
Elsubha.com – Aku bertanya kepada Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra tentang maksud dua bait syair berikut ini:
أَيَا سِرِّى يَا جَهْرِي وَبَعْضِي وَجُمْلَتِي # وَيَا كُلَّ أَجْزَائِي وَمَكْنُوْنَ خُفْيَتِي
وَيَا عَيْنَ بَهْجَتِي وَأَنْوَارَ مَهَجَّتِي # وَبَرْدَ فُؤَادِي امْنُنْ عَلَيَّ بِرُؤْيَتِي
“Duhai ketersembunyianku, duhai keterbukaanku, duhai sebagianku # dan keseluruhanku. Duhai setiap bagianku dan penyimpan rahasiaku
Duhai sumber kebahagiaanku, cahaya jiwaku, # penyejuk hatiku, berilah aku kesempatan untuk menatap(Ku).”
Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra menjawab dengan mengatakan:
Ketahuilah bahwa yang dia maksud dengan redaksi, أَيَا سِرِّى يَا جَهْرِى “Duhai ketersembunyianku, duhai keterbukaanku,” adalah, bahwa Allah Swt mengatur seluruh keadaannya, sehingga tidak ada akal, tidak ada persepsi, tidak ada perasaan, tidak ada cara, tidak ada gambaran, tidak ada “dimana”, tidak ada alasan, tidak ada ucapan dan tidak ada pengolahan dalam sesuatu, kecuali Allah Swt. Demikianlah yang dimaksud dengan redaksi, “Ya sirri ya jahri”.
Maksud “Ya sirri” adalah apa yang dia rahasiakan dari keadaannya. Sedangkan maksud “Ya jahri” adalah apa yang dia tampakkan dari keadaannya. Syaikh Maulana ‘Abdussalam Ra berkata dalam shalatnya, “Tenggelamkanlah aku dalam samudera wahdah, sehingga aku tidak melihat, tidak mendengar, tidak menemukan dan tidak merasakan kecuali dengannya.” Demikianlah maksud, أَيَا سِرِّى يَا جَهْرِى “Duhai ketersembunyianku, duhai keterbukaanku.”
Sebagian para penyair bersenandung tentang “ketenggelaman” ini sebagai berikut:
تَاللَّهِ مَا طَلَعَتْ شَمْسُ وَلَا غَرَبَتْ # إِلَّا وَأَنْتَ مِنِّي قَلْبِي وَوَسْوَاسِ
وَلَا تَنَفَّسْتُ مَسْرُوْرًا وَمُكْتَىِٔبًا # إِلَّا وَذِكْرُكَ مَقْرُوْنٌ بِأَنْفَاسِ
وَلَا جَلَسْتُ إِلَى قَوْمٍ أُحَدِّثُهُمْ # إِلَّا أَنْتَ حَدِيْثِي بَيْنَ جُلَّاسِ
وَلَا تَنَاوَلْتُ شُرْبَ الْمَاءِ مِنْ عَطَشٍ # إِلَّا رَأَيْتُ خَيَالًا مِنْكَ فِي الْكَاسِ
“Demi Allah, tidaklah matahari terbit dan tenggelam, # kecuali Engkaulah yang menjadi harapan hati dan motivasiku
Tidaklah aku bernafas dalam keadaan suka dan duka, # kecuali nama-Mu bersama hembusan nafasku
Tidaklah aku duduk bersama sekelompok orang sambil berbincang-bincang, # kecuali Engkau berbincang-bincang
denganku di antara temanku
Dan tidaklah aku meneguk minuman karena haus, # kecuali aku melihat bayangan-Mu dalam cawan.”
Sya’ir ini mengisyaratkan “tenggelam” bersama Allah Swt dan inilah yang dimaksud dengan redaksi أَيَا سِرِّى یَا جَهْرِی “Duhai ketersembunyianku, duhai keterbukaanku.”
Maksud redaksi, وَبَعْضِ وَجُمْلَتِي “Sebagianku dan keseluruhanku” adalah tidak ada dalam diriku selain Engkau. Engkau-lah sebagian dan keseluruhanku, dan duhai setiap bagianku. Sehingga tiadalah aku selain Engkau dan tiadalah Engkau selain aku.
Maksud redaksi, وَمَكْنُونَ خُفْيَتِي “Penyimpan rahasiaku,” adalah tidak ada yang menyimpan dan menyembunyikan seluruh rahasiaku kecuali Engkau. Maksud pernyataan ini adalah genggaman Allah Swt kepada seorang hamba. Para ulama menggambarkan genggaman ini dengan perkataan mereka, “Yaitu penyelamatan Allah Swt bagi seorang hamba dari jurang perpisahan, kemudian melemparkannya ke dalam lautan kebersamaan, sehingga dia tidak dapat membedakan pokok, kaidah, berapa, bagaimana, gambaran, persepsi, analisa dan khayalan. Tidak pula perasaan dan yang lainnya. Semua itu tidak ada kecuali Al Haq dengan Al Haq dalam Al Haq karena Al Haq dari Al Haq.”
Genggaman ini dikenal dengan istilah fana ‘ul fana`. Karena itu, rasa malu merasup dalam diri seorang hamba pada saat ketenggelamannya dalam semudera tersebut. Dia keluar untuk membedakan sifat, asma, keadaan dan ungkapan dengan memberikan hak kepada setiap yang memiliki hak.
Redaksi, وَيَا عَيْنَ بَهْجَتِي “Duhai sumber kebahagiaanku.” Al Bahjah adalah sesuatu yang membuat rasa bahagia, dan bahagia adalah ekspresi nikmat yang ada dalam jiwa secara batin, setelah senang dan bahagia. Ekspresi inilah yang menjadi gambaran bagi penduduk surga,
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
تَعْرِفُ فِيْ وُجُوْهِهِمْ نَضْرَةَ النَّعِيْمِ
ta’rifu fii wujuuhihim nadhrotan na’iim
“Kamu dapat mengetahui dari wajah mereka kesenangan hidup yang penuh kenikmatan.”
(QS. Al-Muthaffifiin 83: Ayat 24)
Demikianlah yang dimaksud dengan bahagia, yaitu aku tidak merasa bahagia dengan selain-Mu, tidak surga, tidak pula yang lainnya. Orang yang tenggelam bersama Allah saat dia dilemparkan ke dalam samudera “perjumpaan” -saat dia merasakannya dalam beberapa tahapan dan membedakannya, maka kenikmatan bersama Al Haq adalah puncaknya. Bahkan, seandainya engkau mengumpulkan semua kenikmatan surga, kemudian dibandingkan dengan kenikmatan bersama Al Haq, maka kenikmatan itu seperti seberkas titik di tengah lautan.
Ada yang bertanya kepada nabi (Musa) Al Kalim As, “Bagaimana keadaanmu saat Allah berbicara kepadamu?” Dia menjawab, “Masalah haibah (ketakutan), engkau dapat membayangkan saat petir menyambar tiada henti di sekitarmu. (Ketakutan yang dirasakan) orang yang mengalami hal ini tidak dapat digambarkan. Sedangkan masalah kenikmatan (pada saat itu), maka tidak dapat diungkapkan.” Konon, kenikmatan jimak tidak bisa menandingi kenikmatan pada saat itu. (Yang dirasakan saat itu adalah) puncak kenikmatan dan puncak ketakutan.
Redaksi, وَأَنْوَارَ مَهَجَّتِي “Dan cahaya jiwa.”. Mahjah adalah ruh atau pandangan mata, dan cahaya yang terlihat adalah Engkau. Sedangkan yang dimaksud dengan kata “‘ain” adalah ruh atau sumber.
Redaksi, وبَرْدَ فُؤَادِى “Dan penyejuk hatiku.” Kata “sejuk” di sini diibaratkan seperti air dingin lagi tawar, yang datang untuk menghilangkan dahaga yang membakar tenggorokan, sehingga kenikmatan saat meneguknya tidak dapat digambarkan. Demikian pula dengan hati yang terbakar rindu (kepada Al Haq), tidak ada yang dapat memadamkannya, kecuali ru ‘yah (melihat Al Haq).
Ibnu Al Faridh Ra bersenandung menjelang kematiannya,
أَرُوْمُ وَإِنْ طَالَ الْمَدَا مِنْكَ نَظْرَةً # وَكَمْ مِنْ دِمَاءٍ دُوْنَ مَرْمَايَ طُلَّتْ
“Meski jarak dari-Mu jauh, namun aku masih ingin memandang-Mu # Betapa banyak darah yang sudah mengalir demi menggapai keingianku
Diriwayatkan pula dari Ibnu Al Faridh Ra saat dalam keadaan naza’, di sampingnya ada seorang wali yang telah dihilangkan baginya hijab dari surga, dikatakan kepadanya, “Inilah tempatmu.” Ibnu Al Faridh pun menangis dan bersenandung,
إِنْ كَانَ مَنْزِلَتِي فِي الْحُبِّ عِنْدَكُمْ # مَا قَدْ رَأَيْتُ فَقَدْ ضَيَّعْتُ أَيَّامِي
أُمْنِيَّةٌ ظَفَرَتْ رُوْحِي بِهَا زَمَنًا # فَالْيَوْمَ أَحْسِبُهَا أَضْغَاتُ أحْلَامِ
“Andai memang aku punya kedudukan pada sisi Kalian, aku menyesal telah menyia-nyiakan hari-hariku karena aku tidak melihat posisi itu
Cita-cita yang membuat ruhku beruntung, # hari ini aku menganggapnya sebagai impian yang kacau.”
Periwayat melanjutkan: Ada yang bertanya kepada Ibnu Al Faridh Ra menjelang kematiannya, “Apa yang kau inginkan, hai Umar?” Dia bersenandung,
أَرُوْمُ وَإِنْ طَالَ الْمَدَى مِنْكَ نَظْرَةً # وَكَمْ مِنْ دِمَاءٍ دُونَ مَرْمَايَ طُلَّتْ
“Meski jarak dari-Mu jauh, namun aku masih ingin memandang-Mu # Betapa banyak darah yang sudah mengalir demi menggapai keingianku.”
Periwayat melanjutkan: Tak lama kemudian aku melihatnya tersenyum, kemudian ruhnya keluar. Akupun tahu bahwa harapannya telah terpenuhi.
Redaksi, امْنُنْ عَلَيَّ بِرُؤْيَتِى “Berikanlah aku kesempatan untuk menatap-Mu,” adalah ungkapan yang diriwayatkan dari Ibnu Al Faridh Ra dalam bait sya’ir di atas. -Selesai sudah apa yang di-imla ‘kan Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra kepada kami.-
Diantara sya’ir yang disenandungkan oleh Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra kepada kami adalah dua bait sya’ir berikut ini:
تَسَتَرْتُ عَنْ دَهْرِي بِظِلٍّ جَنَابِهِ # فَصِرْتُ أَرَى دَهْرِي وَلَيْسَ يَرَانِى
فَلَوْ تَسْأَلُ الأَيَّامَ مَا اسْمِيَ مَا دَرَتْ # وَأَيْنَ مَكَانِ مَا عَرَفْنَ مَكَانِى
“Aku menghalangi diri dari masaku dengan bayangan sisi-Nya, #hingga aku melihat masaku, namun ia tidak melihatku
Andai kau bertanya kepada hari-hari itu siapa namaku, maka ia tidak akan ingat dan (bertanya) dimana tempatku, maka ia tidak akan tahu tempatku.”
Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra berkata: Yang dimaksud dengan dua bait sya’ir ini adalah martabat khalifah Al A’zham. Dia tidak memiliki nama khusus, sebab seluruh nama makhluk adalah namanya, karena dia telah memahami semua martabatnya. Juga karena dia adalah ruh bagi seluruh makhluk, sehingga tidak ada dzat dalam semesta ini, kecuali dialah ruh yang mengaturnya, menggerakkannya dan menopang nya, serta tidak ada satu tempat pun di alam semesta ini, kecuali dialah yang tinggal dan menempatinya. Oleh karena itu, dia tidak memiliki nama yang dapat membedakannya dengan yang lain dan tidak ada tempat khusus tanpa selainnya. Karenanya, dia berkata, “Andai kau bertanya kepada hari-hari itu siapa namaku, maka ia tidak akan ingat, dan dimana tempatku, maka ia tidak akan tahu tempatku.” Martabat inilah yang disebut dengan Khilafah Al ‘Uzhma.
Syaikh Al Mursi Ra berkata, “Seandainya hakekat wali tersingkap, maka dia akan disembah,” karena sifat-sifatnya adalah sifat-sifat Allah Al Haq. Yang dimaksud wali di sini adalah orang yang sempurna dan dialah Khalifah Al A’zham. Demikianlah yang dimaksud dengan firman Allah Swt,
اَوَمَنْ كَا نَ مَيْتًا فَاَ حْيَيْنٰهُ وَجَعَلْنَا لَهٗ نُوْرًا يَّمْشِيْ بِهٖ فِى النَّا سِ كَمَنْ مَّثَلُهٗ فِى الظُّلُمٰتِ لَـيْسَ بِخَا رِجٍ مِّنْهَا ۗ كَذٰلِكَ زُيِّنَ لِلْكٰفِرِيْنَ مَا كَا نُوْا يَعْمَلُوْنَ
a wa mang kaana maitang fa ahyainaahu wa ja’alnaa lahuu nuuroy yamsyii bihii fin-naasi kamam masaluhuu fizh-zhulumaati laisa bikhoorijim min-haa, kazaalika zuyyina lil-kaafiriina maa kaanuu ya’maluun
“Dan apakah orang yang sudah mati lalu Kami hidupkan dan Kami beri dia cahaya yang membuatnya dapat berjalan di tengah-tengah orang banyak, sama dengan orang yang berada dalam kegelapan, sehingga dia tidak dapat keluar dari sana? Demikianlah dijadikan terasa indah bagi orang-orang kafir terhadap apa yang mereka kerjakan.”
(QS. Al-An’am 6: Ayat 122)
Syaikh Muhyiddin Ibnu ‘Arabi Ra mengatakan, bahwa manusia yang dicintai itu bukanlah manusia, tetapi dia serupa dengan manusia, seperti jasad yang sudah mati, yang tidak memiliki ruh. Jasadnya memang manusia, tetapi tidak memiliki ruh. Sebagaimana yang didengar dalarn pernyataan para sufi bahwa ruh itu bukan makhluk, tetapi ia sudah ada sejak zaman azali. Mereka mengisyaratkan ruh ini sebagai kemurniaan ma’rifat setelah futuh. Pemiliknya dapat melakukan apa saja yang dikehendaki pada segala sesuatu. Dia dapat menghidupkan orang mati jika dia berkehendak, kemudian dia akan memanggilnya dan orang yang mati itu akan menjawabnya walaupun jasadnya sudah hancur. Dia juga dapat menjadikan pohon yang kering berbuah dalam sekejap jika dia berkehendak. Dia juga dapat melakukan selain itu, berupa perkara-perkara yang luar biasa. Dia tidak merasa kesulitan sedikit pun dalam melakukan sesuatu yang luar biasa. Hanya saja dia masih menjaga adab bersama hadhrah Ilahiyyah. Itulah yang mencegahnya untuk melakukan semua itu.
Jika dia menampakkan sesuatu yang luar biasa yang tidak disukai oleh waktu, maka seketika itu dia akan dihukum, dilemparkan dan disalib, karena dia telah dilebur dalam hadhrah ilahiyyah, telah mati dari semua hasrat, sehingga dia tidak melakukan kecuali sesuai dengan apa yang dilakukan Allah Al Haq.
Jika dia ditanya, “Apa yang kamu inginkan?” maka dia menjawab, “Aku tidak menginginkan sesuatu kecuali apa yang Allah Al Haq Swt inginkan kepadaku.” Dia telah sirna dari semua keinginannya, bertindak sesuai kehendak Allah Al Haq dalam semua gerak dan diamnya, dalam semua langkah dan kehendaknya. Wassalam. -Selesai sudah apa yang di-imla ‘kan oleh Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra kepada kami.-
