You dont have javascript enabled! Please enable it!
Elsubha menjamin Garansi 100% Uang Kembali jika barang yang diterima adalah PALSU

Pembahasan 9. Aku bertanya kepada Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra tentang maksud firman Allah Swt (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 260),
وَاِ ذْ قَا لَ اِبْرٰهٖمُ رَبِّ اَرِنِيْ كَيْفَ تُحْيِ الْمَوْتٰى ۗ قَا لَ اَوَلَمْ تُؤْمِنْ ۗ قَا لَ بَلٰى وَلٰـكِنْ لِّيَطْمَئِنَّ قَلْبِيْ ۗ قَا لَ فَخُذْ اَرْبَعَةً مِّنَ الطَّيْرِ فَصُرْهُنَّ اِلَيْكَ ثُمَّ اجْعَلْ عَلٰى كُلِّ جَبَلٍ مِّنْهُنَّ جُزْءًا ثُمَّ ادْعُهُنَّ يَأْتِيْنَكَ سَعْيًا ۗ وَا عْلَمْ اَنَّ اللّٰهَ عَزِيْزٌ حَكِيْمٌ

بسم الله الرحمن الرحيم اللهم صل على سيدنا محمد الفاتح لما أغلق والخاتم لما سبق ناصر الحق بالحق والهادي إلى صراطك المستقيم وعلى آله حق قدره ومقداره العظيم

Elsubha.com – Aku bertanya kepada Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra tentang maksud firman Allah Swt,

وَاِ ذْ قَا لَ اِبْرٰهٖمُ رَبِّ اَرِنِيْ كَيْفَ تُحْيِ الْمَوْتٰى ۗ قَا لَ اَوَلَمْ تُؤْمِنْ ۗ قَا لَ بَلٰى وَلٰـكِنْ لِّيَطْمَئِنَّ قَلْبِيْ ۗ قَا لَ فَخُذْ اَرْبَعَةً مِّنَ الطَّيْرِ فَصُرْهُنَّ اِلَيْكَ ثُمَّ اجْعَلْ عَلٰى كُلِّ جَبَلٍ مِّنْهُنَّ جُزْءًا ثُمَّ ادْعُهُنَّ يَأْتِيْنَكَ سَعْيًا ۗ وَا عْلَمْ اَنَّ اللّٰهَ عَزِيْزٌ حَكِيْمٌ
wa iz qoola ibroohiimu robbi arinii kaifa tuhyil-mautaa, qoola a wa lam tu-min, qoola balaa wa laakil liyathma-inna qolbii, qoola fakhuz arba’atam minath-thoiri fa shur-hunna ilaika summaj’al ‘alaa kulli jabalim min-hunna juz-ang summad’uhunna ya-tiinaka sa’yaa, wa’lam annalloha ‘aziizun hakiim

“Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata, “Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang mati.” Allah berfirman, “Belum percayakah engkau?” Dia (Ibrahim) menjawab, “Aku percaya, tetapi agar hatiku tenang (mantap).” Dia (Allah) berfirman, “Kalau begitu, ambillah empat ekor burung, lalu cincanglah olehmu, kemudian letakkan di atas masing-masing bukit satu bagian, kemudian panggillah mereka, niscaya mereka datang kepadamu dengan segera.” Ketahuilah bahwa Allah Maha Perkasa, Maha Bijaksana.”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 260)

Yaitu tentang hal yang berkaitan dengan nabi Ibrahim As. Juga Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

يٰزَكَرِيَّاۤ اِنَّا نُبَشِّرُكَ بِغُلٰمِ ٱِسْمُهٗ يَحْيٰى ۙ لَمْ نَجْعَلْ لَّهٗ مِنْ قَبْلُ سَمِيًّا
yaa zakariyyaaa innaa nubasysyiruka bighulaaminismuhuu yahyaa lam naj’al lahuu ming qoblu samiyyaa

“(Allah berfirman), “Wahai Zakaria! Kami memberi kabar gembira kepadamu dengan seorang anak laki-laki namanya Yahya, yang Kami belum pernah memberikan nama seperti itu sebelumnya.””
(QS. Maryam 19: Ayat 7)

Juga tentang perkataan nabi Yusuf As, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

قَا لَ اجْعَلْنِيْ عَلٰى خَزَآئِنِ الْاَ رْضِ ۚ اِنِّيْ حَفِيْظٌ عَلِيْمٌ
qoolaj’alnii ‘alaa khozaaa-inil-ardh, innii hafiizhun ‘aliim

“Dia (Yusuf) berkata, “Jadikanlah aku bendaharawan negeri (Mesir); karena sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, dan berpengetahuan.””
(QS. Yusuf 12: Ayat 55)

Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra menjawab:

Perlu diketahui sebelumnya, bahwa beragam kondisi para rasul As tidaklah pantas untuk dibahas, karena beragam tindakan mereka berjalan sesuai dengan dzauq (berkaitan dengan perasaan dan jiwa), selain mereka tidak memiliki hal tersebut, sehingga tidaklah pantas seseorang mengkaji kondisi mereka kecuali orang-orang yang dapat merasakan apa yang mereka rasakan. Ini merupakan pembahasan yang dilarang untuk dibahas oleh manusia secara umum kecuali sikap berserah diri terhadap kondisi mereka.

Sebagian orang yang tidak memiliki ilmu berkata tentang nabi Sulaiman As terkait dengan firman Allah,

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

قَا لَ يٰۤاَ يُّهَا الْمَلَؤُا اَيُّكُمْ يَأْتِيْنِيْ بِعَرْشِهَا قَبْلَ اَنْ يَّأْتُوْنِيْ مُسْلِمِيْنَ
qoola yaaa ayyuhal-mala-u ayyukum ya-tiinii bi’arsyihaa qobla ay ya-tuunii muslimiin

“Dia (Sulaiman) berkata, “Wahai para pembesar! Siapakah di antara kamu yang sanggup membawa singgasananya kepadaku sebelum mereka datang kepadaku menyerahkan diri?””
(QS. An-Naml 27: Ayat 38)

Mereka mengira bahwa itu adalah simbol dari kecintaannya terhadap dunia. Mereka menganggap bahwa nabi Sulaiman As melakukan siasat terhadap singgasana Ratu Bilqis tersebut agar nabi Sulaiman As dapat mengambilnya pada zaman ketika Ratu Bilqis dan pengikutnya masih kufur agar itu menjadi halal baginya sebelum keislaman mereka, karena jika mereka telah beriman, maka nabi Sulaiman As pun tidak diperbolehkan untuk mengambil singgasana tersebut.

Beragam tuduhan terhadap para nabi ini dilarang untuk dilakukan dan mustahil bahkan tidak mungkin para nabi melakukan hal yang demikian, maka perkara seperti ini tidaklah bisa dikaji kecuali orang-orang yang dapat merasakan dzauq tersebut. Beragam dzauq mereka dilarang bagi manusia sebagaimana sudah kami sampaikan sebelumnya, maka kami tidak paparkan penyataan terkait sisi perbuatan mereka kecuali yang tersisa adalah kerinduan dan juga sikap berserah diri pada semua yang mereka lakukan.

Begitu pula apa yang mereka (orang yang tidak memiliki ilmu) katakan tentang nabi Yusuf As ketika Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

فَلَمَّا جَهَّزَهُمْ بِجَهَا زِهِمْ جَعَلَ السِّقَايَةَ فِيْ رَحْلِ اَخِيْهِ ثُمَّ اَذَّنَ مُؤَذِّنٌ اَ يَّـتُهَا الْعِيْرُ اِنَّكُمْ لَسَا رِقُوْنَ
fa lammaa jahhazahum bijahaazihim ja’alas-siqooyata fii rohli akhiihi summa azzana mu-azzinun ayyatuhal-‘iiru innakum lasaariquun

“Maka ketika telah disiapkan bahan makanan untuk mereka, dia (Yusuf) memasukkan piala (tempat minum) ke dalam karung saudaranya. Kemudian berteriaklah seseorang yang menyerukan, “Wahai kafilah! Sesungguhnya kamu pasti pencuri.””
(QS. Yusuf 12: Ayat 70); sementara nabi Yusuf As tahu bahwa mereka tidak melakukan apa-apa, akan tetapi yang dimaksud mencuri dalam firman Allah Swt diatas adalah ketika mereka mencuri nabi Yusuf As dari ayah mereka.

-Selesai sudah apa yang di-imla’ kan pada kami dari hafalan dan perkataan Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra.-

Sumber : BUKU SAYYIDI SYAIKH RA MENJAWAB JILID 1 – KAJIAN SEPUTAR AL-QUR’AN (JAWAHIR AL MA’ANI) SYAIKH AL HAJJ ALI HARAZIM AT-TIJANY