You dont have javascript enabled! Please enable it!
Elsubha menjamin Garansi 100% Uang Kembali jika barang yang diterima adalah PALSU

Pembahasan 4. Aku bertanya kepada Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra tentang maksud firman Allah Swt (QS. Az-Zariyat 51: Ayat 56),
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَا لْاِ نْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ

بسم الله الرحمن الرحيم اللهم صل على سيدنا محمد الفاتح لما أغلق والخاتم لما سبق ناصر الحق بالحق والهادي إلى صراطك المستقيم وعلى آله حق قدره ومقداره العظيم

Elsubha.com – Aku bertanya kepada Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra tentang maksud firman Allah Swt,

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَا لْاِ نْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ
wa maa kholaqtul-jinna wal-ingsa illaa liya’buduun

“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.”
(QS. Az-Zariyat 51: Ayat 56)

Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra menjawab:

Ayat tersebut merupakan suratan dari Allah Swt yang berisikan hikmah. Kemudian ada ayat yang merupakan pesan dari Allah Swt dalam bingkai hakikat dan keinginan-Nya, seperti yang tertera dalam firman-Nya,

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَلَوْ شَآءَ رَبُّكَ لَجَـعَلَ النَّا سَ اُمَّةً وَّا حِدَةً وَّلَا يَزَا لُوْنَ مُخْتَلِفِيْنَ 
walau syaaa-a robbuka laja’alan-naasa ummataw waahidataw wa laa yazaaluuna mukhtalifiin

“Dan jika Tuhanmu menghendaki, tentu Dia jadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih (pendapat),“
(QS. Hud 11: Ayat 118)

اِلَّا مَنْ رَّحِمَ رَبُّكَ ۗ وَلِذٰلِكَ خَلَقَهُمْ ۗ وَتَمَّتْ كَلِمَةُ رَبِّكَ لَاَ مْلَـئَنَّ جَهَـنَّمَ مِنَ الْجِنَّةِ وَا لنَّا سِ اَجْمَعِيْنَ
illaa mar rohima robbuk, wa lizaalika kholaqohum, wa tammat kalimatu robbika la-amla-anna jahannama minal-jinnati wan-naasi ajma’iin

“kecuali orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu. Dan untuk itulah Allah menciptakan mereka. Kalimat (keputusan) Tuhanmu telah tetap, “Aku pasti akan memenuhi Neraka Jahanam dengan jin dan manusia (yang durhaka) semuanya.””
(QS. Hud 11: Ayat 119)

Maka inilah kenyataan yang terjadi karena kehendak Allah Swt tidak bisa dihilangkan begitu saja, sementara pesan hikmah dapat dihilangkan begitu saja pada sebagian makhluk Allah Swt. Oleh karena itu, perkara Allah Swt kembali kepada kehendak-Nya dan bukan kepada hikmah yang ada, sebab hikmah adalah turunan dari kehendak-Nya.

Pengarang kitab Al Hikam pernah berkata, “Segala sesuatu itu disandarkan kepada kehendak dan kehendak tidaklah disandarkan kepada sesuatu.” Maksudnya adalah tidak bisa dikatakan mengapa Allah Swt menghendaki ini dan tidak melakukan itu. Tidak ada cacat pada pilihan dan kehendak Allah Swt. Semua alam semesta ini ada atas dasar kehendak-Nya. Maka tidak ada sesuatupun; kecil maupun besar yang menyimpang dari kehendak ilahiyyah. Sebab, penciptaan ilahiyyah sama saja pada ini dan dalam setiap makhluk yang tercipta dan sesungguhnya penciptaan tersebutpun terlahir dari kalimat ilahiyyah, dimana Dia mengatakan kepada sesuatu tersebut “Kun (jadilah!)”.

Kalimat ilahiyyah ini disyaratkan adanya kehendak ilahiyyah sebelumnya. Tidaklah Allah Swt menyatakan “Kun (jadilah!)’ kecuali sebelumnya sudah ada kehendak-Nya untuk menciptakan. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

اِنَّمَا قَوْلُـنَا لِشَيْءٍ اِذَاۤ اَرَدْنٰهُ اَنْ نَّقُوْلَ لَهٗ كُنْ فَيَكُوْنُ
innamaa qoulunaa lisyai-in izaaa arodnaahu an naquula lahuu kung fa yakuun

“Sesungguhnya firman Kami terhadap sesuatu apabila Kami menghendakinya, Kami hanya mengatakan kepadanya, “Jadilah!” Maka jadilah sesuatu itu.”
(QS. An-Nahl 16: Ayat 40)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala pun berfirman dalam ayat lainnya,

اِنَّمَاۤ اَمْرُهٗۤ اِذَاۤ اَرَا دَ شَیْئًـا اَنْ يَّقُوْلَ لَهٗ كُنْ فَيَكُوْنُ
innamaaa amruhuuu izaaa arooda syai-an ay yaquula lahuu kung fa yakuun

“Sesungguhnya urusan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu Dia hanya berkata kepadanya, “Jadilah!” Maka jadilah sesuatu itu.”
(QS. Ya-Sin 36: Ayat 82)

Maka kehendak Allah Swt tidak terlepas dari kalimat ilahiyyah, dimana Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَمَاۤ اَرْسَلْنَا مِنْ رَّسُوْلٍ اِلَّا لِـيُـطَا عَ بِاِ ذْنِ اللّٰهِ ۗ وَلَوْ اَنَّهُمْ اِذْ ظَّلَمُوْۤا اَنْفُسَهُمْ جَآءُوْكَ فَا سْتَغْفَرُوا اللّٰهَ وَا سْتَغْفَرَ لَـهُمُ الرَّسُوْلُ لَوَجَدُوا اللّٰهَ تَوَّا بًا رَّحِيْمًا
wa maaa arsalnaa mir rosuulin illaa liyuthoo’a bi-iznillaah, walau annahum iz zholamuuu angfusahum jaaa-uuka fastaghfarulloha wastaghfaro lahumur-rosuulu lawajadulloha tawwaabar rohiimaa

“Dan Kami tidak mengutus seorang Rasul melainkan untuk ditaati dengan izin Allah. Dan sungguh, sekiranya mereka setelah menzalimi dirinya datang kepadamu (Muhammad), lalu memohon ampunan kepada Allah, dan Rasul pun memohonkan ampunan untuk mereka, niscaya mereka mendapati Allah Maha Penerima Tobat, Maha Penyayang.”
(QS. An-Nisa’ 4: Ayat 64)

Ini adalah pesan Allah Swt pada alam hikmah. Oleh karena itu ada sisi pelanggaran dan kekufuran sebagian manusia pada utusan Allah Swt.

Jikalau saja ketaatan makhluk berdasar pada kehendak-Nya, maka tidak mungkin ada seorangpun yang bermaksiat kepada utusan Allah Swt atau juga membangkang terhadap mereka. Allah Swt berfirman kepada Rasul-Nya Saw,

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

اِنَّكَ لَا تَهْدِيْ مَنْ اَحْبَبْتَ وَلٰـكِنَّ اللّٰهَ يَهْدِيْ مَنْ يَّشَآءُ ۗ وَهُوَ اَعْلَمُ بِا لْمُهْتَدِيْنَ
innaka laa tahdii man ahbabta wa laakinnalloha yahdii may yasyaaa, wa huwa a’lamu bil-muhtadiin

“Sungguh, engkau (Muhammad) tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang Dia kehendaki, dan Dia lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.”
(QS. Al-Qasas 28: Ayat 56)

Ayat ini menjelaskan bahwa hidayah semua makhluk untuk mengikuti utusan Allah Swt tidaklah ditetapkan berdasarkan kehendak-Nya. Sebab, jika dikaitkan dengan kehendak-Nya, maka tidak akan pernah terjadi pembangkangan terhadap salah seorang utusan Allah.

Sementara Allah Swt berfirman untuk Rasulullah Saw, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَاِ نْ كَا نَ كَبُرَ عَلَيْكَ اِعْرَا ضُهُمْ فَاِ نِ اسْتَطَعْتَ اَنْ تَبْتَغِيَ نَفَقًا فِى الْاَ رْضِ اَوْ سُلَّمًا فِى السَّمَآءِ فَتَأْتِيَهُمْ بِاٰ يَةٍ ۗ وَلَوْ شَآءَ اللّٰهُ لَجَمَعَهُمْ عَلَى الْهُدٰى فَلَا تَكُوْنَنَّ مِنَ الْجٰهِلِيْنَ
wa ing kaana kaburo ‘alaika i’roodhuhum fa inistatho’ta ang tabtaghiya nafaqong fil-ardhi au sullamang fis-samaaa-i fa ta-tiyahum bi-aayah, walau syaaa-allohu lajama’ahum ‘alal-hudaa fa laa takuunanna minal-jaahiliin

“Dan jika keberpalingan mereka terasa berat bagimu (Muhammad), maka sekiranya engkau dapat membuat lubang di bumi atau tangga ke langit lalu engkau dapat mendatangkan mukjizat kepada mereka, (maka buatlah). Dan sekiranya Allah menghendaki, tentu Dia jadikan mereka semua mengikuti petunjuk, sebab itu janganlah sekali-kali engkau termasuk orang-orang yang bodoh.”
(QS. Al-An’am 6: Ayat 35); maksud keberpalingan disini adalah ketika mereka kufur dan menentang, maka ini terkait dengan kondisi ketika jiwa belum bisa bersabar dengan kondisi keberpalingan ini, untuk ini Allah Swt melanjutkan firman-Nya,

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَاِ نْ كَا نَ كَبُرَ عَلَيْكَ اِعْرَا ضُهُمْ فَاِ نِ اسْتَطَعْتَ اَنْ تَبْتَغِيَ نَفَقًا فِى الْاَ رْضِ اَوْ سُلَّمًا فِى السَّمَآءِ فَتَأْتِيَهُمْ بِاٰ يَةٍ ۗ وَلَوْ شَآءَ اللّٰهُ لَجَمَعَهُمْ عَلَى الْهُدٰى فَلَا تَكُوْنَنَّ مِنَ الْجٰهِلِيْنَ
wa ing kaana kaburo ‘alaika i’roodhuhum fa inistatho’ta ang tabtaghiya nafaqong fil-ardhi au sullamang fis-samaaa-i fa ta-tiyahum bi-aayah, walau syaaa-allohu lajama’ahum ‘alal-hudaa fa laa takuunanna minal-jaahiliin

“Dan jika keberpalingan mereka terasa berat bagimu (Muhammad), maka sekiranya engkau dapat membuat lubang di bumi atau tangga ke langit lalu engkau dapat mendatangkan mukjizat kepada mereka, (maka buatlah). Dan sekiranya Allah menghendaki, tentu Dia jadikan mereka semua mengikuti petunjuk, sebab itu janganlah sekali-kali engkau termasuk orang-orang yang bodoh.”
(QS. Al-An’am 6: Ayat 35)

Yang Allah Swt inginkan adalah agar mereka mengikuti dan beriman padamu (Muhammad). Kemudian ditampakkan kepada beliau bahwa kekufuran dan keingkaran itu datang dari mereka lantaran kehendak Allah Swt, hal ini sesuai dengan firman-Nya,

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَاِ نْ كَا نَ كَبُرَ عَلَيْكَ اِعْرَا ضُهُمْ فَاِ نِ اسْتَطَعْتَ اَنْ تَبْتَغِيَ نَفَقًا فِى الْاَ رْضِ اَوْ سُلَّمًا فِى السَّمَآءِ فَتَأْتِيَهُمْ بِاٰ يَةٍ ۗ وَلَوْ شَآءَ اللّٰهُ لَجَمَعَهُمْ عَلَى الْهُدٰى فَلَا تَكُوْنَنَّ مِنَ الْجٰهِلِيْنَ
wa ing kaana kaburo ‘alaika i’roodhuhum fa inistatho’ta ang tabtaghiya nafaqong fil-ardhi au sullamang fis-samaaa-i fa ta-tiyahum bi-aayah, walau syaaa-allohu lajama’ahum ‘alal-hudaa fa laa takuunanna minal-jaahiliin

“Dan jika keberpalingan mereka terasa berat bagimu (Muhammad), maka sekiranya engkau dapat membuat lubang di bumi atau tangga ke langit lalu engkau dapat mendatangkan mukjizat kepada mereka, (maka buatlah). Dan sekiranya Allah menghendaki, tentu Dia jadikan mereka semua mengikuti petunjuk, sebab itu janganlah sekali-kali engkau termasuk orang-orang yang bodoh.”
(QS. Al-An’am 6: Ayat 35)

Dengan ayat ini, jelaslah bahwa kekufuran mereka sesuai dengan kehendak Allah Swt, demikianlah maksud dari pesan ini sampai firman-Nya,

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَا لَّذِيْنَ كَذَّبُوْا بِاٰ يٰتِنَا صُمٌّ وَّبُكْمٌ فِى الظُّلُمٰتِ ۗ مَنْ يَّشَاِ اللّٰهُ يُضْلِلْهُ ۗ وَمَنْ يَّشَأْ يَجْعَلْهُ عَلٰى صِرَا طٍ مُّسْتَقِيْمٍ
wallaziina kazzabuu bi-aayaatinaa shummuw wa bukmung fizh-zhulumaat, may yasya-illaahu yudhlil-hu wa may yasya yaj’al-hu ‘alaa shiroothim mustaqiim

“Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami adalah tuli, bisu, dan berada dalam gelap gulita. Barang siapa dikehendaki Allah (dalam kesesatan), niscaya disesatkan-Nya. Dan barang siapa dikehendaki Allah (untuk diberi petunjuk), niscaya Dia menjadikannya berada di atas jalan yang lurus.”
(QS. Al-An’am 6: Ayat 39)

Dengan ayat ini Allah Swt menjelaskan, bahwa kufunya orang kafir, sesatnya orang yang sesat, Islamnya seorang muslim dan hidayahnya orang yang mendapatkan hidayah, semua itu timbul dari kehendak ilahiyyah.

Nabi Saw bersabda,

بُعِثْتُ دَاعِيًا وَلَيْسَ لِي مِنَ الْهِدَايَةِ شَيْءٌ، وَبُعِثَ إِبْلِيسُ دَاعِيًا وَلَيْسَ لَهُ مِنَ الْغِوَايَةِ شَيْءٌ.

“Aku telah diutus menjadi penyeru dan aku tidak memiliki andil dalam urusan hidayah. Iblis diutus sebagai penyeru (pada keburukan) dan dia tidak memiliki andil dalam urusan menyesatkan.” Tetapi sesungguhnya itu datang dari kehendak Allah Swt yang tidak mungkin dipisahkan dari setiap orang.

Ibnu Al ‘Arif Ra berkata terkait dengan hak Allah Swt, “Tidak ada keterkaitan yang Allah pilihkan untuk mereka atau yang Allah berikan kepada mereka kecuali inayah; yaitu kehendak-Nya, dimana tidak ada sebab kecuali adanya hukum, tidak ada pula waktu kecuali adanya masa azali, maka selain itu adalah ketulian dan juga tipu daya belaka.”

Makna Al Azali adalah adanya hanya keberadaan Allah Swt semata, ini tidak ada hubungannya dengan yang lain. Nabi Saw bersabda,

كَانَ اللَّهُ وَلَا شَيْئَ مَعَهُ

“Hanya Allah dan tidak ada sesuatu yang bersamanya.”

Maka pada waktu itu bergantung dengan apa yang Allah beri dan apa yang Allah rinci, tidak ada yang tersisa kecuali hanya keridhaan dan juga penyerahan diri atas ketentuan Allah (ini adalah tafsir kata “Al Azali” dari perkataan Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra.

Sumber : BUKU SAYYIDI SYAIKH RA MENJAWAB JILID 1 – KAJIAN SEPUTAR AL-QUR’AN (JAWAHIR AL MA’ANI) SYAIKH AL HAJJ ALI HARAZIM AT-TIJANY