
Elsubha.com – Aku bertanya kepada Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra tentang maksud firman Allah Swt,
وَاِ ذْ قَا لَتِ الْمَلٰٓئِكَةُ يٰمَرْيَمُ اِنَّ اللّٰهَ اصْطَفٰٮكِ وَطَهَّرَكِ وَا صْطَفٰٮكِ عَلٰى نِسَآءِ الْعٰلَمِيْنَ
wa iz qoolatil-malaaa-ikatu yaa maryamu innallohashthofaaki wa thohharoki washthofaaki ‘alaa nisaaa-il-‘aalamiin
“Dan (ingatlah) ketika para malaikat berkata, “Wahai Maryam! Sesungguhnya Allah telah memilihmu, menyucikanmu, dan melebihkanmu di atas segala perempuan di seluruh alam (pada masa itu).”
(QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 42)
Dan firman Allah Swt,
وَاَ وْحَيْنَاۤ اِلٰۤى اُمِّ مُوْسٰۤى اَنْ اَرْضِعِيْهِ ۚ فَاِ ذَا خِفْتِ عَلَيْهِ فَاَ لْقِيْهِ فِى الْيَمِّ وَلَا تَخَا فِيْ وَلَا تَحْزَنِيْ ۚ اِنَّا رَآ دُّوْهُ اِلَيْكِ وَجٰعِلُوْهُ مِنَ الْمُرْسَلِيْنَ
wa auhainaaa ilaaa ummi muusaaa an ardhi’iih, fa izaa khifti ‘alaihi fa alqiihi fil-yammi wa laa takhoofii wa laa tahzanii, innaa rooodduuhu ilaiki wa jaa’iluuhu minal-mursaliin
“Dan Kami ilhamkan kepada ibunya Musa, “Susuilah dia (Musa), dan apabila engkau khawatir terhadapnya maka hanyutkanlah dia ke sungai (Nil). Dan janganlah engkau takut dan jangan (pula) bersedih hati, sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan menjadikannya salah seorang Rasul.””
(QS. Al-Qasas 28: Ayat 7)
Apakah perkataan malaikat (kepada Maryam itu) menunjukkan kenabiannya? Demikian pula dengan wahyu yang diberikan kepada ibu Musa; apakah menunjukkan kenabiannya atau tidak? Siapakah diantara Sayyidah Maryam dan Sayyidah Fatimah yang lebih utama? Benarkah runtutan yang disebutkan oleh para ulama tentang yang lebih utama di atas semua perempuan di seluruh alam adalah Sayyidah Maryam, kemudian ‘Asiyah binti Muzahim, lalu Khadijah, kemudian ‘Aisyah, lalu Fatimah?
Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra menjawab:
Jawabannya adalah, ketahuilah bahwa kenabian Sayyidah Maryam dan orang yang berpendapat demikian, mereka berhujjah dengan firman Allah Swt,
وَاِ ذْ قَا لَتِ الْمَلٰٓئِكَةُ يٰمَرْيَمُ اِنَّ اللّٰهَ اصْطَفٰٮكِ وَطَهَّرَكِ وَا صْطَفٰٮكِ عَلٰى نِسَآءِ الْعٰلَمِيْنَ
wa iz qoolatil-malaaa-ikatu yaa maryamu innallohashthofaaki wa thohharoki washthofaaki ‘alaa nisaaa-il-‘aalamiin
“Dan (ingatlah) ketika para malaikat berkata, “Wahai Maryam! Sesungguhnya Allah telah memilihmu, menyucikanmu, dan melebihkanmu di atas segala perempuan di seluruh alam (pada masa itu).”
(QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 42)
Demikian pula dengan pendapat yang menyatakan kenabian ibu Musa dengan berpedoman pada firman Allah Swt,
وَاَ وْحَيْنَاۤ اِلٰۤى اُمِّ مُوْسٰۤى اَنْ اَرْضِعِيْهِ ۚ فَاِ ذَا خِفْتِ عَلَيْهِ فَاَ لْقِيْهِ فِى الْيَمِّ وَلَا تَخَا فِيْ وَلَا تَحْزَنِيْ ۚ اِنَّا رَآ دُّوْهُ اِلَيْكِ وَجٰعِلُوْهُ مِنَ الْمُرْسَلِيْنَ
wa auhainaaa ilaaa ummi muusaaa an ardhi’iih, fa izaa khifti ‘alaihi fa alqiihi fil-yammi wa laa takhoofii wa laa tahzanii, innaa rooodduuhu ilaiki wa jaa’iluuhu minal-mursaliin
“Dan Kami ilhamkan kepada ibunya Musa, “Susuilah dia (Musa), dan apabila engkau khawatir terhadapnya maka hanyutkanlah dia ke sungai (Nil). Dan janganlah engkau takut dan jangan (pula) bersedih hati, sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan menjadikannya salah seorang Rasul.””
(QS. Al-Qasas 28: Ayat 7)
Maka, semua pendapat itu batil, tidak dapat dijadikan pegangan sedikit pun. Pendapat yang benar, yang wajib dijadikan rujukan adalah bahwa pangkat kenabian itu mustahil diberikan kepada perempuan, tidak ada jalan bagi mereka untuk mendapatkannya. Kemudian tentang Maryam dan ‘Asiyah, Nabi Saw telah bersabda terkait dengan dua perempuan itu,
كَمَلَ مِنَ الرِّجَالِ كَثِيرٌ وَلَمْ يَكْمُلْ مِنَ النِّسَاءِ إِلَّا آسِيَةُ امْرَأَةُ فِرْعَوْنَ وَمَرْيَمُ بِنْتُ عِمْرَانَ .
“Laki-laki yang sempurna itu banyak, dan tidak ada perempuan yang sempuma, kecuali ‘Asiyah binti Muzâhim dan Maryam binti ‘Imrân.” (Riwayat Abu Musa Al ‘Asy’ari: HR. Al Bukhari, vol. 1, hal. 1650, no. 3411; HR. Muslim, vol. VII, hal. 132, no, 6425; HR, Al-Tirmidzi, vol. III, hal. 336, no. 1384; HR. Ibnu Majah, vol. II, hal. 1091, no. 3280; HR. Ahmad, vol. XXXII, hal. 288, no. 19523.)
Maksudnya, mereka telah mencapai martabah shiddiqiyyah yang tidak ada lagi martabat di atasnya dalam ber-ma’rifat pada Allah dan memiliki ilmu yang mendalam tentangnya, kecuali kedudukan sisi quthbaniyyah dan kedudukan sisi nubuwwah. Demikianlah puncak yang dapat mereka capai.
Sedangkan sayyidah Khadijah, maka Nabi Saw telah menjelaskannya dalam beberapa hadits, sehingga ‘Aisyah Ra. berkata, “Aku tidak pernah merasa cemburu kepada istri-istri Nabi Saw, kecuali kepada Khadijah, karena beliau sering menyebut dan memuliakannya.” Ibnu Sab’i menukil dalam catatannya bahwa pada suatu hari Nabi Saw bersabda kepada para sahabat,
أَلَا وَ إِنَّ صَفْوَتِى مِنْ نِسَائِي عَائِشَةُ ابْنَتُ الصِّدِّيقِ، إِلَّا مَا جَعَلَ اللَّهُ مِنَ الْفَضْلِ لِخَدِيجَةِ بِنْتَ خُوَيْلِدٍ
“Ketahuilah, bahwa istri yang aku pilih diantara istri-istriku adalah ‘Aisyah binti Ash-Shiddiq, hanya saja Allah menjadikan yang paling utama adalah Khadijah binti Khuwailid.”
Dalam hadits ini, Nabi Saw menjelaskan tentang keutamaan Khadijah di atas ‘Aisyah Ra. Ibnu Sab’i juga menukil sebuah hadits bahwa pada suatu hari, Nabi Saw bersabda kepada Fatimah Ra,
أَنْتِ سَيِّدَةُ نِسَاءِ الْعَالَمِينَ، فَوَضَعَتْ يَدَهَا عَلَى رَأْسِهَا حَيَاءٌ، ثُمَّ قَالَتْ لَهُ: فَأَيْنَ أَسِيَةُ بِنْتُ مُزَاحِمَ وَمَرْيَمُ ابْنَتَ عِمْرَانَ وَخَدِيجَةُ ابْنَتَ خُوَيْلِدٍ ؟ فَقَالَ لَهَا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : أَسِيَةُ سَيِّدَةُ نِسَاءِ عَالَمِهَا، وَمَرْيَمُ سَيِّدَةُ نِسَاءِ عَالَمِهَا، وَخَدِيجَةُ سَيِّدَةُ نِسَاءِ عَالَمِهَا، وَأَنْتِ سَيِّدَةُ نِسَاءِ عَالَمِكِ.
“Engkau adalah pemimpin para perempuan di seluruh alam.” Fatimah pun meletakkan tangannya di atas kepalanya karena malu. Kemudian ia bertanya kepada Nabi Saw, “Lantas dimana ‘Asiyah bin Muzahim, Maryam binti Imrân dan Khadijah binti Khuwailid?” Nabi Saw menjawab, “‘Asiyah adalah pemimpin para perempuan di masanya. Maryam adalah pemimpin para perempuan di masanya. Khadijah adalah pemimpin para perempuan di masanya. Dan engkau adalah pemimpin para perempuan di masamu.
Pada suatu hari, Rasulullah Saw pernah bersabda kepada Ali Ra. setelah beliau menikahkannya dengan Fatimah,
زَوَّجْتُكَ سَيِّدَةُ نِسَاءِ الْعَالَمِينَ
“Aku menikahkanmu dengan pemimpin para perempuan di seluruh alam.”
Sedangkan ‘Aisyah Ra, Nabi Saw pernah bersabda tentang dirinya,
وَإِنَّ فَضْلَ عَائِشَةَ عَلَى النِّسَاءِ، كَفَضْلِ الشَّرِيدِ عَلَى سَائِرِ الطَّعَامِ
“Keutamaan ‘Aisyah atas semua perempuan seperti keutamaan bubur tsarid atas semua makanan.”
Para ulama berbeda pendapat tentang mana yang lebih utama antara Fatimah dan ‘Aisyah. Setiap kelompok lebih cenderung untuk mengutamakan salah satu dari keduanya karena berhujjah dengan kedua hadits di atas.
Malik Ra. berkata, “Sedangkan aku, maka aku tidak lebih mengutamakan seorang pun dari keluarga Nabi Saw.”
Disamping itu, orang-orang yang ‘Arif billah sepakat melalui jalan kasyaf (melihat dengan mata batin), bukan pendengaran bahwa Fatimah mencapai kedudukan Quthbaniyah Al ‘Uzhma sepeninggal ayahnya. Jika demikian, maka tidak ada kaitan antara Fatimah dan ‘Aisyah Ra.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
يٰۤاَ يُّهَا النَّا سُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَآئِلَ لِتَعَا رَفُوْا ۗ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَ تْقٰٮكُمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ
yaaa ayyuhan-naasu innaa kholaqnaakum ming zakariw wa ungsaa wa ja’alnaakum syu’uubaw wa qobaaa-ila lita’aarofuu, inna akromakum ‘ingdallohi atqookum, innalloha ‘aliimun khobiir
“Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti.”
(QS. Al-Hujurat 49: Ayat 13)
Tidak ada makhluk Allah Swt setelah para nabi, dari kalangan manusia dan malaikat, yang bisa mencapai sedikit dari ketakwaan Quthbul Aqthab. Seandainya ia mencapai apa yang ia capai, maka ia lebih utama daripada semua kaum muslimin dalam setiap masa. Kecuali apa yang ia capai dari mafatihul kunuz, maka ia lebih utama daripada mereka dalam beberapa hal dan mereka lebih utama daripadanya dalarn beberapa hal lainnya.
Jika engkau telah memahami tentang masalah ini, maka Fatimah lebih utama daripada ‘Aisyah, Maryam dan Asiyah secara pasti. Fatimah Ra bisa mencapai kedudukan Quthbaniyah, tidak perempuan yang lainnya, karena ia tidak pernah mengalami haid. Juga karena ia telah mendapatkan tingkatan yang sempurna dari ayahnya, yaitu tingkatan yang tidak mungkin dicapai oleh perempuan lainnya. Oleh karena itu, ia mencapai kedudukan Quthbaniyah. Wali Quthb adalah pemimpin semua makhluk dalam setiap masa, kecuali apa yang diperoleh dari mafatihul kunuz. Penyebab Fatimah Ra tidak pernah mengalami haid adalah, karena air mani yang ada dalam tulang sulbi ayahnya tercipta dari buah-buahan surga. Oleh karena itu, ayahnya Saw menyebut dirinya sebagai “manusia bidadari”.
Fatimah Ra menjadi bidadari karena ia tidak diciptakan dari sari pati tanah yang unsur atau elemennya mengalir dalam tubuh nabi Adam As kepada seluruh anak cucunya. Unsur air mani (untuk menciptakan) Fatimah terbuat dari ma’ani dan asrar surgawi, yang dengannya Allah Swt menciptakan bidadari. Sehingga sempurmalah kesucian Fatimah Ra dengan memiliki sifat-sifat basyariah yang menyerupai para perempuan. Karena itulah, ia menjadi manusia bidadari danı karena itu pula, ia mencapai kedudukan yang mulia di hadapan Al Haq Swt, yaitu kedudukan yang di atasnya tidak ada kedudukan lagi selain kedudukan nubuwwah (kenabian). Aisyah dan yang lainnya (Maryam dan ‘Asiyah) tidak memiliki harapan untuk mencapainya.
Maka, jelaslah bagimu bahwa Fatimah Ra lebih utama daripada semua perempuan yang memiliki keutamaan.
Pendapat yang menyatakan kenabian Maryam adalah pendapat yang batil. Alasan kebatilannya adalah, bahwa wali Quthb setiap masa memiliki pengaruh dalam setiap bagian terkecil dari makhluk. la senantiasa membantu dan memperkuat bagian terkecil itu dalam setiap makhluk. Sehingga tidak ada yang sujud karena Allah Swt diantara para makhluk atau ruku’ karena Allah Swt atau berdiri karena Allah Swt atau bergerak karena Allah Swt atau berdzikir kepada Allah Swt dengan dzikir apapun itu di antara seluruh makhluk, kecuali wali Quthb membantu untuk melakukan semua itu. Maka karena dialah, orang yang bertasbih dapat bertasbih, orang yang menyembah dapat menyembah dan orang yang sujud dapat bersujud. Karena dia pulalah banyak hal terjadi yang tidak dapat disebutkan satu persatu.
Inti dalam masalah ini adalah, bahwa posisi wali Quthb bagi seluruh makhluk seperti posisi ruh bagi jasad. Sebagaimana jasad tidak dapat berdiri, berfungsi dan bergerak kecuali dengan adanya ruh. Demikian pula dengan seluruh anggota zhahir dan bathin dapat berfungsi sebagaimana mestinya, semua itu karena adanya ruh hayawani yang senantiasa terkait. Jika ruh tidak ada, maka semua anggota badan pun tidak akan berfungsi, ia akan mati dan binasa. Demikian pula dengan semua jasad makhluk dalam hubungannya dengan wali Quthb. Posisinya seperti ruh bagi jasad. Seandainya ruhani wali Quthb sirna darinya, maka seluruh makhluk akan sirna. Jadi, ia adalah ruh bagi makhluk.
Setiap keistimewaan makhluk secara keseluruhan, baik yang terkait maupun yang terpisah, yang umum maupun yang khusus, yang mutlak maupun yang muqayyad (terikat dengan sesuatu), semuanya tidak akan melekat pada makhluk kecuali karena adanya ruhani wali Quthb didalamnya. Jika wali Quthb menghilangkan ruhaniyah-nya dari makhluk, maka semua makhluk akan sima dan mati, tidak memiliki keistimewaan apapun. Kekuatan ini dimiliki oleh wali Quthb, karena ia mampu menanggung sirr ismul a’zham dan pengaruhnya dalam seluruh masanya. Dengan sirr ismul a’zham ini, ia berada dihadapan Allah Swt dengan menyempurnakan adab hadhrah ilahiyyah dan menunaikan hak-hak Allah Swt secara sempurna dalam seluruh tajalli-Nya, baik asma `iyyah, shifatiyyah dan dzatiyyah, dalam setiap waktu dan setiap kedipan mata, bahkan tak berujung karena Rabb Swt senantiasa ber-tajalli dalam setiap kedipan mata selamanya, dari asma -Nya, sifat-Nya, Dzat-Nya dan setiap keadaan-Nya.
Dalam semua keadaan itu, wali Quthb berada di hadapan Allah Swt dengan menunaikan apa yang berhak diberikan kepada seluruh tajalliyat-Nya, yaitu berupa adab-adab, tugas-tugas, dan khidmah dalam setiap kedipan mata, walaupun tajalliyat itu banyak bahkan tanpa batas. la menunaikan dengan sempuma semua hak-hak dan adab-adanya. Tidak ada satu makhluk pun yang mampu menanggung semua tajalli, dimana Allah Swt ber-tajalli dengannya, selain ia. Selamanya ia akan berada dalam keadaan demikian, dalam setiap kedipan mata dari sisa umurnya. Seandainya seluruh Shiddiqin berada dalam posisi ini bersama Allah Swt, tentu mereka akan sina melebihi kecepatan kedipan mata. Demikianlah kebiasaannya selama-lamanya.
Jika engkau telah mengetahui hal ini, maka perempuan tidak akan mampu menanggung tugas tersebut karena kelemahan mereka. Juga karena haid yang membuat mereka tidak sanggup untuk menunaikan hak-hak ilahiyyah. Andai seorang perempuan berada pada kedudukan quthbaniyyah, maka ia akan berhenti menunaikan hak-hak Allah Swt dalam tajalliyat-Nya dalam beberapa hari sepanjang hidupnya, yaitu hari-hari haid. Apabila kewajiban untuk menunaikan hak-hak Allah Swt tidak ditunaikan, maka kedudukan quthbaniyyah akan hilang dan lantaran hilangnya kedudukan tersebut, maka makhluk pun juga akan sirna.
Jika engkau telah mengetahui kondisi bahwa wanita tidak memiliki kemampuan untuk mengemban kedudukan quthbaniyyah, ini kondisinya pada kedudukan quthbaniyyah, maka sudah seyogyanya kehendaknya untuk menyentuh kedudukan kenabian pun lebih jauh dari itu, sebab kenabian lebih besar daripada quthbaniyyah. Sedangkan perihal Fatimah Ra yang mampu menggapai kedudukan quthbaniyyah, itu dikarenakan ia meminta bantuan kesempurnaan sisi uluhiyyah yang diemban oleh ismul azham dan kekokohan pada kedudukan quthbaniyyah. Tidak ada wanita lain yang dapat meminta bantuan ragam kesempurnaan itu kecuali hanya Fatimah saja, maka dengan inilah Fatimah lebih utama dari semua wanita yang ada. Jika engkau telah tahu tentang ini, maka tidak ada wanita yang mampu mengetahui seluk beluk ismul a’zham.
Sedangkan terkait dengan dalil atas kenabian Maryam dengan pernyataan malaikat dan juga kenabian ibu Musa dengan datangnya wahyu.
Jawaban untuk perkara ini: Allah Swt bahkan mengajak iblis berbicara dengan Dzat-Nya secara langsung, namun disana tidak ada sisi kenabian. Allah Swt sudah tentu lebih tinggi daripada malaikat, dimana Dia tidak memberikan hak kenabian pada iblis. Terkait kenabian ibu Musa, maka sisi yang membatalkan kenabiannya adalah firman Allah Swt,
وَاَ وْحٰى رَبُّكَ اِلَى النَّحْلِ اَنِ اتَّخِذِيْ مِنَ الْجِبَا لِ بُيُوْتًا وَّمِنَ الشَّجَرِ وَمِمَّا يَعْرِشُوْنَ
wa auhaa robbuka ilan-nahli anittakhizii minal-jibaali buyuutaw wa minasy-syajari wa mimmaa ya’risyuun
“Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah, “Buatlah sarang di gunung-gunung, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia,”
(QS. An-Nahl 16: Ayat 68); dimana tidak ada sisi kenabian pada lebah. Juga firman Allah Swt lainnya,
فَقَضٰٮهُنَّ سَبْعَ سَمٰوَا تٍ فِيْ يَوْمَيْنِ وَاَ وْحٰى فِيْ كُلِّ سَمَآءٍ اَمْرَهَا ۗ وَزَ يَّـنَّـا السَّمَآءَ الدُّنْيَا بِمَصَا بِيْحَ ۖ وَحِفْظًا ۗ ذٰلِكَ تَقْدِيْرُ الْعَزِيْزِ الْعَلِيْمِ
fa qodhoohunna sab’a samaawaating fii yaumaini wa auhaa fii kulli samaaa-in amrohaa, wa zayyannas-samaaa-ad-dun-yaa bimashoobiiha wa hifzhoo, zaalika taqdiirul-‘aziizil-‘aliim
“Lalu diciptakan-Nya tujuh langit dalam dua masa dan pada setiap langit Dia mewahyukan urusan masing-masing. Kemudian, langit yang dekat (dengan bumi), Kami hiasi dengan bintang-bintang, dan (Kami ciptakan itu) untuk memelihara. Demikianlah ketentuan (Allah) Yang Maha Perkasa, Maha Mengetahui.”
(QS. Fussilat 41: Ayat 12); maka tidak pula dikatakan adanya kenabian bagi langit. Juga firman Allah Swt lainnya,
بِاَ نَّ رَبَّكَ اَوْحٰى لَهَا
bi-anna robbaka auhaa lahaa
“karena sesungguhnya Tuhanmu telah memerintahkan (yang demikian itu) padanya.”
(QS. Az-Zalzalah 99: Ayat 5); maksud dalam ayat ini adalah bumi. Tidak pula dikatakan adanya kenabian bagi bumi. Ini semua menunjukkan bahwa datangnya wahyu tidak melazimkan predikat kenabian. Wassalam.
-Selesai sudah apa yang di-imla’ kan pada kami dari hafalan dan perkataan Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra.-
Demikianlah paparan Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra terkait kajian ayat-ayat Al Qur’an pada bab I. Selanjutnya bersambung ke bab II terkait dengan paparan makna hadits dan yang lainnya.
