
Elsubha.com – Akupun bertanya kepada kepada Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra tentang keunggulan seorang sahabat nabi yang tidak futûh daripada seorang wali quthub yang bukan sahabat nabi.
Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra menjawab:
Para ulama berbeda pendapat dalam masalah unggulnya seorang sahabat nabi yang tidak futuh daripada seorang wali Quthub yang bukan sahabat nabi. Sekelompok ulama berpendapat lebih mengunggulkan seorang sahabat nabi dan sekelompok yang lain ber pendapat lebih mengunggulkan wali Quthub. Namun, pendapat yang rajih dan lebih unggul adalah meng unggulkan sahabat nabi daripada wali Quthub, dengan argumentasi sabda Nabi Saw,
إِنَّ اللَّهَ إِخْتَارَ أَصْحَابِي عَلَى جَمِيعِ الْعَالَمِينَ سِوَى النَّبِيِّينَ وَالْمُرْسَلِينَ
“Sesungguhnya Allah memilih sahabat-sahabatku atas seluruh alam, selain para nabi dan rasul.”
Juga dengan sabda beliau,
فَلَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا بَلَغَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلَا نَصِيفَهُ
“Seandainya salah seorang dari kalian menginfakkan emas sebesar gunung Uhud, maka itu tidak akan menandingi satu mud bagian mereka (para sahabat) bahkan tidak separuhnya.”
Juga dengan sabda beliau,
خَيْرُكُمْ قَرْنِي، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُوْنَهُمْ، ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ
“Sebaik-baik kalian adalah zamanku, kemudian zaman orang-orang setelahnya, kemudian zaman orang-orang setelahnya.”
Juga dengan firman Allah Swt,
كُنْتُمْ خَيْرَ اُمَّةٍ اُخْرِجَتْ لِلنَّا سِ تَأْمُرُوْنَ بِا لْمَعْرُوْفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُوْنَ بِا للّٰهِ ۗ وَلَوْ اٰمَنَ اَهْلُ الْكِتٰبِ لَكَا نَ خَيْرًا لَّهُمْ ۗ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُوْنَ وَاَ كْثَرُهُمُ الْفٰسِقُوْنَ
kungtum khoiro ummatin ukhrijat lin-naasi ta-muruuna bil-ma’ruufi wa tan-hauna ‘anil-mungkari wa tu-minuuna billaah, walau aamana ahlul-kitaabi lakaana khoirol lahum, min-humul-mu-minuuna wa aksaruhumul-faasiquun
“Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka. Di antara mereka ada yang beriman, namun kebanyakan mereka adalah orang-orang fasik.”
(QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 110)
Demikian ini sebagai bentuk perhatian Allah Swt kepada Nabi-Nya Saw dan keistimewaan beliau. -Selesai sudah apa yang di-imla ‘kan Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra kepada kami.
Di sini kami akan menyebutkan qasidah (sya’ir) yang indah karya Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra, beliau mengarangnya saat pertama kali menempuh jalan spritual. Dalam qasidah ini beliau meminta kepada Allah Swt agar Allah mewujudkan keinginan beliau, lalu Allah Swt pun mengabulkannya. Qasidah itu sebagai berikut:
أَلَا لَيْتَ شِعْرِي هَلْ أَفُوْزُ بِسَكْرَةٍ # مِنَ الْحُبِّ تُحْيِي مِنِّي كُلَّ رَمِيمَةِ
وَهَلْ لِذُرَى الإِحْسَانِ تَرْقَى عَوَالِمِي # وَهَلْ تَتَجَلَّى الذَّاتُ فيها لِفكْرَةِ
وَهَلْ لِي بِغَيْبِ الْغَيْبِ بِاللَّهِ غَيْبَةٌ # تُغَيِّبُ كُلِّي عَنْ جَمِيعِ الْخَلِيقَةِ
وَهَلْ نَفَحاتُ الْقُرْبِ فَضْلًا تَعَمُّنِي # وَقَدْ هُدِمَتْ مِنِّي رُسُوْمُ الطَّبِيعَةِ
وَهَلْ جَذَبَاتٌ بِالتَّجَلِّي تَؤْمُّنِي # فَتَسْلُبُنِي عَنْ كُلِّ كُلِّي وَجُمْلَتِي
وَهَلْ وَارِدَاتُ الْوَصْلِ مِنَّا تَزَفُ لِي # لِكَيْ أَرْتَقِي الْعَلْيَاءَ مِنْ كُلِّ رُتْبَةِ
وَهَلْ أَرِدَنْ بَحْرَ الشُّهُودِ فَيَشْتَفِي # غَلِيْلِي بِغَوْصِي فِيْهِ فِي كُلِّ لَمْحَةِ
وَهَلْ تَطْلُعَنْ شَمْسُ الْمَعَارِفِ جَهْرَةً # بِبَاطِنِ قَلْبِي وَالْهُدَى لِي زُفَّتِ
وَهَلْ أَرْتَقِي عَرْشَ الْحَقَائِقِ وَاصِلاً # إِلَى اللَّهِ مَحْفُوْفًا بِكُلِّ كَرِيْمَةِ
وَهَلْ حُلَّةُ التَّوْحِيدِ أَلْبَسُهَا وَقَدْ # تَمَكَّنَ سِرِّى مِنْ بِسَاطِ الْحَقِيْقَةِ
وَهَلْ لِي بِجَمْعِ الْجَمْعِ بِاللَّهِ وَصْلَةٌ # وَقَدْ طَلَعَتْ شَمْسُ الْوُصُولِ بِقِبْلَتِي
وَهَلْ وَابِلُ الْعِلْمِ اللَّدُنِّي هَاطِلُ # إِلَيَّ وَيَبْقَى دَائِمًا كُلَّ لَحْظَةِ
وَهَلْ أَمَلِي مِنْ هَذِهِ بَالِغُ الْمَدَى # فَيَا حَبَّذَا أَمْ لَا بُلُوْنَ لِمُنْيَتِي
وَهَلْ تَجْمَعُ الأَيَّامُ شَمْلِي بِبُغْيَتِي # وَنَيْلِ مُرَادِي أَمْ أَمُوْتُ بِحَسْرَتِي
“Ketahuilah inilah sya’irku, apakah dengan dimabuk cinta ini aku akan dapat menghidupkan # setiap yang rusak dariku
Apakah puncak kebajikan akan mampu mendaki beberapa alam, # dan apakah Dzat itu akan bertajalli dalam fikiran
Apakah keghaibanku dengan ghaibnya ghaib bersama Allah dapat menghilangkan aku dari semua makhluk ciptaan?
Apakah hembusan taqarrub akan dianugerahkan kepadaku, #dan gambaran karakteristik akan dihancurkan dariku?
Apakah keindahan tajalli akan menghampiriku # lalu mencabutku dari setiap bagian dan keseluruhanku?
Apakah anugerah wushul akan dihembuskan kepadaku, # agar aku menaiki derajat yang mulia dari setiap tahapan?
Apakah menyelamku dalam lautan syuhud dapat mengobati dahagaku # dengan tenggelam di dalamnya setiap kedipan mata?
Apakah mentari ma’rifat akan terbit terang dalam lubuk hatiku # dan petunjuk diberikan kepadaku?
Apakah aku akan mendaki singgasana hakekat dengan wushul kepada Allah # yang diliputi oleh setiap kemuliaan?
Apakah perhiasan tauhid akan aku kenakan, dan sungguh # sirrku berada di atas hamparan hakekat?
Apakah aku dapat wushul kepada Allah dengan mengumpulkan semuanya, # dan sungguh mentari wushul terbit dalam hatiku?
Apakah tetesan ilmu laduni akan turun deras kepadaku, # kemudian ia selalu ada dalam setiap saat?
Apakah harapanku ini akan sampai pada puncaknya dengan begitu indah, atau harapanku tidak akan pernah tercapai?
Apakah hari-hariku akan menggapai keinginanku # dan memperoleh harapanku atau aku akan mati dengan membawa kerugianku?”
-Selesai sudah apa yang di-imla ‘kan Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra kepada kami. Beliau juga memiliki beberapa bait sya’ir sebagai motivasi dan keteguhan hati, dan dua syair berikut ini dikutip oleh sebagian fudhala’:
تُرِيدُ الْمَجْدَ ثُمَّ تَنَامُ لَيْلاً # لَقَدْ أَطْمَعْتَ نَفْسَكَ بِالْمُحَالِ
يَغُوصُ الْبَحْرَ مَنْ طَلَبَ اللَّا لِي # وَمَنْ طَلَبَ الْعُلَا سَهِرَ اللَّيَالِي
“Kau mengharapkan kemuliaan kemudian kau tidur di malam hari, # sungguh kau berharap perkara yang mustahil untuk dirimu
Siapa yang mencari intan permata, dia akan masuk ke dalam lautan, # dan siapa yang mencari kemuliaan, dia tidak akan tidur malam.”
Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra bersenandung:
تُرِيدُ الْمَجْدَ ثُمَّ تَنَامُ لَيْلاً # لَقَدْ أَطْمَعْتَ نَفْسَكَ بِالْمُحَالِ لَقَدْ
رُمْتَ الْحَصَادَ بِغَيْرِ زَرْعٍ # يَغُوْصُ الْبَحْرَ مَنْ طَلَبَ اللَّا لِى
فَدَعْ عَنْكَ التَّعَلُّلَ بِالْأَمَانِي # وَجِدَّ تَنَلْ مَقَامَاتِ الرِّجَالِ
فَلَيْسَ يَنَالُهَا سَعْيُ الْهُوَيْنَا # وَلَا بِالْهُوْنِ تَرْقَى لِلْجِبَالِ
أَلْآخَلُ التَّكَاسُلَ وَالتَّوَانِي # وَنَفْسَكَ جَرِّعَنْ مُرَّ النِّكَالِ
وَجُدْ بِالْكَدِّ وَاحْتَزِمَنْ وَشَمِّرْ # بِعَزْمِ إِنَّ سَوْمَ الدُّرِّ غَالِي
فَمَنْ رَكَنَتْ سَجِيَّتُهُ لِعَجْرٍ # تَقَاعَسَ عَنْ طَلَبِ الْمَعَالِي
فَإِنْ قَصَدَ الْمَفَاخِرَ لَمْ يَنَلْهَا # وَمَنْ طَلَبَ الْعُلَا سَهِرَ اللَّيَالِي
“Kau mengharapkan kemuliaan kemudian kau tidur di malam hari, # sungguh kau berharap perkara yang mustahil untuk dirimu
Sungguh kau berkhayal menuai tanpa mengetam. # Siapa yang mencari intan permata, dia akan masuk ke dalam lautan
Tinggalkanlah olehmu terbuai dalam khayalan, # dan berusahalah agar kau mencapai maqam para wali
Maqam-maqam itu tidak akan digapai dengan cara jalan santai, dan kau tak akan bisa mendaki gunung dengan cara santai
Ingat, tinggalkanlah bermalas-malasan dan keterlambatan, #serta tariklah dirimu dari pahitnya kesulitan
Raihlah kesuksesan dengan kerja keras, kemantapan hati # dan keinginan yang kuat, karena harga perhiasan itu sangat mahal
Barangsiapa yang karakternya cenderung lemah, #maka dia akan tertinggal oleh rombongan orang-orang mulia
Jika dia ingin mencapai kebanggaan, maka dia tidak akan mencapainya. # Dan siapa yang mencari kemuliaan, maka dia tidak akan tidur malam.”
-Selesai sudah apa yang di-imla ‘kan Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra. Beberapa bait syair berikut ini karya sebagian fudhala’:
كُلِّ مَنْ قَلَّلَ أَنْجَالَهُ # كَانَ مِنَ الزَّلَاتِ أَبْحَى لَهُ
كُلِّ مَنْ قَلَّلَ أَقْوَالَهُ # كَانَ مِنَ الطَّاعَاتِ أَقْوَى لَهُ
كُلُّ مَنْ أَهْمَلَ أَفْعَالَهُ # أَوْشَكَ أَنْ تَرْجِعَ أَفْعَى لَهُ
Setiap orang yang memiliki sedikit teman, # maka dia akan selamat dari ketergelinciran
Setiap orang yang sedikit bicara, #maka dia akan lebih kuat melakukan ketaatan
Setiap orang yang menunda-nunda amalnya, # tak lama lagi dia akan kembali hina”
Lalu Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra membalasnya sebagai berikut:
كُلُّ مَنْ رَاقَبَ أَحْوَالَهُ # كَانَ لَدَى الخَيْرَاتِ أَحْوَى لَهُ
كُلُّ مَنْ لَمْ يَرْعَ أَعْمَالَهُ # كَانَ عَنِ الْإِرْشَادِ أَعْمَى لَهُ
كُلُّ مَنْ بَايَنَ أَعْلَالَهُ # كَانَ عَنِ الْخُسْرَانِ أَعْلَى لَهُ
كُلُّ مَنْ بَاعَدَ أَغْلَالَهُ # كَانَ لِرَفْعِ القَدْرِ أَغْلَى لَهُ
كُلُّ مَنْ فَارَقَ أَوْحَالَهُ # وَارِدٌ بِالْخَيْرِ أَوْحَى لَهُ
“Setiap orang yang menjaga keadaannya, # dia akan lebih mudah melakukan kebaikan.
Setiap orang yang tidak memperhatikan amalnya, # dia akan buta dari petunjuk Setiap orang yang menyadari kekurangannya, # dia akan jauh dari kerugian
Setiap orang yang memegang gengsinya, # dia akan kesulitan mencapai derajat tinggi
Setiap orang yang meninggalkan kehinaan, # dia akan mendapatkan kebaikan.”
-Selesai sudah apa yang di-imla ‘kan Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra kepada kami.-
Diantara perkataan yang di-imla kan Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra kepada kami sebagai berikut:
أَرَاكَ تَرَانِي بِحَيْثُ لَا تَرَانِي # وَمِنَ الْعَجَائِبِ أَنْ تَرَانِي فَلَا تَرَانِى
“Aku melihat-Mu sedang melihatku dimana Engkau tak melihatku, #dan yang mengherankan adalah Engkau melihatku, tetapi tidak melihatku.”
Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra berkata: Maksudnya, seluruh ciptaan itu wujud karena hakekatnya adalah wujudnya Al Haq; berupa sifat dan nama, bukan dzat. Seluruh ciptaan itu tidak ada karena di dalamnya terdapat gambaran selain-Nya, sebab tidak ada wujud-Nya Allah dalamnya. Hal ini diperkuat oleh firman Allah Swt,
يَوْمَ تُبَدَّلُ الْاَ رْضُ غَيْرَ الْاَ رْضِ وَا لسَّمٰوٰتُ وَبَرَزُوْا لِلّٰهِ الْوَا حِدِ الْقَهَّا رِ
yauma tubaddalul-ardhu ghoirol-ardhi was-samaawaatu wa barozuu lillaahil-waahidil-qohhaar
“(Yaitu) pada hari (ketika) bumi diganti dengan bumi yang lain dan (demikian pula) langit, dan mereka (manusia) berkumpul (di Padang Mahsyar) menghadap Allah Yang Maha Esa, Maha Perkasa.”
(QS. Ibrahim 14: Ayat 48)
Karena, mata yang melihat keesaan Allah Swt akan melihat dengan paksaan yang melebur seluruh gambaran yang lain, sehingga tidak tersisa kecuali keberadaan-Nya Yang Esa, tidak ada satu makhluk pun yang bersekutu di dalamnya. -Selesai sudah apa yang di-imla ‘kan Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra kepada kami.-
