
Elsubha.com – Aku bertanya kepada Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra tentang hakekat zuhud;
Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra menjawab:
Hakekat zuhud terhadap objek zuhud (mazhud fih) adalah meninggalkan dan berpaling darinya. Permulaan nya adalah meninggalkan dan berpaling. Standarnya adalah merasa nyaman dengan meninggalkannya. Puncaknya adalah senantiasa merasa nyaman dengan meninggalkan nya hingga tidak terbesit lagi dalam hati. Puncaknya yang terbesar adalah meremehkan zuhud dan objek zuhud, sehingga dia tidak melihat pada zuhud sedikitpun dan tidak menoleh kepadanya. Selama sesuatu berada dalam jiwa, maka zuhud diperlukan, hingga apabila sesuatu itu telah dikeluarkan dari jiwa tersebut, maka jiwa itu akan menjadi bersih dari berbagai macam kotoran dan gambaran-gambaran semesta pun sirna dari hati; baik secara kasat mata atau pengaruhnya.
Dalam keadaan demikian itu, maka zuhud tidak dibutuhkan lagi, karena saat itu cinta Dzat Al Muqaddasah telah muncul. Apabila cinta Dzat Al Muqaddasah telah muncul, maka semesta akan sirna dan lebur, tidak tampak oleh mata dan tidak ada pengaruh nya, sehingga tidak mungkin terbesih dalam hati. Maka, dalam situasi demikian, tidak ada lagi zuhud dan objek zuhud.
Masalah ini telah diisyaratkan dalam perkataan Asy-Syibli Ra saat dia ditanya tentang zuhud, dia menjawab, “Dunia dan seisinya seperti kerikil yang ditebar di tanah lapang, yang dilewati oleh orang yang melewatinya, maka membiarkan orang yang melewati kerikil itu tidak dianggap zuhud.”
Sedangkan apa yang telah disebutkan tentang zuhud orang-orang yang memiliki maqam, yaitu yang terdapat setelah martabat ini, maka dunia ini tidak terbesit dalam hatinya, sehingga dia bersikap zuhud di dalamnya. Sesungguhnya mereka dalam zuhud ini memiliki hakekat yang sama, yaitu jauh dari setiap sesuatu yang dapat mencemari maqam masing-masing dari mereka yang memiliki maqam atau dapat berpotensi mengurangi atau merusak kesempumaan. Adapun selain ini, maka tidak ada zuhud sedikitpun.” -Selesai sudah apa yang di-imla kan Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra kepada kami.-
Diantara perkataan Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra adalah, beliau berkata: Setiap sesuatu memiliki intisari dan esensi. Yang ada di pertama adalah gambaran yang di kedua. Yang ada di kedua adalah gambaran yang di ketiga. Oleh karena itu, jasad adalah gambaran yang ada dalam tabi’at. Tabi’at adalah gambaran yang ada dalam jiwa. Jiwa adalah gambaran yang ada di akal. Akal adalah gambaran yang ada di ruh. Ruh adalah gambaran yang ada dalam kebutaan. Kebutaan adalah gambaran yang ada dalam mata. Mata adalah gambaran Dzat yang terlepas dari i’tibar. Sebagian mereka berkata, “Semesta ini gambaran ilmu Ilahi.”- Selesai sudah apa yang di-imla kan Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra kepada Sayyidi Muhammad bin Al Musyri dan dari tulisan tangan beliaulah saya mencatatnya.-
Diantara ucapan yang di-imla kan Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra yang dibacakan kepada kami adalah, beliau berkata: Dikatakan dalam isyarat dari Allah Swt, Dia berfirman, “Dalan jasad ada mudhghah, dalam mudhghah ada qalbu, dalam qalbu ada fu`ad, dalam fu `ad ada dhamir, dalam dhamir ada sirr, dan dalam sir ada Aku.”
Mudhghah adalah segumpal daging yang di dalamnya terdapat qalbu. Yang dimaksud qalbu adalah ruh yang dalam martabat kejadiannya sebagai qalbu. Dalam qalbu ada fu`ad. Fu`ad adalah ruh yang dalam martabat kejadiannya sebagai nafs muthma `innah (jiwa yang tenang). Dalam fu`ad ada dhamir. Yang dimaksud dhamir adalah ruh yang dalam martabat kejadiannya sebagai nafs radhiyah (jiwa yang ridha). Dalam dhamir ada sirr, yaitu ruh yang dalam martabat kejadiannya sebagai nafs mardhiyah (nafsu yang diridhai), inilah yang berjumpa dengan martabat fana ‘ul fana’, yaitu maqam suhq, mahq, dakk dan istihlak, sehingga tidak ada pandangan mata, tidak ada pengaruh dan tidak ada yang lain. Dalam martabat inilah Allah Swt berfirman, “Dan dalam sirr ada Aku.” Terkait dengan masalah ini, Ibnu Al Faridh Ra berkata: “Apabila ia dipanggil, maka Engkaulah yang menjawab….” Selesai sudah apa yang di-imla ‘kan Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra kepada kami.
Diantara perkataan Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra adalah: Pokok amalan
syari’at dan puncak tertingginya adalah bergantung kepada Allah Swt tanpa putus dan tanpa goyah walaupun tertimpa berbagai macam fitnah yang berat, yang mana dia tidak bisa selamat dari fitnah itu kecuali melepaskan tangannya (maksudnya hanya berpegang teguh kepada Allah). Inilah puncak dan tujuan amal, ini pulalah yang dimaksud dengan “memahami agama.”
Terkait dengan sifat ini, Allah Swt berfirman saat Dia menyebutkan tentang kebiasaan orang-orang munafik, yaitu berburuk sangka kepada Allah Swt dan Rasul-Nya Saw lantaran kesulitan yang menghimpit mereka. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
اِذْ جَآءُوْكُمْ مِّنْ فَوْقِكُمْ وَمِنْ اَسْفَلَ مِنْكُمْ وَاِ ذْ زَا غَتِ الْاَ بْصَا رُ وَبَلَغَتِ الْقُلُوْبُ الْحَـنَـاجِرَ وَتَظُنُّوْنَ بِا للّٰهِ الظُّنُوْنَاۡ
iz jaaa-uukum ming fauqikum wa min asfala mingkum wa iz zaaghotil-abshooru wa balaghotil-quluubul-hanaajiro wa tazhunnuuna billaahizh-zhunuunaa
“(Yaitu) ketika mereka datang kepadamu dari atas dan dari bawahmu, dan ketika penglihatan(mu) terpana dan hatimu menyesak sampai ke tenggorokan dan kamu berprasangka yang bukan-bukan terhadap Allah.”
(QS. Al-Ahzab 33: Ayat 10)
هُنَا لِكَ ابْتُلِيَ الْمُؤْمِنُوْنَ وَزُلْزِلُوْا زِلْزَا لًا شَدِيْدًا
hunaalikabtuliyal-mu-minuuna wa zulziluu zilzaalang syadiidaa
“Di situlah diuji orang-orang mukmin dan diguncangkan (hatinya) dengan guncangan yang dahsyat.”
(QS. Al-Ahzab 33: Ayat 11)
وَاِ ذْ يَقُوْلُ الْمُنٰفِقُوْنَ وَا لَّذِيْنَ فِيْ قُلُوْبِهِمْ مَّرَضٌ مَّا وَعَدَنَا اللّٰهُ وَرَسُوْلُهٗۤ اِلَّا غُرُوْرًا
wa iz yaquulul-munaafiquuna wallaziina fii quluubihim marodhum maa wa’adanallohu wa rosuuluhuuu illaa ghuruuroo
“Dan (ingatlah) ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang hatinya berpenyakit berkata, “Yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kami hanya tipu daya belaka.””
(QS. Al-Ahzab 33: Ayat 12)
Allah Swt membuka penutup diri orang-orang munafik dengan apa yang Dia kabarkan tentang mereka, yaitu berburuk sangka kepada Allah Swt dan Rasul-Nya Saw, serta kedustaan dalam setiap keadaan. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
قَدْ يَعْلَمُ اللّٰهُ الْمُعَوِّقِيْنَ مِنْكُمْ وَا لْقَآئِلِيْنَ لِاِ خْوَا نِهِمْ هَلُمَّ اِلَيْنَا ۚ وَلَا يَأْتُوْنَ الْبَأْسَ اِلَّا قَلِيْلًا
qod ya’lamullohul-mu’awwiqiina mingkum wal-qooo-iliina li-ikhwaanihim halumma ilainaa, wa laa ya-tuunal-ba-sa illaa qoliilaa
“Sungguh, Allah mengetahui orang-orang yang menghalang-halangi di antara kamu dan orang yang berkata kepada saudara-saudaranya, “Marilah bersama kami.” Tetapi mereka datang berperang hanya sebentar,”
(QS. Al-Ahzab 33: Ayat 18)
اَشِحَّةً عَلَيْكُمْ ۖ فَاِ ذَا جَآءَ الْخَوْفُ رَاَ يْتَهُمْ يَنْظُرُوْنَ اِلَيْكَ تَدُوْرُ اَعْيُنُهُمْ كَا لَّذِيْ يُغْشٰى عَلَيْهِ مِنَ الْمَوْتِ ۚ فَاِ ذَا ذَهَبَ الْخَـوْفُ سَلَقُوْكُمْ بِاَ لْسِنَةٍ حِدَا دٍ اَشِحَّةً عَلَى الْخَيْـرِ ۗ اُولٰٓئِكَ لَمْ يُؤْمِنُوْا فَاَ حْبَطَ اللّٰهُ اَعْمَا لَهُمْ ۗ وَكَا نَ ذٰلِكَ عَلَى اللّٰهِ يَسِيْرًا
asyihhatan ‘alaikum fa izaa jaaa-al-khoufu ro-aitahum yangzhuruuna ilaika taduuru a’yunuhum kallazii yughsyaa ‘alaihi minal-mauut, fa izaa zahabal-khoufu salaquukum bi-alsinatin hidaadin asyihhatan ‘alal-khoiir, ulaaa-ika lam yu-minuu fa ahbathollohu a’maalahum, wa kaana zaalika ‘alallohi yasiiroo
“mereka kikir terhadapmu. Apabila datang ketakutan (bahaya), kamu lihat mereka itu memandang kepadamu dengan mata yang terbalik-balik seperti orang yang pingsan karena akan mati, dan apabila ketakutan telah hilang, mereka mencaci kamu dengan lidah yang tajam, sedang mereka kikir untuk berbuat kebaikan. Mereka itu tidak beriman, maka Allah menghapus amalnya. Dan yang demikian itu mudah bagi Allah.”
(QS. Al-Ahzab 33: Ayat 19)
Allah Swt juga mengabarkan tentang kelompok (orang-orang munafik) yang lain, yaitu ketika mereka berkata:
وَاِ ذْ قَا لَتْ طَّآئِفَةٌ مِّنْهُمْ يٰۤـاَهْلَ يَثْرِبَ لَا مُقَا مَ لَكُمْ فَا رْجِعُوْا ۚ وَيَسْتَأْذِنُ فَرِيْقٌ مِّنْهُمُ النَّبِيَّ يَقُوْلُوْنَ اِنَّ بُيُوْتَنَا عَوْرَةٌ ۗ وَمَا هِيَ بِعَوْرَةٍ ۗ اِنْ يُّرِيْدُوْنَ اِلَّا فِرَا رًا
wa iz qoolat thooo-ifatum min-hum yaaa ahla yasriba laa muqooma lakum farji’uu, wa yasta-zinu fariiqum min-humun-nabiyya yaquuluuna inna buyuutanaa ‘auroh, wa maa hiya bi’auroh, iy yuriiduuna illaa firooroo
“Dan (ingatlah) ketika segolongan di antara mereka berkata, “Wahai penduduk Yatsrib (Madinah)! Tidak ada tempat bagimu, maka kembalilah kamu.” Dan sebagian dari mereka meminta izin kepada Nabi (untuk kembali pulang) dengan berkata, “Sesungguhnya rumah-rumah kami terbuka (tidak ada penjaga).” Padahal rumah-rumah itu tidak terbuka, mereka hanyalah hendak lari.”
(QS. Al-Ahzab 33: Ayat 13)
Kemudian Allah Swt mengabarkan tentang orang-orang mukmin yang hebat, Dia berfirman,
مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ رِجَا لٌ صَدَقُوْا مَا عَاهَدُوا اللّٰهَ عَلَيْهِ ۚ فَمِنْهُمْ مَّنْ قَضٰى نَحْبَهٗ ۙ وَمِنْهُمْ مَّنْ يَّنْتَظِرُ ۖ وَمَا بَدَّلُوْا تَبْدِيْلًا
minal-mu-miniina rijaalung shodaquu maa ‘aahadulloha ‘alaiih, fa min-hum mang qodhoo nahbahuu wa min-hum may yangtazhiru wa maa baddaluu tabdiilaa
“Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah. Dan di antara mereka ada yang gugur, dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikit pun tidak mengubah (janjinya),”
(QS. Al-Ahzab 33: Ayat 23)
Juga sebagaimana firman Allah Swt tentang mereka,
وَلَمَّا رَاَ الْمُؤْمِنُوْنَ الْاَ حْزَا بَ ۙ قَا لُوْا هٰذَا مَا وَعَدَنَا اللّٰهُ وَرَسُوْلُهٗ وَ صَدَقَ اللّٰهُ وَرَسُوْلُهٗ ۖ وَمَا زَا دَهُمْ اِلَّاۤ اِيْمَا نًـا وَّتَسْلِيْمًا
wa lammaa ro-al-mu-minuunal-ahzaaba qooluu haazaa maa wa’adanallohu wa rosuuluhuu wa shodaqollohu wa rosuuluhuu wa maa zaadahum illaaa iimaanaw wa tasliimaa
“Dan ketika orang-orang mukmin melihat golongan-golongan (yang bersekutu) itu, mereka berkata, “Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita.” Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya. Dan yang demikian itu menambah keimanan dan keislaman mereka.”
(QS. Al-Ahzab 33: Ayat 22)
Demikian itulah kekuatan bergantung kepada Allah Swt, tanpa terputus dari-Nya saat gelombang fitnah menghantam. Sifat ini hanyalah dimiliki oleh orang-orang yang Arifbillah. Inilah yang dimaksud dengan makna “memahami agama.”
Berdasarkan konsep inilah, keyakinan yang murni turun. Inti dari “memahami agama” yang dimaksud bukanlah yang telah disebutkan diatas. Akan tetapi berupa tersingkapnya sifat-sifat Allah dan asma-Nya yang batin, serta upaya memenuhi hak dan adab-Nya secara sempurna. Inilah yang dimaksud dengan memahami agama dan ia berada di luar ranah fuqaha. Tidak ada yang mampu sampai pada pembahasan ini kecuali para nabi, orang yang Arifbillah dan Ash-Shiddiqin. Inilah yang dimaksud dengan memahami fikih yang diisyaratkan dalam sebuah hadits. Rasulullah Saw bersabda,
مَا عُبِدَ اللَّهُ بِشَيْءٍ أَفْضَلَ مِنْ فِقْهِ فِي الدِّيْنِ، وَلَفَقِيهُ وَاحِدٌ أَشَدُّ عَلَى الشَّيْطَانِ مِنْ أَلْفِ عَابِدٍ
“Tidaklah Allah disembah dengan sesuatu yang lebih utama daripada memahami agama. Satu orang yang paham agama lebih berat bagi syeithan (untuk menggodanya) daripada seribu ahli ibadah.” -Selesai sudah apa yang di-imla ‘kan Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra kepada kami.-
