You dont have javascript enabled! Please enable it!
Elsubha menjamin Garansi 100% Uang Kembali jika barang yang diterima adalah PALSU

Pembahasan 48. Aku bertanya kepada Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra tentang makna beberapa bait syair berikut ini:

حَقِيقَةٌ ظَهَرَتْ فِي الْكَوْنِ قُدْرَتُهَا # فَأَظْهَرَتْ هَذِهِ الْأَكْوَانَ وَالْحُجُبَا
تَنَكَّرَتْ بِعُيُونِ الْعَالَمِينَ كَمَا # تَعَرَّفَتْ بِقُلُوْبِ الْعُرَّفِ الْأَدَبَا
الْخَلْقُ كُلُّهُمْ أَسْتَارُ طَلْعَتِهَا# وَجُمْلَةُ الْأَمْرِ قَدْ صَارُوْا لَهَا نُقْبَا
مَا فِي التَّسَتَّرِ فِي الْأَكْوَانِ مِنْ عَجَبٍ # بَلْ كَوْنُهَا عَيْنَهَا فَمَا تَرَى عَجَبًا

بسم الله الرحمن الرحيم اللهم صل على سيدنا محمد الفاتح لما أغلق والخاتم لما سبق ناصر الحق بالحق والهادي إلى صراطك المستقيم وعلى آله حق قدره ومقداره العظيم

Elsubha.com – Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra ditanya tentang makna beberapa bait syair berikut ini:

حَقِيقَةٌ ظَهَرَتْ فِي الْكَوْنِ قُدْرَتُهَا # فَأَظْهَرَتْ هَذِهِ الْأَكْوَانَ وَالْحُجُبَا

تَنَكَّرَتْ بِعُيُوْنِ الْعَالَمِينَ كَمَا # تَعَرَّفَتْ بِقُلُوْبِ الْعُرَّفِ الْأَدَبَا

الْخَلْقُ كُلُّهُمْ أَسْتَارُ طَلْعَتِهَا # وَجُمْلَةُ الْأَمْرِ قَدْ صَارُوا لَهَا نُقْبَا

مَا فِي التَّسَتَّرِ فِي الْأَكْوَانِ مِنْ عَجَبٍ # بَلْ كَوْنُهَا عَيْنَهَا فَمَا تَرَى عَجَبَا

“Kekuasaan hakekat tampak di semesta ini, # sehingga mampu menampakkan makhluk-makhluk dan hijab-hijab

la tampak samar dengan sumber-sumber makhluk, sebagaimana # ia dikenal dengan hati para ‘Arif yang beradab

Seluruh makhluk adalah tirai untuk kemunculan hakekat-Nya, # dan perkara ini memiliki pemimpinnya masing-masing

Tidak ada keajaiban dari bersembunyi di semesta ini # Bahkan keberadaan hakekat Dzatnya yang mengandung keajaiban sesungguhnya, tetapi engkau tidak lagi melihat sesuatu yang menakjubkan didalamnya.”

Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra menjawab dengan mengatakan:

Ketahuilah bahwa hakekat di sini adalah wujud mutlak (wujudnya Dzat Allah secara mutlak), yang disebut dengan ‘Ainu Thamsi Wal ‘Ama, sehingga tidak ada nisbat di dalamnya, tidak ada asumsi, logika, dimana, bagaimana, bentuk, dan persepsi. Seluruh nisbat telah sirna. Sedangkan kekuasaan yang ditampakkan oleh hakekat itu adalah, awalnya berada dalam hijab thamsi wal ‘ama. Di sana sifat dan nama tidak terlintas dalam logika -dari segi tampaknya bukan dari segi wujudnya-, la menampakkan kekuasaan-Nya dengan apa yang Dia tampakkan dari seluruh semesta, karena pada awalnya Dia berada dalam hijab kanziyyah (tersimpan) sesuai dengan firman-Nya, كُنْتُ كَنْزاً لَمْ أُعْرَفُ، فَأَحْبَبْتُ أَنْ أَعْرَفَ  “Aku adalah perbendaharaan yang belum dikenal, lalu Aku ingin dikenal.”, Maksudnya, Dia ingin tampak bagi selainnya. فَخَلَقْتُ الْخَلْقَ، فَتَعَرَّفْتُ لَهُمْ، فَبِيَ عَرَفُوْنِي “Lantas Aku menciptakan makhluk, lalu Aku memperkenalkan diri kepada mereka, sehingga mereka pun memperkenalkan diri pada mereka dan karena Akulah mereka mengenal-Ku.” Kekuasaan inilah yang Dia sebarkan dalam semesta ini, ketika Dia menampak kan kepada seluruh semesta dengan kekuasaan ini.

Redaksi, تَنَكَّرَتْ “la tampak samar,” maksudnya adalah ter-hijab dari yang lain, karena ia berada dalam puncak wujudnya dalam puncak penampakan dan kejelasan. Karena ketika ia tampak, maka yang lain akan sina. Sehingga keraguan dan persepsi tidak mencemari area orang yang melihatnya. Jadi, hakekat tersebut dalam tajalli ini berada dalam puncak penampakan ketika yang lain sirna. Kemudian ia ter-hijab dengan tampaknya semua makhluk. Demikianlah yang dimaksud dengan redaksi “la tampak samar”. Setelah ia berada dalam puncak ma’rifat saat ia ber-tajalli, maka yang lain akan sirna. Ketika wujud tampak, maka ia akan samar dengannya, yaitu ter-hijab dengan bentuk makhluk. Yang ter-hijab di sini adalah wujud yang mutlak dengan bentuk makhluk.

Redaksi, بِعُيُونِ الْعَالَمِينَ “Dengan sumber-sumber makhluk”. Yang dimaksud dengan ‘Ainusy-syai (sumber sesuatu) disini adalah dzatnya. Ia disebut ‘ain, karena kepastiannya dari Ama Rabbani. Dalam ilmu azali ia tampak sebagai dzat, sehingga di sini ia disebut ‘Uyun (sumber-sumber), yaitu dzat-dzat makhluk.

Redaksi, كَما تَعَرَّفَتْ بِقُلُوبِ الْعُرَّفِ الأَدَبَا “la dikenal dengan hati para ‘Arif yang beradab.” Kata urraf adalah bentuk plural dari kata ‘Arif. Yang dimaksud dengan mereka di sini adalah orang-orang yang mengetahui adab-adab hadhrah ilahiyyah, ia diketahui dalam hati orang-orang yang ‘Arifbillah, karena hijab semesta ini telah tersingkap dari hati orang-orang yang ‘Arifbillah, sehingga mereka dapat melihat langsung hadhrah Allah Al Qudsiyyah, bukan dari khabar, seperti orang yang tenggelam dalam lautan tidak butuh seorang pun untuk mengabarkan tentang lautan itu.

Redaksi, الْخَلْقُ كُلُّهُمْ أَسْتَارُ طَلْعَتِهَا “Seluruh makhluk adalah tirai untuk kemunculan hakekat-Nya,” maksudnya, pengaruh wujud yang mutlak dengan bentuk-bentuk semesta, sehingga seluruh makhluk ter-hijab untuk melihat-Nya.

Redaksi,  وَجُمْلَةُ الأمْرِ قَدْ صَارُوا لَهَا نُقْبًا “Dan perkara ini memiliki pemimpinnya masing-masing,” maksudnya, naqib (pemimpin) secara bahasa adalah orang yang menanggung sesuatu. Oleh karena itu, Nabi Saw ketika dibai’at oleh kaum Anshar di Makkah, mereka menanggung semua biaya beliau dan menjadi penjamin beliau, bahwa siapa diantara kaumnya yang tidak mau berbaiat kepada beliau, maka dia berada dalam kerendahan dan kehinaan. Ketika mereka berbai’at kepada beliau atas hal ini, maka tidak cukup begitu saja sehingga beliau menunjuk pemimpin-pemimpin di antara mereka. Setiap pemimpin bertanggung jawab atas kabilahnya, bahwa siapa diantara mereka yang tidak mau berbaiat, maka dia berada dalam kerendahan dan kehinaan, dia tidak mampu menampakkan perselisihan dan perlawanan. Dia juga tidak mendapat bantuan untuk melawan musuh-musuhnya.

Karena tanggung jawab yang berat inilah, Nabi Saw mengangkat beberapa pemimpin dari mereka. Merekalah yang menanggung apa yang telah disyaratkan tersebut. Demikianlah yang dimaksud dengan naqib (pemimpin). Allah Swt berfirman kepada Bani Israil setelah Dia menyebutkan tentang pengambilan janji mereka,

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَلَقَدْ اَخَذَ اللّٰهُ مِيْثَا قَ بَنِيْۤ اِسْرَآءِيْلَ ۚ وَبَعَثْنَا مِنْهُمُ اثْنَيْ عَشَرَ نَقِيْبًا ۗ وَقَا لَ اللّٰهُ اِنِّيْ مَعَكُمْ ۗ لَئِنْ اَقَمْتُمُ الصَّلٰوةَ وَاٰ تَيْتُمُ الزَّكٰوةَ وَاٰ مَنْتُمْ بِرُسُلِيْ وَعَزَّرْتُمُوْهُمْ وَاَ قْرَضْتُمُ اللّٰهَ قَرْضًا حَسَنًا لَّاُكَفِّرَنَّ عَنْكُمْ سَيِّاٰتِكُمْ وَلَاُ دْخِلَـنَّكُمْ جَنّٰتٍ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَ نْهٰرُ ۚ فَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذٰلِكَ مِنْكُمْ فَقَدْ ضَلَّ سَوَآءَ السَّبِيْلِ
wa laqod akhozallohu miisaaqo baniii isrooo-iil, wa ba’asnaa min-humusnai ‘asyaro naqiibaa, wa qoolallohu innii ma’akum, la-in aqomtumush-sholaata wa aataitumuz-zakaata wa aamangtum birusulii wa ‘azzartumuuhum wa aqrodhtumulloha qordhon hasanal la-ukaffironna ‘angkum sayyi-aatikum wa la-udkhilannakum jannaating tajrii ming tahtihal-an-haar, fa mang kafaro ba’da zaalika mingkum fa qod dholla sawaaa-as-sabiil

“Dan sungguh, Allah telah mengambil perjanjian dari Bani Israil dan Kami telah mengangkat dua belas orang pemimpin di antara mereka. Dan Allah berfirman, “Aku bersamamu.” Sungguh, jika kamu melaksanakan sholat dan menunaikan zakat serta beriman kepada rasul-rasul-Ku dan kamu bantu mereka dan kamu pinjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, pasti akan Aku hapus kesalahan-kesalahanmu, dan pasti akan Aku masukkan ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Tetapi barang siapa kafir di antaramu setelah itu, maka sesungguhnya dia telah tersesat dari jalan yang lurus.””
(QS. Al-Ma’idah 5: Ayat 12)

Pemimpin di sini adalah orang yang bertanggung jawab atas kabilahnya agar dia memaksa mereka untuk menjauhi apa yang tidak diinginkannya. Redaksi, “wa jumlatul amri di sini adalah bentuk-bentuk makhluk berikut pengikatnya.

Redaksi, قَدْ صَارُوا لَهَا نُقْبًا “Dan perkara ini memiliki pemimpinnya masing-masing,” maksudnya adalah mereka semua menanggung beban ma’rifat-Nya, karena ma’rifat ini termasuk perkara yang tersulit. Mereka juga menanggung beban tasbih-Nya, ibadah-Nya dan sujud kepada-Nya, yaitu Dzat yang mutlak. Seluruh semesta dalam daerah ini adalah pemimpin bagi mereka masing-masing. Mereka menanggung ma’rifat-Nya, beban ibadah-Nya, beban sujud kepada-Nya dan beban tasbih. Semuanya bertasbih kepada-Nya. Maka, Al Haq adalah Dzat dan martabat. Dzat itu ghaib, tidak dapat dinalar dan diindera. Tidaklah Dia tampak dalam wujud-Nya kecuali dengan martabat uluhiyyah.

Makna uluhiyyah adalah menghadapnya seluruh makhluk kepada-Nya dengan ibadah, rendah hati, merasa hina, ma’rifat, tasbih dan sujud. Tidak ada sedikit pun yang keluar dari daerah ini.

مَا فِي التَّسَتَّرِ فِي الْأَكْوَانِ مِنْ عَجَبٍ # بَلْ كَوْنُهَا عَيْنَهَا فَمَا تَرَى عَجَبًا

“Tidak ada keajaiban dari bersembunyi di semesta ini # meskipun dzatnya yang mengandung keajaiban sesungguhnya, tetapi engkau tidak lagi melihat sesuatu yang menakjubkan didalamnya”

Redaksi, بَلْ كَوْنُهَا عَيْنَهَا “Bahkan keberadaan hakekat Dzatnya yang mengandung keajaiban sesungguh-nya,” adalah, bahkan keberadaannya semua adalah dzat wujud yang mutlak. Maksud, كَوْنُهَا عَيْنَهَا adalah semesta ini menjadi cermin untuknya yang dapat dilihat di dalamnya. Hanya saja, sebagian manusia ada cahayanya yang kuat, sehingga dia dapat menyaksikan cermin itu dan dapat menyaksikan yang tampak di dalamnya. Namun, orang yang cahayanya lemah, maka dia melihat yang tampak dalam cermin saja, dan wujud yang tampak itu menutupi cermin tersebut, sehingga dia tidak melihat selain Dia, yaitu Allah Al Haq Swt. Pemilik cahaya ini akan berkata, “Semuanya adalah Allah Swt. Di dalamnya tidak ada selain-Nya, karena cahayanya lemah.”

Dalam hal ini, seorang penyair bersenandung,

فَلَمْ يَبْقَ إِلَّا اللَّهُ لَا شَيْئَ غَيْرُهُ # فَمَا ثُمَّ مَوْصُولٌ وَمَا ثُمَّ بَائِنُ

“Tidak ada yang tersisa kecuali Allah, tidak ada yang lain-Nya. # Karena di sana hanya ada ketersambungan yang nampak nyata.”

Orang yang memiliki cahaya yang kuat, dia menyaksikan cermin dan yang tampak di dalamnya, kemudian dia akan memberikan hak kepada setiap martabat, baik martabat haqqiyyah atau khalqiyyah. Yang satunya tidak meng-hijab yang lainnya.

Redaksi, فَمَا تَرَى عَجَبًا “Sehingga apa yang terlihat menakjubkan,” kata mâ di sini adalah kata maushul yang merniliki arti alladzi (sesuatu).

Ibnu Al ‘Arabi Al Hatimi Ra berkata saat dia berjumpa dengan Sayyidina Harun As: Aku berkata kepadanya, “Hai nabi Allah, baginda mengatakan, ‘Sebab itu jangan engkau membuat musuh-musuh bersorak melihat kemalanganku’, musuh manakah yang kau maksud itu? Apakah ada sesuatu selain Allah Swt? -atau sebagaimana yang dia katakan kepada nabi Harun As, sementara kami, golongan orang-orang yang Arifbillah melihat setiap sesuatu itu adalah Allah. Lantas, bagaimana Dia bisa menjadi musuh?” Sayyiduna Harun As berkata kepadanya, “Apa yang kalian lihat demikian itu sesuai kenyataannya?” Dia menjawab, “Tidak.” Sayyiduna Harun As berkata kepadanya, “Jauhmu dari Allah sesuai dengan kadar jauhmu dari mengetahui tentang hal itu.” -Selesai sudah apa yang di-imla ‘kan Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra kepada kami.-

Hakekat tajalli adalah jelas dan tampaknya Allah Al Haq dengan Dzat-Nya dalam Dzat-Nya karena Dzat-Nya dari Dzat-Nya. Tajalli ini adalah martabat esensi Allah Al Haq. Tidak ada seorang pun yang dapat melihatnya. Sedangkan tajalli yang kedua adalah tajalli-Nya Allah kepada selain-Nya, dengan diri-Nya, dari diri-Nya. Tajalli inilah yang dapat diindera oleh makhluk. Tajalli ini adalah tajalli takdir-takdir ilahiyyah dalam gambaran seluruh semesta secara mutlak. Tajalli ini menggunakan sebab, yaitu berkaitan dengan kehendak, adanya hukum yang mendahuluinya dari Allah Swt, dan berkaitan dengan kalimat “kun (jadilah)”. Sebab inilah yang menjadi pemicu muncul nya takdir-takdir dalam gambaran seluruh semesta. Takdir-takdir itu muncul bukan dari dzatnya (alam semesta), dengan dzatnya. Tetapi ia muncul dari selainnya, dengan selainnya. Demikianlah sebab yang mendahului takdir-takdir tersebut dan karena sebab itulah ia ada. Sedangkan tajalli Dzat, maka tidak didahului oleh apapun, karena ia lebih mulia daripada melakukan kehendak atau selainnya. Sesungguhnya Dia ber-tajalli dengan Dzat-Nya kepada makhluk. -Selesai sudah apa yang di-imla kan Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra kepada kami.-

Beberapa bait syair yang akan kami sebutkan setelah ini, Sayyidul Wujud Saw mengajarkannya dalam mimpi kepada Al Wali Ash-Shalih wa As-Sa’yu Ar-Rabih Shahib Al Masyhad Al Karim Al Wadhih, Abi ‘Abdillah Sayyidi Muhammad bin Al ‘Arabi At-Tazi, berasal dari Dar Ad-Damrawi, wafat pada tahun 1214 H, setelah terbangun, dia mendapati sya’ir-sya’ir itu di mulutnya, dia mengingat dan menghafalnya. Setelah itu, dia berjumpa dengan Maulana Rasulullah Saw dalam keadaan terjaga. Kemudian dia sering berjumpa dengan beliau dalam banyak kesempatan.

Lalu, dia bertanya tentang makna syair-syair itu dan meminta penjelasannya kepada Rasulullah Saw, maka beliau pun menjawab hal itu karena kecintaan beliau kepada Syaikhina Maulana Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra, dia adalah muridnya Syaikh Ibnul ‘Arabi. Sayyidul Wujud Saw menjelaskan kepadanya dengan bersabda, “Andai bukan karena cintaku kepada At-Tijany, maka sekali pun kamu tidak akan melihatku”, atau sebagaimana yang beliau katakan kepadanya-. Kemudian Ibnu Al ‘Arabi berkata kepada beliau, “Jika demikian, berikanlah penjelasan sya’ir-sya’ir ini kepada At-Tijany.”

Sya’ir-sya’ir itu sebagai berikut:

فَبِالْمَجْدِ وَالتَّحْمِيدِ بِهِ تَتَجَلَّى ذَاتُهُ # وَبِالْقَصْدِ كَانَ الْمَنْعُ لي وَحْدِى

وَبِحَقِّ الْحَقِّ بِالْحَقِّ تَرَى حَقِيقَتَهُ # وَبِالْحَقِّ لَا بِالْحَقِّ احْتَجَبَ عَنِّى زَنْدِي

وَفِي تَدْبِيْرِ أَمْرِهِ أَحَاطَتْ قُدْرَتُهُ # وَبِالْقَصْدِ لَا بِالْقَصْدِ احْتَجَبَ عَنْهُمْ أَخْذِي

فَاغْرَقْ فِي بَحْرِ الْوَحْدَةِ تَرَى وَحْدَتَهُ # تَرْتَفِعُ عَنْكَ الْحُجُبُ حَتَّى تَرَى الْأَسْوَدَ بِالضَّدِّ

“Dengan memuliakan dan memuji kepada-Nya, Dzat-Nya bertajalli, # dan dengan tujuan (kuat) menghalangiku untuk sendiri

Dengan haknya yang hak (amal) dengan yang hak (Nabi) kau melihat hakekat-Nya, # dan dengan yang hak (amal) bukan dengan yang hak (tujuan yang benar) pergelangan tanganku terhijab dariku

Kekuasaan-Nya meliputi pengaturan perkara-Nya, # dan dengan tujuan bukan dengan tujuan pengambilanku terhijab dari mereka

Tenggelamlah dalam lautan wahdah, kau akan melihat ke-Esaan-Nya, #hijab-hijab akan tersingkap darimu sehingga kau melihat hitam dengan berlawanan.”

Demikianlah syair-syair itu, dan redaksi penjelasan Sayyidul Wujud Saw, maka dengarkanlah apa yang akan aku sampaikan kepadamu: Hafallah setiap apa yang kau dengar dariku dalam beberapa bait syair ini, yang aku perintahkan kamu untuk menghafal nya dalam mimpi. Lalu, catatlah maknanya dengan pasti, kemudian berikanlah itu kepada At-Tijany. Katakan kepadanya, “Pintu dalam syair-syair ini adalah pintu yang paling mulia.” Dan katakan kepadanya, “Tidak ada yang dapat memasuki pintu ini, kecuali ahli tauhid yang benar, ahli tajrid yang sabar, ahli wafa yang ikhlas, ahli hakekat yang yakin, ahli sabar yang menyimpan (kesabarannya), ahli takhlis (pemurnian), mereka adalah ahli tajalli, dimana ahli tajalli adalah orang-orang yang akan mewarisi maqam-ku ini.”

Katakan kepada At-Tijany, “Makna beberapa bait syair ini adalah pintu yang dapat menghantarkan kepada ma’rifat.” Katakan pula kepadanya, “Masing-masing pintu, memiliki dua pintu; yang satunya terbuka dan yang lain tertutup.” Katakan kepadanya, “Dua pintu ini memiliki dua jalan dan setiap jalan dapat mengantarkan kepada pintunya. Barangsiapa yang menapaki jalan pintu yang terbuka, maka dia akan sampai, masuk dan tampak; sampai maksudnya adalah amalan-amalannya sampai kepada Tuhannya, tanpa penghalang yang menghalangi. Apabila penghalang itu jauh dari amalan tersebut, maka tersingkaplah semua hijab kemudian amalan itu akan masuk. Apabila amalan itu masuk, maka para malaikat diturunkan kepada pemilik amalan tersebut dan mereka mencintanya. Selama hidupnya, dia akan terlindungi dari semua penghalang yang menghalanginya.”

Kemudian Rasulullah Saw bersabda kepada orang yang mencatat, “Telitilah dengan seksama.” lalu katakan kepadanya, “Silakan masuk. Apabila ruh berada diantara dirimu dan penghalang itu, maka engkau akan masuk ke dalam pintu ma’rifat yang sempurna, dimana pintu ma’rifat yang sempurna adalah tajalli asma was-shifat.”

Katakan kepadanya, “Petunjukku kepadamu disini adalah hasil pengamatan terhadap seluruh ilmu, zhahir dan batin, serta hasil pengamatan terhadap seluruh sifat yang darinya ilmu-ilmu terdahulu muncul.” Apabila dia telah mencapai pengertian ini, maka dia masuk dalam pintu tajalli Dzat, dan tersingkaplah hijab darinya, sehingga Al Haq turun kepada Al Haq. Lantas, pemilik tajalli ini akan ter-hijab dari seluruh makhluk, dimana seluruh makhluk juga akan ter-hijab darinya.

Katakan kepadanya, “Melihat Allah Al Haq adalah fana. Tidaklah dia berbicara dalam keadaan tajalli itu kecuali dengan Allah Al Haq. Maka, perhatikanlah betapa pintu ini luas.” Kemudian Rasulullah Saw bersabda kepada orang yang mencatat, “Tulislah bait syair yang pertama:

فَبِالْمَجْدِ وَالتَّحْمِيدِ بِهِ تَتَحَلَّى ذَاتُهُ # وَبِالْقَصْدِ كَانَ الْمَنْعُ لِي وَحْدِى

Dengan memuliakan dan memuji kepada-Nya, Dzat-Nya bertajalli, # dan dengan tujuan (kuat) menghalangiku untuk sendiri

Kemudian Rasulullah Saw bersabda kepada orang yang mencatat, “Disini, fokus dalam ibadah terbagi menjadi empat bagian, sebagaimana Ka’bah yang bersegi empat, sebagaimana bumi berada di atas empat unsur, sebagaimana Kitab yang empat, dan sebagaimana madzhab-madzhab tahqiq yang empat.” Kemudian Rasulullah Saw bersabda kepadanya, “Telitilah dengan seksama.” Katakan kepada At-Tijany, “Ibadah itu ada yang wajib dan yang dilarang. Ibadah yang lurus dan yang bengkok. Ibadah yang sedang dan tengah-tengah. Ibadah yang sempurna dan ber kesinambungan.

Ibadah yang pertama disini adalah fokus menghadap kepada Allah Swt dengan ragam amalan yang sempurna dan keikhlasan yang paripurna. Fokus menghadap kepada Allah Swt ini tanpa maksud yang lain, tujuannya adalah memuliakan Allah, mengagungkan-Nya, mensucikan-Nya dan memuji-Nya atas keadaan yang dialaminya. Dia tidak bermaksud apapun dalam ibadanya, bahkan tidak melihat kepada sesuatu pun di dalamnya.

Sehingga amalan-amalannya naik kepada Allah Swt dan masuk ke dalam pintu yang terbuka itu, kemudian sibuk dan berkeliling sesuai dengan apa yang telah kami sebutkan pertama kali. Ia tidak memiliki tempat berhenti kecuali tajalli, karena firman Allah Swt,

وَا لَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ اُولٰٓئِكَ اَصْحٰبُ الْجَـنَّةِ ۚ هُمْ فِيْهَا خٰلِدُوْنَ
wallaziina aamanuu wa ‘amilush-shoolihaati ulaaa-ika ash-haabul-jannah, hum fiihaa khooliduun

“Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, mereka itu penghuni surga. Mereka kekal di dalamnya.”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 82)

Orang yang mengerjakan kebajikan adalah merekalah yang tidak memaksudkan apapun dalam beramal; baik berupa kebaikan dan manfaat. Dia tidak meminta dalam ibadahnya kecuali pertolongan dan kesehatan yang sempurna hingga akhiratnya.”

Katakan pula kepadanya, “Permohonan (do’a yang dipanjatkan) yang paling utama jika salah seorang diantara kalian memohon adalah, hendaklah dia memohon kepada-Nya terkait dengan ampunan dan kesehatan. Apabila tujuan konsentrasi dan fokusnya (dalam ibadah) itu adalah sampai ke suatu tempat atau menuntut ilmu atau rahasia, maka amalan-amalannya akan muncul hingga sampai ke pintu yang terkunci, lalu amalan itu akan duduk dan menunggu beberapa waktu, ia berharap pemiliknya menarik kembali dan mengatakan, “Ibadahku karena Allah, bukan untuk mendapatkan kebutuhanku.” Apabila dia merasakan hal ini dan mengatakan demikian, maka amalannya akan kembali dan masuk ke pintu yang terbuka. Namun, jika dia tidak mengatakan apa yang telah disebutkan, maka amalan itu akan kembali dalam keadaan terputus, seperti terputusnya angin di awan, lalu ia akan berkeliling hingga terhenti. Maksudnya amalan itu akan kembali kepada pemiliknya dalam keadaan merugi. Demikianlah makna bait sya’ir di atas.”

Kemudian Rasulullah Saw bersabda, “Tulislah, tulisalah bait sya’ir yang kedua:

وَبِحَقِّ الْحَقِّ بِالْحَقِّ تَرَى حَقِيقَتَهُ # وَبِالْحَقِّ لَا بِالْحَقِّ احْتَجَبَ عَنِّى زَنْدِي

Dengan haknya yang hak (amal) dengan yang hak (Nabi) kau melihat hakekat-Nya, # dan dengan yang hak (amal) bukan dengan yang hak (tujuan yang benar) pergelangan tanganku terhijab dariku.”

Katakan kepadanya, “Dalam bait sya’ir ini, aku mengisyaratkan tentang pemilik tajrid (orang yang fokus dalam ibadah); yaitu dia adalah orang yang sempurna lagi wara, yang pengemban ilmu dalam amal. Karena kekuatan sejatinya adalah menanggung kelemahan. Oleh karenanya, apabila yang bersangkutan itu fokus kepada Allah Swt dengan amal dan ilmu karena amal dan ilmu itu hak-, sementara dia tidak keluar dari syari’at karena ittiba kepada Nabi Saw dalam seluruh perkara yang diperintah beliau -karena Nabi Saw itu hak-, sehingga Allah Swt menjadikan beliau sebagai kekasih lagi terpuji, Allah Swt mengutusnya kepada umat ini sebagai pembawa kabar gembira dan peringatan, serta menurunkan beberapa ayat yang menjelaskan tentang beliau dimana ayat-ayat itu hak-, yaitu firman Allah Swt,

وَمَاۤ اَرْسَلْنٰكَ اِلَّا رَحْمَةً لِّـلْعٰلَمِيْنَ
wa maaa arsalnaaka illaa rohmatal lil-‘aalamiin

“Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam.”
(QS. Al-Anbiya 21: Ayat 107)

Apabila seseorang fokus dalam keadaan ini, maka dia akan menjadi khalifahnya (pengganti) Nabi Saw dalam mewarisi sisi tajalli Dzat Allah Swt. Apabila semua hak ini berkumpul sebelum amal, maka amal itu tidak ada kecuali hak.”

Redaksi, وَبِالْحَقِّ لَا بِالْحَقِّ “Dan adanya yang hak (amal( bukan dengan yang hak (tujuan yang benar).” Maka katakan kepadanya, “Maksudnya, apabila seseorang konsentrasi kepada Allah Swt dengan ilmu dan amal, dimana ini adalah hak. Namun, yang menjadi tujuan dalam ibadahnya adalah agar bisa mencapai suatu maqam, atau kebutuhan yang bermanfaat, maka seluruh hakekat akan ter-hijab darinya. Sebagaimana matahari jika telah muncul di tengah langit, maka seluruh bintang dan kegelapan yang mendahuluinya akan ter-hijab.” Karena nabi-nabi sebelum Nabi Saw syari’atnya tampak jelas, ragam cahayanya bersinar seperti bintang-bintang. Namun, setelah Allah Swt mengutus tanda yang mulia ini, yaitu Nabi Muhammad Saw, maka cahayanya membias, seperti matahari di langit. Lalu, cahaya beliau mengalahkan nabi-nabi yang lain. Seseorang yang berada dalam amal-amalnya itu seperti seseorang saat menyalakan api tanpa korek api, maka cahayanya akan tampak jauh, atau ia akan meluap-luap di hadapannya, namun tidak bermanfaat; atau seperti petir yang menyambar di hadapan seseorang, dia dapat melihatnya, namun tidak ada seorang pun yang dapat mengapainya, selain Nabi Saw saat beliau di-isra ‘kan. Pada malam isra itu beliau bersama para kekasih beliau (keluarga), kemudian beliau diperjalankan dari tengah-tengah mereka, namun mereka tidak melihat beliau. Semua ini telah diisyaratkan maknanya dalam Al Qur’an Al ‘Azhim.

Lalu Rasulullah Saw bersabda kepada orang yang mencatat, “Tulislah bait syair yang ketiga:

وَفِي تَدْبِيْرِ أَمْرِهِ أَحَاطَتْ قُدْرَتُهُ # وَبِالْقَصْدِ لَا بِالْقَصْدِ احْتَجَبَ عَنْهُمْ أَخْذِي

Kekuasaan-Nya meliputi pengaturan perkara-Nya, # dan dengan tujuan bukan dengan tujuan pengambilanku terhijab dari mereka.”

Katakan kepadanya, “Maksud bait syair ini adalah Hà Mìm ‘Aîn Sîn Qâf. Ketika Allah Swt mengatur perkara-Nya sebelum wujudnya alam, kekuasaan-Nya meliputi semuanya, maka inilah rahasia dalam huruf gât, dan dari huruf qaf ini ruh dan jiwa muncul, serta seluruh makhluk yang telah ditentukan dalam alam. Huruf ha merniliki rahasia, yaitu hikmah yang menyeruak seluruh makhluk yang ditentukan, seperti bergerak dan diam. Rahasia dalarn huruf mim meliputi seluruh yang tersimpan di alam, dan ia telah ditentukan seperti cahaya dalam mata, juga seperti tumbuh-tumbuhan, hidup dan mati. Rahasia huruf sîn dititipkan dalam diri Nabi-Nya; Muhammad Saw, yang meliputi seluruh nabi.

Seluruh alam diciptakan dari cahayanya dan dengan tujuan sampai akhirnya, karena orang yang memiliki ilmu ini, menurut mereka huruf-huruf di atas memiliki dua kalimat dari Kitab; yaitu rahasia di balik rahasia, yang bersemayam di atas seluruh rahasia. Tidak ada yang mengetahui maknanya, kecuali sebagian para wali Allah, karena rahasianya itu ter-hijab dan tersimpan.”

Kemudian Rasulullah Saw bersabda kepada orang yang mencatat, “Tulislah bait syair yang keempat:

فَاغْرَقْ فِي بَحْرِ الْوَحْدَةِ تَرَى وَحْدَتَهُ # تَرْتَفِعُ عَنْكَ الْحُجُبُ حَتَّى تَرَى الْأَسْوَدَ بِالضَّدِّ

Tenggelamlah dalam lautan wahdah, kau akan melihat ke Esaan-Nya, # hijab-hijab akan tersingkap darimu sehingga kau melihat hitam dengan berlawanan.”

Katakan pula kepadanya, “Maksudnya adalah orang-orang yang menginginkan ma’rifat dan wushul kepada tajalli Dzat Allah. Apabila seseorang berhenti di hadapan-Nya, maka dia tidak akan melihat selain-Nya, dia tidak akan membiarkan sesuatu dalam hati bersama-Nya, yang menghalangi antara Dia dan dia. Bahkan, dengan itu dia berorientasi untuk wushul kepada-Nya, memohon keinginan dan pertolongan dalam cinta-Nya, dan memohon ampunan dan kesehatan dalam tidur dan terjaganya, dalam makan dan minumnya, menyembah Allah Swt dengan ikhlas, menunggu hukum-hukum Allah berlaku atas dirinya, dan memohon keselamatan dalam setiap perkataannya, yang dengannya dia bertasbih kepada Maula-nya (Allah), dia tidak mengharapkan sesuatu dalam ibadahnya, kecuali mengagungkan Dzat-Nya Yang Mulia. Dia akan senantiasa dalam keadaan demikian, sampai dia mampu melihat cahaya-cahaya menyinari hatinya, dan dia tidak menyaksikan selain cahaya itu.”

Katakan kepada kekasihku At-Tijany, “Semua pengertian ini ada dalam Al Qur’an Al ‘Azhim.” Katakan pula kepadanya, “Kitab ini menunjukkan apa yang aku perintahkan kepadamu. Aku katakan kepadamu, jangan menginginkan sesuatu dan jangan berlebihan mengingin kan sesuatu, bersungguh-sungguhlah dalam ibadah dan menyelisihi nafsu. Keinginan dan usaha tidak ada kecuali dalam beribadah kepada Allah Swt, menyelisihi nafsu, dan menginginkan sesuatu yang menjadi tujuan manusia dalam ibadah. Hal ini menyebabkan penangguhan penerimaan.”

Katakan pula kepadanya: Hal ini menyebabkan penangguhan penerimaan.

Katakan juga kepadanya: Hal ini menyebabkan penangguhan penerimaan.

Katakan lagi kepadanya: (Penjelasan ini) telah selesai. Sibukkanlah dirimu dengan beribadah kepada Maula-mu, dengan apa yang telah aku perintahkan kepadamu dengan membuang semua tujuan (selain Allah), sebagai bentuk pengagungan kepada Allah Swt, pujian dan penyucian kepada-Nya, sehingga engkau sampai kepada apa yang telah ditakdirkan; sampai kepada keinginan dan semua tujuanmu.”

Katakan kepadanya sebanyak tiga kali, “Engkau tercatat sebagai bagian dari wali Allah, engkau tercatat sebagai bagian dari wali Allah, engkau tercatat sebagai bagian dari wali Allah.”

Katakan juga kepadanya, “Apabila engkau membangun rumah, maka buatlah di dalamnya ruangan yang disebut ruang rahasia. Jadikan ia sebagai tempat wiridmu, dzikirmu dan seluruh apa yang aku perintah kan kepadamu. Jadikan ruangan itu tertutup, tidak dimasuki oleh selain dirimu. Maka, kebaikan dan keberkahan akan ditampakkan kepadamu, engkau juga akan memperoleh semua tujuanmu.” -Selesai sudah apa yang di-imla kan Sayyidul Wujud wa Alam Asy-Syuhud Saw tentang apa yang telah disebutkan pertama kali dalam beberapa bait sya’ir ini. Wa Shallallahu ‘ala Sayyidina Muhammadin wa Alihi wa Shahbihi wa Sallama Tasliman.

Sumber : BUKU SAYYIDI SYAIKH RA MENJAWAB JILID 3 – KAJIAN SEPUTAR HADITS, SULUK, DAN FIKIH (JAWAHIR AL MA’ANI) SYAIKH AL HAJJ ALI HARAZIM AT-TIJANY