You dont have javascript enabled! Please enable it!
Elsubha menjamin Garansi 100% Uang Kembali jika barang yang diterima adalah PALSU

Pembahasan 45. Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra ditanya tentang hakekat Dzat dan sifat yang diyakini oleh para ahli hakekat dari kalangan Ahlullah

بسم الله الرحمن الرحيم اللهم صل على سيدنا محمد الفاتح لما أغلق والخاتم لما سبق ناصر الحق بالحق والهادي إلى صراطك المستقيم وعلى آله حق قدره ومقداره العظيم

Elsubha.com – Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra ditanya tentang hakekat Dzat dan sifat yang diyakini oleh para ahli hakekat dari kalangan Ahlullah,

Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra menjawab:

Dzat Allah ditinjau dari defenitifnya adalah Dzat yang memiliki seluruh sifat Uluhiyyah dan Asma Nya.

Tetapi, jauh sekali untuk dapat melihat langsung dan mengetahuinya. Tidak ada seorang pun dari kalangan ahli hakekat, bahkan seluruh nabi dan rasul, kecuali sang panutan yang agung Nabi Muhammad Saw, beliau memiliki ilmu untuk mengetahui atau melihat-Nya secara hakiki. Dzat itu berbeda dari yang lainnya, seperti perbedaan suatu bagian dengan bagian yang lain.

Sedangkan usaha mereka (Ahlullah) untuk mengetahui dan melihat Dzat adalah kepastian bahwa mereka tidak akan mampu untuk melakukan itu, disamping itu tubuh mereka akan terbakar karena wibawa keagungan dan kemuliaan Dzat Allah Swt. Contoh sebagai penguat dalam hal ini adalah, jika kita memilih orang buta yang tidak dapat melihat apapun, kemudian kita memposisikan nya di dekat api, maka tidak diragukan lagi bahwa dia akan merasa terbakar oleh api yang panasnya dahsyat, namun dia tidak bisa melihatnya secara hakekat karena tidak memiliki penglihatan. Dia tidak tahu apapun dari api itu, kecuali hanya bisa merasakan panasnya disamping ketidaktahuannya tentang hakekat api tersebut, serta kepastian bahwa api itu benar-benar ada dan berbeda dari yang lainnya. Demikianlah cara untuk mengetahui perbedaan Dzat Allah Swt dengan yang lainnya, meskipun Dzat Allah Swt jauh sekali jika dibandingkan dengan perumpaan ini.

Untuk mengetahui hakekat api, caranya adalah dengan melihatnya menggunakan mata dan terjun ke dalamnya hingga terbakar. Inilah cara untuk mengetahui hakekat api. Tetapi, orang buta tidak bisa melakukan hal ini.

Kami katakan, puncak pengetahuan para ahli hakekat tentang Dzat Allah adalah adanya cinta Dzat dalam diri mereka. Ini adalah perkara yang sulit dijumpai, tidak dapat dipahami hanya dengan penjelasan. Untuk mengetahui eksistensi Dzat Allah, caranya adalah berupa rasa dalam diri mereka. Walaupun Dzat menghalangi makhluk dari melihat-Nya, maka bagi orang yang wushul akan terbakar dan merasa ketakutan yang luar biasa karena wibawa keagungan dan kemuliaan-Nya. Inilah puncak pengetahuan mereka tentang Dzat Allah Swt, tidak lebih. Karenanya ada ulama yang berkata, “Ketidakmampuan untuk mencapai pengetahuan adalah sebuah pengetahuan.” 

Oleh karena itu, orang yang bertasbih mengucapkan, “Mahasuci Allah yang tidak ada cara untuk mengenal-Nya, kecuali dengan ketidaktahuan dalam mengenal-Nya.”

Sedangkan sifat-sifat Ilahiyyah bagi orang-orang yang Arifbillah dapat diketahui dalam rasa, tidak ada ungkapan yang dapat menyingkapnya sedikit pun. Yang dapat menyingkapnya hanyalah dzauq dan hal. Contoh sebagai penguat dalam hal ini adalah, manisnya madu dan gula, pahitnya buah handhal dan shibr, asinnya garam, pedasnya sesuatu yang pedas, masamnya buah yang masam, apabila kita menjelaskan kepada seseorang yang tidak pernah menyicipi sedikit pun darinya, maka dia tidak akan mengetahui hakekatnya.

Misalnya, dia berkata kepada kita, “Beritahu aku tentang hakekat asin dalam garam, pahit dalam buah yang pahit, pedas dalam sesuatu yang pedas, masam dalam buah yang masam dan manis dalam manisan.” Maka, tidak diragukan lagi bahwa kita akan menjawab pertanyaannya itu dengan ungkapan yang tidak dapat menyingkap sedikit pun dari pertanyaan tersebut. Demikian pula hakekat sifat-sifat ilahiyyah, tidak ada ungkapan yang mampu menyingkapnya. Tetapi, hakekatnya dapat diketahui dengan dzauq dan hâl.

Sedangkan terkait dengan opini, “Kembalinya seluruh sifat kepada yang satu dan sifat yang satu,” maka jawaban tentang ini adalah: Satu sifat yang menjadi tempat kembali bagi seluruh sifat sehingga menjadi satu sifat, maka kami katakan, itu adalah martabat uluhiyyah, yaitu martabat Allah Al Haq Swt. Uluhiyyah adalah satu sifat, dimana hakekat-Nya adalah seluruh sifat yang selain-Nya menghadap kepada-Nya dengan bentuk ibadah, sikap rendah hati, merasa hina dan merasa kecil karena keagungan dan kemuliaan-Nya. Walaupun sifat ini hanya satu, namun ini mampu menghabiskan seluruh yang ada, sehingga tidak ada sesuatu pun yang menjauh darinya. Kemudian satu sifat ini; yaitu sifat uluhiyyah, tidak pantas disandang oleh Al Haq Swt kecuali Dia juga menyandang seluruh sifat dan asma yang sempurna. Seandainya satu sifat atau satu nama saja yang tidak ada dari-Nya, maka Dia tidak pantas menyandang sifat uluhiyyah. Demikianlah yang dimaksud dengan kembalinya seluruh sifat kepada satu sifat.

Adapun terkait dengan opini, “Ampunan yang ada dalam penaklukan,” maka maksudnya adalah penaklukan Hudaibiyyah bukan penaklukan kota Makkah. Surat Al Fath ini turun tentang peristiwa Hudaibiyyah, dua tahun sebelum terjadinya penaklukan kota Makkah, di dalamnya Nabi Saw diberi empat hal, yaitu:

لِّيَـغْفِرَ لَكَ اللّٰهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِۢكَ وَ مَا تَاَ خَّرَ وَيُتِمَّ نِعْمَتَهٗ عَلَيْكَ وَيَهْدِيَكَ صِرَا طًا مُّسْتَقِيْمًا 
liyaghfiro lakallohu maa taqoddama ming zambika wa maa ta-akhkhoro wa yutimma ni’matahuu ‘alaika wa yahdiyaka shiroothom mustaqiimaa

“Agar Allah memberikan ampunan kepadamu (Muhammad) atas dosamu yang lalu dan yang akan datang, serta menyempurnakan nikmat-Nya atasmu dan menunjukimu ke jalan yang lurus,”
(QS. Al-Fath 48: Ayat 2)

وَّ يَنْصُرَكَ اللّٰهُ نَصْرًا عَزِيْزًا
wa yangshurokallohu nashron ‘aziizaa

“Dan agar Allah menolongmu dengan pertolongan yang kuat (banyak).”
(QS. Al-Fath 48: Ayat 3)

Kemudian Allah Swt menyebutkan apa yang terjadi dalam peristiwa Hudaibiyyah, sampai firman-Nya,

لَـقَدْ صَدَقَ اللّٰهُ رَسُوْلَهُ الرُّءْيَا بِا لْحَـقِّ  ۚ لَـتَدْخُلُنَّ الْمَسْجِدَ الْحَـرَا مَ اِنْ شَآءَ اللّٰهُ اٰمِنِيْنَ ۙ مُحَلِّقِيْنَ رُءُوْسَكُمْ وَمُقَصِّرِيْنَ ۙ لَا تَخَا فُوْنَ ۗ فَعَلِمَ مَا لَمْ تَعْلَمُوْا فَجَعَلَ مِنْ دُوْنِ ذٰلِكَ فَتْحًا قَرِيْبًا
laqod shodaqollohu rosuulahur-ru-yaa bil-haqq, latadkhulunnal-masjidal-harooma ing syaaa-allohu aaminiina muhalliqiina ru-uusakum wa muqoshshiriina laa takhoofuun, fa ‘alima maa lam ta’lamuu fa ja’ala ming duuni zaalika fat-hang qoriibaa

“Sungguh, Allah akan membuktikan kepada Rasul-Nya tentang kebenaran mimpinya bahwa kamu pasti akan memasuki Masjidil haram, jika Allah menghendaki dalam keadaan aman, dengan menggunduli rambut kepala dan memendekkannya, sedang kamu tidak merasa takut. Maka Allah mengetahui apa yang tidak kamu ketahui, dan selain itu Dia telah memberikan kemenangan yang dekat.”
(QS. Al-Fath 48: Ayat 27)

Mereka (para sahabat) menginginkan Nabi Saw keluar pada tahun Hudaibiyyah, mereka tidak melihat dalam ayat ini selain penaklukan kota Makkah. Nabi Saw mengabarkan kepada mereka bahwa beliau bermimpi memasuki ke kota Makkah dalam keadaan aman.

Ketika Nabi Saw dihalangi untuk beribadah di Baitullah, kemudian beliau mengadakan perdamaian dengan kafir Quraisy untuk kembali pada tahun itu tanpa umrah, maka orang-orang berprasangka buruk dan keimanan mereka mulai goyah, serta syeithan-syeithan pun menunggangi mereka dengan mencemari keimanan mereka, maka Allah Swt menurunkan ayat,

لَـقَدْ صَدَقَ اللّٰهُ رَسُوْلَهُ الرُّءْيَا بِا لْحَـقِّ  ۚ لَـتَدْخُلُنَّ الْمَسْجِدَ الْحَـرَا مَ اِنْ شَآءَ اللّٰهُ اٰمِنِيْنَ ۙ مُحَلِّقِيْنَ رُءُوْسَكُمْ وَمُقَصِّرِيْنَ ۙ لَا تَخَا فُوْنَ ۗ فَعَلِمَ مَا لَمْ تَعْلَمُوْا فَجَعَلَ مِنْ دُوْنِ ذٰلِكَ فَتْحًا قَرِيْبًا
laqod shodaqollohu rosuulahur-ru-yaa bil-haqq, latadkhulunnal-masjidal-harooma ing syaaa-allohu aaminiina muhalliqiina ru-uusakum wa muqoshshiriina laa takhoofuun, fa ‘alima maa lam ta’lamuu fa ja’ala ming duuni zaalika fat-hang qoriibaa

“Sungguh, Allah akan membuktikan kepada Rasul-Nya tentang kebenaran mimpinya bahwa kamu pasti akan memasuki Masjidil haram, jika Allah menghendaki dalam keadaan aman, dengan menggunduli rambut kepala dan memendekkannya, sedang kamu tidak merasa takut. Maka Allah mengetahui apa yang tidak kamu ketahui, dan selain itu Dia telah memberikan kemenangan yang dekat.”
(QS. Al-Fath 48: Ayat 27)

Maksudnya, penaklukan Hudaibiyyah, karena penaklukan Hudaibiyyahlah Islam semakin kuat dan orang-orang yang memeluk agama Islam semakin banyak, sehingga di Hudaibiyyah Nabi Saw berperang bersama 400.000 pasukan, dan dua tahun berikutnya beliau berperang untuk merebut kembali kota Makkah bersama 10.000 pasukan, lalu beliau mampu menaklukkannya. Allah Maha mengetahui apa yang tidak kalian ketahui.

Kami katakan, penaklukan yang menjadi sebab adanya ampunan bagi dosa yang lalu dan yang akan datang, penyempurnaan kenikmatan bagi Nabi Saw, menunjuki beliau ke jalan yang lurus dan pertolongan Allah kepada beliau dengan pertolongan yang kuat, maka penaklukan itu adalah penaklukan Hudaibiyyah bukan penaklukan kota Makkah. Yang dimaksud dengan ampunan bagi Nabi Saw adalah bahwa Al Haq Swt ber-tajalli kepada beliau dengan tajalli yang nyata, di dalam tajalli tersebut Dia memberikan beliau empat sifat yang telah disebutkan dalam ayat di atas.

Sedangkan yang dimaksud dengan dosa bagi para nabi As, maka Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra telah menyebutkannya dalam penafsiran firman Allah Swt,

اِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُّبِيْنًا 
innaa fatahnaa laka fat-ham mubiinaa

“Sungguh, Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata,”
(QS. Al-Fath 48: Ayat 1)

-Selesai sudah apa yang di-imla ‘kan Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra kepada kami.-

Diantara perkataan Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra, beliau berkata:

Permulaan makhluk yang Allah Swt ciptakan dari hadhrah ghaib adalah ruh Sayyidina Muhammad Saw, kemudian Allah menciptakan ruh semesta ini dari ruh Nabi Saw. Yang dimaksud ruh disini adalah unsur yang menjadi inti kehidupan dalam jasad. Kemudian Allah Swt menciptakan dari ruh Nabi Saw itu jasad-jasad nuraniyyah, seperti para malaikat dan yang serupa dengan mereka.

Sedangkan jasad-jasad yang kasar lagi gelap, maka ia diciptakan dari sisi yang kedua dari ruh Nabi Saw, karena ruh Nabi Saw itu memiliki dua sisi yang Allah Swt alirkan kepada ciptaan secara keseluruhan.

Sisi yang pertama adalah cahaya murni, dari sisi inilah ruh-ruh diciptakan, begitu pula jasad-jasad nuraniyyah yang tidak ada kegelapan di dalamnya.

Sisi yang kedua dari ruh Nabi Saw adalah sisi kegelapan, dari sisi inilah Allah Swt menciptakan jasad-jasad zhulmaniyyah, seperti syeithan, jasad-jasad lainnya yang kasar, neraka dan ragam tingkatannya, sebagaimana surga dan seluruh tingkatannya diciptakan dari sisi nuraniyyah. Demikianlah hubungan seluruh semesta ini kepada ruh Nabi Saw.

Hakekat Al Muhammadiyyah Saw adalah permulaan maujud yang Allah Swt wujudkan dari hadhrah Allah Al Ghaib. Tidak ada satu makhluk pun di sisi Allah Swt yang wujud sebelumnya. Tetapi hakekat ini tidak dapat didefinisikan dengan sesuatu apapun. Sebagian ulama melakukan penyimpangan dalam membahas hakekat ini, dia berkata, “Sesungguhnya hakekat ini tunggal, tidak ada sesuatu pun yang bersamanya. Bisa jadi ia berupa materi atau non materi. Jika ia berupa materi, maka ia membutuhkan tempat, sehingga ia tidak sendiri dalam wujudnya. Jika ia diciptakan bersamaan dengan tempatnya dalam satu waktu, maka ia bukan lagi yang pertama, karena ia dan tempatnya itu berarti dua. Namun, jika ia berupa non materi, maka tidak ada pembahasan tentang hal itu, karena tidak ada wujud bagi non materi, kecuali hanya sekejap mata kemudian ia sirna. Lantas, manakah yang paling pertama yang kalian ucapkan itu?”

Jawaban tentang masalah ini adalah: Hakekat Al Muhammadiyyah adalah inti daripada hakekat yang ada, ia memiliki dua sisi: (1) Nuraniyyah dan (2) Zhulmaniyyah. Sedangkan keberadaannya yang membutuhkan tempat, maka pembatasan ini tidak benar, karena pembatasan ini muncul dari orang yang lemah akalnya dalam maqam ajsam (maqam yang menitik beratkan perhatian pada tubuh jasad). Pada hakekatnya, Allah Swt Maha Kuasa untuk menciptakan makhluk-makhluk ini tanpa tempat. Akal menganggap masalah ini mustahil, sebab tidak mungkin jasad itu ada tanpa tempat. Sungguh, hal itu adalah kebiasaan yang Allah Swt lakukan. Akal tidak mampu memahaminya dan tidak mau melepaskannya dalam ketentuan hakekat.

Seandainya akal itu melepaskannya dalam ketentuan hakekat, tentu ia mengetahui bahwa Allah Swt Maha Kuasa untuk menciptakan alam tanpa tempat. Demikianlah adanya dengan masalah ini, karena Allah Swt menciptakan Hakekat Al Muhammadiyyah, berupa materi tanpa membutuhkan tempat. Tidak diragukan lagi bahwa orang yang tersingkap baginya hakekat Ilahiyyah, tentu dia mengetahui secara yakin dan pasti bahwa adanya alam tanpa tempat itu mungkin saja terjadi.

Hakekat Al Muhammadiyyah itu berada pada martabat ini, tidak dapat diketahui dan tidak dapat dipahami. Tidak ada harapan bagi seorang pun untuk memperoleh pengetahuannya dalam masalah ini.

Kemudian Hakekat Al Muhammadiyyah itu tertutupi dengan penutup dari Anwar Illahiyyah, dan ia pun terhijab dari makhluk. Dalam hal ini, Hakekat Al Muhammadiyyah disebut sebagai ruh setelah ia ter-hijab dengan penutup tersebut. Inilah puncak pengetahuan para nabi dan rasul serta wali quthb. Mereka sampai pada posisi ini, kemudian mereka terhenti. Kemudian Hakekat Al Muhammadiyyah tertutup oleh Anwar Ilahiyyah yang lain, dan dengannya ia disebut sebagai akal. Lalu Hakekat Al Muhammadiyah itu tertutup oleh Anwar Illahiyyah yang lain, sehingga sebab itu ia disebut sebagai qalbu. Selanjutnya Hakekat Al Muhammadiyah itu tertutup oleh Anwar Ilahiyyah yang lain, sehingga sebab itu ia disebut sebagai nafs. Setelah itu, jasad beliau yang mulia Saw tampak.

Para wali Allah berbeda pendapat dalam pencapaian martabat ini. Satu kelompok menyatakan bahwa puncak pencapaian mereka adalah diri Nabi Saw. Dalam hal itu mereka memiliki ‘ulûm, asrâr dan ma’arif. Kelompok lain yang ada di atas kelompok yang pertama menyatakan, bahwa puncak pencapaian mereka adalah hati Nabi Saw. Dalam hal itu, mereka memiliki ‘ulum, asrâr dan ma’arif yang lain.

Kelompok lain yang ada di atas kelompok kedua menyatakan, puncak pencapaian mereka adalah akal Nabi Saw. Sesuai dengan hal itu, mereka memiliki ‘ulům, asrâr dan ma’arif yang lain. Sedangkan kelompok yang lain, dimana mereka adalah orang-orang mulia yang telah mencapai puncak tertinggi dalam pencapaian, mereka mencapai maqam ruh Nabi Saw. Inilah puncak pencapaian. Tidak ada harapan bagi seorang pun untuk mencapai esensi hakekat ini, yang didalamnya ia diciptakan.

Dalam hal ini, Abu Yazid Al Busthami Ra pernah berkata, “Aku menyelami samudera ma’rifat agar bisa berhenti di atas sumber hakekat Nabi Saw, ternyata antara aku dan dengan beliau terdapat seribu hijab dari cahaya. Seandainya aku mendekati hijab yang pertama saja, tentu aku terbakar sebagaimana rambut terbakar jika dilempar ke dalam api.’

Demikian juga Syaikh Maulana Abdussalam berkata dalam shalatnya, “Akal-akal tidak mampu memahaminya, sehingga dari golongan kami tidak ada yang dapat mencapainya; baik yang pertama dan yang terakhir. Dalam hal ini, Uwais Al Qarni berkata kepada Sayyidina Ali Ra dan Sayyidina Umar Ra, ‘Kalian berdua tidak melihat dari Rasulullah Saw, kecuali bayangannya. Mereka berdua berkata, ‘Tidak pula Ibnu Abi Quhafah (Abu Bakar)?’ Dia menjawab, “Tidak pula Ibnu Abi Quhafah. Bisa jadi Uwais Al Qarni menyelami samudera ma’rifat untuk dapat berhenti di atas sumber Hakekat Al Muhammadiyyah, namun dikatakan kepadanya, perkara ini tidak mampu dilakukan oleh para rasul dan nabi, maka tidak ada harapan bagi selain mereka di dalamnya.”

Maksud perkataan Syaikh dalam shalatnya adalah, “Ya Allah pertemukan aku dengan nasabnya Nabi Saw.” Maksudnya adalah, dia menjadi khalifah dari Allah Swt dalam seluruh kekuasaan ilahiyyah tanpa penyelewengan, dia memiliki seluruh sifat-sifat Allah dan asma -Nya sehingga seakan-akan dia adalah diri Nabi Saw. Demikianlah yang dimaksud dengan nisbat nya dari Hadhrah Ilahiyyah.

Berdasarkan ungkapan Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra ini, beliau berkata, “Maksudnya, Syaikh kami meminta kepada Allah Swt agar Dia menetapkannya dengan nisbat Nabi Saw dari hadhrah ilahiyyah. Penetapannya itu sesuai dengan nisbat tersebut, yaitu ‘ulûm Al Muhammadiyyah. Para wali Allah hanya memiliki sesuai kadar bagian dan batasannya. Puncak yang bisa dicapai dari ‘Ulûm Al Muhammadiyyah sejumlah tujuh puluh dua.”

Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra juga berkata, “Barangsiapa yang mencapai enam puluh enam dari ‘Ulûm Al Muhammadiyyah atau lebih, maka dia tidak akan terancam oleh pergaulan bersama makhluk dan berbica dengan mereka, karena dia tidak mendengar kecuali dari Allah Swt, sepi dan ramainya sama saja baginya.”

Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra berkata, “Barangsiapa yang mencapai ilmu pertama dari ‘Ulum Al Muhammadiyyah dan dibagi menjadi tujuh puluh dua bagian, kemudian dia meng etahui satu bagian dari tujuh puluh dua bagian itu, maka dia bisa menafsirkan setiap ayat kitab Allah Swt dengan tujuh puluh dua sisi dari tafsir, dan dia dapat meliputi seluruh ilmu, zhahir dan batin. Hal ini bagi orang yang mengetahui satu dari tujuh puluh dua bagian dari ilmu yang pertama, apalagi dari ilmu yang pertama secara keseluruhan, apalagi dari dua atau tiga sampai akhir tujuh puluh dua ilmu. Maka, kenalilah nisbat itu.”

Redaksi, “Tempatkanlah aku dengan hasab-nya” maksudnya, apabila Engkau menghubungkan aku dengan hasab-nya, dimana hasab disini adalah kemuliaan. Maksudnya, muliakanlah aku dengan kemuliaannya. Yang dimaksud dengan kemuliaan ini adalah apa yang diberikan kepadanya dalam hadhrah ini berupa akhlak ilahiyyah, ahwal ‘aliyah, dan jiwa-jiwa yang suci. Barangsiapa yang menempati kondisi ini, maka dia menjadi pimpinan semesta ini dengan keseluruhannya. Inilah nasab yang dicari oleh Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra.

Redaksi, “Kenalkanlah aku kepadanya” adalah tuntutan untuk mengenal hakekat ruh Nabi Saw. Inilah puncak pencapaian. Wassalam. Demikian apa yang di-imla’kan Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra kepada kami.-

Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra berkata, “Panjangnya ruh adalah sejauh perjalanan 900.000 tahun demikian pula dengan lebar nya. Ini adalah ruhnya orang-orang yang ‘Arifbillah. Sedangkan selain mereka, maka seperti burung merpati atau lebih kecil lagi. Tempat ruh orang-orang mukmin yang memiliki hijab, maka mulai dari langit yang pertama hingga langit yang keempat. Kemudian dari langit yang keempat menjadi tempatnya ruh orang-orang yang ‘Arfibillah sesuai dengan tingkatan mereka.” -Demikian apa yang di-imla ‘kan Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra kepada kami.-

Aku mendengar Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra berkata: Al Imam Asy-Syadzili Ra pernah berkata tentang perbincangannya kepada Al Haq Swt, “Sesungguhnya orang kafir walaupun dia tidak memenuhi panggilan iman-Mu, namun dia memenuhi panggilan kekuasaan-Mu, sehingga masing-masing dari mereka mengikuti perintah-Mu.”

اِنِّيْ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللّٰهِ رَبِّيْ وَرَبِّكُمْ ۗ مَا مِنْ دَآ بَّةٍ اِلَّا هُوَ اٰخِذٌ بِۢنَا صِيَتِهَا ۗ اِنَّ رَبِّيْ عَلٰى صِرَا طٍ مُّسْتَقِيْمٍ
innii tawakkaltu ‘alallohi robbii wa robbikum, maa ming daaabbatin illaa huwa aakhizum binaashiyatihaa, inna robbii ‘alaa shiroothim mustaqiim

“Sesungguhnya aku bertawakal kepada Allah Tuhanku dan Tuhanmu. Tidak satu pun makhluk bergerak (bernyawa) melainkan Dialah yang memegang ubun-ubunnya (menguasainya). Sungguh, Tuhanku di jalan yang lurus (adil).”
(QS. Hud 11: Ayat 56)

Maka, segala sesuatu dalam semesta ini adalah makhluk, baik yang bergerak ataupun yang padat. Terkait benda-benda padat, Allah Swt memberikannya ruh-ruh yang tidak dapat kita indera. Ruh-ruh itu memiliki kesempurnaan ma’rifat kepada Allah Swt, dan dengan ma’rifat itulah ia bertasbih dan mensucikan-Nya, bersujud dan menyembah-Nya.

Rasulullah Saw bertanya kepada dhab (sejenis biawak) saat beliau berbincang-bincang dengannya, beliau bersabda,

يَا ضَبّ، فَأَجَابَهُ الضَبُ بِلِسَانٍ عَرَبِي مُبِيْنٍ يَسْمَعُهُ الْقَوْمُ جَمِيعًا : لَبَّيْكَ وَسَعْدَيْكَ يَا زَيْنَ مَنْ وَالَى الْقِيَامَةَ، قَالَ: مَنْ تَعْبُدُ يَا ضَبْ؟ قَالَ: الَّذِي فِي السَّمَاءِ عَرْشُهُ، وَفِي الْأَرْضِ سُلْطَانُهُ وَفِي الْبَحْرِ سَبِيْلُهُ وَفِي الْجَنَّةِ رَحْمَتُهُ وَفِي النَّارِ عَذَابُهُ ، قَالَ: فَمَنْ أَنَا يَا ضَبْ؟ قَالَ : أَنْتَ رَسُوْلُ رَبِّ الْعَالَمِينَ وَخَاتَم النَّبِيِّينَ، وَقَدْ أَفْلَحَ مَنْ صَدَقَكَ وَقَدْ خَابَ مَنْ كَذَبَكَ

“Hai dhab.” la menjawab, “Aku penuhi panggilanmu dengan senang hati, hai penghias orang yang ada di Hari Kiamat.” Beliau bertanya, “Siapa yang kamu sembah? la menjawab, “Dzat yang ‘Arsy-Nya ada di langit, kekuasaan-Nya ada di bumi, ruh-Nya ada di angin, rahmat-Nya ada di surga dan siksa-Nya ada di neraka.” Beliau bertanya lagi, “Aku ini siapa?” la menjawab, “Engkau utusan Allah. Sungguh beruntung orang yang membenarkanmu dan celaka orang yang mendustakan mu. ” (HR. Ath-Thabrani dalam Mu jam Al Awsath, vol. VI, hal. 126, No. 5996)

Karena inilah, seorang A’rabi memeluk agama Islam, sebab syaratnya dia memeluk Islam adalah Nabi Saw bisa berbicara dengan dhab itu, sehingga ketika beliau berbicara kepadanya, maka dia pun memeluk agama Islam.

Kemudian Rasulullah Saw bersabda, “Segala sesuatu mengetahui bahwa aku adalah utusan Allah, kecuali para pembangkang dari kalangan manusia dan jin.”

Ibadahnya seekor dhab sudah cukup sebagai penguat, karena seluruh semesta ini beribadah kepada Allah Swt. Demikian pula dengan pasukan gajah saat Nufail bin Habib berkata kepadanya, dan Nufail menjadi tahanan Abrahah hingga akhir peristiwa itu. Gajah itu disebutkan dalam beberapa buku sejarah, sehingga kami tidak perlu berpanjang-lebar dalam menyebutkannya. Selesai sudah apa yang di-imla ‘kan Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra kepada kami.-

Sumber : BUKU SAYYIDI SYAIKH RA MENJAWAB JILID 3 – KAJIAN SEPUTAR HADITS, SULUK, DAN FIKIH (JAWAHIR AL MA’ANI) SYAIKH AL HAJJ ALI HARAZIM AT-TIJANY