
Elsubha.com – Aku bertanya kepada Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra tentang maksud firman Allah Swt,
وَعَلَّمَ اٰدَمَ الْاَ سْمَآءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلٰٓئِكَةِ فَقَا لَ اَنْبِۢـئُوْنِيْ بِاَ سْمَآءِ هٰۤؤُلَآ ءِ اِنْ كُنْتُمْ صٰدِقِيْنَ
wa ‘allama aadamal-asmaaa-a kullahaa summa ‘arodhohum ‘alal-malaaa-ikati fa qoola ambi-uunii bi-asmaaa-i haaa-ulaaa-i ing kungtum shoodiqiin
“Dan Dia ajarkan kepada Adam nama-nama (benda) semuanya, kemudian Dia perlihatkan kepada para malaikat seraya berfirman, “Sebutkan kepada-Ku nama semua (benda) ini, jika kamu yang benar!””
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 31)
Apakah yang dimaksud dari pembelajaran Allah pada nabi Adam As tentang nama-nama benda seluruhnya ini mencakup seluruh nama-nama Allah yang tampak dan yang tersembunyi; yang Allah karuniakan kepada semua makhluk bahkan sampai nabi Muhammad Saw atau hanya khusus terkait dengan nama-nama yang dibutuhkan alam saja?; Andai kita katakan bahwa pengajaran Allah Swt pada nabi Adam As itu hanya khusus pada nama-nama alam semesta, lantas apa faedah dari firman-Nya, “Seluruhnya,”? dan andai kita katakan bahwa pengajaran Allah Swt pada nabi Adam As itu meliputi seluruhnya, lantas bagaimana dengan pengetahuan kita bahwa nabi Muhammad Saw lebih sempurna daripada nabi Adam As?
Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra menjawab:
Perlu diketahui bahwa ragam nama-nama yang Allah Swt ajarkan kepada nabi Adam As adalah nama-nama yang dibutuhkan oleh alam semesta, sedangkan maksud dari “seluruhnya,” adalah cakupan keseluruhan yang terkait dengan alam semesta, sehingga tidak ada yang luput. Hal ini dikuatkan dengan firman-Nya dimana Allah Swt tampakkan gambaran alam semesta pada malaikat seraya berfirman,
وَعَلَّمَ اٰدَمَ الْاَ سْمَآءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلٰٓئِكَةِ فَقَا لَ اَنْبِۢـئُوْنِيْ بِاَ سْمَآءِ هٰۤؤُلَآ ءِ اِنْ كُنْتُمْ صٰدِقِيْنَ
wa ‘allama aadamal-asmaaa-a kullahaa summa ‘arodhohum ‘alal-malaaa-ikati fa qoola ambi-uunii bi-asmaaa-i haaa-ulaaa-i ing kungtum shoodiqiin
“Dan Dia ajarkan kepada Adam nama-nama (benda) semuanya, kemudian Dia perlihatkan kepada para malaikat seraya berfirman, “Sebutkan kepada-Ku nama semua (benda) ini, jika kamu yang benar!””
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 31)
Ayat ini menunjukkan bahwa itulah nama-nama yang dibutuhkan oleh alam semesta dengan dalil firman-Nya, “nama benda-benda itu,” dimana ini adalah gambaran dari alam semesta. Sedangkan nama-nama yang keluar dari tatanan alam semesta, maka ragam nama ini tidak tercakup di dalamnya dan tidak ada pula habisnya. Allah Swt berfirman,
يَعْلَمُ مَا بَيْنَ اَيْدِيْهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلَا يُحِيْطُوْنَ بِهٖ عِلْمًا
ya’lamu maa baina aidiihim wa maa kholfahum wa laa yuhiithuuna bihii ‘ilmaa
“Dia (Allah) mengetahui apa yang di hadapan mereka (yang akan terjadi) dan apa yang di belakang mereka (yang telah terjadi), sedang ilmu mereka tidak dapat meliputi ilmu-Nya.”
(QS. Ta-Ha 20: Ayat 110)
Para ‘Arifin billah, wali quthb, nabi dan juga utusan Allah Swt dengan futuh ma’rifat mereka, Allah Swt senantiasa singkapkan sisi batin nama-nama-Nya yang tidak terbatas kemudian mereka tetap dengan kondisi ini selamanya; selama umur dunia, selama umur alam Barzakh dan selama umur hari Kiamat, bahkan selama umur surga yang tidak ada habisnya; Allah Swt singkapkan bagi mereka sisi batin (sisi yang tersembunyi) dari nama-nama Allah Swt yang tidak ada batasan baginya, tidak ada akhimya. Dengan demikian bagaimana bisa dikatakan bahwa pengajaran Allah Swt pada nabi Adam As mencakup segala nama-nama Allah yang ada? Tetapi keseluruhan pengajaran bermuara pada nama-nama yang dibutuhkan alam semesta saja. -Selesai-s urt
Sedangkan sebab yang membuat para malaikat bersujud pada nabi Adam As, maka tinjauan dari sisi hakikat perkara ini adalah bahwa ini merupakan perkara ghaib yang tidak dapat diketahui kecuali dengan nash yang jelas dan nyatanya tidak ada nash yang menjelaskannya. Allah Swt berfirman,
قُلْ اِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْـفَوَا حِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَ الْاِ ثْمَ وَا لْبَـغْيَ بِغَيْرِ الْحَـقِّ وَاَ نْ تُشْرِكُوْا بِا للّٰهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهٖ سُلْطٰنًا وَّاَنْ تَقُوْلُوْا عَلَى اللّٰهِ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ
qul innamaa harroma robbiyal-fawaahisya maa zhoharo min-haa wa maa bathona wal-isma wal-baghya bighoiril-haqqi wa ang tusyrikuu billaahi maa lam yunazzil bihii sulthoonaw wa ang taquuluu ‘alallohi maa laa ta’lamuun
“Katakanlah (Muhammad), “Tuhanku hanya mengharamkan segala perbuatan keji yang terlihat dan yang tersembunyi, perbuatan dosa, perbuatan zalim tanpa alasan yang benar, dan (mengharamkan) kamu mempersekutukan Allah dengan sesuatu, sedangkan Dia tidak menurunkan alasan untuk itu, dan (mengharamkan) kamu membicarakan tentang Allah apa yang tidak kamu ketahui.””
(QS. Al-A’raf 7: Ayat 33)
Allah Swt belum memberitahu kita tentang sebab malaikat bersujud pada nabi Adam As, dimana perkara itu hanya ada pada sisi Allah Swt semata, tidak ada ruang bagi akal pikiran untuk memikirkannya. Kami tidak katakan bahwa penyebabnya adalah untuk khilafah, bahkan tidak pula untuk yang lainnya, kami lebih memilih diam dimana penyebab perkara tersebut memang belum disebutkan.
Sedangkan tentang unggulnya malaikat daripada manusia atau sebaliknya?
Jawaban untuk perkara ini: Perlu diketahui bahwa perkara ini tidak bisa dipikirkan, dihayalkan dan tidak bisa di-qiyas-kan. Perkara yang benar adalah bahwa pengunggulan itu sesuai dengan pilihan Allah Swt dan hukum kehendak-Nya. Allah Swt mengunggulkan siapapun yang Dia kehandaki tanpa ada suatu cela maupun sebab tertentu atau Dia mengunggulkannya dengan apapun yang Dia kehendaki ataupun tanpa apapun, baik yang diunggulkan memiliki derajat dan kedudukan tinggi disisi Allah Swt lantaran kekuatannya atau juga berkedudukan rendah dari yang lainnya namun lantaran kekuatan lain dan sosoknya yang memiliki beberapa kesempurnaan.
Ini adalah pengunggulan antara malaikat dan juga manusia selain nabi Muhammad Saw. Sebab, secara mutlak beliau (nabi Muhammad Saw) adalah makhluk yang paling sempurna dan paling utama disisi Allah Swt dari manusia lainnya secara umum, tanpa adanya pengkhususan. beliau memiliki kedudukan paling tinggi dan mulia disisi Allah, yang paling dekat dengan-Nya, tidak ada perbedaan pendapat akan hal ini semua; Allah Swt tunjuk, pilih dan utus serta angkat derajat beliau dari makhluk lainnya, hal ini bukan karena sesuatu tetapi muni lantaran pilihan dan kehendak Allah. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَرَبُّكَ يَخْلُقُ مَا يَشَآءُ وَيَخْتَا رُ ۗ مَا كَا نَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ ۗ سُبْحٰنَ اللّٰهِ وَتَعٰلٰى عَمَّا يُشْرِكُوْنَ
wa robbuka yakhluqu maa yasyaaa-u wa yakhtaar, maa kaana lahumul-khiyaroh, sub-haanallohi wa ta’aalaa ‘ammaa yusyrikuun
“Dan Tuhanmu menciptakan dan memilih apa yang Dia kehendaki. Bagi mereka (manusia) tidak ada pilihan. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan.”
(QS. Al-Qasas 28: Ayat 68)
Terkait dengan malaikat, apakah nanti dihari Kiamat malaikat bisa melihat wajah Allah Swt atau tidak?
Jawaban untuk perkara ini: Tidak ada nash pasti yang menjelaskannya, tidak pula ada nash yang menafikan serta menetapkan hal itu terjadi, ini lantaran tidak adanya penjelasan berita ini dari Allah Swt. Maka jika Allah Swt berkehendak, mereka bisa melihat Allah Swt seperti halnya manusia dan jika Allah berkehendak, merekapun tidak bisa melihat Allah Swt. Tidak ada dalil sandaran akan perkara ini kecuali dari hadits yang shahih, sedangkan hadits yang shahih pun tidak ada yang menyebutkan perihal ini, sehingga perkara ini tidak perlu dijawab dengan kepastian bisa terjadi ataupun tidak bisa terjadi, akan tetapi harus dijawab dengan ber-tawaqquf (tidak menghukumi apa-apa) dalam hal ini.
Apakah para malaikat ini memiliki satu sisi atau banyak sisi?. Maka andai yang engkau inginkan adalah kecenderungan nama, maka setiap malaikat memiliki satu nama, yang dari nama ini kembali pada Allah Al Haq. Namun jika yang engkau inginkan adalah sisi penghambaan pada Allah Swt, maka baik malaikat dan manusia memiliki sisi yang sama pada hadhrah Allah Swt.
Para ulama berbeda pendapat dalam menyifati para malaikat; apakah mereka hanyalah ruh saja atau memiliki tubuh yang sederhana?. Inilah hakikat malaikat menurut pandangan ahli kalam dan semua penduduk langit dan bumi serta seisinya, semuanya akan mati dalam satu tiupan sangkakala, kecuali yang Allah Swt kehendaki berbeda.
Setelah pernyataan ini, Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra berkata: Semua yang hidup, baik jin, manusia dan malaikat hanyalah memiliki satu sisi di hadapan Allah Swt, terkecuali orang yang ‘Arif billah, mereka ber-tawajjuh pada Allah Swt pada semua waktu, dimana tawajjuh ini pada waktu yang sama, tawajjuh mereka tidak terbatas dan tidak dibatasi sesuai dengan apa yang Allah Swt singkapkan dari sisi tersembunyi nama-nama Allah Swt pada mereka, pada setiap nama Allah Swt ini mereka memiliki tawajjuh khusus yang tidak tercampuri dengan nama Allah lainnya. Oleh karena itu, jika para pembesar wali Allah ber tawajjuh menyembah Allah Swt dengan ini pada satu waktu, maka ibadah bertahun-tahun yang dilakukan semua makhluk tidak bisa menandingi apa yang mereka lakukan.
Dari sinilah engkau tahu apa yang telah diisyaratkan oleh Dzul Qarnain dalam perkataannya, “Apabila Allah Swt adalah puncak dari segala puncak, maka ma’rifat adalah ibadah yang paling luhur.” Hal ini dikuatkan dengan sabda nabi Muhammad Saw,
مَا عُبِدَ اللهُ بِشَيْءٍ أَفْضَلَ مِنْ فِقْهِ فِي الدِّيْنِ وَ لَفِقِيَّةٌ وَاحِدٌ أَشَدُّ عَلَى الشَّيْطَانِ مِنْ أَلْفِ عَابِدٍ
“Tidaklah Allah disembah dengan sesuatu yang lebih utama daripada pemahaman dalam beragama. Satu orang yang ahli fikih (orang yang ‘Arif billah) lebih dahsyat bagi syeithan daripada seribu hamba Allah.”
Hal inipun diperkuat dengan sabda Rasulullah Saw dalam hadits qudsi,
لاَ يَسَعُنِي أَرْضِي وَلَا سَمَائِي وَلَكِنْ يَسَعُنِي قَلْبُ عَبْدِي الْمُؤْمِنِ
“Bumi-Ku tidak cukup luas bagi-Ku, langit pun tidak cukup luas bagi-Ku, yang luas bagi-Ku adalah kalbu hamba-Ku yang mukmin.”
Inilah makna luasnya ragam tawajjuh kepada Allah Swt, maka orang yang ‘Arif billah akan senantiasa menyenbah Allah Swt pada waktu yang sama dengan hal yang tidak ada batasan dan tidak pula ada puncaknya, bahkan Al Junaid Al Baghdadi pemah berkata, “Jikalau ada seseorang datang beribadah pada Allah seribu tahun, kemudian tidak beribadah sekejap saja, maka yang sekejap inilah lebih banyak nilainya dibanding yang seribu tahun.”
Demikian inilah bentuk taraqqi kepada Allah selamanya. Sedangkan makna, “Al Faqih” yang tertera dalam hadits adalah orang yang ‘Arif billah.
Perlu diketahui bahwa hadhrah Allah Swt itu merupakan satu kesatuan; baik dari sisi Dzat-Nya, sisi sifat-Nya, sisi nama-nama-Nya dan beragam sisi-Nya; beragam sisi inilah yang sejatinya mengarah pada-Nya dengan bentuk ketundukan, kerendahan, ibadah, kepatuhan dibawah kekuatan yang memaksa melaksanakan perintah, kecintaan, dan pengagungan. Maka diantara mereka ada yang ber-tawajjuh pada gambaran hadhrah ilahiyyah secara nyata yang menghilangkan dzat lainnya, dan diantara mereka ada pula yang ber-tawajjuh pada hadhrah ilahiyyah yang agung dibalik tabir penghalang yang tipis; mereka adalah para penyembah berhala dan orang yang sejalan dengan mereka, sebab tawajjuh mereka secara kasat mata bentuknya adalah penghambaan pada patung, namun mereka sejatinya tidak ber-tawajjuh kecuali pada Allah Swt dan tidak menyembah selain-Nya, akan tetapi Allah Swt ber-tajalli dari balik tirai kebesaran dan keagungan-Nya, Allah pun menarik mereka sesuai dengan hukum qadha dan qadar yang tidak diperdebatkan lagi. Inilah bentuk tawajjuh pada Allah Swt secara terpaksa, dimana Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَلِلّٰهِ يَسْجُدُ مَنْ فِى السَّمٰوٰتِ وَا لْاَ رْضِ طَوْعًا وَّكَرْهًا وَّظِلٰلُهُمْ بِا لْغُدُوِّ وَا لْاٰ صَا لِ
wa lillaahi yasjudu mang fis-samaawaati wal-ardhi thou’aw wa kar-haw wa zhilaaluhum bil-ghuduwwi wal-aashool
“Dan semua sujud kepada Allah baik yang di langit maupun yang di bumi, baik dengan kemauan sendiri maupun terpaksa, (dan sujud pula) bayang-bayang mereka, pada waktu pagi dan petang hari.”
(QS. Ar-Ra’d 13: Ayat 15)
Semua makhluk ber-tawajjuh pada Allah Swt dengan sifat yang sudah kami sebutkan sebelumnya. Orang-orang kafir, orang-orang durjana dan orang yang menzhalimi orang lain, kondisi diri mereka yang bercampur dengan perkara yang menyelisihi syari’at dan menyelisihi gambaran ilahiyyah, sungguh mereka sejatinya melaksanakan perintah Allah Swt, mereka tidak menyelisihi perintah dan apa yang dikehendaki-Nya, tetapi mereka tidak sepakat dengan gambaran Allah secara zhahir, namun disisi bathin-nya mereka tenggelam pada dzat Allah Swt.
Jika engkau sudah mengetahui hal ini, bahwa setiap yang ada di alam semesta ini memiliki martabat tersendiri di hadapan Allah Swt dan Allah menghukumi dengan hukum khusus yang tidak diberlakukan pada yang lainnya, Diapun berbuat pada mereka dengan perbuatan khusus yang tidak Dia perbuat pada yang lainnya dan Allahlah yang membuat setiap biji atom ber-tawajjuh pada-Nya dengan cara yang tidak dilakukan oleh selain-Nya, maka sudah seyogyanya semua makhluk ridha dan berserah diri kepada Allah Swt dalam hukum-Nya. Dan sejatinya, orang-orang kafir telah menyelisihi perkara Allah Swt secara zhahir namun menepatinya secara bathin, dimana mereka tidak menyadari hal ini.
Sedangkan terkait beragam pahala, balasan perbuatan buruk dan baik di hari nanti; baik berupa adzab maupun kenikmatan, seluruh perkara itu terkait dengan hukum kehendak-Nya yang tidak diragukan lagi, Dialah Dzat yang tidak dipertanyakan apa yang Dia perbuat.
Apabila engkau telah tahu hal ini dan memikirkannya, niscaya engkau akan dapati bahwa setiap partikel makhluk memiliki sisi tawajjuh tersendiri kepada Allah yang tidak diikuti oleh yang lainnya, namun bisa jadi ada partikel atau beberapa partikel yang menyamai partikel sebelumnya pada sifat tawajjuh yang sama-sama ia miliki, hal ini akan kami jelaskan lain kali. Maka jadikanlah kaidah ini menjadi patokan hukum dan aplikasikan ini pada semua sisi alam ini dari kalangan malaikat, manusia dan yang lainnya serta ajarkanlah tata cara ber-tawajjuh kepada Allah ini pada makhluk.
Apabila engkau sudah tahu ini dan mampu membedakannya, maka sisi terbesar dalam dunia ma’rifat telah terbuka bagimu, begitu juga dengan luasnya sisi tajalli Allah yang tanpa batas, akan tetapi pada ranah ini antara syari’at dan hakikat masih bercampur baur.
Batasan pemisah antara hal ini adalah bahwa Allah lah yang menggerakkan semua makhluk dan mengatur setiap perkara mereka, bahkan Dia senantiasa ada pada setiap gerakan dan diam. Makhluk tidak memiliki apa-apa, mereka tidak memiliki apa-apa walau setipis kulit ari, mereka tidak bisa bergerak, tidak bisa memberikan hukum, tidak bisa memajukan maupun mengakhirkan, tetapi semuanya ini ada dalam genggaman Allah Swt, dibawah hukum kehendak-Nya, Dia bisa saja menjauhkan mereka bagaimanapun kondisinya dan bisa juga menerima mereka bagaimanapun kondisinya sesuai kebaikan atau keburukan, sesuai kemanfaatan atau kemudharatan, ketaatan atau kemaksiatan, penerimaan atau penolakan, pada perkara baik atau perkara buruk yang dikehendaki-Nya.
Dari balik hakikat ini, Allah Swt ber-tajalli dan menjadikan hikmah dan syari’at ini mengikuti ragam persyaratan. Sebab, keterkaitan hal yang sangat diperlukan dan kebutuhan, tidak ada sesuatu yang terpisah pada hikmah yang sudah Allah Swt kehendaki, semua itu berjalan pada ragam aturan kehendak-Nya. Kemudian Allah susun gambaran hikmah ini pada ragam sisi keterkaitan yang berupa hukum ilahiyyah, yang kemudian dinamakan dengan batasan, balasan, pahala, takut, harapan; tidak ada satupun yang keluar dari batasan ini. Allah Swt memiliki hukum dan pilihan-Nya sendiri dalam melakukan sesuatu pada gambaran syari’at dan juga hakikat. Tidak ada satupun makhluk yang bisa menentang dan mempertanyakan pada-Nya mengapa demikian, untuk apa dan apa saja, yang ada hanyalah tertunduknya mata dan khusyu’nya kalbu dibawah kekuasaan uluhiyyah dan sisi jalal Nya.
Sedangkan mengenai firman Allah Swt, “Mereka (malaikat) berkata,
وَاِ ذْ قَا لَ رَبُّكَ لِلْمَلٰٓئِكَةِ اِنِّيْ جَا عِلٌ فِى الْاَ رْضِ خَلِيْفَةً ۗ قَا لُوْۤا اَتَجْعَلُ فِيْهَا مَنْ يُّفْسِدُ فِيْهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَآءَ ۚ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَـكَ ۗ قَا لَ اِنِّيْۤ اَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ
wa iz qoola robbuka lil-malaaa-ikati innii jaa’ilung fil-ardhi kholiifah, qooluuu a taj’alu fiihaa may yufsidu fiihaa wa yasfikud-dimaaa, wa nahnu nusabbihu bihamdika wa nuqoddisu lak, qoola inniii a’lamu maa laa ta’lamuun
“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.” Mereka berkata, “Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?” Dia berfirman, “Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.””
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 30); bersama dengan pembelajaran Allah Swt,
وَاِ ذْ قَا لَ رَبُّكَ لِلْمَلٰٓئِكَةِ اِنِّيْ جَا عِلٌ فِى الْاَ رْضِ خَلِيْفَةً ۗ قَا لُوْۤا اَتَجْعَلُ فِيْهَا مَنْ يُّفْسِدُ فِيْهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَآءَ ۚ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَـكَ ۗ قَا لَ اِنِّيْۤ اَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ
wa iz qoola robbuka lil-malaaa-ikati innii jaa’ilung fil-ardhi kholiifah, qooluuu a taj’alu fiihaa may yufsidu fiihaa wa yasfikud-dimaaa, wa nahnu nusabbihu bihamdika wa nuqoddisu lak, qoola inniii a’lamu maa laa ta’lamuun
“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.” Mereka berkata, “Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?” Dia berfirman, “Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.””
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 30)
Jawaban untuk perkara ini: Para malaikat tidak bertanya pada Allah Swt dengan menentang dan tidak pula menolak hukum tersebut, karena mereka sangat takut jika itu dilakukan, mereka tidak mau menyeberangi martabat Jalalnya Allah dengan menentang-Nya, akan tetapi yang mereka tanyakan pada-Nya adalah terkait rahasia yang menyebabkan terciptanya makhluk ini dan menjadikannya ada di bumi, apa yang Allah Swt kehendaki dari itu, dimana sebelumnya mereka telah melihat penghuni bumi yang zhalim, banyak berbuat kerusakan dan menumpahkan darah serta saling bermusuhan satu sama lainnya. Para malaikat melihat kondisi ini pada setiap makhluk yang mendiami bumi sampai Allah Swt berfirman,
وَاِ ذْ قَا لَ رَبُّكَ لِلْمَلٰٓئِكَةِ اِنِّيْ جَا عِلٌ فِى الْاَ رْضِ خَلِيْفَةً ۗ قَا لُوْۤا اَتَجْعَلُ فِيْهَا مَنْ يُّفْسِدُ فِيْهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَآءَ ۚ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَـكَ ۗ قَا لَ اِنِّيْۤ اَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ
wa iz qoola robbuka lil-malaaa-ikati innii jaa’ilung fil-ardhi kholiifah, qooluuu a taj’alu fiihaa may yufsidu fiihaa wa yasfikud-dimaaa, wa nahnu nusabbihu bihamdika wa nuqoddisu lak, qoola inniii a’lamu maa laa ta’lamuun
“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.” Mereka berkata, “Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?” Dia berfirman, “Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.””
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 30)
Mereka melihat umat yang mendiami bumi tidak keluar dari kondisi diatas, sehingga para malaikat pun menilai yang lainnya dengan gambaran ini, mereka pun bertanya apa yang dikehendaki oleh Allah Swt dengan menjadikan makhluk ini (manusia) sebagai khalifah yang anak keturunannya kerap membuat ke-zhalim-an, kerusakan dan menumpahkan darah, lalu Allah berfirman,
وَاِ ذْ قَا لَ رَبُّكَ لِلْمَلٰٓئِكَةِ اِنِّيْ جَا عِلٌ فِى الْاَ رْضِ خَلِيْفَةً ۗ قَا لُوْۤا اَتَجْعَلُ فِيْهَا مَنْ يُّفْسِدُ فِيْهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَآءَ ۚ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَـكَ ۗ قَا لَ اِنِّيْۤ اَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ
wa iz qoola robbuka lil-malaaa-ikati innii jaa’ilung fil-ardhi kholiifah, qooluuu a taj’alu fiihaa may yufsidu fiihaa wa yasfikud-dimaaa, wa nahnu nusabbihu bihamdika wa nuqoddisu lak, qoola inniii a’lamu maa laa ta’lamuun
“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.” Mereka berkata, “Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?” Dia berfirman, “Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.””
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 30)
Para malaikat, meskipun mereka tahu apa yang ada di lauh mahfuzh, namun mereka tidaklah mengetahui beragam sisi ghaibnya. Tidak ada selain Allah Swt yang meliputi semua ilmu yang ada.
-Selesai sudah apa yang di-imla’ kan pada kami dari hafalan dan perkataan Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra.-
