
Elsubha.com – Aku bertanya kepada Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra tentang hakekat makar (tipu muslihat).
Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra menjawab:
Hakekat makar adalah menampakkan kenikmatan dan meluaskannya kepada seorang hamba, kemudian menghantarkannya pada puncak kebinasaan dalam kenikmatan tersebut. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
اَيَحْسَبُوْنَ اَنَّمَا نُمِدُّهُمْ بِهٖ مِنْ مَّا لٍ وَّبَنِيْنَ
a yahsabuuna annamaa numidduhum bihii mim maaliw wa baniin
“Apakah mereka mengira bahwa Kami memberikan harta dan anak-anak kepada mereka itu (berarti bahwa),”
(QS. Al-Mu’minun 23: Ayat 55)
نُسَا رِعُ لَهُمْ فِى الْخَيْـرٰتِ ۗ بَلْ لَّا يَشْعُرُوْنَ
nusaari’u lahum fil-khoiroot, bal laa yasy’uruun
“Kami segera memberikan kebaikan-kebaikan kepada mereka? (Tidak), tetapi mereka tidak menyadarinya.”
(QS. Al-Mu’minun 23: Ayat 56)
Karakter seorang hamba adalah selalu merasa khawatir dari (adzab) Rabbnya, dia tidak pernah merasa aman sedikit pun, hatinya tidak merasa tenang; khawatir akan adzab Allah Swt. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَا لَّذِيْنَ هُمْ مِّنْ عَذَا بِ رَبِّهِمْ مُّشْفِقُوْنَ
wallaziina hum min ‘azaabi robbihim musyfiquun
“dan orang-orang yang takut terhadap azab Tuhannya,”
(QS. Al-Ma’arij 70: Ayat 27)
اِنَّ عَذَا بَ رَبِّهِمْ غَيْرُ مَأْمُوْنٍ
inna ‘azaaba robbihim ghoiru ma-muun
“sesungguhnya terhadap azab Tuhan mereka, tidak ada seseorang yang merasa aman (dari kedatangannya),”
(QS. Al-Ma’arij 70: Ayat 28)
Iman memiliki dua sayap seperti burung: Sayap pertama adalah rasa takut, yaitu kegundahan dalam hati karena takut ancaman Allah Swt.
Dalam sebuah hadits, Nabi Saw bersabda,
الْمُؤْمِنَ يَرَى ذُنُوْبَهُ كَأَنَّهُ قَاعِدٌ تَحْتَ جَبَلٍ يَخَافُ أَنْ يَقَعَ عَلَيْهِ وَالْمُنَافَقَ يَرَى ذُنُوْبَهُ كَذُبَابٍ مَرَّ عَلَى أَنْفِهِ
“Seorang mukmin melihat dosanya seperti dia duduk di bawah gunung, dia takut gunung menimpanya, dan orang munafik melihat dosanya seperti lalat yang lewat di hidungnya.”
Sayap kedua adalah berharap kepada Allah Swt agar Dia mengampuni dosanya dan tidak mengadzab nya.
Namun, hal itu tidak membuatnya merasa aman dari adzab Allah. Karena apabila harapan itu saja yang ada tanpa rasa takut, serta merasa aman dari adzab Allah, maka merasa aman dari adzab Allah Swt itu adalah sumber kekufuran terhadap Allah. Namun, apabila rasa takut itu saja yang ada, berarti dia berputus asa dari (rahmat) Allah Swt, dimana putus asa dari rahmat Allah Swt adalah sumber kekufuran. – Wassalam.-
Terkait hal ini, Asy-Syarîsyi Ra bersenandung:
وَلَا تَرَيَنَ فِي الْأَرْضِ دُوْنَكَ مُؤْمِنًا # وَلَا كَافِرًا حَتَّى تُغَيَّبَ فِي القبر
فَإِنَّ خِتَامَ الْأَمْرِ عَنْكَ مُغَيَّبُ # وَمَنْ لَيْسَ ذَا خُسْرٍ يَخَافُ مِنَ الْمَكْرِ
“Jangan pernah menilai orang lain mukmin # dan kafir di muka bumi ini, hingga kamu berada dalam kubur.
Karena akhir perkara ini masih dirahasiakan darimu. # Dan orang yang tak merugi adalah dia yang selalu merasa takut dari makar-(Nya).”
-Wassalam. Selesai sudah apa yang di-imla kan Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra kepada kami.-
Diantara perkataan Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra adalah, beliau berkata:
Setiap orang yang Arifbillah berada dalam kondisi sibuk (berpaling) dari Allah Swt, karena masih tersisa sedikit dari hasrat mereka, kecuali ahli tajalli akbar, yaitu orang-orang yang tidak memiliki bagian di dalam surga, karena mereka berada di sisi-Nya, terikat dalam hadhrah kedekatan-Nya. Allah Swt mempertemukan mereka dengan sesuatu yang tidak bisa dinalar oleh akal. Seandainya Allah Swt menjumpai orang-orang yang Årifbillah dengan ber-tajalli kepada mereka, namun Dia tidak memberikan hal itu kepada mereka, maka mereka akan meleleh lantaran wibawa-Nya. Mereka tidak menoleh sedikitpun ke surga dan berbagai macam kenikmatan, mereka tidak peduli apakah surga itu ada atau tidak ada. Tentang mereka ini sebagian orang yang Arifbillah berkata:
“Satu kaum yang selalu disibukkan dengan syahwat farji (kemaluan) dan perut, kaum yang lain disibukkan dengan pergaulan, sehingga selain mereka (orang yang Arifbillah tidak akan berjumpa dengan Allah, karena setiap saat Dia ber-tajalli kepada mereka dengan apa yang dinisbatkan kepada tajalli yang pertama seperti lautan kepada satu titik. Demikian pula terkait dengan apa yang mereka rasakan, berupa kelezatan, kenikmatan dan kebahagiaan, hingga seandainya mereka diminta untuk bersama para bidadari sesaat saja, maka mereka akan memohon pertolongan agar dijauhkan dari para bidadari, sebagaimana penduduk neraka memohon pertolongan agar dijauhkan dari neraka. Merekalah orang-orang yang paling spesial dari para kekasih Allah, dimana maqam ini adalah maqam yang paling utama dan paling tinggi.
Maqam ini tidak dimiliki oleh seorang manusia pun selain kelompok tersebut. Hanya saja Nabi Saw memiliki tingkatan yang paling tinggi, disamping itu beliau bisa berbaur bersama orang-orang yang berada dalam syahwat perut dan kemaluan. Hal ini tidak menghalangi beliau dari yang kemanusiaan ini, dan yang ini pun tidak menghalangi beliau dari yang lainnya. Barangsiapa yang merasakan hal itu dalam kedekatan bersama Allah, pasti dia tidak akan sanggup menoleh kepada selain-Nya. Barangsiapa yang merasakan kelezatan bersama para bidadari dan berbagai macam kenikmatan, maka dia tidak akan sanggup berada di posisi ini. Tidak ada yang bisa bersama-Nya, kecuali Nabi Saw.” -Selesai sudah apa yang di-imla kan Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra kepada karni.-
Diantara perkataan Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra adalah, beliau berkata:
Yang dimaksud An-Nahdhah Al Ilahiyyah adalah berdiri karena Allah dengan Allah, tanpa terselip hawa, sehingga tidak sedikit pun dia mengikuti hawa-nya. Sebagai penguat dalam hal ini ialah, ada seorang lelaki yang masuk ke sebuah negeri asing, lalu dia mendatangi sebuah toko untuk membeli cuka, dia melihat wadah yang terisi penuh, dan dia mengira itu adalah cuka. Pemilik toko berkata kepadanya, “Apa yang kamu lihat? Itu adalah khamer.” Lelaki itu bergumam, “Aku harus melakukan kewajibanku.” Dia pun sibuk menumpahkan khamer itu dan menghancurkan wadahnya, Yang berjumlah tujuh puluh wadah, lalu dia menghancurkan nya enam puluh sembilan, dan masih tersisa satu. Pemilik toko mengira bahwa dia diutus oleh seorang pemimpin di negeri itu untuk melakukan hal tersebut, dia pun pergi menemui sang pemimpin, kemudian bertanya, “Apakah engkau mengutus seseorang untuk menghancurkan wadah-wadah khamer yang ada padaku?” Sang pemimpin menjawab, “Tidak, aku tidak mengutus siapa-siapa.” Sang pemimpin pun bertanya kepadaku tentang sifat lelaki tersebut, (kemudian dia memerintah pasukannya untuk membawa lelaki itu menghadap kepadanya).
Ketika mereka datang membawa lelaki itu, sang pemimpin bertanya kepadanya, “Kenapa kamu melakukan apa yang telah kamu lakukan (memecahkan khamer)?” Lelaki itu menjawab, “Aku melakukan apa yang tampak baik bagiku, maka lakukanlah apa yang tampak baik bagimu.” Sang pemimpin bertanya (kepada para saksi), “Apakah dia meninggalkan sesuatu?” Mereka menjawab, “Iya, dia meninggalkan satu wadah.” Sang pemimpin bertanya kepada lelaki itu, “Kenapa kamu meninggalkan wadah itu?” Dia menjawab, “Ketika pemilik toko mengatakan kepadaku bahwa wadah-wadah itu adalah khamer, ghairah Islam menguasaiku, maka akupun melakukan itu. Namun, ketika aku berada di tengah-tengah keadaan itu, nafsuku berbisik kepadaku, ia mengatakan, ‘Kau memiliki hal bersama Allah sehingga engkau melakukan ini. Kau termasuk orang yang merubah kemungkaran’. Maka, akupun meninggalkannya karena khawatir ada satu bagian untuk nafsuku.” Sang pemimpin berkata, “Keluarkan dia dariku, aku tidak sanggup mengurusnya.” Maka, mereka pun mengeluarkan lelaki itu.
Diriwayatkan bahwa ada seorang lelaki yang mendatangi sebuah negeri, lalu dia menemukan pohon besar yang dijadikan sesembahan selain Allah Swt. Ketika memasuki pagi hari, lelaki itu mengambil kapak dan mendatangi pohon itu untuk menebangnya. Namun, iblis menghalanginya dengan wujud seorang lelaki. Iblis bertanya kepada lelaki itu, “Kamu mau kemana?” Dia menjawab, “Aku ingin mendatangi pohon yang dijadikan sesembahan selain Allah Swt untuk menebangnya.” Iblis berkata, “Biarkan pohon itu dan kembalilah, maka kamu akan mendapati tiga dirham di dekat kepalamu.” Lelaki itu pun kembali, namun dia tidak menemukan apa-apa.
Keesokan harinya dia kembali lagi ingin menebang pohon tersebut, maka Iblis pun menghalanginya di tengah jalan. Iblis bertanya kepadanya, “Kamu mau kemana?” Lelaki itu menjawab, “Menebang pohon yang dijadikan sesembahan selain Allah Swt.” Iblis berkata kepadanya, “Kembalilah. Jika kau berada di sekitarnya, aku akan memenggal batang lehermu. Karena kedatanganmu yang pertama, tidak ada seorang pun yang sanggup meng halangimu. Namun kedatanganmu saat ini, karena kamu tidak mendapatkan bagian (dunia)mu saja (sehingga mudah bagiku untuk menghalangimu).” -Selesai sudah apa yang di-imla kan Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra kepada kami.
Aku mendengar Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra berkata:
“Setiap binatang yang Allah ciptakan di dunia ini, semuanya akan diciptakan di surga, kecuali empat binatang: (1) Anjing, (2) monyet, (3) babi dan (4) landak. Seluruh binatang di bumi tidak akan masuk surga, terkecuali beberapa binatang: (1) Untanya nabi Shalih As dan anaknya, (2) burungnya nabi Sulaiman As, yaitu Hudhud atau Shurad, (3) keledainya Uzair, (4) kambing jantannya nabi Ismail As, (5) keledainya Nabi Muhammad Saw dan unta beliau atau baghal beliau, dan (6) anjingnya Ashabul Kahfi.” – Wassalam. Selesai sudah apa yang di-imla ‘kan Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra kepada kami.-
Diantara perkataan Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra, beliau berkata:
Surga diciptakan selama 52.000 tahun sebelum adanya alam dan Adam diciptakan selama 72.000 tahun sebelum adanya alam.
Ar-Rifa’i berkata, “Allah Swt memiliki 800.000 alam. ‘Arasy beserta seluruh isinya dari beberapa alam adalah satu alam. Orang yang sempurna dari kalangan wali Allah adalah orang yang Allah Swt perlihatkan kepadanya seluruh alam tersebut. Hal itu tidak bisa dilakukan kecuali oleh Al Fard Al Jâmi’.”
Sedangkan “tahun” pada awal mulanya memiliki hari-hari seperti hari-hari di sisi Rabb Swt, seharinya adalah seperti sehari yang Allah Swt sebutkan dalam firman-Nya,
وَيَسْتَعْجِلُوْنَكَ بِا لْعَذَا بِ وَلَنْ يُّخْلِفَ اللّٰهُ وَعْدَهٗ ۗ وَاِ نَّ يَوْمًا عِنْدَ رَبِّكَ كَاَ لْفِ سَنَةٍ مِّمَّا تَعُدُّوْنَ
wa yasta’jiluunaka bil-‘azaabi wa lay yukhlifallohu wa’dah, wa inna yauman ‘ingda robbika ka-alfi sanatim mimmaa ta’udduun
“Dan mereka meminta kepadamu (Muhammad) agar azab itu disegerakan, padahal Allah tidak akan menyalahi janji-Nya. Dan sesungguhnya sehari di sisi Tuhanmu adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu.”
(QS. Al-Hajj 22: Ayat 47)
Hari yang dimaksud adalah hari dari adanya alam sampai penciptaan surga, sedangkan hari dari penciptaan surga sampai Adam lebih pendek dari itu.
