You dont have javascript enabled! Please enable it!
Elsubha menjamin Garansi 100% Uang Kembali jika barang yang diterima adalah PALSU

Pembahasan 22. Aku bertanya kepada Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra tentang maksud firman Allah Swt (QS. At-Taubah 9: Ayat 117),
لَـقَدْ تَّا بَ اللّٰهُ عَلَى النَّبِيِّ وَا لْمُهٰجِرِيْنَ وَا لْاَ نْصَا رِ الَّذِيْنَ اتَّبَعُوْهُ فِيْ سَا عَةِ الْعُسْرَةِ مِنْۢ بَعْدِ مَا كَا دَ يَزِيْغُ قُلُوْبُ فَرِيْقٍ مِّنْهُمْ ثُمَّ تَا بَ عَلَيْهِمْ ۗ اِنَّهٗ بِهِمْ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ ۙ 

بسم الله الرحمن الرحيم اللهم صل على سيدنا محمد الفاتح لما أغلق والخاتم لما سبق ناصر الحق بالحق والهادي إلى صراطك المستقيم وعلى آله حق قدره ومقداره العظيم

Elsubha.com – Aku bertanya kepada Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra tentang maksud firman Allah Swt,

لَـقَدْ تَّا بَ اللّٰهُ عَلَى النَّبِيِّ وَا لْمُهٰجِرِيْنَ وَا لْاَ نْصَا رِ الَّذِيْنَ اتَّبَعُوْهُ فِيْ سَا عَةِ الْعُسْرَةِ مِنْۢ بَعْدِ مَا كَا دَ يَزِيْغُ قُلُوْبُ فَرِيْقٍ مِّنْهُمْ ثُمَّ تَا بَ عَلَيْهِمْ ۗ اِنَّهٗ بِهِمْ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ ۙ  
laqot taaballohu ‘alan-nabiyyi wal-muhaajiriina wal-angshoorillaziinattaba’uuhu fii saa’atil-‘usroti mim ba’di maa kaada yaziighu quluubu fariiqim min-hum summa taaba ‘alaihim, innahuu bihim ro-uufur rohiim

“Sungguh, Allah telah menerima tobat Nabi, orang-orang Muhajirin, dan orang-orang Ansar, yang mengikuti Nabi pada masa-masa sulit, setelah hati segolongan dari mereka hampir berpaling kemudian Allah menerima tobat mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih, Maha Penyayang kepada mereka,”
(QS. At-Taubah 9: Ayat 117)

“Lantas apa makna tobat pada hak nabi Muhammad Saw?”

Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra menjawab:

Maknanya adalah penjagaan bagi beliau dari melakukan dosa. Aku (Syaikh ‘Ali Harazim) menimpali, “Pada hak nabi Muhammad Saw memang demikian karena beliau ma’shum (terlindung dari perbuatan dosa besar). Sedangkan orang-orang yang disebutkan bersama beliau dalam ayat tersebut, maka apa makna penjagaan pada hak mereka ini? Apakah maknanya adalah dirinya tidak bisa melakukan perbuatan dosa seperti pada hak Nabi Muhammad Saw?.”

Maknanya adalah konsistensi tobat mereka dan tidak terus-menerus melakukan dosa. Jika ini adalah kondisi orang tersebut, maka ia seperti orang yang tidak pernah melakukan perbuatan dosa sama sekali, hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah Saw,

مَا أَصَرَّ مَنِ اسْتَغْفَرَ، وَلَوْ عَادَ فِي الْيَوْمِ سَبْعِينَ مَرَّةً

“orang yang beristighfar tidaklah dikatakan terus menerus melakukan kesalahan sekalipun ia ulang dosa itu sebanyak tujuh puluh kali.”

Makna lainnya adalah kembalinya seorang harnba pada Rabb-nya. Allah cinta pada hamba yang senantiasa kembali pada-Nya, yang beranggapan bahwa tidak ada lagi tempat berlindung dalam semua urusan mereka kecuali kepada-Nya. Jika ini adalah kondisi orang tersebut, maka ketika ia melakukan suatu dosa, iapun akan langsung bertobat kepada Allah Swt dan menjadi orang yang dicintai disisi-Nya.

-Selesai sudah apa yang di-imla’ kan pada kami dari hafalan dan perkataan Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra.-

Sumber : BUKU SAYYIDI SYAIKH RA MENJAWAB JILID 1 – KAJIAN SEPUTAR AL-QUR’AN (JAWAHIR AL MA’ANI) SYAIKH AL HAJJ ALI HARAZIM AT-TIJANY