
Elsubha.com – Aku bertanya kepada Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra tentang maksud firman Allah Swt,
وَا لَّذِيْنَ اِذَا فَعَلُوْا فَا حِشَةً اَوْ ظَلَمُوْۤا اَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللّٰهَ فَا سْتَغْفَرُوْا لِذُنُوْبِهِمْ ۗ وَمَنْ يَّغْفِرُ الذُّنُوْبَ اِلَّا اللّٰهُ ۗ وَلَمْ يُصِرُّوْا عَلٰى مَا فَعَلُوْا وَهُمْ يَعْلَمُوْنَ
wallaziina izaa fa’aluu faahisyatan au zholamuuu angfusahum zakarulloha fastaghfaruu lizunuubihim, wa may yaghfiruz-zunuuba illalloh, wa lam yushirruu ‘alaa maa fa’aluu wa hum ya’lamuun
“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzalimi diri sendiri, (segera) mengingat Allah, lalu memohon ampunan atas dosa-dosanya, dan siapa (lagi) yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan dosa itu, sedang mereka mengetahui”
(QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 135)
Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra menjawab:
Maknanya adalah bahwa Allah Swt memuji hamba-hamba-Nya yang dijanjikan masuk surga yang diantaranya adalah orang-orang yang apabila mereka melakukan perbuatan yang buruk atau menzhalimi diri mereka sendiri, mereka langsung memohon ampunan kepada Allah Swt.
Kami katakan terkait ayat ini, bahwa redaksi, ذَكَرُوا اللّٰهَ “Ingat akan Allah,” ada beberapa tingkatan:
1. Tingkatan kebanyakan orang secara umum adalah mengingat adzab dan pedihnya siksaan, hal ini membuat sisi batinnya pun turut merasakan kesakitan, sehingga membuat mereka memohon ampunan kepada Allah Swt dari perbuatan dosa tersebut.
2. Tingkatan orang khusus adalah ingat akan sindiran buruk dan cercaan bagi mereka dan tidak mengingat adzab Allah Swt, sebab mereka akan menjauhkan diri dari sindiran buruk dan cercaan Allah Swt, sebagaimana kebanyakan orang secara umum yang berlari menjauh dari adzab dan pedihnya siksaan Allah Swt. Jika mereka ingat dalam kondisi ini, maka mereka pun akan memohon ampunan dari dosa yang dilakukan.
3. Tingkatan orang super khusus adalah merasa malu kepada Allah Swt lantaran pengetahuan Allah akan dosa yang mereka lakukan. Dan malu kepada Allah karena kurangnya adab.
Jika mereka ingat Allah Swt dalam kondisi ini, maka mereka pun akan memohon ampunan Allah Swt dari dosa yang dilakukan.
Ibrahim bin Adham pernah berkata, “Aku taat kepada Allah Swt lalu aku dimasukkan kedalam neraka, maka itu lebih aku cintai daripada aku bermaksiat pada-Nya dan dimasukkan ke dalam surga.
Malulah kepada Allah Swt dari adab yang buruk dan pada perkara serta perbuatan yang buruk lantaran pengetahuan mereka bahwa itu adalah perbuatan buruk menurut Allah Swt. Didalam sebuah hadits disebutkan, Nabi Muhammad Saw bersabda,
اسْتَحْيُوا مِنَ اللَّهِ حَقَّ الحَيَاءِ ، قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّا نَسْتَحْيِي وَالْحَمْدُ لِلَّهِ، قَالَ: لَيْسَ ذَاكَ كَذَالِكَ، وَلَكِنَّ الحَيَاء أَنْ تَحْفَظَ الرَّأْسَ وَمَا وَعَى، وَالبَطْنَ وَمَا حَوَى، وَلْتَذْكُرِ الْمَوْتَ وَالبِلَى، وَمَنْ أَرَادَ الْآخِرَةَ تَرَكَ زِينَةَ الدُّنْيَا، فَمَنْ فَعَلَ ذَلِكَ فَقَدْ اسْتَحْيَا مِنَ اللَّهِ حَقَّ الحَيَاء.
“Malulah kalian pada Allah dengan sebenar-benamya malu,” para sahabat berkata, “Alhamdulillah sungguh kamipun sudah malu pada Allah,” Nabi Saw bersabda, “Malu itu bukanlah seperti itu, akan tetapi yang dinamakan malu adalah engkau menjaga kepala dan seisinya, menjaga perut dan seisinya, mengingat kematian dan cobaan, maka siapa yang telah melakukan itu, maka ia telah malu pada Allah Swt dengan sebenar-benamya rasa malu.”
-Selesai sudah apa yang di-imla’ kan pada kami dari hafalan dan perkataan Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra.
