
Elsubha.com – Aku bertanya kepada Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra tentang apa yang disebutkan oleh sebagian mufassir terkait dengan nabi Daud As, ia berangan-angan tentang sesuatu didalam kalbunya dan menyuruh orang lain untuk melakukan suatu pekerjaan agar dia bisa melakukan ini dan itu? Dan maksud firman Allah Swt,
اِنَّ هٰذَاۤ اَخِيْ ۗ لَهٗ تِسْعٌ وَّتِسْعُوْنَ نَعْجَةً وَّلِيَ نَعْجَةٌ وَّا حِدَةٌ ۗ فَقَا لَ اَكْفِلْنِيْهَا وَعَزَّنِيْ فِى الْخِطَا بِ
inna haazaaa akhii, lahuu tis’uw wa tis’uuna na’jataw wa liya na’jatuw waahidah, fa qoola akfilniihaa wa ‘azzanii fil-khithoob
“Sesungguhnya saudaraku ini mempunyai sembilan puluh sembilan ekor kambing betina dan aku mempunyai seekor saja, lalu dia berkata, “Serahkanlah (kambingmu) itu kepadaku! Dan dia mengalahkan aku dalam perdebatan.””
(QS. Sad 38: Ayat 23)
Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra menjawab:
Aku memohon perlindungan dari Allah Swt, hal tersebut tidak mungkin keluar dari seorang nabi yang ma’shum, yang Allah Swt sebutkan terkait sosok beliau hanya kisah adanya dua orang yang berseteru tentang kepemilikan satu dari beberapa ekor kambing saja dan bukan perkara lainnya, sebagaimana yang tertuang dalam firman-Nya,
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
اِنَّ هٰذَاۤ اَخِيْ ۗ لَهٗ تِسْعٌ وَّتِسْعُوْنَ نَعْجَةً وَّلِيَ نَعْجَةٌ وَّا حِدَةٌ ۗ فَقَا لَ اَكْفِلْنِيْهَا وَعَزَّنِيْ فِى الْخِطَا بِ
inna haazaaa akhii, lahuu tis’uw wa tis’uuna na’jataw wa liya na’jatuw waahidah, fa qoola akfilniihaa wa ‘azzanii fil-khithoob
“Sesungguhnya saudaraku ini mempunyai sembilan puluh sembilan ekor kambing betina dan aku mempunyai seekor saja, lalu dia berkata, “Serahkanlah (kambingmu) itu kepadaku! Dan dia mengalahkan aku dalam perdebatan.””
(QS. Sad 38: Ayat 23)
قَا لَ لَقَدْ ظَلَمَكَ بِسُؤَالِ نَعْجَتِكَ اِلٰى نِعَا جِهٖ ۗ وَاِ نَّ كَثِيْرًا مِّنَ الْخُلَـطَآءِ لَيَبْغِيْ بَعْضُهُمْ عَلٰى بَعْضٍ اِلَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَقَلِيْلٌ مَّا هُمْ ۗ وَظَنَّ دَاوٗدُ اَنَّمَا فَتَنّٰهُ فَا سْتَغْفَرَ رَبَّهٗ وَخَرَّ رَا كِعًا وَّاَنَا بَ
qoola laqod zholamaka bisu-aali na’jatika ilaa ni’aajih, wa inna kasiirom minal-khulathooo-i layabghii ba’dhuhum ‘alaa ba’dhin illallaziina aamanuu wa ‘amilush-shoolihaati wa qoliilum maa hum, wa zhonna daawuudu annamaa fatannaahu fastaghfaro robbahuu wa khorro rooki’aw wa anaab
“Dia (Daud) berkata, “Sungguh, dia telah berbuat zalim kepadamu dengan meminta kambingmu itu untuk (ditambahkan) kepada kambingnya. Memang banyak di antara orang-orang yang bersekutu itu berbuat zalim kepada yang lain, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan; dan hanya sedikitlah mereka yang begitu.” Dan Daud menduga bahwa Kami mengujinya; maka dia memohon ampunan kepada Tuhannya lalu menyungkur sujud dan bertobat.”
(QS. Sad 38: Ayat 24)
Perlu diketahui bahwa Al Qur’an itu tidaklah ditafsirkan kecuali dengan khabar yang shahih. la juga dipalingkan dari makna zhahir-nya jika makna zhahir-nya menuju pada sebuah kemustahilan. Dua hal ini tidak dianggap pada perkara dalam ayat ini; tidak ada khabar shahih yang bisa dijadikan pegangan dalam menafsirkan ayat tersebut serta tidak ada perkara yang membuat ayat tersebut berpaling dari makna zhahirnya. Jika engkau paham akan hal ini, maka jelaslah bagimu bahwa ayat ini tetap pada makna zhahir-nya dan tidak seperti yang dikatakan bahwa ayat ini merupakan bagian dari takwil yang tidak diperkenankan untuk disebutkan sekalipun pada orang-orang sholeh dari kalangan orang-orang yang beriman, maka bagaimana mungkin ini bisa ditakwilkan dengan pentakwilan buruk pada orang-orang pilihan Allah Swt Kami memohon perlindungan dari campur-baurnya pemahaman yang tidak benar.
Aku (Syaikh Ali Harâzim) berkata kepada Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra,
“Lantas dari perkara apa nabi Daud As bertobat?”
Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra menjawab:
Dia bertobat dari dugaan dirinya, bahwa ia telah melakukan kesalahan dalam menentukan hukum dan bukan dari dosa lainnya. Hal ini sebagaimana yang difirmankan oleh Allah Swt,
قَا لَ لَقَدْ ظَلَمَكَ بِسُؤَالِ نَعْجَتِكَ اِلٰى نِعَا جِهٖ ۗ وَاِ نَّ كَثِيْرًا مِّنَ الْخُلَـطَآءِ لَيَبْغِيْ بَعْضُهُمْ عَلٰى بَعْضٍ اِلَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَقَلِيْلٌ مَّا هُمْ ۗ وَظَنَّ دَاوٗدُ اَنَّمَا فَتَنّٰهُ فَا سْتَغْفَرَ رَبَّهٗ وَخَرَّ رَا كِعًا وَّاَنَا بَ
qoola laqod zholamaka bisu-aali na’jatika ilaa ni’aajih, wa inna kasiirom minal-khulathooo-i layabghii ba’dhuhum ‘alaa ba’dhin illallaziina aamanuu wa ‘amilush-shoolihaati wa qoliilum maa hum, wa zhonna daawuudu annamaa fatannaahu fastaghfaro robbahuu wa khorro rooki’aw wa anaab
“Dia (Daud) berkata, “Sungguh, dia telah berbuat zalim kepadamu dengan meminta kambingmu itu untuk (ditambahkan) kepada kambingnya. Memang banyak di antara orang-orang yang bersekutu itu berbuat zalim kepada yang lain, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan; dan hanya sedikitlah mereka yang begitu.” Dan Daud menduga bahwa Kami mengujinya; maka dia memohon ampunan kepada Tuhannya lalu menyungkur sujud dan bertobat.”
(QS. Sad 38: Ayat 24)
Maka lihatlah wahai orang yang dirahmati Allah dengan thariqah ini, cara yang jika ditempuh ia akan membawa keselamatan dari api neraka yang bergejolak, tinggalkanlah segala penakwilan yang bersumber dari khayalan orang yang hatinya keras agar engkau menjadi orang yang baik.”
Aku (Syaikh ‘Ali Harâzim) berkata kembali kepada Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra, “Maka jika demikian yang guru katakan, lantas apa korelasinya dengan redaksi,
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
فَغَفَرْنَا لَهٗ ذٰلِكَ ۗ وَاِ نَّ لَهٗ عِنْدَنَا لَزُلْفٰى وَحُسْنَ مَاٰ بٍ
fa ghofarnaa lahuu zaalik, wa inna lahuu ‘ingdanaa lazulfaa wa husna ma-aab
“Lalu Kami mengampuni (kesalahannya) itu. Dan sungguh, dia mempunyai kedudukan yang benar-benar dekat di sisi Kami dan tempat kembali yang baik.”
(QS. Sad 38: Ayat 25)
Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra menjawab: “Allah mengampuni dugaannya,” Akupun menimpali, “Sementara dugaannya itu disatu sisi bukanlah sebuah dosa.”
Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra menimpali: Tidak demikian pada para pembesar Ash-Shiddiqin, mereka tidak seperti yang lainnya, kesalahan mereka itu dihitung meski sekecil biji atom, sebagaimana yang sudah kami kemukakan sebelumnya. Sebab, sisi hadhrah Allah itu digapai dengan adab, nah orang yang sudah berada pada hadhrah-Nya dan dia lalai atau lupa, maka diapun dihitung dan tidak ditolerir seperti yang lainnya, sekalipun dalam tatanan syari’at tidak dianggap sebagai sebuah dosa. Sebagaimana pula yang Allah Swt kisahkan kepada nabi Muhammad Saw terkait nabi Adam As, dimana Allah Swt memaparkan kesalahannya dan Allah memberikan hukuman dengan menurunkannya ke bumi. InsyaAllah penjelasan akan kisah ini akan dipaparkan selanjutnya.
Sayyidi Syaikh Ra menyebutkan kisah yang memperkuat perihal adab di hadapan hadhrah Allah. Seperti kisah Sara Saqathi, disuatu hari dia sedang duduk seraya menjulurkan kaki, kemudian menariknya kembali dengan cepat. lapun spontan menyeru kepada Allah Swt dengan penuh kerendahan diri seraya berkata, “Aku tidak akan pernah mengulangi yang seperti itu.” Seorang pakar fikih yang ketika itu ada bersamanya berkata, “Apa perbuatanmu ini, engkau tidak berbuat salah apa-apa,” Beliau menjawab, “Iya tidak mengapa untukmu,” Pakar fikih itu melanjutkan perkataannya, “Sebab, menjulurkan kaki adalah perbuatan yang diperbolehkan, sehingga tidak dianggap sebagai sebuah kesalahan, namun pakar fikih itu tidak tahu bahwa ia dipinta untuk senantiasa menjaga adab dihadapan hadhrah Allah Swt setiap waktu, sekalipun dalam kondisi lupa, sebagaimana yang sudah kami paparkan sebelumnya.
Kisah lainnya adalah, ada dua orang berada di sebuah kapal, salah seorang dari keduanya menemukan butiran makanan yang jatuh kemudian ia makan, melihat perbuatan tersebut lelaki yang lainnya pun protes seraya berkata, “Apa perbuatan lancangmu ini?” Maka lelaki yang pertama tadipun meminta maaf lantaran lupa dan lalai, namun lelaki yang kedua enggan menerima permohonan maaf tersebut seraya berkata, “Aku tidak ingin berteman dengan orang yang lalai dari hadhrah Allah Swt,” lalu lelaki pertama itupun menceburkan dirinya ke laut dan yang lainnya pun merasa kehilangannya. Ketika sampai di Ka’bah, lelaki pertama melihat saudaranya sedang ber-thawaf mengelilingi Ka’bah, iapun merasa gandrung kepadanya, lalu menyapa, “Jika bukan lantaran ikatan persaudaraan karena Allah Swt, maka engkau tidak akan melihatku, meski aku tidak lagi bersahabat denganmu,” lelaki yang lainnya berkata, “Aku sudah bertobat kepada Allah Swt,” maka lelaki pertama tadipun kembali menerima sahabatnya tadi.”
Jika kondisi inilah yang berlaku pada para wali Allah Swt, lantas bagaimana pendapatmu tentang para utusan Allah Swt, dimana merekalah orang-orang pilihan-Nya, merekalah yang diharuskan lebih utama dalam adab kepada hadhrah Allah Swt dan tidak boleh lupa akan hal ini.
Apabila engkau sudah paham akan kisah diatas, maka aku akan paparkan kisah turunnya nabi Adam As ke bumi dan keluarnya dari surga, tujuan pemaparan ini tak lain agar engkau beradab kepada Allah Swt dan memahami apa yang engkau ucapkan.
Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra berkata: Secara kasat mata, gambaran kisah nabi Adam As adalah ujian baginya, sedangkan pada hakikatnya adalah agar sisi utusan dan pilihan Allah Swt bisa sempurna, sesuai dengan firman-Nya, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَاِ ذْ قَا لَ رَبُّكَ لِلْمَلٰٓئِكَةِ اِنِّيْ جَا عِلٌ فِى الْاَ رْضِ خَلِيْفَةً ۗ قَا لُوْۤا اَتَجْعَلُ فِيْهَا مَنْ يُّفْسِدُ فِيْهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَآءَ ۚ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَـكَ ۗ قَا لَ اِنِّيْۤ اَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ
wa iz qoola robbuka lil-malaaa-ikati innii jaa’ilung fil-ardhi kholiifah, qooluuu a taj’alu fiihaa may yufsidu fiihaa wa yasfikud-dimaaa, wa nahnu nusabbihu bihamdika wa nuqoddisu lak, qoola inniii a’lamu maa laa ta’lamuun
“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.” Mereka berkata, “Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?” Dia berfirman, “Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.””
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 30)
Dari sini jelaslah hikmah Allah pada kisah ini yang sebelumnya sudah ditetapkan sesuai keinginan-Nya.
Sedangkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
فَاَ كَلَا مِنْهَا فَبَدَتْ لَهُمَا سَوْاٰ تُہُمَا وَطَفِقَا يَخْصِفٰنِ عَلَيْهِمَا مِنْ وَّرَقِ الْجَـنَّةِ ۚ وَعَصٰۤى اٰدَمُ رَبَّهٗ فَغَوٰى
fa akalaa min-haa fa badat lahumaa sau-aatuhumaa wa thofiqoo yakhshifaani ‘alaihimaa miw waroqil jannah, wa ‘ashooo aadamu robbahuu fa ghowaa
“Lalu keduanya memakannya, lalu tampaklah oleh keduanya aurat mereka dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun (yang ada di) surga, dan telah durhakalah Adam kepada Tuhannya, dan sesatlah dia.”
(QS. Ta-Ha 20: Ayat 121)
Maka itu sesuai dengan gambaran ayat tadi, dengan dalil bahwa Allah Swt menyebutkan alasan perbuatannya itu dalam firman-Nya,Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَلَـقَدْ عَهِدْنَاۤ اِلٰۤى اٰدَمَ مِنْ قَبْلُ فَنَسِيَ وَلَمْ نَجِدْ لَهٗ عَزْمًا
wa laqod ‘ahidnaaa ilaaa aadama ming qoblu fa nasiya wa lam najid lahuu ‘azmaa
“Dan sungguh telah Kami pesankan kepada Adam dahulu, tetapi dia lupa, dan Kami tidak dapati kemauan yang kuat padanya.”
(QS. Ta-Ha 20: Ayat 115)
Sebagaimana didalam syari’at yang sudah kita ketahui bersama, bahwa orang yang lupa, tidak dihitung kesalahannya. Akan tetapi wali Allah yang kamil tidak seperti manusia lain pada umumnya, sebagaimana penjelasan tentang hal ini sudah kami paparkan sebelumnya.
Aku (Syaikh ‘Ali Harâzim) kembali bertanya kepada Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra, “Jika memang kesalahannya itu bukanlah sebuah dosa, lantas mengapa Allah Swt menyebutkan perihal tobatnya?”
Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra menjawab:
Lantaran perbuatan salahnya itu, sebagimana dilihat dari segi zhahirnya, kesalahan itu adalah dosa, sekalipun pada sisi lain itu bukanlah dosa, sebab ia melakukan perbuatan itu lantaran lupa, sebagaimana yang dipaparkan dalam ayat diatas, karena dalam syariat kita, orang yang lupa itu tidak dihitung sebagai sebuah kesalahan, akan tetapi yang dicerca disini adalah lantaran kelalaiannya akan suatu adab dan ketidaktahuan diri akan perkara yang harus dilakukan atau ditinggalkan, sebagaimana yang disebutkan sebelumnya.
Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra melanjutkan: Perlu diketahui, bahwa pada sikap nabi Adam As yang memakan buah (khuldi) terdapat tanda bagi orang-orang yang mengambil pelajaran dan berisikan suri tauladan bagi orang-orang yang bertobat serta menandakan kecocokan keinginan Allah Swt pada apa yang sudah Dia tetapkan pada zaman azali, yang berupa pemilihan nabi Adam As serta menjadikannya sebagai khalifah Allah Swt (dimuka bumi) lantaran kesalahan yang dia lakukan, adanya pengusiran, pelaknatan dan penghinaan iblis setelah Allah Swt memilihnya dan membuatnya letih dengan ibadah. Hal ini agar engkau mengetahui bahwa kesengsaraan dan kesenangan tidaklah berkaitan dengan suatu sebab, akan tetapi orang yang senang adalah orang yang telah dituliskan dalam kondisi gembira pada masa azali, begitu pula orang yang sengsara. Oleh karena inilah, banyaknya manfaat pada orang yang telah dilaknat pun tidak berguna baginya.
Terkait hal ini, maka ketika iblis Allah Swt usir karena melanggar perintah-Nya, iapun dilaknat dan dituliskan dengan pena kesengsaraan selamanya, iapun menjadi sosok yang Allah Swt murkai, ia memancing kemarahan Allah Swt, durhaka pada-Nya, ia menjanjikan serta memaksakan kesesatan bagi hamba-hamba-Nya, bahkan bersumpah kepada Rabbnya seraya berkata, “Bahwa dengan modal kemuliaan yang telah Engkau berikan padaku, niscaya aku akan sesatkan ja (Adam) dan anak keturunannya. Akupun dalam kondisi itu sampai Engkau juga mengusimya (Adam) sebagaimana Engkau mengusirku.”
Malaikat pun berkata dengan lisan manusia: Sungguh nabi Adam As adalah orang yang dicintai Allah sejak masa azali, beragam pelanggaran pun tidak berpengaruh pada dirinya karena Allah Swt menciptakannya untuk kepentingan-Nya sendiri; yaitu untuk menampakkannya dengan penampakan sisi uluhiyyah-Nya. Telah tertulis pula bahwa nabi Adam As adalah khalifah-Nya, orang yang Dia pilih dan Dia utus disisi-Nya. Maka Allah Swt tampakkan ia dengan hikmah yang tampak, hikmah yang sesuai dengan kehendak-Nya.
“Wahai iblis yang dilaknat, jikapun ia (nabi Adam As) terjebak pada kesalahannya secara enggan, dengan ditambah lagi pengusiran dan usahamu untuk menjauhkannya dari-Nya, maka enyahlah engkau wahai iblis, sungguh engkau terkutuk. Sungguh kutukan bagimu ini akan berlaku hingga hari Kiamat. Sebab, engkau tercipta untuk dirimu, kelelahanmu itu untuk jiwa dan syahwatmu. Apa yang engkau lihat pada asal mulamu, maka itu adalah pakaian yang dipinjamkan padamu, yang asalnya adalah kesengsaraan dan keterusiranmu. Oleh karena itu, Aku (Allah) ciptakan engkau. Sedangkan Adam, maka ia tercipta untuk kebahagiaan yang abadi, beragam nikmat yang kekal, kekhilafahan terbesar bagi seluruh makhluk.”
Maka inilah dua perbedaan yang mencolok antara sosok yang akan senang sesuai kehendak-Nya pada zaman azali dan sosok yang akan sengsara. Oleh karena itu, benarlah yang dikatakan dalam sebuah perumpamaan:
مَنْ سَبَقَتْ لَهُ الْعِنَايَةُ لَمْ تَضُرُّهُ الْجِنَايَةُ
“Sosok yang telah ditetapkan sisi perhatian-Nya, maka kedurjanaan pun tidak akan memudharatkannya.”
Begitu juga kata-kata yang banyak berlaku pada lisan khalayak umum,
الْمَحْبُوبُ مَالَهُ عُيُوبٌ
“Orang yang dicintai itu tidak punya ragam aib diri.”
Nabi Adam As mengenakan mahkota pengganti Allah Swt di muka bumi lantaran kesalahan yang ia lakukan, sedangkan iblis Allah Swt sengsarakan lantaran ibadah yang ia lakukan beserta pengusiran, pelaknatan, penghinaan baginya. Allah pun menjanjikan tempat yang hina, tempatnya adzab, tempat murka-Nya yang abadi baginya lantaran satu kesalahan saja, yaitu keengganan untuk bersujud (hormat) pada nabi Adam As.
Maha Suci Dzat Allah yang mampu berkuasa pada hamba-Nya sesuai dengan kehendak-Nya.
Maka sejak itulah iblis menjadi simbol kesesatan, kesengsaraan, kejauhan, kerugian, pembangkangan, kemarahan, kerusakan, penyelewengan, kedustaan dan beragam kemaksiatan, kekufuran, kebatilan dan pelanggaran perintah Allah pada setiap yang dilarang oleh-Nya atau yang diperintahkan. Sebagaimana Nabi Muhammad Saw merupakan simbol hidayah, taufik, kesenangan dan kedekatan kepada Allah, simbol keberuntungan, ridha, kemaslahatan, petunjuk, kejujuran, juga simbol beragam ketaatan, keimanan, kebenaran, kepatuhan pada perintah Allah, simbol semua segi dalam mendekatkan diri pada-Nya, simbol semua kebaikan. Kedua sosok ini dalam alam hikmah merupakan dua wujud yang saling berseberangan dan bertolak belakang.
Sementara jika melihat pada sisi kehendak dzat, maka keduanya pun tidak memiliki apa-apa. Oleh karenanya, nabi Muhammad Saw bersabda,
بُعِثْتُ دَاعِيًا وَلَيْسَ لِي مِنَ الْهِدَايَةِ شَيْءٌ، وَبُعِثَ إِبْلِيسُ دَاعِيًا وَلَيْسَ لَهُ مِنَ الْغِوَايَةِ شَيْءٌ.
“Aku telah diutus menjadi penyeru dan aku tidak memiliki andil dalam urusan hidayah. Iblis diutus sebagai penyeru (pada keburukan) dan dia tidak memiliki andil dalam urusan menyesatkan.”
Begitu juga apa yang telah kami paparkari bahwa keduanya merupakan simbol yang tampak pada alam hikmahnya Allah Swt yang tampak. Sedangkan dalam sisi kehendak Allah Swt, maka iblis adalah bagian dari sisi hakikat Al Muhammadi. Karena hakikat Al Muhammadi inilah asal dari setiap simbol dan juga asal setiap perkara yang dikucurkan kepada makhluk.
-Selesai sudah apa yang di-imla’ kan pada kami dari hafalan dan perkataan Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra.-
Akupun mendengar Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra berkata:b
Sungguh kenabian Adam As diambil dari kandungan ayat-ayat diatas dan bukan dari sisi zhahir-nya.
Aku (Syaikh ‘Ali Harâzim) berkata, “Apakah ada hadits shahih yang menunjukkan sisi kenabian Adam As?.”
Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra menjawab:
Tidak ada, kecuali apa yang diriwayatkan dari Nabi kita Muhammad Saw dalam sabdanya,
إِنَّ سَيِّدَنَا أَدَمَ نَزَلَتْ عَلَيْهِ صَحِيفَةَ الْحُرُوفِ وَفِيهَا تِسْعَةٌ وَعِشْرُونَ حَرْفًا، قَالَ لَهُ بَعْضُ الصَّحَابَةِ : إِنَّهَا ثَمَانِيَةٌ وَعِشْرُونَ، قَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: بَلْ تِسْعَةٌ وَ عِشْرُونَ، قَالَ الصَّحَابِي : بِلَامِ الْأَلِفِ؟ قَالَ لَهُ: نَعَمْ, يَعْنِي أَنَّ لَامَ الْأَلِفِ مُرَكَّبٌ مِنْ حَرْفَيْنِ
“Sungguh telah diturunkan lembaran huruf-huruf kepada Adam As, yang didalamnya terdiri dari dua puluh sembilan huruf.” Sebagian sahabat berkata, “Sungguh itu hanya dua puluh delapan huruf.” Nabi Saw bersabda, “Bahkan ada dua puluh sembilan,” Seorang sahabat menimpali, “Apakah termasuk Lam Alif?” Beliau bersabda, “lya, maksudnya bahwa huruf Lam Alif itu terdiri dari dua huruf.”
Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra melanjutkan: Sungguh kenabian Adam As diambil dari kata “Al Khilafah,” karena sosok yang Allah Swt jadikan pengganti Dzatnya haruslah memiliki makna yang diharapkan Dzat yang memberikan, dalam kaitan dengan hal ini adalah membekalinya dengan semua nama alam semesta dan sisi ketuhanan, yang mana pada inilah semua peraturan alam semesta dan pondasinya bisa kokoh terbangun, hal ini seperti yang difirmankan oleh Allah Swt,
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَعَلَّمَ اٰدَمَ الْاَ سْمَآءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلٰٓئِكَةِ فَقَا لَ اَنْبِۢـئُوْنِيْ بِاَ سْمَآءِ هٰۤؤُلَآ ءِ اِنْ كُنْتُمْ صٰدِقِيْنَ
wa ‘allama aadamal-asmaaa-a kullahaa summa ‘arodhohum ‘alal-malaaa-ikati fa qoola ambi-uunii bi-asmaaa-i haaa-ulaaa-i ing kungtum shoodiqiin
“Dan Dia ajarkan kepada Adam nama-nama (benda) semuanya, kemudian Dia perlihatkan kepada para malaikat seraya berfirman, “Sebutkan kepada-Ku nama semua (benda) ini, jika kamu yang benar!””
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 31)
Pengetahuan nabi Adam As akan semua nama-nama ini merupakan cabang daripada maqam Ash-Shiddiqiyyah, akan tetapi cabang ini lebih tinggi dari maqam Ash-Shiddiqiyyah, dimana maqam Ash-Shiddiqiyyah hanya berkaitan dengan beragam hukum taklif (Hukum yang dibebankan kepada hamba Allah), sedangkan beragam hukum taklif ini hanya bersumber dari khabar kenabian, sementara beragam khabar kenabian tak lain bersumber dari Allah Swt untuk sebagian nabi-Nya, atau bersumber dari nabi untuk sebagian pengikutnya, sementara bagi nabi Adam As telah ditetapkan baginya semua yang disebutkan terkait khilafah dan maqam Ash-Shiddiqiyyah dimana tiada nabi sebelumnya, maka dialah nabi Allah Swt. Pola pemikiran demikian sudah diketahui oleh orang yang memiliki akal sehat.
Begitu juga firman-Nya, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
قُلْنَا اهْبِطُوْا مِنْهَا جَمِيْعًا ۚ فَاِ مَّا يَأْتِيَنَّكُمْ مِّنِّيْ هُدًى فَمَنْ تَبِـعَ هُدَايَ فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُوْنَ
qulnahbithuu min-haa jamii’aa, fa immaa ya-tiyannakum minnii hudang fa mang tabi’a hudaaya fa laa khoufun ‘alaihim wa laa hum yahzanuun
“Kami berfirman, “Turunlah kamu semua dari surga! Kemudian jika benar-benar datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa mengikuti petunjuk-Ku, tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati.””
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 38), Setelah firman-Nya, اهْبِطُوْا “Turunlah kamu semuanya”
Sungguh hidayah tidaklah datang dari Allah Swt kecuali bagi orang yang mendapatkannya dan ia tak lain adalah seorang nabi atau juga pewaris nabi, dimana Adam As ketika itu belum mewariskan seorang nabi, maka dialah nabi itu. Semoga Allah meridhoi penghulu dan guru kami atas penjelasan makna terdalam yang belum pernah tersingkap dari hasil imla beliau kepada Sayyidi Muhammad bin Al Musyri, dan Sayyidi Al Musyri mengimla kannya kepada kami.-
