You dont have javascript enabled! Please enable it!
Elsubha menjamin Garansi 100% Uang Kembali jika barang yang diterima adalah PALSU

Pembahasan 46. Ada yang bertanya kepada Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra, dia berkata: “Wajib untuk tidak bertemu dengan orang yang tidak bisa lagi diharapkan kasih sayang dan kelembutannya, walaupun dia memintamu untuk bertemu. Karena manfaat pertemuan adalah untuk menentramkan hati. Sedangkan orang yang menampakkan kasih sayang dan engkau mampu menahan emosi, maka engkau wajib menemui nya.”

بسم الله الرحمن الرحيم اللهم صل على سيدنا محمد الفاتح لما أغلق والخاتم لما سبق ناصر الحق بالحق والهادي إلى صراطك المستقيم وعلى آله حق قدره ومقداره العظيم

Elsubha.com – Ada yang bertanya kepada Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra, dia berkata:

“Wajib untuk tidak bertemu dengan orang yang tidak bisa lagi diharapkan kasih sayang dan kelembutannya, walaupun dia memintamu untuk bertemu. Karena manfaat pertemuan adalah untuk menentramkan hati. Sedangkan orang yang menampakkan kasih sayang dan engkau mampu menahan emosi, maka engkau wajib menemui nya.”

Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra menjawab:

Memutus tali kasih sayang dan pertemanan dengan orang tersebut, yang caranya dengan menampakkan sikap permusuhan dan ketidaksukaan, maka ini tidak boleh dilakukan, baik secara syari’at ataupun dari sisi tinjauan tabiat. Orang yang memiliki akal tentu tidak akan melakukan hal itu. Sebab, Allah Swt memang memposisi kan manusia sebagai tempat munculnya keburukan dan ini berlaku bagi setiap orang, walaupun sebenarnya mereka adalah orang-orang yang suka melakukan kebaikan. Karena Allah Swt ber-tajalli pada setiap waktu dengan perkara yang telah diketahui, setiap waktu tidak terlepas dari tajalli-Nya Allah dengan keburukan kepada sebagian makhluk-Nya. Maka sikap merespon dengan cara menentang dan membalasnya dengan keburukan adalah perkara yang bahayanya sangat besar bagi orang yang berakal. Tetapi, orang yang berakal hanya akan pasrah kepada Allah Swt terkait dengan apa yang dikehendaki-Nya dari makhluk-Nya, dia bersikap rendah hati kepada perintah Allah, dia menampakkan kelembutan namun tetap berpaling. Dengan demikian, dia akan selamat dari rintangan-rintangan keburukannya.

Orang yang merespon dengan cara membalas keburukan makhluk, maka hal itu tidak akan menambah kecuali kesulitan dan akibat yang cukup berat, karena dia tidak mengakui sikap ubudiyyah yang menuntut adanya kerendahan hati dan tunduk, sebab membalas dengan keburukan adalah keluar dari batas ubudiyyah. Orang yang melakukan demikian itu seperti orang yang menambahkan kayu ke dalam api, yang nyatanya malah akan membuat api semakin menyala-nyala.

Berbeda halnya dengan orang yang merespon dengan rendah hati, tunduk dan lemah lembut, maka tidak butuh waktu lama api itu akan padam.

Jadi, yang harus dilakukan seorang hamba jika dia mengetahui sikap permusuhan dalam diri seseorang adalah menjauhinya atau menampakkan sikap lemah lembut kepadanya atau hanya berpaling saja, maka dia akan selamat dari keburukannya. Hendaklah dia merasa khawatir dari makhluk-Nya, karena makhluk itu diberi kemampuan oleh Allah Swt, sehingga tidak ada yang bermanfaat bagi mereka, kecuali berpaling dari keburukan tersebut.

Al Imam Asy-Syafi’i Ra pernah bersenandung:

لَمَّا عَفَوْتُ وَلَمْ أَحْقِدْ عَلَى أَحَدٍ # أَرَحْتُ نَفْسِي مِنْ حَمْلِ الْمَشَقَّاتِ

إِنِّي أُحَيِّ عَدُوِّى عِنْدَ رُؤْيَتِهِ # كَيْ أُذْهِبَ الشَّرَّ عَنِّى بِالتَّحِيَّاتِ

وَلَسْتُ أَسْلَمُ مِنْ خِلٌ يُصَادِقُنِي # فَكَيْفَ أَسْلَمُ مِنْ أَهْلِ الْعَدَاوَاتِ

“Ketika aku memaafkan dan tidak dengki kepada seorang pun, # jiwaku rehat dari menanggung beban berat Sungguh aku hormati musuhku saat aku melihatnya, # agar aku dapat mengganti keburukannya dengan penghormatan

Aku tidak pernah selamat dari kekurangan dalam diriku. # Lantas, bagaimana aku selamat dari para musuh?”

Nabi Saw bersabda,

رَأْسُ العَقْلِ بَعْدَ الإِيْمَانِ بِاللَّهِ التَّوَدُّدُ إِلَى النَّاسِ

“Puncak akal setelah iman kepada Allah adalah berkasih sayang kepada sesama manusia.”

Kami katakan, pertama kali yang wajib adalah membalas keburukan mereka dengan berbuat baik kepada mereka. Jika tidak demikian, maka dengan menampakkan sikap lemah lembut dan rendah hati. Jika tidak demikian, maka dengan cara berpaling dari membalas keburukan nya. Jadi, masalah ini memiliki tiga tahapan sebagai berikut:

Pertama, membalas kejahatannya dengan perbuatan baik. Tahapan inilah yang disinggung oleh Allah Swt dalam firman-Nya,

وَلَا تَسْتَوِى الْحَسَنَةُ وَ لَا السَّيِّئَةُ ۗ اِدْفَعْ بِا لَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُ فَاِ ذَا الَّذِيْ بَيْنَكَ وَبَيْنَهٗ عَدَاوَةٌ كَاَ نَّهٗ وَلِيٌّ حَمِيْمٌ
wa laa tastawil-hasanatu wa las-sayyi-ah, idfa’ billatii hiya ahsanu fa izallazii bainaka wa bainahuu ‘adaawatung ka-annahuu waliyyun hamiim

“Dan tidaklah sama kebaikan dengan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, sehingga orang yang ada rasa permusuhan antara kamu dan dia akan seperti teman yang setia.”
(QS. Fussilat 41: Ayat 34)

وَمَا يُلَقّٰٮهَاۤ اِلَّا الَّذِيْنَ صَبَرُوْا ۚ وَمَا يُلَقّٰٮهَاۤ اِلَّا ذُوْ حَظٍّ عَظِيْمٍ
wa maa yulaqqoohaaa illallaziina shobaruu, wa maa yulaqqoohaaa illaa zuu hazhzhin ‘azhiim

“Dan (sifat-sifat yang baik itu) tidak akan dianugerahkan kecuali kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan kecuali kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar.”
(QS. Fussilat 41: Ayat 35)

Kedua, menampakkan sikap lemah lembut dan rendah hati agar perkara dalam hal itu menjadi mudah.

Tahapan inilah yang disinggung oleh Allah Swt dalarn firman-Nya,

خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِا لْعُرْفِ وَاَ عْرِضْ عَنِ الْجٰهِلِيْنَ
khuzil-‘afwa wa-mur bil-‘urfi wa a’ridh ‘anil-jaahiliin

“Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta jangan pedulikan orang-orang yang bodoh.”
(QS. Al-A’raf 7: Ayat 199)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ فِى السَّرَّآءِ وَا لضَّرَّآءِ وَا لْكٰظِمِيْنَ الْغَيْظَ وَا لْعَا فِيْنَ عَنِ النَّا سِ ۗ وَا للّٰهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَ 
allaziina yungfiquuna fis-sarrooo-i wadh-dhorrooo-i wal-kaazhimiinal-ghoizho wal-‘aafiina ‘anin-naas, wallohu yuhibbul-muhsiniin

“(yaitu) orang-orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan.”
(QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 134)

Ketiga, menjauhinya secara totalitas, karena Allah Swt menyukai sikap tidak mempedulikan orang-orang bodoh. Dalam tahapan ini, Allah Swt berfirman dalam kejadian yang menimpa Nabi Saw dengan Suhail bin ‘Amr ketika beliau menulis surat perjanjian antara beliau dan dia. Saat itu, juru tulisnya adalah ‘Ali Ra. Nabi Saw bersabda kepada Ali, “Tulislah: Ini adalah surat perjanjian Muhammad utusan Allah kepada Suhail bin Amr.” Namun, Suhail merasa keberatan dengan pernyataan itu, dia berkata, “Bukan, tapi tulislah namamu dan nama ayahmu. Seandainya kami mengetahui bahwa engkau adalah utusan Allah, tentu kami tidak akan menolakmu dari rumahnya.” Nabi Saw tidak banyak bicara kepadanya karena dia mendustakan beliau. Beliau menampakkan sikap lemah lembut dan tidak mempedulikan kebodohan nya. Nabi Saw bersabda kepada Ali, “Tulislah: Ini adalah surat perjanjian Muhammad bin ‘Abdullah kepada Suhail bin ‘Amr.”

Karena kejadian ini, Allah Swt menurunkan,

اِذْ جَعَلَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا فِيْ قُلُوْبِهِمُ الْحَمِيَّةَ حَمِيَّةَ الْجَـاهِلِيَّةِ فَاَ نْزَلَ اللّٰهُ سَكِيْنَـتَهٗ عَلٰى رَسُوْلِهٖ وَعَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ وَاَ لْزَمَهُمْ كَلِمَةَ التَّقْوٰى وَ كَا نُوْۤا اَحَقَّ بِهَا وَاَ هْلَهَا ۗ وَكَا نَ اللّٰهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمًا
iz ja’alallaziina kafaruu fii quluubihimul-hamiyyata hamiyyatal-jaahiliyyati fa angzalallohu sakiinatahuu ‘alaa rosuulihii wa ‘alal-mu-miniina wa alzamahum kalimatat-taqwaa wa kaanuuu ahaqqo bihaa wa ahlahaa, wa kaanallohu bikulli syai-in ‘aliimaa

“Ketika orang-orang yang kafir menanamkan kesombongan dalam hati mereka (yaitu) kesombongan jahiliah, maka Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya, dan kepada orang-orang mukmin, dan (Allah) mewajibkan kepada mereka tetap taat menjalankan kalimat takwa, dan mereka lebih berhak dengan itu dan patut memilikinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”
(QS. Al-Fath 48: Ayat 26)

Kalimat takwa adalah sikap rendah hati Nabi Saw, menampakkan sikap lemah lembut beliau dan tidak banyak bicara dengan kebodohan Suhail bin Amr saat dia mendustakan beliau tentang risalah. Nabi Saw tidak membalas apa yang telah dilakukannya. Demikianlah yang pantas dilakukan dalam kasus ini.

Makna “kalimat takwa” yang kami isyaratkan diatas termasuk bagian dari penakwilan ayat tersebut, karena Al Qur’an memiliki cakupan makna yang sangat luar biasa. -Selesai sudah apa yang di-imla ‘kan Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra kepada kami.-

Diantara syair yang disenandungkan Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra kepadaku adalah dua bait syair berikut ini:

إِذَا كُنْتَ قُوْتَ الرُّوحِ ثُمَّ هَجَرْتَهَا # فَكَمْ تَلْبَثُ الرُّوْحُ الَّتِي أَنْتَ قُوْتُهَا

سَتَبْقَى بَقَاءَ النَّارِ فِي الْمَاءِ أَوْ كَمَا # يَعِيْشُ بِغُدْرَانِ الْمَفَاوِزِ حُوْتُهَا

“Apabila engkau menjadi kekuatan bagi ruh kemudian kau meninggalkannya, # maka berapa lama ruh itu akan bisa bertahan?

la akan seperti api di dalam air # atau seperti ikan yang hidup dalam kolam di tengah padang sahara.”

Kemudian Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra berkata:

Maksud dua bait syair ini adalah, bahwa seorang pecinta apabila kekuatan ruhnya itu adalah kekasihnya, yang mana kekuatan itu ia dapatkan dengan cara melihat, menyaksikan, memadu kasih dan bersama dengannya, kemudian kekasihnya itu meninggalkannya, maka ruhnya tidak akan bertahan, kecuali seperti bertahannya api dalam air, juga seperti ikan yang masih hidup setelah tidak ada air, dia akan mati seketika itu. Demikian pula dengan ruh sang pecinta akan mati seketika itu saat ditinggal.” -Selesai sudah apa yang di-imla ‘kan Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra kepada kami.-

Sumber : BUKU SAYYIDI SYAIKH RA MENJAWAB JILID 3 – KAJIAN SEPUTAR HADITS, SULUK, DAN FIKIH (JAWAHIR AL MA’ANI) SYAIKH AL HAJJ ALI HARAZIM AT-TIJANY