
Elsubha.com – Aku bertanya kepada Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra tentang Makna Huruf Al Qur’an, tentang sebagian harf ziyadah (huruf tambahan dalam tata bahasa bahasa arab) Al Qur’an; Ada ulama rasionalis yang mengatakan bahwa huruf-huruf tersebut adalah memang huruf tambahan dan sebagiannya adalah huruf yang dipinjam dari lafazh lain guna menjauhi cacat yang nampak pada lafazh tersebut, dimana hurf ziyadah (kata tambahan) dalam tata bahasa arab tidaklah memiliki arti dan mustahil jika didalam Al Qur’an ada huruf yang tidak memiliki makna. Diantaranya seperti firman-Nya,
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللّٰهِ لِنْتَ لَهُمْ ۚ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيْظَ الْقَلْبِ لَا نْفَضُّوْا مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَا عْفُ عَنْهُمْ وَا سْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِى الْاَ مْرِ ۚ فَاِ ذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِيْنَ
fa bimaa rohmatim minallohi lingta lahum, walau kungta fazhzhon gholiizhol-qolbi langfadhdhuu min haulika fa’fu ‘an-hum wastaghfir lahum wa syaawir-hum fil-amr, fa izaa ‘azamta fa tawakkal ‘alalloh, innalloha yuhibbul-mutawakkiliin
“Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. Karena itu maafkanlah mereka dan mohonkanlah ampun untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sungguh, Allah mencintai orang yang bertawakal.”
(QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 159); Juga huruf “Lam” ,dalam Firman-Nya,
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَا لْاِ نْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ
wa maa kholaqtul-jinna wal-ingsa illaa liya’buduun
“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.”
(QS. Az-Zariyat 51: Ayat 56)
Juga firman-Nya,
فَا لْتَقَطَهٗۤ اٰلُ فِرْعَوْنَ لِيَكُوْنَ لَهُمْ عَدُوًّا وَّحَزَنًا ۗ اِنَّ فِرْعَوْنَ وَهَا مٰنَ وَجُنُوْدَهُمَا كَا نُوْا خٰطِــئِيْنَ
faltaqothohuuu aalu fir’auna liyakuuna lahum ‘aduwwaw wa hazanaa, inna fir’auna wa haamaana wa junuudahumaa kaanuu khoothi-iin
“Maka dia dipungut oleh keluarga Fir’aun agar (kelak) dia menjadi musuh dan kesedihan bagi mereka. Sungguh, Fir’aun dan Haman bersama bala tentaranya adalah orang-orang yang bersalah.”
(QS. Al-Qasas 28: Ayat 8)
Dan juga pada firman-Nya,
وَمَاۤ اَرْسَلْنَا مِنْ رَّسُوْلٍ اِلَّا لِـيُـطَا عَ بِاِ ذْنِ اللّٰهِ ۗ وَلَوْ اَنَّهُمْ اِذْ ظَّلَمُوْۤا اَنْفُسَهُمْ جَآءُوْكَ فَا سْتَغْفَرُوا اللّٰهَ وَا سْتَغْفَرَ لَـهُمُ الرَّسُوْلُ لَوَجَدُوا اللّٰهَ تَوَّا بًا رَّحِيْمًا
wa maaa arsalnaa mir rosuulin illaa liyuthoo’a bi-iznillaah, walau annahum iz zholamuuu angfusahum jaaa-uuka fastaghfarulloha wastaghfaro lahumur-rosuulu lawajadulloha tawwaabar rohiimaa
“Dan Kami tidak mengutus seorang Rasul melainkan untuk ditaati dengan izin Allah. Dan sungguh, sekiranya mereka setelah menzalimi dirinya datang kepadamu (Muhammad), lalu memohon ampunan kepada Allah, dan Rasul pun memohonkan ampunan untuk mereka, niscaya mereka mendapati Allah Maha Penerima Tobat, Maha Penyayang.”
(QS. An-Nisa’ 4: Ayat 64); perhatikan huruf Alif, Laam dan Ya pada beberapa tempat diatas, sebagaimana yang telah dipaparkan ulama rasm.
Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra menjawab:
Perlu diketahui bahwa kecacatan mustahil pada Dzat Allah Swt; yaitu andai kita mengira-ngira ada sebuah manfaat atau kemdharatan dari-Nya yang kembali pada-Nya -Maha Suci Allah dari hal ini inilah cacat yang mustahil pada Dzat Allah Swt. Sedangkan sebuah manfaat atau kemudharatan yang kembali pada hamba-Nya, maka ini boleh dan tidak ada masalah, sebab hikmah Allah Swt yang bentuknya berupa ragam syari’at para nabi-Nya, disanalah Allah Swt tampakkan sebuah keterkaitan antara kaitan dan tambahan lainnya; seperti sebuah sebab dengan ada yang menyebabkannya; sebuah cacat dengan ada yang menyebabkannya, ini sama seperti firman Allah Swt,
تِلْكَ حُدُوْدُ اللّٰهِ ۗ وَمَنْ يُّطِعِ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ يُدْخِلْهُ جَنّٰتٍ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَ نْهٰرُ خٰلِدِيْنَ فِيْهَا ۗ وَذٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيْمُ
tilka huduudulloh, wa may yuthi’illaaha wa rosuulahuu yudkhil-hu jannaating tajrii ming tahtihal-an-haaru khoolidiina fiihaa, wa zaalikal-fauzul-‘azhiim
“Itulah batas-batas (hukum) Allah. Barang siapa taat kepada Allah dan rasul-Nya, Dia akan memasukkannya ke dalam surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Dan itulah kemenangan yang agung.”
(QS. An-Nisa’ 4: Ayat 13)
Juga Firman-Nya,
وَمَنْ يَّعْصِ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ وَيَتَعَدَّ حُدُوْدَهٗ يُدْخِلْهُ نَا رًا خَا لِدًا فِيْهَا ۖ وَلَهٗ عَذَا بٌ مُّهِيْنٌ
wa may ya’shillaaha wa rosuulahuu wa yata’adda huduudahuu yudkhil-hu naaron khoolidang fiihaa wa lahuu ‘azaabum muhiin
“Dan barang siapa mendurhakai Allah dan rasul-Nya dan melanggar batas-batas hukum-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka, dia kekal di dalamnya dan dia akan mendapat azab yang menghinakan.”
(QS. An-Nisa’ 4: Ayat 14)
Begitu pula ragam firman Allah Swt dan juga hadits Nabi Saw lainnya terkait hal ini.
Apabila engkau sudah paham pada ragam ayat yang sudah kami sebutkan dan mengenai jawaban hukum terkait apa yang Allah Swt tetapkan bagi mereka dalam firman-Nya,
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَا لْاِ نْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ
wa maa kholaqtul-jinna wal-ingsa illaa liya’buduun
“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.”
(QS. Az-Zariyat 51: Ayat 56); maksudnya adalah “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar kami menghukumi mereka dengan ibadah, maka orang yang tidak menyembah-Ku, Aku beri dia adzab-Ku. Begitu juga dengan firman-Nya,
وَمَاۤ اَرْسَلْنَا مِنْ رَّسُوْلٍ اِلَّا لِـيُـطَا عَ بِاِ ذْنِ اللّٰهِ ۗ وَلَوْ اَنَّهُمْ اِذْ ظَّلَمُوْۤا اَنْفُسَهُمْ جَآءُوْكَ فَا سْتَغْفَرُوا اللّٰهَ وَا سْتَغْفَرَ لَـهُمُ الرَّسُوْلُ لَوَجَدُوا اللّٰهَ تَوَّا بًا رَّحِيْمًا
wa maaa arsalnaa mir rosuulin illaa liyuthoo’a bi-iznillaah, walau annahum iz zholamuuu angfusahum jaaa-uuka fastaghfarulloha wastaghfaro lahumur-rosuulu lawajadulloha tawwaabar rohiimaa
“Dan Kami tidak mengutus seorang Rasul melainkan untuk ditaati dengan izin Allah. Dan sungguh, sekiranya mereka setelah menzalimi dirinya datang kepadamu (Muhammad), lalu memohon ampunan kepada Allah, dan Rasul pun memohonkan ampunan untuk mereka, niscaya mereka mendapati Allah Maha Penerima Tobat, Maha Penyayang.”
(QS. An-Nisa’ 4: Ayat 64); maksudnya adalah tidaklah Kami utus seorang rasul kecuali supaya Kami bisa menghukumi ketaatan makhluk padanya, maka mengenai orang yang tidak taat padanya, maka Aku akan buat perhitungan dengannya, inilah makna beberapa ayat diatas.
Akan tetapi maknanya terselubung dari orang yang mengalihkannya dari sisi zhahir lantaran tidak adanya perbedaan antara dua sifat; sifat hikmah dan sifat kehendak Allah, juga lantaran tidak adanya perbedaan antara cacat yang diperbolehkan dan yang tidak. Orang yang mengetahui perbedaan antara kedua hal ini, maka hilanglah kesulitan baginya terkait keterkaitan hukum syari’at satu sama lainnya sebagaimana yang telah kami suguhkan sebelumnya.
Maka bagi seorang mukmin hendaknya melihat dengan mata batin bahwa beragam perkara dalam kehendak Allah Swt itu terbebas dari berbagai ragam cacat, syarat, tambahan, keterkaitan dan sebab, sungguh Allah Swt telah menentukan ini sejak masa azali sesuai dengan pilihan-Nya; Allah Swt menentukan si fulan ini bahagia dan si fulan itu sengsara; si fulan ini kaya dan si fulan itu miskin tanpa adanya cacat dan tidak pula ada tujuan tertentu.
Hendaknya pula seorang mukmin melihat dengan mata hatinya tentang hikmah yang Allah Swt tampakkan dalam keterkaitan sesuatu dengan yang lainnya; dia memandang jika seseorang melakukan suatu kebaikan, maka Allah Swt akan berikan pahala yang murni dari keutamaan-Nya dan apabila orang itu melakukan keburukan, Allah Swt akan berikan balasan keburukan dari sisi keadilan-Nya, sebab Dialah yang memutuskan hukum dan memiliki pilihan; andai Dia menghendaki, Dia lakukan itu dan andai Dia menghendaki, Diapun meninggalkan itu pada kerajaan-Nya. Dialah Dzat yang perbuatannya tidak perlu dipertanyakan.
Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra melanjutkan: Huruf-huruf Al Qur’an tidak ada tambahan, akan tetapi jika makna huruf tersebut mengarah pada satu makna dan pada sebagian tempat, maka huruf tersebut disusun dengan yang lainnya sehingga menghasilkan satu makna yang sama, dimana dua huruf tadi membentuk satu makna ini dan pada akhirnya tidak ada lagi tambahan huruf lain dalam membentuk kata tersebut, bahkan kata pertama dan kedua inilah yang menghasilkan makna itu. Oleh -karena itu, pengarang Al Ibriz mengutarakan pernyataan Syaikhnya, “Apabila ada satu huruf yang ditambahkan pada sebuah kalimat, namun pada tempat lainnya tidak ada tambahan huruf ini dan kalimat tersebut memiliki makna yang sama dalam lafazh dan pemaknaannya pada dua tempat atau beberapa tempat lainnya; seperti keberadaan huruf alif, waw, ya za ‘idah pada sebagian kalimat, maka yang dianggap adalah tempat yang memiliki makna huruf yang ditambahkan lantaran adanya rahasia lain daripada makna sebelum ditambahkan huruf ini,” inilah yang dikatakan oleh pengarang Al Ibriz Ra.
-Selesai sudah apa yang di imla kan oleh Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra kepada Sayyidi Muhammad Al Musyri.-
