You dont have javascript enabled! Please enable it!
Elsubha menjamin Garansi 100% Uang Kembali jika barang yang diterima adalah PALSU

Pembahasan 25. Aku bertanya kepada Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra tentang maksud firman Allah Swt (QS. Al-An’am 6: Ayat 59),
وَعِنْدَهٗ مَفَا تِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَاۤ اِلَّا هُوَ ۗ وَيَعْلَمُ مَا فِى الْبَرِّ وَا لْبَحْرِ ۗ وَمَا تَسْقُطُ مِنْ وَّرَقَةٍ اِلَّا يَعْلَمُهَا وَلَا حَبَّةٍ فِيْ ظُلُمٰتِ الْاَ رْضِ وَلَا رَطْبٍ وَّلَا يَا بِسٍ اِلَّا فِيْ كِتٰبٍ مُّبِيْنٍ

بسم الله الرحمن الرحيم اللهم صل على سيدنا محمد الفاتح لما أغلق والخاتم لما سبق ناصر الحق بالحق والهادي إلى صراطك المستقيم وعلى آله حق قدره ومقداره العظيم

Elsubha.com – Aku bertanya kepada Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra tentang maksud firman Allah Swt,

وَعِنْدَهٗ مَفَا تِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَاۤ اِلَّا هُوَ ۗ وَيَعْلَمُ مَا فِى الْبَرِّ وَا لْبَحْرِ ۗ وَمَا تَسْقُطُ مِنْ وَّرَقَةٍ اِلَّا يَعْلَمُهَا وَلَا حَبَّةٍ فِيْ ظُلُمٰتِ الْاَ رْضِ وَلَا رَطْبٍ وَّلَا يَا بِسٍ اِلَّا فِيْ كِتٰبٍ مُّبِيْنٍ
wa ‘ingdahuu mafaatihul-ghoibi laa ya’lamuhaaa illaa huw, wa ya’lamu maa fil-barri wal-bahr, wa maa tasquthu miw waroqotin illaa ya’lamuhaa wa laa habbating fii zhulumaatil-ardhi wa laa rothbiw wa laa yaabisin illaa fii kitaabim mubiin

“Dan kunci-kunci semua yang gaib ada pada-Nya; tidak ada yang mengetahui selain Dia. Dia mengetahui apa yang ada di darat dan di laut. Tidak ada sehelai daun pun yang gugur yang tidak diketahui-Nya. Tidak ada sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak pula sesuatu yang basah atau yang kering, yang tidak tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).”
(QS. Al-An’am 6: Ayat 59)

Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra menjawab:

Dengan ayat ini Allah Swt menafikan pengetahuan tentang perkara yang ghaib, sehingga tidak ada yang mengetahui perkara ghaib kecuali Allah semata. Akan tetapi ilmu yang dinafikan disini adalah ilmu yang tidak memiliki jalurnya, sementara beragam jalan ilmu bisa sampai kepada makhluk melalui satu dari tiga hal ini:

Pertama, melalui salah satu panca indera manusia;

Kedua, melalui pendengaran dan penyampaian suatu berita; yang berupa kajian akan perkara yang diketahui hingga menyentuh kajian yang tidak diketahui.

Ketiga, jalur inilah yang dinafikan dari makhluk. Dan yang tersisa adalah apa yang Allah Swt lontarkan pada kalbu seorang hamba, tanpa dirasa, tanpa perantara bahkan tanpa perlu dipikirkan, inilah yang dinamakan ilmu ladunni. Ilmu ini tidak dinafikan dari para utusan Allah Swt, tidak pula dinafikan dari para nabi, hal ini dikuatkan oleh firman Allah Swt,

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

عٰلِمُ الْغَيْبِ فَلَا يُظْهِرُ عَلٰى غَيْبِهٖۤ اَحَدًا 
‘aalimul-ghoibi fa laa yuzh-hiru ‘alaa ghoibihiii ahadaa

“Dia Mengetahui yang gaib, tetapi Dia tidak memperlihatkan kepada siapa pun tentang yang gaib itu.”
(QS. Al-Jinn 72: Ayat 26)

اِلَّا مَنِ ارْتَضٰى مِنْ رَّسُوْلٍ فَاِ نَّهٗ يَسْلُكُ مِنْۢ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهٖ رَصَدًا 
illaa manirtadhoo mir rosuuling fa innahuu yasluku mim baini yadaihi wa min kholfihii roshodaa

“Kecuali kepada rasul yang diridai-Nya, maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di depan dan di belakangnya.”
(QS. Al-Jinn 72: Ayat 27)

Al Mursi berkata: (Ilmu tersebut pun tidak dinafikan dari) Ash-Shiddiq (orang yang jujur kondisi jiwanya), atau juga tidak dinafikan dari para wali Allah, hal ini dikuatkan dengan sabda Nabi Muhammad Saw,

إِنَّ مِنَ الْعِلْمِ كَهَيْئَةِ الْمَكْنُونِ لاَ يَعْرِفُهُ إِلا الْعُلَمَاءُ بِاللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ، فَإِذَا نَطَقُوْا بِهِ لَا يُنْكِرُهُ إِلَّا أَهْلُ الْغُرَّةِ بِاللَّهِ تَعَالَى.

“Sungguh ada bagian dari ilmu yang tersimpan, ilmu ini tidak diketahui kecuali oleh ulama Allah. Apabila mereka mengutarakan itu tidak ada yang ingkar kecuali orang yang cemburu pada Allah.”

Dengan kata lain: Yang dimaksud ilmu yang Allah nafikan dari makhluk-Nya yang ada pada indera kelima dan yang berkaitan dengan hal-hal ghaib, inilah ilmu yang bisa dicari oleh makhluk, dimana ilmu ini bisa sampai kepada makhluk dengan satu dari tiga cara diatas; baik ilmu tersebut didapatkan dari berita yang bisa didengar telinga atau diraih dengan dalil akal pikiran atau dengan mencermati hal yang bisa diindera, beberapa jalur ilmu inilah yang sengaja Allah Swt halangi agar orang tersebut tidak mengetahui beragam perkara ghaib.

Terkait dengan orang yang Allah Swt karuniakan ilmu ladunni, maka orang tersebut akan mengetahui sebagian perkara ghaib, seperti yang disebutkan dalam kisah Al Khidir dan nabi Musa As, karena Al Khidir mengetahui ilmu yang Allah Swt berikan padanya dan tidak diketahui oleh nabi Musa As. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

فَوَجَدَا عَبْدًا مِّنْ عِبَا دِنَاۤ اٰتَيْنٰهُ رَحْمَةً مِّنْ عِنْدِنَا وَعَلَّمْنٰهُ مِنْ لَّدُنَّا عِلْمًا
fa wajadaa ‘abdam min ‘ibaadinaaa aatainaahu rohmatam min ‘ingdinaa wa ‘allamnaahu mil ladunnaa ‘ilmaa

“lalu mereka berdua bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan rahmat kepadanya dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan ilmu kepadanya dari sisi Kami.”
(QS. Al-Kahf 18: Ayat 65)

Ayat ini merupakan dalil bahwa ada sosok yang Allah ajarkan ilmu ladunni, sosoknya mengetahui sebagian perkara ghaib yang Allah Swt sembunyikan dari kebanyakan makhluk-Nya.

-Selesai sudah apa yang di-imla’ kan pada kami dari hafalan dan perkataan Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra.-

Sumber : BUKU SAYYIDI SYAIKH RA MENJAWAB JILID 1 – KAJIAN SEPUTAR AL-QUR’AN (JAWAHIR AL MA’ANI) SYAIKH AL HAJJ ALI HARAZIM AT-TIJANY