You dont have javascript enabled! Please enable it!
Elsubha menjamin Garansi 100% Uang Kembali jika barang yang diterima adalah PALSU

Pembahasan 47. Aku bertanya kepada Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra tentang maksud firman Allah Swt (QS. Al-Hadid 57: Ayat 20),
اِعْلَمُوْۤا اَنَّمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَّلَهْوٌ وَّزِيْنَةٌ وَّتَفَا خُرٌۢ بَيْنَكُمْ وَتَكَا ثُرٌ فِى الْاَ مْوَا لِ وَا لْاَ وْلَا دِ ۗ كَمَثَلِ غَيْثٍ اَعْجَبَ الْكُفَّا رَ نَبَا تُهٗ ثُمَّ يَهِيْجُ فَتَرٰٮهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُوْنُ حُطٰمًا ۗ وَفِى الْاٰ خِرَةِ عَذَا بٌ شَدِيْدٌ ۙ وَّمَغْفِرَةٌ مِّنَ اللّٰهِ وَرِضْوَا نٌ ۗ وَمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَاۤ اِلَّا مَتَا عُ الْغُرُوْرِ

بسم الله الرحمن الرحيم اللهم صل على سيدنا محمد الفاتح لما أغلق والخاتم لما سبق ناصر الحق بالحق والهادي إلى صراطك المستقيم وعلى آله حق قدره ومقداره العظيم

Elsubha.com – Aku bertanya kepada Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra tentang maksud firman Allah Swt,

اِعْلَمُوْۤا اَنَّمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَّلَهْوٌ وَّزِيْنَةٌ وَّتَفَا خُرٌۢ بَيْنَكُمْ وَتَكَا ثُرٌ فِى الْاَ مْوَا لِ وَا لْاَ وْلَا دِ ۗ كَمَثَلِ غَيْثٍ اَعْجَبَ الْكُفَّا رَ نَبَا تُهٗ ثُمَّ يَهِيْجُ فَتَرٰٮهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُوْنُ حُطٰمًا ۗ وَفِى الْاٰ خِرَةِ عَذَا بٌ شَدِيْدٌ ۙ وَّمَغْفِرَةٌ مِّنَ اللّٰهِ وَرِضْوَا نٌ ۗ وَمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَاۤ اِلَّا مَتَا عُ الْغُرُوْرِ
i’lamuuu annamal-hayaatud-dun-yaa la’ibuw wa lahwuw wa ziinatuw wa tafaakhurum bainakum wa takaasurung fil-amwaali wal-aulaad, kamasali ghoisin a’jabal-kuffaaro nabaatuhuu summa yahiiju fa taroohu mushfarrong summa yakuunu huthoomaa, wa fil-aakhiroti ‘azaabung syadiiduw wa maghfirotum minallohi wa ridhwaan, wa mal-hayaatud-dun-yaaa illaa mataa’ul-ghuruur

“Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan senda gurauan, perhiasan dan saling berbangga di antara kamu serta berlomba dalam kekayaan dan anak keturunan, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian (tanaman) itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridaan-Nya. Dan kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang palsu.”
(QS. Al-Hadid 57: Ayat 20)

Dan firman-Nya,

كَمْ تَرَكُوْا مِنْ جَنّٰتٍ وَّعُيُوْنٍ 
kam tarokuu ming jannaatiw wa ‘uyuun

“Betapa banyak taman-taman dan mata air-mata air yang mereka tinggalkan,”
(QS. Ad-Dukhan 44: Ayat 25)

وَّزُرُوْعٍ وَّمَقَا مٍ كَرِيْمٍ 
wa zuruu’iw wa maqooming kariim

“juga kebun-kebun serta tempat-tempat kediaman yang indah,”
(QS. Ad-Dukhan 44: Ayat 26)

وَّنَعْمَةٍ كَا نُوْا فِيْهَا فٰكِهِيْنَ 
wa na’mating kaanuu fiihaa faakihiin

“dan kesenangan-kesenangan yang dapat mereka nikmati di sana,”
(QS. Ad-Dukhan 44: Ayat 27)

Didalamnya berkumpul antara pujian dan celaan, menciderai yang satu dan mengagungkan yang satu, didalamnya meliputi ilmu segala sesuatu dan mengabarkan sisi tersembunyi segala sesuatu, sungguh ini sangat membingungkan.

Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra menjawab:

Perlu diketahui bahwa dua perkara itu terjadi pada dua posisi, setiap posisi memiliki kondisi dan batasan yang khusus baginya. Posisi pujian dan pengagungan. Pada ayat diatas Allah menyebutkan terkait orang yang mendapatkan kucuran nikmat yang agung dan memenuhi kebutuhan jasmani yang bersumber dari nama-Nya; Ar-Rahman (Yang Maha Pengasih) dan Dzat yang memiliki keutamaan yang agung, maka Allah Swt mengabarkan dalam ayat itu berupa pengenalan akan ragam nikmat dan kucuran pemberian-Nya bagi hamba Allah, yang merupakan jejak dari sisi Rahman Allah Swt.

Manusia dikenalkan dengan sisi nikmat-Nya sebagaimana firman Allah Swt,

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَاٰ تٰٮكُمْ مِّنْ كُلِّ مَا سَاَ لْـتُمُوْهُ ۗ وَاِ نْ تَعُدُّوْا نِعْمَتَ اللّٰهِ لَا تُحْصُوْهَا ۗ اِنَّ الْاِ نْسَا نَ لَـظَلُوْمٌ كَفَّا رٌ
wa aataakum ming kulli maa sa-altumuuh, wa ing ta’udduu ni’matallohi laa tuhshuuhaa, innal-ingsaana lazholuumung kaffaar

“Dan Dia telah memberikan kepadamu segala apa yang kamu mohonkan kepada-Nya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sungguh, manusia itu sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).”
(QS. Ibrahim 14: Ayat 34)

Maka setelah Allah Swt sebutkan ragam kucuran nikmat yang Dia beri kepada hamba-Nya sebagai hukum nikmat yang banyak, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

اَللّٰهُ الَّذِيْ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَا لْاَ رْضَ وَاَ نْزَلَ مِنَ السَّمَآءِ مَآءً فَاَ خْرَجَ بِهٖ مِنَ الثَّمَرٰتِ رِزْقًا لَّـكُمْ ۚ وَسَخَّرَ لَـكُمُ الْـفُلْكَ لِتَجْرِيَ فِى الْبَحْرِ بِاَ مْرِهٖ ۚ وَسَخَّرَ لَـكُمُ الْاَ نْهٰرَ 
allohullazii kholaqos-samaawaati wal-ardho wa angzala minas-samaaa-i maaa-ang fa akhroja bihii minas-samarooti rizqol lakum, wa sakhkhoro lakumul-fulka litajriya fil-bahri bi-amrih, wasakhkhoro lakumul-an-haar

“Allah-lah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air (hujan) dari langit, kemudian dengan (air hujan) itu Dia mengeluarkan berbagai buah-buahan sebagai rezeki untukmu; dan Dia telah menundukkan kapal bagimu agar berlayar di lautan dengan kehendak-Nya, dan Dia telah menundukkan sungai-sungai bagimu.”
(QS. Ibrahim 14: Ayat 32)

وَسَخَّرَ لَـكُمُ الشَّمْسَ وَا لْقَمَرَ دَآئِبَيْنِ ۚ وَسَخَّرَ لَـكُمُ الَّيْلَ وَا لنَّهَا رَ 
wa sakhkhoro lakumusy-syamsa wal-qomaro daaa-ibaiin, wa sakhkhoro lakumul-laila wan-nahaar

“Dan Dia telah menundukkan matahari dan bulan bagimu yang terus-menerus beredar (dalam orbitnya); dan telah menundukkan malam dan siang bagimu.”
(QS. Ibrahim 14: Ayat 33)

وَاٰ تٰٮكُمْ مِّنْ كُلِّ مَا سَاَ لْـتُمُوْهُ ۗ وَاِ نْ تَعُدُّوْا نِعْمَتَ اللّٰهِ لَا تُحْصُوْهَا ۗ اِنَّ الْاِ نْسَا نَ لَـظَلُوْمٌ كَفَّا رٌ
wa aataakum ming kulli maa sa-altumuuh, wa ing ta’udduu ni’matallohi laa tuhshuuhaa, innal-ingsaana lazholuumung kaffaar

“Dan Dia telah memberikan kepadamu segala apa yang kamu mohonkan kepada-Nya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sungguh, manusia itu sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).”
(QS. Ibrahim 14: Ayat 34)

Ini adalah gambaran akan ragam nikmat yang Allah Swt berikan kepada hamba-Nya, yang melazimkan adanya rasa syukur terhadap ragam nikmat ini, hal ini juga bertujuan agar para hamba-Nya tahu luasnya keutamaan dan kedermawanan serta rahmat Allah Swt, dimana ini merupakan bentuk pengenalan tentang sifat dan nama-Nya, inilah anjuran dalam hukum syari’at. Posisi inilah yang disebutkan dalam ayat-ayat diatas.

Dalam ayat lainnya, dimana kontennya adalah mencela terhadap dunia, yang disebutkan dengan redaksi, ‘Kenikmatan yang menipu dan juga dengan firman-Nya,

اَلَمْ تَرَ اِلَى الَّذِيْنَ قِيْلَ لَهُمْ كُفُّوْۤا اَيْدِيَكُمْ وَاَ قِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَاٰ تُوا الزَّكٰوةَ ۚ فَلَمَّا كُتِبَ عَلَيْهِمُ الْقِتَا لُ اِذَا فَرِيْقٌ مِّنْهُمْ يَخْشَوْنَ النَّا سَ كَخَشْيَةِ اللّٰهِ اَوْ اَشَدَّ خَشْيَةً ۚ وَقَا لُوْا رَبَّنَا لِمَ كَتَبْتَ عَلَيْنَا الْقِتَا لَ ۚ لَوْلَاۤ اَخَّرْتَنَاۤ اِلٰۤى اَجَلٍ قَرِيْبٍ ۗ قُلْ مَتَا عُ الدُّنْيَا قَلِيْلٌ ۚ وَا لْاٰ خِرَةُ خَيْرٌ لِّمَنِ اتَّقٰى ۗ وَلَا تُظْلَمُوْنَ فَتِيْلًا
a lam taro ilallaziina qiila lahum kuffuuu aidiyakum wa aqiimush-sholaata wa aatuz-zakaah, fa lammaa kutiba ‘alaihimul-qitaalu izaa fariiqum min-hum yakhsyaunan-naasa kakhosy-yatillaahi au asyadda khosy-yah, wa qooluu robbanaa lima katabta ‘alainal-qitaal, lau laaa akhkhortanaaa ilaaa ajaling qoriib, qul mataa’ud-dun-yaa qoliil, wal-aakhirotu khoirul limanittaqoo, wa laa tuzhlamuuna fatiilaa

“Tidakkah engkau memperhatikan orang-orang yang dikatakan kepada mereka, “Tahanlah tanganmu (dari berperang), laksanakanlah sholat, dan tunaikanlah zakat!” Ketika mereka diwajibkan berperang, tiba-tiba sebagian mereka (golongan munafik) takut kepada manusia (musuh), seperti takutnya kepada Allah, bahkan lebih takut (dari itu). Mereka berkata, “Ya Tuhan kami, mengapa Engkau wajibkan berperang kepada kami? Mengapa tidak Engkau tunda (kewajiban berperang) kepada kami beberapa waktu lagi?” Katakanlah, “Kesenangan di dunia ini hanya sedikit (sebentar) dan akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa (mendapat pahala turut berperang) dan kamu tidak akan dizalimi sedikit pun.””
(QS. An-Nisa’ 4: Ayat 77)

Inilah yang memindahkan kesibukan mereka dari apa yang ada pada posisi pertama; maksudnya adalah gambaran nikmat yang Allah Swt tampakkan, yang penghujungnya bisa menyibukkan diri dari posisi yang pertama tadi dan menyibukkan kalbu dengannya dari Allah Swt, maka Allah Swt memindahkan mereka dari tujuan akhir ini agar mereka (para hamba-Nya) sibuk dengan Allah daripada dengan yang lainnya, ini seperti firman-Nya,

اِنَّاۤ اٰمَنَّا بِرَبِّنَا لِيَـغْفِرَ لَـنَا خَطٰيٰنَا وَمَاۤ اَكْرَهْتَـنَا عَلَيْهِ مِنَ السِّحْرِ ۗ وَا للّٰهُ خَيْرٌ وَّاَبْقٰى
innaaa aamannaa birobbinaa liyaghfiro lanaa khothooyaanaa wa maaa akrohtanaa ‘alaihi minas-sihr, wallohu khoiruw wa abqoo

“Kami benar-benar telah beriman kepada Tuhan kami, agar Dia mengampuni kesalahan-kesalahan kami dan sihir yang telah engkau paksakan kepada kami. Dan Allah lebih baik (pahala-Nya) dan lebih kekal (azab-Nya).””
(QS. Ta-Ha 20: Ayat 73)

Posisi pertama mengenalkan ragam nikmat-Nya agar kalbu sibuk dengan bersyukur kepada Allah Swt, sang Pemberi nikmat dan pada posisi kedua menunjukkan agar hamba-Nya fokus pada Allah Swt serta meninggalkan selain-Nya sekalipun memiliki tempat yang besar di kalbu, dimana Allah Swt berfirman,

كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَاِ نَّمَا تُوَفَّوْنَ اُجُوْرَكُمْ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ ۗ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّا رِ وَاُ دْخِلَ الْجَـنَّةَ فَقَدْ فَا زَ  ۗ وَمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَاۤ اِلَّا مَتَا عُ الْغُرُوْرِ
kullu nafsing zaaa-iqotul mauut, wa innamaa tuwaffauna ujuurokum yaumal-qiyaamah, fa mang zuhziha ‘anin-naari wa udkhilal-jannata fa qod faaz, wa mal-hayaatud-dun-yaaa illaa mataa’ul-ghuruur

“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Dan hanya pada hari Kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh, dia memperoleh kemenangan. Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya.”
(QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 185); maka tidak ada permasalahan pada dua posisi diatas, dimana setiap posisi memiliki kekhususannya masing-masing.

-Selesai sudah apa yang di-imla’ kan pada kami dari hafalan dan perkataan Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra.

Sumber : BUKU SAYYIDI SYAIKH RA MENJAWAB JILID 1 – KAJIAN SEPUTAR AL-QUR’AN (JAWAHIR AL MA’ANI) SYAIKH AL HAJJ ALI HARAZIM AT-TIJANY