
Elsubha.com – Aku bertanya kepada Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra tentang makna ‘Afiyah dan hakekatnya.
Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra menjawab:
Ketahuilah, hakekat ‘afiyah adalah berdiri bersama Allah Swt dalam rangka berusaha untuk melakukan sesuatu sesuai kehendak-Nya, dengan kesempurnaan ridha, taslim, tafwidh, istislâm, gugurnya tadbir (manajemen) dan hiyal (strategi), serta senantiasa berlepas diri dari berbagai macam perhatian, ketenangan, persahabatan dan kehendak, sehingga tidak ada bagi dirinya selain Allah Swt dalam setiap nafas untuk selama-lamanya. Ciri keabsahan dan bukti kebenarannya adalah tidak pernah terlintas selain Allah dalam hatinya. Demikianlah yang dimaksud dengan afiyah.
Apabila engkau memohon ‘afiyah dari Allah, maka mohonlah kepada-Nya ‘afiyah yang menurut-Nya pantas untukmu, bukan ‘afiyah yang sesuai keinginanmu dan pilihanmu.
Mengenai perkataan seseorang yang mengingkari Al Mursi Ra, dia berkata, “Sesungguhnya Abu Bakar memohon ‘âfiyah kepada Allah, namun dia meninggal dunia karena diracun. Umar memohon âfiyah kepada Allah, namun dia meninggal dunia terbunuh. Utsman memohon ‘afiyah kepada Allah, namun dia meninggal dunia terbunuh dan Ali memohon âfiyah kepada Allah, namun dia meninggal dunia terbunuh.” Maka, demikianlah tingkatan fuqaha tentang Allah Swt, mengenai orang yang mengingkari perkara diatas, maka ia sedang tenggelam dalam lautan hawa-nya. Hadhrah kesucian Allah hilang (dari pandangannya), sehingga dia pun tidak mengetahui apa yang diingkarinya.
Sang penyair bersenandung,
فَكَمْ مِنْ عَائِبٍ قَوْلًا صَحِيْحًا # وَأَفَتُهُ مِنَ الْفَهْمِ السَّقِيمِ
“Betapa banyak ucapan yang benar datang dari orang yang punya aib, dan rusaknya (ucapan yang benar itu) datang dari pemahaman yang salah.”
Asy-Syaikh Maulana Abdussalam telah meng-isyaratkan kepada apa yang telah kami sebutkan dalam martabat åfiyah.
Syaikh Ahmad At-Tijany Ra berkata:
Janganlah kau memilih sedikit pun tentang perkaramu dan pilihlah sikap tidak memilih. Larilah dari pilihan itu, dari pilihanmu dan dari larimu serta dari setiap sesuatu, menuju Allah Swt.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَرَبُّكَ يَخْلُقُ مَا يَشَآءُ وَيَخْتَا رُ ۗ مَا كَا نَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ ۗ سُبْحٰنَ اللّٰهِ وَتَعٰلٰى عَمَّا يُشْرِكُوْنَ
wa robbuka yakhluqu maa yasyaaa-u wa yakhtaar, maa kaana lahumul-khiyaroh, sub-haanallohi wa ta’aalaa ‘ammaa yusyrikuun
“Dan Tuhanmu menciptakan dan memilih apa yang Dia kehendaki. Bagi mereka (manusia) tidak ada pilihan. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan.”
(QS. Al-Qasas 28: Ayat 68)
Sedangkan terkait dengan pembunuhan yang terjadi kepada sâdât yang mulia itu, maka bagi mereka itulah sumber ‘âfiyah. Bukankah engkau melihat bahwa Sayyidina Yahya As meninggal dunia terbunuh, apakah engkau melihat dia keluar dari ‘âfiyah?.
Sedangkan sâdât Ra dan selain mereka, seperti Hasan, Husain, Thalhah, Zubair dan yang lainnya dari kalangan orang-orang yang mulia, maka sesungguhnya Allah Swt telah memberikan mereka ‘afiyah yang sempurna lagi paripurna dalam pembunuhan tersebut, bahkan memuliakan mereka dengan perkara itu. Tidak ada yang dapat mengetahui hal ini, kecuali para pembesar wali Allah. Demikian pula, tidak ada yang mampu menanggung beban âfiyah ini kecuali mereka. Sedangkan selainmereka, maka tidak ada pembahasan terhadap selain mereka.
‘Afiyah dalam hak selain mereka (sâdât yang mulia) tidak keluar dari ujian, kecuali dengan pengukuhan dari Allah Swt. ‘Afiyah bagi mereka adalah kenikmatan zhahir yang melimpah, yang sesuai dengan selera dan syahwat, serta aman dari musibah dan fitnah. Padahal, inilah puncak musibah dan fitnah yang sangat berat.
Sebagian tabi’in dari kalangan fuqaha berkata kepada sebagian sâdât untuk meminta pertolongannya, “Ya sayyidi, berdo’alah kepada Allah untukku agar aku diberi ‘afiyah serta kenikmatan yang berlimpah”; atau sebagaimana yang dia katakan. Dia khawatir mendapat kan akibat yang buruk dari perkara ini, lalu dia pun meminta pertolongan kepada Allah melalui dirinya.
Ahli zhahir tinggal bersama nafsu mereka dan tenggelam dalam lautan syahwat. Tidak ada pembahasan bersama mereka khususnya tentang kondisi sâdât.
Syaikh Zarruq Ra berwasiat kepada para sahabatnya, di antara wasiatnya kepada mereka adalah, dia berkata, “Muliakanlah ulama (syari’at), karena merekalah yang membawa syari’at ini. Namun janganlah bergaul dengan mereka, karena jiwa mereka mengalahkan mereka.” Wassalam. Selesai sudah apa yang di-imla kan Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra kepada kami.-
