
Elsubha.com – Aku bertanya kepada Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra tentang Sayyidina Khidir; apakah beliau nabi atau bukan? Lalu apakah bisa selain nabi memiliki ilmu yang melebihi seorang nabi?
Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra menjawab:
Perlu diketahui bahwa Khidir hanyalah seorang wali dan bukan seorang nabi sesuai kesepakatan jumhur ulama. Syaikh Akbar Ra, Ibnu ‘Araby pemah berkata terkait dengannya: “Perdebatan terkait kenabian Khidir adalah bagi orang yang berkecimpung pada perkara yang nampak, namun itu tidak berlaku bagi kami, bagi kami ia tetaplah seorang wali Allah Swt dan bukan seorang nabi.” Begitu juga pendapat para pembesar wali lainnya, meski kebanyakan orang mengatakan perihal kenabiannya.
Syaikh Zarruq Ra pernah berkata: Beliau pernah menyampaikan perkataan seorang ulama. Orang yang alim itu berkata, “Khidir adalah salah satu rasul Allah Swt yang Allah utus kepada sekelompok orang di lautan, siapa yang tidak mengakui kerisalahannya maka ia telah kufur.” Maka Syaikh Zarruq pun menjawab perkataan ini, “Kami berserah diri akan kebenaran yang diusungnya, namun kami tidak setuju dengan status kufur bagi orang yang tidak meyakini itu, sebab itu hanyalah tambahan akidah dalam keimanan dan ini hal yang lazim ketika semua umat tidak sepakat akannya, dimana dalil kenabiannya adalah perkataan nabi Musa As, kala itu nabi Musa berkata (seperti yang diabadikan dalam Al Qur’an),
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
فَا نْطَلَقَا ۗ حَتّٰۤى اِذَا رَكِبَا فِى السَّفِيْنَةِ خَرَقَهَا ۗ قَا لَ اَخَرَقْتَهَا لِتُغْرِقَ اَهْلَهَا ۚ لَقَدْ جِئْتَ شَيْـئًـا اِمْرًا
fangtholaqoo, hattaaa izaa rokibaa fis-safiinati khoroqohaa, qoola a khoroqtahaa litughriqo ahlahaa, laqod ji-ta syai-an imroo
“Maka berjalanlah keduanya, hingga ketika keduanya menaiki perahu lalu dia melubanginya. Dia (Musa) berkata, “Mengapa engkau melubangi perahu itu, apakah untuk menenggelamkan penumpangnya? Sungguh, engkau telah berbuat sesuatu kesalahan yang besar.””
(QS. Al-Kahf 18: Ayat 71)
Dan juga perkataan terkait pembunuhan anak,
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
فَا نْطَلَقَا ۗ حَتّٰۤى اِذَا لَقِيَا غُلٰمًا فَقَتَلَهٗ ۙ قَا لَ اَقَتَلْتَ نَـفْسًا زَكِيَّةً بِۢغَيْرِ نَـفْسٍ ۗ لَـقَدْ جِئْتَ شَيْـئًـا نُّـكْرًا
fangtholaqoo, hattaaa izaa laqiyaa ghulaamang fa qotalahuu qoola a qotalta nafsang zakiyyatam bighoiri nafs, laqod ji-ta syai-an nukroo
“Maka berjalanlah keduanya; hingga ketika keduanya berjumpa dengan seorang anak muda, maka dia membunuhnya. Dia (Musa) berkata, “Mengapa engkau bunuh jiwa yang bersih, bukan karena dia membunuh orang lain? Sungguh, engkau telah melakukan sesuatu yang sangat mungkar.””
(QS. Al-Kahf 18: Ayat 74)
Jika pun Khidir adalah seorang nabi, mana mungkin nabi Musa As tidak mengetahuinya, sebab seorang nabi itu memiliki ilmu yang sempurna. Maka bagaimana bisa nabi Musa As tidak mengetahui kadar seorang nabi yang hadir bersamanya bahkan manyangkanya bukan nabi, ini sungguh mustahil bagi para nabi As lantaran wajibnya keimanan kita akan perkara tersebut; bahwa jika dia memang seorang nabi, maka mustahil jika nabi Musa As tidak mengetahui suatu martabat keimanan dengan posisi dirinya yang mengetahui bahwa seorang nabi itu ma’shum (Allah Swt lindungi dari perbuatan durjana). Maka mustahil jika seorang nabi menuruti hawanya dan melakukan ragam perkara yang menyelisihi syari’at, sungguh ini perkara yang mustahil ada pada diri seorang nabi.
Jika nabi Musa As mengetahui bahwa Khidir adalah nabi, maka diapun tidak akan berani mengatakan,
فَا نْطَلَقَا ۗ حَتّٰۤى اِذَا رَكِبَا فِى السَّفِيْنَةِ خَرَقَهَا ۗ قَا لَ اَخَرَقْتَهَا لِتُغْرِقَ اَهْلَهَا ۚ لَقَدْ جِئْتَ شَيْـئًـا اِمْرًا
fangtholaqoo, hattaaa izaa rokibaa fis-safiinati khoroqohaa, qoola a khoroqtahaa litughriqo ahlahaa, laqod ji-ta syai-an imroo
“Maka berjalanlah keduanya, hingga ketika keduanya menaiki perahu lalu dia melubanginya. Dia (Musa) berkata, “Mengapa engkau melubangi perahu itu, apakah untuk menenggelamkan penumpangnya? Sungguh, engkau telah berbuat sesuatu kesalahan yang besar.””
(QS. Al-Kahf 18: Ayat 71)
Dan juga perkataan,
فَا نْطَلَقَا ۗ حَتّٰۤى اِذَا لَقِيَا غُلٰمًا فَقَتَلَهٗ ۙ قَا لَ اَقَتَلْتَ نَـفْسًا زَكِيَّةً بِۢغَيْرِ نَـفْسٍ ۗ لَـقَدْ جِئْتَ شَيْـئًـا نُّـكْرًا
fangtholaqoo, hattaaa izaa laqiyaa ghulaamang fa qotalahuu qoola a qotalta nafsang zakiyyatam bighoiri nafs, laqod ji-ta syai-an nukroo
“Maka berjalanlah keduanya; hingga ketika keduanya berjumpa dengan seorang anak muda, maka dia membunuhnya. Dia (Musa) berkata, “Mengapa engkau bunuh jiwa yang bersih, bukan karena dia membunuh orang lain? Sungguh, engkau telah melakukan sesuatu yang sangat mungkar.””
(QS. Al-Kahf 18: Ayat 74)
Maka karena nabi Musa As tahu bahwa perbuatan itu mustahil dilakukan seorang nabi lantaran adanya sisi ‘ishmah tersebut. Inilah dalil terbesar yang membuktikan bahwa Khidir bukanlah seorang nabi.
Telah diriwayatkan dari Ibrahim At-Taimi Ra, dimana beliau adalah seorang wali Abdal dalam kisahnya yang bertalaqqi Musabbi’at Al’Asyar dari Khidir; Khidir berkata padanya, “Aku mendengar Musabbi at Al ‘Asyar dari Jibril ketika Jibril mentalqinkannya kepada nabi Muhammad Saw. Disebutkan bahwa beliau melihat yang membacanya mendapatkan kebaikan yang banyak di surga. Beliaupun bermimpi melihat Nabi Saw, dimana mimpinya itu benar adanya karena beliau adalah seorang wali yang mimpinya tidak disisipi kebatilan dan perkara yang rusak; beliau berkata, “Aku bermimpi melihat Nabi Saw, dalam mimpi tersebut aku bertanya kepada beliau tentang apa yang disebutkan oleh Khidir, Nabi Saw bersabda (dalam bisyarah tersebut), ‘Khidir benar,” diakhir percakapan ini disebutkan: “Dia adalah penghulu wali Allah.” Inilah dalil yang paling kuat yang menyatakan, bahwa Khidir bukanlah seorang nabi.
Sedangkan terkait dengan pertanyaan yang kedua; apakah bisa selain nabi memiliki ilmu yang lebih apa tidak?
Jawaban untuk perkara ini: Tambahan ilmu pada selain nabi merupakan hal yang bisa saja terjadi dan ini tidak menciderai martabat seorang nabi. Akan tetapi memang ada perbedaannya; baik terkait dengan ilmunya para nabi terhadap Allah Swt dan ragam sifat, nama-nama dan ragam sisi tajalliyat-nya dan hal lain yang mencakup ragam karunia, pemberian dan kucuran ilahiyyah, maka tidak ada selain nabi yang bisa melebihi dari keilmuan para nabi dalam ragam perkara ini. Sebab, kenabian memiliki sisi keilmuan yang besar dan lingkupnya pun besar, serta pengetahuan mereka lebih besar daripada pengetahuan kita. Oleh karena itu, jika ada selain nabi mengikuti derajat keilmuan para nabi As pada ragam perkara diatas, maka keutamaan mereka akan sama atau bahkan lebih unggul dari para nabi. Sementara keilmuan yang ada dibawah martabat keilmuan tersebut, yaitu perkara yang berkaitan dengan ragam martabat ilmu alam secara global dan terperinci dengan ragam perubahan iklim serta penyingkapan apa yang akan terjadi di masa depan; yang berupa penyingkapan sisi ke-ghaib-an alam semesta, terkadang selain nabi memiliki keimuan akan hal ini melebihi ilmu para nabi, ini seperti yang terjadi pada Khidir. Hakikat dari perkara ini adalah bahwa pandangan para nabi senantiasa akan tertuju kepada Allah Al Haq pertama kali, mereka senantiasa ingin berada di sana, pertama kali kalbu mereka akan memandang kepada Allah Swt dan tidak menoleh sekejap pun pada alam semesta. Mereka senantiasa berusaha keras untuk dapat memandang-Nya dan sibuk dengan ragam tajalliyat-Nya serta tidak terdetik sekejap pun untuk memandang yang lainnya. Semua nabi tidak lagi memiliki kepentingan, tidak pula perhatian kecuali pada apa yang muncul dari hadhrah ilahiyyah setiap saat yang berupa tajalliyat, karunia, pemberian, detikan jiwa yang muncul dari-Nya. Kondisi para nabi demikian agar mereka dapat memberikan hak semua itu yang berupa ragam adab dan juga khidmah (pengabdian), mereka tidak bergeming sekejap pun dari hal-hal ini.
Untuk tenggelamnya jiwa mereka, mereka tidak lagi menoleh pada alam semesta dan tidak mengetahui apa yang terjadi padanya. Kondisi yang lebih agung dari kondisi ini adalah mereka senantiasa sibuk untuk selalu berkomunikasi dengan Allah Swt pada hadhrah quds Nya, maka tidak lagi diragukan bahwa sungguh orang yang mampu merasakan kondisi itu, diapun tidak akan kuat menoleh pada selain Allah Swt meski sekejap mata saja. Maka untuk kondisi ini pula mereka tidak mengetahui apa yang terjadi, tidak pula berbalik pada alam semesta lantaran kesibukan mereka disisi Allah Swt
Selain para nabi, maka mereka tidak memiliki kemampuan untuk konsisten dalam kondisi ini, mereka sesekali ada pada satu kondisi jiwa dan lain waktu pada kondisi jiwa tersebut. Oleh karena itulah mereka banyak mengalami kasyaf (penyingkapan sisi ghaib) terkait alam semesta dan ragam permasalahannya, hal ini karena mereka tidak mampu menyelami apa yang diselami oleh para nabi As.
Jika engkau sudah mengetahui paparan diatas, maka engkaupun akan tahu sisi kekhususan Khidir yang mampu menyingkap sisi ke-ghaib-an dibandingkan nabi Musa As, sebab itu berkaitan dengan sisi ke-ghaib-an alam semesta; sehingga hal ini tidak menciderai sisi kenabian. Nabi Musa As sibuk dengan apa yang sudah kami sebutkan sebelumnya, sementara Khidir tidak mampu tenggelam menyelami hadhrah ilahiyyah sebagaimana yang nabi Musa As lakukan. Maka dengan kondisi inilah, tidak menjadi masalah jika ada yang melebihi keilmuan para nabi As. Allah Swt berhak memberikan pada siapa saja yang Dia kehendaki dan bagaimanapun caranya. Dzat Allah berhak memilih sesuai kehendak-Nya, sehingga kondisinya terlepas dari ragam ikatan dan keterkaitan dimana tidak ada seorang pun yang meliputi ilmu Allah Swt. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَّا لْخَـيْلَ وَا لْبِغَا لَ وَا لْحَمِيْرَ لِتَرْكَبُوْهَا وَزِيْنَةً ۗ وَيَخْلُقُ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ
wal-khoila wal-bighoola wal-hamiiro litarkabuuhaa wa ziinah, wa yakhluqu maa laa ta’lamuun
“dan (Dia telah menciptakan) kuda, bagal, dan keledai, untuk kamu tunggangi dan (menjadi) perhiasan. Dan Allah menciptakan apa yang tidak kamu ketahui.”
(QS. An-Nahl 16: Ayat 8)
Dari sinilah tidak mustahil jika ada orang selain nabi yang memiliki keilmuan diatas nabi. Ini adalah kaidah yang penuh dengan hikmah di dalam kalbu mereka, meski tidak berlandaskan pada dalil; tidak dari Al Quran dan tidak pula dari hadits Nabi Saw.
Syaikh Akbar Ra, Ibnu ‘Arabi pernah berkata, “Allah Swt pernah memberiku ilmu yang tidak diketahui Adam dan yang ada dibawahnya; para nabi dan utusan Allah.”
Sementara tentang firman Allah Swt yang mengkisahkan Khidir dalam firman-Nya,
وَاَ مَّا الْجِدَا رُ فَكَا نَ لِغُلٰمَيْنِ يَتِيْمَيْنِ فِى الْمَدِيْنَةِ وَكَا نَ تَحْتَهٗ كَنْزٌ لَّهُمَا وَكَا نَ اَبُوْهُمَا صَا لِحًـا ۚ فَاَ رَا دَ رَبُّكَ اَنْ يَّبْلُغَاۤ اَشُدَّهُمَا وَيَسْتَخْرِجَا كَنْزَهُمَا رَحْمَةً مِّنْ رَّبِّكَ ۚ وَمَا فَعَلْتُهٗ عَنْ اَمْرِيْ ۗ ذٰلِكَ تَأْوِيْلُ مَا لَمْ تَسْطِعْ عَّلَيْهِ صَبْرًا
wa ammal-jidaaru fa kaana lighulaamaini yatiimaini fil-madiinati wa kaana tahtahuu kangzul lahumaa wa kaana abuuhumaa shoolihaa, fa arooda robbuka ay yablughooo asyuddahumaa wa yastakhrijaa kangzahumaa rohmatam mir robbik, wa maa fa’altuhuu ‘an amrii, zaalika ta-wiilu maa lam tasthi’ ‘alaihi shobroo
“Dan adapun dinding rumah itu adalah milik dua anak yatim di kota itu, yang di bawahnya tersimpan harta bagi mereka berdua, dan ayahnya seorang yang saleh. Maka Tuhanmu menghendaki agar keduanya sampai dewasa dan keduanya mengeluarkan simpanannya itu sebagai rahmat dari Tuhanmu. Apa yang kuperbuat bukan menurut kemauanku sendiri. Itulah keterangan perbuatan-perbuatan yang engkau tidak sabar terhadapnya.””
(QS. Al-Kahf 18: Ayat 82)
Maka jawaban tentang firman ini adalah: Bahwa Allah Swt memerintahkan pada sirr-nya Khidir untuk melakukan perkara tersebut dengan ilmu Allah Swt yang tetap, yang dia ketahui bahwa itu dari Allah Swt, tanpa perantara antara dirinya dengan Allah Swt, ini pula sebagaimana yang Allah Swt firmankan terkait dengan hak-Nya,
فَوَجَدَا عَبْدًا مِّنْ عِبَا دِنَاۤ اٰتَيْنٰهُ رَحْمَةً مِّنْ عِنْدِنَا وَعَلَّمْنٰهُ مِنْ لَّدُنَّا عِلْمًا
fa wajadaa ‘abdam min ‘ibaadinaaa aatainaahu rohmatam min ‘ingdinaa wa ‘allamnaahu mil ladunnaa ‘ilmaa
“lalu mereka berdua bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan rahmat kepadanya dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan ilmu kepadanya dari sisi Kami.”
(QS. Al-Kahf 18: Ayat 65)
Ini merupakan dalil yang sangat kuat, dalil yang menyatakan bahwa Khidir bukanlah seorang nabi. Sebab, jika memang dia adalah seorang nabi, maka dalam ayat tadi cukup dikatakan, “Keduanya bertemu dengan seorang dari hamba-Kami,” dimana dia akan menunjukkan kedudukan keduanya yang bertemu dengan sebagian nabi Allah Swt. Hal ini karena martabat kenabian itu cukup menerima ilmu dari Allah Swt tanpa adanya perantara, maka ketika memang dirinya bukanlah seorang nabi, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
فَوَجَدَا عَبْدًا مِّنْ عِبَا دِنَاۤ اٰتَيْنٰهُ رَحْمَةً مِّنْ عِنْدِنَا وَعَلَّمْنٰهُ مِنْ لَّدُنَّا عِلْمًا
fa wajadaa ‘abdam min ‘ibaadinaaa aatainaahu rohmatam min ‘ingdinaa wa ‘allamnaahu mil ladunnaa ‘ilmaa
“lalu mereka berdua bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan rahmat kepadanya dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan ilmu kepadanya dari sisi Kami.”
(QS. Al-Kahf 18: Ayat 65)
Oleh karena itu, nabi Musa As berkata, “Dan bukanlah aku melakukannya itu menurut kemampuanku sendiri.” Ayat ini mengindikasikan, bahwa Allah Swt memerintahkan Khidir melakukan itu pada sirr-nya yang tersembunyi, dimana ia pun tidak ragu bahwa itu berasal dari Allah Al Haq. Hal ini seperti yang Allah Swt firmankan tentang lebah yang tuli dengan gambaran hewan yang tidak berakal; Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَاَ وْحٰى رَبُّكَ اِلَى النَّحْلِ اَنِ اتَّخِذِيْ مِنَ الْجِبَا لِ بُيُوْتًا وَّمِنَ الشَّجَرِ وَمِمَّا يَعْرِشُوْنَ
wa auhaa robbuka ilan-nahli anittakhizii minal-jibaali buyuutaw wa minasy-syajari wa mimmaa ya’risyuun
“Dan Tuhanmu mengilhamkan kepada lebah, “Buatlah sarang di gunung-gunung, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia,”
(QS. An-Nahl 16: Ayat 68)
Dalam ayat ini Allah memberitakan bahwa Dzatnya memberikan ilmu dari sisi-Nya, sehingga tidak diragukan lagi bahwa perintah itu datangnya dari Allah, begitu juga perintah yang datang kepada Khidir.
Sedangkan keberanian Khidir untuk membunuh anak itu; yang sebelumnya dia tidak membunuh jiwa orang, tidak pula menampakkan kekufuran yang jelas telah disepakati keharamannya pada semua syari’at para nabi dan utusan Allah, hal ini karena syari’at para nabi saling mencocoki. Maka ketika Allah Swt memperbolehkan Khidir membunuh anak itu tanpa ada sisi kenabian padanya, maka ini mustahil. Sebab, hukum syari’at yang ada pada utusan Allah Swt tidak akan terlepas ikatannya kecuali adanya sisi kenabian, sementara pada sisi kewalian tidaklah berlaku hal ini; maksudnya adalah Allah memperbaharui hukum yang sudah ditetapkan dalam syari’at dan kenabian tanpa adanya sisi kenabian lain, maka hal ini pun tidak mungkin terjadi. Akan tetapi sebelumnya sudah kami paparkan ragam dalil tentang status Khidir yang bukan nabi, kamipun telah paparkan sisi kemustahilan terangkatnya suatu hukum yang telah ditetapkan dalam syari’at dan kenabian pada martabat kewalian tanpa adanya pengakuan sisi kenabian.
Maka ketika itu lazimlah bahwa hukum tersebut diterima dari seorang nabi yang tidak diketahui oleh nabi Musa As. Sedangkan perkataan kami, bahwa mustahil bagi nabi Musa As adanya seorang nabi lainnya yang hadir namun tidak dia ketahui, sungguh hal ini mustahil pada hak seorang nabi. Jika toh Khidir adalah nabi lain yang tidak sedang bersama beliau dan ada di zaman beliau, maka tidak mustahil jika nabi Musa As tidak mengetahuinya, sebab seorang nabi sekalipun tidak dapat mencakupi ilmu Allah Swt.
-Selesai sudah apa yang di-imla’ kan pada kami dari hafalan dan perkataan Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra.-
