You dont have javascript enabled! Please enable it!
Elsubha menjamin Garansi 100% Uang Kembali jika barang yang diterima adalah PALSU

Pembahasan 26. Aku bertanya kepada Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra tentang maksud firman Allah Swt (QS. Al-Hajj 22: Ayat 52),
وَمَاۤ اَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَّسُوْلٍ وَّلَا نَبِيٍّ اِلَّاۤ اِذَا تَمَنّٰۤى اَلْقَى الشَّيْطٰنُ فِيْۤ اُمْنِيَّتِهٖ ۚ فَيَنْسَخُ اللّٰهُ مَا يُلْقِى الشَّيْطٰنُ ثُمَّ يُحْكِمُ اللّٰهُ اٰيٰتِهٖ ۗ وَا للّٰهُ عَلِيْمٌ حَكِيْمٌ 

بسم الله الرحمن الرحيم اللهم صل على سيدنا محمد الفاتح لما أغلق والخاتم لما سبق ناصر الحق بالحق والهادي إلى صراطك المستقيم وعلى آله حق قدره ومقداره العظيم

Elsubha.com – Aku bertanya kepada Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra tentang maksud firman Allah Swt,

وَمَاۤ اَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَّسُوْلٍ وَّلَا نَبِيٍّ اِلَّاۤ اِذَا تَمَنّٰۤى اَلْقَى الشَّيْطٰنُ فِيْۤ اُمْنِيَّتِهٖ ۚ فَيَنْسَخُ اللّٰهُ مَا يُلْقِى الشَّيْطٰنُ ثُمَّ يُحْكِمُ اللّٰهُ اٰيٰتِهٖ ۗ وَا للّٰهُ عَلِيْمٌ حَكِيْمٌ 
wa maaa arsalnaa ming qoblika mir rosuuliw wa laa nabiyyin illaaa izaa tamannaaa alqosy-syaithoonu fiii umniyyatih, fa yangsakhullohu maa yulqisy-syaithoonu summa yuhkimullohu aayaatih, wallohu ‘aliimun hakiim

“Dan Kami tidak mengutus seorang rasul dan tidak (pula) seorang nabi sebelum engkau (Muhammad), melainkan apabila dia mempunyai suatu keinginan, setan pun memasukkan godaan-godaan ke dalam keinginannya itu. Tetapi Allah menghilangkan apa yang dimasukkan setan itu. dan Allah akan menguatkan ayat-ayat-Nya. Dan Allah Maha Mengetahui, Maha Bijaksana,”
(QS. Al-Hajj 22: Ayat 52)

Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra menjawab:

Percakapan dalam ayat ini menggunakan metode takwil, sebab metode takwil ini mencakup semua Al Qur’an. Pentakwilan ayat ini adalah, bahwa setiap utusan Allah Swt berangan-angan agar semua umatnya memeluk Islam, keinginan limpahan hidayah bagi umatnya lantaran para utusan Allah senantiasa ingin mematuhi perintah Allah Swt seraya memohon belas kasihan bagi mereka.

Apabila utusan Allah Swt telah berangan-angan demikian, maka setan lalu menghembuskan kesesatan dan kekufuran dari yang diangan-angankan para utusan Allah pada kalbu umat yang mereka dakwahkan. Para utusan Allah pun berjalan dengan angan-angan tersebut, lalu Allah Swt menghapus kemaksiatan, kekufuran dan kedustaan apa yang dihembuskan oleh setan, kemudian Allah menguatkan ayat-ayat-Nya.

Makna menguatkan ayat-ayat-Nya adalah, apa yang ditunjukkan oleh ayat ini yang berupa keimanan terhadap utusan Allah Swt, memenuhi perintah-Nya dan berdiri tegak pada batasan ayat-ayat muhkamat tersebut.

Sedangkan hadits mengenai Al Gharânîq, maka hadits tersebut tidak ada asalnya ditinjau dari dua sisi,

Fenomena Gharaniq adalah suatu peristiwa/ kisah yang dialami Rasulullah Saw. ketika membaca Q.S. An-Najm pada ayat ke-19 hingga 20, yang artinya: “Maka apakah patut kamu (hai orang-orang musyrik) menganggap Latta, Uzza dan Manah, yang ketiga (yang) kemudian (sebagai anak perempuan Allah)”. Kemudian setan menyelipkan kalimat Gharaniq yang berbunyi:


…”تلك الغرانيق العلى وأن شفاعتهن لترجى”

“Itulah (berhala-berhala) Gharaniq yang mulia dan syafaat mereka sungguh diharapkan”.

Setelah Nabi Saw. melanjutkan hingga akhir surat, beliau mengakhirinya dengan bersujud. Sontak semua kalangan (muslim/ kafir quraisy) yang ada pada tempat tersebut mengikuti apa yang dilakukan oleh Nabi Saw. Hal ini lantas menjadi buah bibir mereka (kaum kafir quraisy) dengan berkata, “Dia (Muhammad) tidak pernah menyebut sesembahan kita dengan baik-baik sebelum ini”. Adapun pada riwayat lain, “Sesungguhnya Muhammad telah kembali kepada agamanya semula, yaitu agama kaumnya”.

Hingga pada akhirnya, Allah menurunkan Q.S. al Hajj (52) untuk meluruskan kisah ini, yang artinya: “Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang rasul pun dan tidak (pula) seorang nabi, melainkan apabila ia mempunyai sesuatu keinginan, setan pun memasukkan godaan-godaan terhadap keinginan itu, lalu Allah menghilangkan apa yang dimasukkan oleh setan itu, dan Allah menguatkan ayat-ayat-Nya. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”.

Yang mana setiap dari dua perkara ini membatalkan satu sama lainnya:

Pertama, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَمَا تَنَزَّلَتْ بِهِ الشَّيٰطِيْنُ
wa maa tanazzalat bihisy-syayaathiin

“Dan (Al-Qur’an) itu tidaklah dibawa turun oleh setan-setan.”
(QS. Asy-Syu’ara’ 26: Ayat 210)

وَمَا يَنْۢبَغِيْ لَهُمْ وَمَا يَسْتَطِيْعُوْنَ 
wa maa yambaghii lahum wa maa yastathii’uun

“Dan tidaklah pantas bagi mereka (Al-Qur’an itu), dan mereka pun tidak akan sanggup.”
(QS. Asy-Syu’ara’ 26: Ayat 211)

Inilah yang menjadi saksi adanya perlindungan Allah Swt terhadap wahyu dari kemungkinan disisipi oleh syeithan.

Kedua, firman Allah Swt, yang dalam ayat ini mereka anggap ada sisi Al Gharânîq (tiga tuhan berhala),

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

اِنْ هِيَ اِلَّاۤ اَسْمَآءٌ سَمَّيْتُمُوْهَاۤ اَنْتُمْ وَاٰ بَآ ؤُكُمْ مَّاۤ اَنْزَلَ اللّٰهُ بِهَا مِنْ سُلْطٰنٍ ۗ اِنْ يَّتَّبِعُوْنَ اِلَّا الظَّنَّ وَمَا تَهْوَى الْاَ نْفُسُ ۚ وَلَقَدْ جَآءَهُمْ مِّنْ رَّبِّهِمُ الْهُدٰى 
in hiya illaaa asmaaa-ung sammaitumuuhaaa angtum wa aabaaa-ukum maaa angzalallohu bihaa ming sulthoon, iy yattabi’uuna illazh-zhonna wa maa tahwal-angfus, wa laqod jaaa-ahum mir robbihimul-hudaa

“Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu mengada-adakannya; Allah tidak menurunkan suatu keterangan apa pun untuk (menyembah)nya. Mereka hanya mengikuti dugaan, dan apa yang diingini oleh keinginannya. Padahal sungguh, telah datang petunjuk dari Tuhan mereka.”
(QS. An-Najm 53: Ayat 23)

Sungguh jika memang bersamaan dengan ayat ini ada hadits Al Gharânîq, maka semua orang Arab akan mencela nabi Muhammad Saw dan juga wahyu beliau. Penjelasan mengenai hal tersebut adalah, bahwa mereka (yang diabadikan dalam Al Qur`an),

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

اَفَرَءَيْتُمُ اللّٰتَ وَا لْعُزّٰى 
a fa ro-aitumul-laata wal-‘uzzaa

“Maka apakah patut kamu (orang-orang musyrik) menganggap (berhala) Al-Lata dan Al-`Uzza,”
(QS. An-Najm 53: Ayat 19)

Hingga akhir ayat dalam surah ini. Mereka berkata: Dalam rentetan ayat ini, orang-orang musyrik mendengar redaksi,

تِلْكَ الْغَرَانِيقُ الْعُلَى وَإِنَّ شَفَاعَتَهُنَّ لَتُرْتَحَى

“Itulah tiga berhala (Al Gharânîq) yang luhur, sesungguhnya syafa’at ketiganya sangat dinantikan,” pada ucapan Nabi Saw yang dilanjutkan dengan membaca,

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

اِنْ هِيَ اِلَّاۤ اَسْمَآءٌ سَمَّيْتُمُوْهَاۤ اَنْتُمْ وَاٰ بَآ ؤُكُمْ مَّاۤ اَنْزَلَ اللّٰهُ بِهَا مِنْ سُلْطٰنٍ ۗ اِنْ يَّتَّبِعُوْنَ اِلَّا الظَّنَّ وَمَا تَهْوَى الْاَ نْفُسُ ۚ وَلَقَدْ جَآءَهُمْ مِّنْ رَّبِّهِمُ الْهُدٰى 
in hiya illaaa asmaaa-ung sammaitumuuhaaa angtum wa aabaaa-ukum maaa angzalallohu bihaa ming sulthoon, iy yattabi’uuna illazh-zhonna wa maa tahwal-angfus, wa laqod jaaa-ahum mir robbihimul-hudaa

“Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu mengada-adakannya; Allah tidak menurunkan suatu keterangan apa pun untuk (menyembah)nya. Mereka hanya mengikuti dugaan, dan apa yang diingini oleh keinginannya. Padahal sungguh, telah datang petunjuk dari Tuhan mereka.”
(QS. An-Najm 53: Ayat 23)

Sungguh firman Allah yang suci nan agung disucikan dari perkataan yang menjijikan nan buruk, dimana dalam perkataan tersebut tidak ada yang menunjukkan bahwa ada ayat yang memuji sesuatu pada awal mulanya dan mencela pada akhirnya.

-Selesai sudah apa yang di-imla’ kan pada kami dari hafalan dan perkataan Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra.-

Sumber : BUKU SAYYIDI SYAIKH RA MENJAWAB JILID 1 – KAJIAN SEPUTAR AL-QUR’AN (JAWAHIR AL MA’ANI) SYAIKH AL HAJJ ALI HARAZIM AT-TIJANY