
Elsubha.com – Aku bertanya kepada Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra tentang maksud firman Allah Swt,
وَلَمَّا جَآءَ مُوْسٰى لِمِيْقَا تِنَا وَكَلَّمَهٗ رَبُّهٗ ۙ قَا لَ رَبِّ اَرِنِيْۤ اَنْظُرْ اِلَيْكَ ۗ قَا لَ لَنْ تَرٰٮنِيْ وَلٰـكِنِ انْظُرْ اِلَى الْجَـبَلِ فَاِ نِ اسْتَقَرَّ مَكَا نَهٗ فَسَوْفَ تَرٰٮنِيْ ۚ فَلَمَّا تَجَلّٰى رَبُّهٗ لِلْجَبَلِ جَعَلَهٗ دَكًّا وَّخَرَّ مُوْسٰى صَعِقًا ۚ فَلَمَّاۤ اَفَا قَ قَا لَ سُبْحٰنَكَ تُبْتُ اِلَيْكَ وَاَ نَاۡ اَ وَّلُ الْمُؤْمِنِيْنَ
wa lammaa jaaa-a muusaa limiiqootinaa wa kallamahuu robbuhuu qoola robbi ariniii angzhur ilaiik, qoola lang taroonii wa laakiningzhur ilal-jabali fa inistaqorro makaanahuu fa saufa taroonii, fa lammaa tajallaa robbuhuu lil-jabali ja’alahuu dakkaw wa khorro muusaa sho’iqoo, fa lammaaa afaaqo qoola sub-haanaka tubtu ilaika wa ana awwalul-mu-miniin
“Dan ketika Musa datang untuk (munajat) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, (Musa) berkata, “Ya Tuhanku, tampakkanlah (diri-Mu) kepadaku agar aku dapat melihat Engkau.” (Allah) berfirman, “Engkau tidak akan (sanggup) melihat-Ku, namun lihatlah ke gunung itu, jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya engkau dapat melihat-Ku.” Maka ketika Tuhannya menampakkan (keagungan-Nya) kepada gunung itu, gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Setelah Musa sadar, dia berkata, “Maha Suci Engkau, aku bertobat kepada Engkau dan aku adalah orang yang pertama-tama beriman.””
(QS. Al-A’raf 7: Ayat 143)
Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra menjawab:
Makna ayat diatas adalah, bahwa nabi Musa As meminta untuk dapat melihat Allah, dimana ini adalah bentuk tajalli yang hanya Allah Swt khususkan bagi nabi kita Muhammad Saw, sementara nabi Musa As meminta ini dari Allah Swt.
Redaksi, لَنْ تَرٰٮنِيْ “Kamu sekali-kali tidak sanggup meli–hat-Ku”: Dalam ayat tersebut, Allah Swt ingin menyampaikan bahwa nabi Musa As tidak mampu akan itu, kemudian Allah Swt perlihatkan kepadanya dalam ayat tersebut sebuah gunung yang notabene lebih kuat dari dirinya, Allah Swt jadikan gunung tersebut sebagai percontohan, Allah Swt berfirman, وَلٰـكِنِ انْظُرْ اِلَى الْجَـبَلِ فَاِ نِ اسْتَقَرَّ مَكَا نَهٗ “Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (seperti sediakala),” yaitu ketika Aku (Allah) ber-tajalli padanya, فَسَوْفَ تَرٰٮنِيْ “Niscaya kamu dapat melihat-Ku.”
Redaksi, فَلَمَّا تَجَلّٰى رَبُّهٗ لِلْجَبَلِ “Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu,” Ada ulama yang mengatakan, bahwa tirai penghalang gunung yang tersibak hanya seukuran lubang jarum sampai Allah Swt menampakkan sisi Jalal Dzat-Nya, seketika itu pula gunung tersebut binasa dan hancur lantaran kewibawaan Allah Swt. Maka ketika nabi Musa As melihat fenomena itu, ia pun tersungkur pingsan.
Redaksi, فَلَمَّاۤ اَفَا قَ قَا لَ سُبْحٰنَكَ تُبْتُ اِلَيْكَ وَاَ نَاۡ اَ وَّلُ الْمُؤْمِنِيْنَ “Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata, ‘Maha Suci Engkau, aku bertobat kepada Engkau (dari permintaanku ini) dan aku orang yang pertama-tama beriman.” (Engkau tidak bisa dilihat).
Ada ulama yang berkata: Ketika Allah Swt berbicara dengan nabi Musa As, ada orang yang berkata kepadanya, “Bagaimana engkau bisa mendengar kalam Allah Al Haq?.”
Nabi Musa As berkata, “Musa tidak merasakan dirinya sebagai Musa, dia mendengar kalam Allah dengan sepuluh ribu lisan; maksudnya adalah nabi Musa As mendengar kalam Allah yang azali, maka Musa pun paham sepuluh ribu lisan, dia tidak mendengar kecuali hanya satu makna, akan tetapi dari satu makna inilah yang Allah Al Haq berikan pemahaman pada setiap bahasa dan apa yang dinamakan dengannya, contohnya seperti kata “api” dalam setiap bahasa yang ada, ragam bahasa berbeda-beda dalam menamakan sesuatu yang satu ini.
Nabi Musa As mendengarkan kalam Allah Al Haq dari setiap sisi. Kaumnya bertanya padanya tentang situasi wibawa Allah Al Jalal, nabi Musa As menjawab, “Jika engkau posisikan dirimu berdiri pada sebuah tempat dimana ada huru-hara yang menghampirimu dan saat itulah kebinasaan benar-benar terasa, maka seperti inilah kalam Allah Swt itu terdengar. Kaumnya juga bertanya padanya tentang kenikmatannya, nabi Musa As berkata, “Paling dahsyatnya kenikmatan adalah persetubuhan (bahkan lebih dahsyat dari persetubuhan itu sendiri), bahkan bisa bertambah berlipat ganda.
-Selesai sudah apa yang di-imla’ kan pada kami dari hafalan dan perkataan Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra.-
