
Elsubha.com – Aku bertanya kepada Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra tentang maksud firman Allah Swt,
فَقَا لَ اِنِّيْ سَقِيْمٌ
fa qoola innii saqiim
“kemudian dia (Ibrahim) berkata, “Sesungguhnya aku sakit.””
(QS. As-Saffat 37: Ayat 89) Dan juga firman-Nya,
قَا لَ بَلْ فَعَلَهٗ ۖ كَبِيْرُهُمْ هٰذَا فَسْــئَلُوْهُمْ اِنْ كَا نُوْا يَنْطِقُوْنَ
qoola bal fa’alahuu kabiiruhum haazaa fas-aluuhum ing kaanuu yangthiquun
“Dia (Ibrahim) menjawab, “Sebenarnya (patung) besar itu yang melakukannya, maka tanyakanlah kepada mereka jika mereka dapat berbicara.””
(QS. Al-Anbiya 21: Ayat 63)
Sedangkan disebutkan dalam khabar. Dia adalah saudari iparku.”
Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra menjawab:
Ketiga perkataan ini bisa saja diberlakukan untuk nabi Ibrahim As, sebab beliau adalah yang turut menggagas syari’at (dengan wahyu Allah) dan juga khalifah, beliau melakukan itu dengan izin Allah Swt, maka beragam perbuatannya pun tidak ditimbang kecuali dengan timbangan tersebut. Sebab, beliaupun sebenarnya tidak menginginkan itu, yang menginginkan adalah Allah semata. Setiap perbuatan yang bersumber darinya itulah yang sesuai dengan syari’at, inilah puncak pengetahuan yang harus dipaparkan. Hal yang menguatkan ini adalah hadits Rasulullah Saw yang melarang manusia untuk meneruskan puasa, para sahabat berkata,
نَرَاكَ تُوَاصِلُ؟ قَالَ : إِنِّي لَسْتُ كَهَيْئَتِكُمْ، أَبِيْتُ عِنْدَ رَبِّي يُطْعِمُنِي وَيَسْقِيْنِي
“Kami melihat baginda meneruskan puasa?” Nabi Muhammad Saw bersabda, “Aku tidak seperti kalian, aku tinggal bersama Rabbku, Dia yang memberiku makan dan minum.”
Juga seperti pepatah arab yang banyak tersebar,
لاَ يَصِحُ لِلضَّبِّ أَنْ يَقِيْسَ النُّوْنَ عَلَى نَفْسِهَ
“Tidak benar biawak mengkiaskan dirinya dengan ikan megaledon.”
Apabila engkau sudah paham ini, maka bagaimana mungkin ada seseorang bisa mendiskusikan apa yang akan Allah Swt beri kepada para utusan-Nya, Allah pulalah yang mengamankan rahasia wahyu-Nya. Allah jadikan para utusan-Nya menjadi suri tauladan bagi makhluk lainnya. Hal lainnya adalah, bahwa pada beberapa syari’at sebelumnya, kita tidak mengetahui bagaimana hukum terkait risalah tersebut, sehingga ada yang menafikan dan ada juga yang menetapkannya. Sungguh syari’at yang kini ada pada kita semua, maka yang mengetahui seluk-beluk hukumnya adalah para wali Allah yang kamil, mereka inilah para wali quthb umat ini. Lantas kini, bagaimana pendapatmu dengan ragam syari’at yang kita tidak ketahui dan tidak pernah sampai kepada kita, bahkan kita pun tidak tahu bagaimana status hukumnya bagi penduduk setempat kala itu.
Maka orang yang sengaja menelusuri beragam hukum yang ditetapkan pada para utusan Allah Swt tanpa adanya hadits shahih dalam syari’at kita, maka ia adalah orang yang berlebihan, ia membebani dirinya dengan perkara yang tidak berguna, orang yang melakukan hal ini adalah orang yang keislamannya tidak baik, sesuai dengan hadits,
مِنْ حُسْنِ إِسْلَامِ الْمَرْءِ تَرَكُهُ مَا لَا يَعْنِيهِ
“Sebaik-baik keislaman seseorang adalah meninggalkan apa yang tidak berguna bagi dirinya.”
Maka sungguh mengejutkan ketika ada orang buta yang mengkritik orang yang berpenglihatan normal dan menunjukinya suatu jalan. Dari sini engkau paham bahwa apa yang dilakukan oleh nabi Sulaiman As yang berupa pergi ke pasar dan menepuk tengkuk unta saat bekerja hingga tenggelamnya matahari, sebagaimana yang diceritakan oleh Allah adalah perkara yang diperbolehkan dalam syari’at, begitu pula bagi semua nabi dan utusan-Nya Allah Swt.
Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra melanjutkan:
Ketahuilah bahwa beragam kondisi para utusan Allah Swt tidaklah bisa didiskusikan maupun diperiksa, kita harus mengikuti mereka pada beragam perkara yang diturunkan kepada-Nya. Sebab, Allah Swt telah menyebutkan petunjuk mereka ketika Allah menyebutkan mereka. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
اُولٰٓئِكَ الَّذِيْنَ هَدَى اللّٰهُ فَبِهُدٰٮهُمُ اقْتَدِهْ ۗ قُلْ لَّاۤ اَسْـئَلُكُمْ عَلَيْهِ اَجْرًا ۗ اِنْ هُوَ اِلَّا ذِكْرٰى لِلْعٰلَمِيْنَ
ulaaa-ikallaziina hadallohu fa bihudaahumuqtadih, qul laaa as-alukum ‘alaihi ajroo, in huwa illaa zikroo lil-‘aalamiin
“Mereka itulah (para nabi) yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk mereka. Katakanlah (Muhammad), “Aku tidak meminta imbalan kepadamu dalam menyampaikan (Al-Qur’an).” Al-Qur’an itu tidak lain hanyalah peringatan untuk (segala umat) seluruh alam.”
(QS. Al-An’am 6: Ayat 90), Maka seorang muslim tidak boleh mendiskusikan beragam kondisi utusan Allah.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَمَاۤ اَرْسَلْنَا مِنْ رَّسُوْلٍ اِلَّا لِـيُـطَا عَ بِاِ ذْنِ اللّٰهِ ۗ وَلَوْ اَنَّهُمْ اِذْ ظَّلَمُوْۤا اَنْفُسَهُمْ جَآءُوْكَ فَا سْتَغْفَرُوا اللّٰهَ وَا سْتَغْفَرَ لَـهُمُ الرَّسُوْلُ لَوَجَدُوا اللّٰهَ تَوَّا بًا رَّحِيْمًا
wa maaa arsalnaa mir rosuulin illaa liyuthoo’a bi-iznillaah, walau annahum iz zholamuuu angfusahum jaaa-uuka fastaghfarulloha wastaghfaro lahumur-rosuulu lawajadulloha tawwaabar rohiimaa
“Dan Kami tidak mengutus seorang Rasul melainkan untuk ditaati dengan izin Allah. Dan sungguh, sekiranya mereka setelah menzalimi dirinya datang kepadamu (Muhammad), lalu memohon ampunan kepada Allah, dan Rasul pun memohonkan ampunan untuk mereka, niscaya mereka mendapati Allah Maha Penerima Tobat, Maha Penyayang.”
(QS. An-Nisa’ 4: Ayat 64)
Allah Subhanahu Wa Ta’ala pada ayat lainnya,
مَنْ يُّطِعِ الرَّسُوْلَ فَقَدْ اَطَا عَ اللّٰهَ ۚ وَمَنْ تَوَلّٰى فَمَاۤ اَرْسَلْنٰكَ عَلَيْهِمْ حَفِيْظًا
may yuthi’ir-rosuula fa qod athoo’alloh, wa mang tawallaa fa maaa arsalnaaka ‘alaihim hafiizhoo
“Barang siapa menaati Rasul (Muhammad) maka sesungguhnya dia telah menaati Allah. Dan barang siapa berpaling (dari ketaatan itu) maka (ketahuilah) Kami tidak mengutusmu (Muhammad) untuk menjadi pemelihara mereka.”
(QS. An-Nisa’ 4: Ayat 80)
Beragam ayat ini berlaku secara umum pada setiap utusan Allah Swt.
Orang yang ingin menyadur ragam perbuatan para nabi dari selain mereka, maka orang itu tidak mengetahui hak mereka, kurang adab kepada mereka, diapun tidak tahu bahwa setiap perbuatan yang bersumber dari mereka selalu ada izin dari Allah secara umum, sekalipun ada sebagian perbuatan yang patut dicela, maka itu merupakan bagian dari yang sudah disebutkan oleh Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra tentang pembagian ragam perbuatan yang diperbolehkan dalam syari’at dan bukan yang lainnya. Oleh karena inilah, perbuatan orang-orang yang beriman yang mengikuti dan juga meyakini para utusan Allah, maka dengan inilah umat nabi Muhammad Saw akan menjadi saksi pada hari Kiamat terhadap umat-umat yang mendustakan para utusan Allah bahkan mengingkari sampainya risalah kenabian pada mereka. Apabila suatu umat mengatakan, “Risalah yang Engkau maksudkan belum sampai pada kami wahai Rabb.” Allah Azza wa Jalla yang mengetahui seluk-beluk para utusan-Nya berfirman, “Siapakah yang bersaksi bahwa engkau telah menyampaikan risalah kepada mereka?” Maka Utusan Allah itu berkata, “Umat Muhammad,” Lalu Allah bertanya kepada umat Muhammad, “Apakah kalian punya kesaksian terhadap utusan-Ku ini?” Umat Muhammad pun berkata, “Apakah Engkau telah mengutusnya wahai Rabb kami?,” Allah berfirman, “Aku telah mengutusnya kepada mereka,” Umat Muhammad berkata, “Maka kami bersaksi untuknya bahwa ia telah menyampaikan apa yang Engkau utus kepada mereka.” Para umat nabi tersebut pun bersaksi, sebab mereka pun tahu bahwa sungguh Allah tidak akan mempercayakan rahasia wahyu-Nya kecuali pada sosok yang jujur lagi terpercaya. Orang yang memiliki sifat ini mustahil dirinya tidak menyampaikan apa yang diperintahkan padanya.
Apabila engkau telah memahami, bahwa semua dosa yang disebutkan terkait para utusan Allah dan ragam perbuatan mereka yang mengindikasikan suatu pelanggaran,
maka sungguh para utusan Allah Swt ini melakukan itu sesuai dengan sisi yang sudah dipaparkan oleh Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra sebelum ini; atau maknanya adalah bahwa itu merupakan perbuatan yang diperbolehkan dalam syari’at mereka, seperti yang kami suguhkan pada perkataan nabi Ibrahim As, dalam perkataan nabi Sulaiman As, sedangkan terkait nabi Adam As, maka Allah Swt pun telah menyebutkan alasannya melakukan perbuatan tersebut, sebagaimana yang telah kami kemukakan sebelumnya.
Sementara firman Allah Swt terkait nabi Yusuf As,
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَلَـقَدْ هَمَّتْ بِهٖ ۙ وَهَمَّ بِهَا ۚ لَوْلَاۤ اَنْ رَّاٰ بُرْهَا نَ رَبِّهٖ ۗ كَذٰلِكَ لِنَصْرِفَ عَنْهُ السُّۤوْءَ وَا لْـفَحْشَآءَ ۗ اِنَّهٗ مِنْ عِبَا دِنَا الْمُخْلَصِيْنَ
wa laqod hammat bihii wa hamma bihaa, lau laaa ar ro-aa bur-haana robbih, kazaalika linashrifa ‘an-hus-suuu-a wal-fahsyaaa, innahuu min ‘ibaadinal-mukhlashiin
“Dan sungguh, perempuan itu telah berkehendak kepadanya (Yusuf). Dan Yusuf pun berkehendak kepadanya, sekiranya dia tidak melihat tanda (dari) Tuhannya. Demikianlah, Kami palingkan darinya keburukan dan kekejian. Sungguh, dia (Yusuf) termasuk hamba Kami yang terpilih.”
(QS. Yusuf 12: Ayat 24)
Terkait ayat ini, Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra berkata: Ayat diatas dapat mengandung arti nabi Yusuf As ingin melakukan suatu kemaksiatarı, dapat pula mengandung arti bahwa beliau ingin menangkap wanita tersebut dalam kondisi marah akan perbuatan buruk yang sang wanita pinta.
Terkait perkataan kami yang nyatakan bahwa nabi Yusuf As ingin melakukan suatu kemaksiatan; maka sisi ishmah (perlindungan Allah dari melakukan dosa besar) inilah yang menjadi pencegah nabi Yusuf As dalam melakukan kemaksiatan itu, maka yang tersisa hanyalah makna bahwa nabi Yusuf As ingin menangkapnya lantaran marah atas permintaannya yang buruk itu ketika beliau belum melihat tanda dari Allah Swt, ketika nabi Yusuf As telah melihat tanda dari Allah Swt, maka iapun meninggalkan wanita itu, dimana nabi Yusuf As tahu dari tanda tersebut bahwa ia adalah sosok yang ma’shum (sosok yang dilindingi oleh Allah dari perbuatan dosa besar).
Sedangkan redaksi, بُرْهَا نَ رَبِّهٖ ” Tanda (dari) Tuhannya.” Maka terkait dengan penafsiran redaksi ini: Ada yang mengatakan bahwa nabi Yusuf As melihat gambaran nabi Ya’qub As menggigit jarinya seraya berkata, ‘Wahai Yusuf, apakah engkau akan melakukan perbuatan orang-orang bodoh sementara engkau telah dituliskan disisi Allah sebagai kalangan para nabi’, dengan demikian Allah Swt tambahkan kekuatan pada nabi Yusuf As untuk lolos dari wanita itu.
Ada juga yang mengatakan: Nabi Yusuf As melihat orang yang berkata kepada dirinya, ‘Orang semisalmu, jika engkau tidak terjerumus dengannya, maka engkau seperti burung yang terbang di udara, tidak ada yang dapat menggapainya. Orang semisalmu, jika terjerumus dengannya, maka engkau seperti burung yang jatuh mati ke tanah, tidak bisa berbuat sesuatu untuk dirinya’.”
Ada juga yang mengatakan: Tanda itu terlihat pada wanita itu ketika ia mencoba mendekat pada nabi Yusuf As. Sebelumnya ditampakkan padanya gambaran perbuatan buruk itu, dimana wanita itu punya patung yang ia sembah, wanita itu pun berdiri dan menyelimuti patung dengan kain yang tebal, nabi Yusuf As berkata pada wanita itu, ‘Ada urusan apa engkau dengannya sampai engkau melakukan ini padanya?”, Wanita itu berkata, ‘Aku benci dia (patung itu) melihatku melakukan kemaksiatan’, nabi Yusuf As itu berkata, ‘Akulah yang lebih berhak benci, jika Allah melihatku bermaksiat pada-Nya.” Maka nabi Yusuf As pun menjauhinya.
Sementara redaksi firman-Nya, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَمَاۤ اُبَرِّئُ نَفْسِيْ ۚ اِنَّ النَّفْسَ لَاَ مَّا رَةٌ بِۢا لسُّوْٓءِ اِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّيْ ۗ اِنَّ رَبِّيْ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ
wa maaa ubarri-u nafsii, innan-nafsa la-ammaarotum bis-suuu-i illaa maa rohima robbii, inna robbii ghofuurur rohiim
“Dan aku tidak (menyatakan) diriku bebas (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu mendorong kepada kejahatan, kecuali (nafsu) yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun, Maha Penyayang.””
(QS. Yusuf 12: Ayat 53)
Redaksi ini mengabarkan kondisi kemanusiaan nabi Yusuf As yang membuat dirinya tergerak melakukan perbuatan itu ketika sang wanita memanggilnya, sedangkan kalbunya berbalik untuk tidak menjawab panggilan sisi kemanusiaanya tersebut demi memenuhi perintah Allah Swt, sebab kalbulah yang menjadi tempat pembebanan perintah dan bukan malah sisi kemanusiaan.
Ketika kalbu berhenti, maka ia akan berhenti pada batasan yang diperintahkan dan tidak akan di-mudharat-kan dengan geraknya sisi kemanusiaan lantaran adanya perbedaan pada hal tersebut, sebab kalbunya sudah selamat, dialah yang dituju dari pembebanan syari’at, hal ini diperkuat dengan hadits nabi Saw,
أَلَا إِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةٌ إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجُسَدُ كُلُّهُ وَإِنْ فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ.
“Sungguh didalam jasad ada sebongkah organ, apabila ia baik, maka baiklah seluruh jasad dan jika ia rusak, maka rusaklah seluruh jasad, ia tak lain adalah kalbu.”
Dengan kata lain, sisi kemanusiaan para nabi As tetap ada sehingga mereka bisa tenggelam dalam syahwat, mereka sama dengan manusia secara umum, baik berupa syahwat yang diharamkan maupun yang dihalalkan. Keberadaan kalbu senantiasa berdiri diatas syari’at, kalbulah yang merincikan ragam kondisi syahwat, sehingga mampu mencondongkan sisi kemanusiaan pada ragam syahwat yang halal dan menolak agar tidak terjerumus pada syahwat yang diharamkan.
Ini adalah bentuk perlindungan Allah Swt pada para nabi-Nya. Dan bukan dengan menghilangkan sisi kemanusiaan seperti yang disangkakan orang-orang bodoh. Sebab, jikalau sisi kemanusiaan itu hilang dari para nabi As, niscaya sisi ishmah pun tidak ada lantaran tidak adanya sebab yang menjadikan sisi itu ada, yaitu nampaknya sisi kemanusiaan yang meminta untuk melakukan beragam syahwat yang dilarang. Maka keberadaan kalbu yang melarang sisi kemanusiaan untuk melakukan beragam syahwat yang dilarang disertai keterpautan manusia pada ragam perbuatan itu, dalam syari’at disebut sebagai ishmah. Yang menguatkan pendapat ini adalah sabda nabi Muhammad Saw,
مَا بَعَثَ اللَّهَ نَبِيًّا وَلاَ خَلِيفَةً إِلَّا وَلَهُ بِطَانَتَانِ : بِطَانَةٌ تَأْمُرُهُ بِالْمَعْرُوْفِ وَتَنْهَاهُ عَنِ الْمُنْكَرِ ، وَبِطَانَةٌ لَا تَأْلُوْهُ خَبَالاً ، وَمَنْ يَتَّقِ بِطَانَةَ السُّوءِ وُقِيَ.
“Tidaklah Allah mengutus seorang nabi dan tidak pula khalifah kecuali Allah bekali dengan dua teman: Teman yang memerintahkannya melakukan perkara yang baik dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan teman yang tidak henti-hentinya menimbulkan kemudharatan bagimu. Orang yang berhati-hati dengan teman yang buruk maka ia akan dijaga.”
Hadits ini menunjukkan adanya sisi kemanusiaan pada para nabi As yang mengarah pada syahwat, akan tetapi kalbulah yang melindungi dari kecondongan diri pada syahwat yang dilarang, inilah ishmah. Khabar ini menunjukkan kepada kita bahwa detikan jiwa pun juga ada pada para nabi As, akan tetapi Allah Swt selaku penguasa ruh mampu menekan kecondongan jiwa dan kecondongan hawa, sehingga tidak ada yang mampu menggerakkan sesuatu kecuali Dia yang menggerakkannya. Penguasa ruh tidaklah condong pada perkara yang jelek. Oleh karena itu, para nabi disucikan dari perbuatan jelek, karena Allahlah yang menganugerahkan sebagian ruh-Nya kepada mereka. Sosok yang Allah Swt kuatkan dengan ruh-Nya tidak akan pernah melakukan perbuatan yang melanggar larangan Allah.
-Selesai sudah apa yang di-imla’ kan pada kami dari hafalan dan perkataan Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra.-
