain.”
Perkataan generasi salaf dan khalaf terkait pujian terhadap adab dan ajakan untuk beradab baik sangatlah banyak dan saya kira apa yang saya sebutkan itu sudah cukup.
