
Elsubha.com – Aku bertanya kepada Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra tentang maksud firman Allah Swt,
فَاَ مَّا الَّذِيْنَ شَقُوْا فَفِى النَّا رِ لَهُمْ فِيْهَا زَفِيْرٌ وَّشَهِيْقٌ
fa ammallaziina syaquu fa fin-naari lahum fiihaa zafiiruw wa syahiiq
“Maka adapun orang-orang yang sengsara, maka (tempatnya) di dalam neraka, di sana mereka mengeluarkan dan menarik nafas dengan merintih.”
(QS. Hud 11: Ayat 106)
خٰلِدِيْنَ فِيْهَا مَا دَا مَتِ السَّمٰوٰتُ وَا لْاَ رْضُ اِلَّا مَا شَآءَ رَبُّكَ ۗ اِنَّ رَبَّكَ فَعَّا لٌ لِّمَا يُرِيْدُ
khoolidiina fiihaa maa daamatis-samaawaatu wal-ardhu illaa maa syaaa-a robbuk, inna robbaka fa”aalul limaa yuriid
“Mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain). Sungguh, Tuhanmu Maha Pelaksana terhadap apa yang Dia kehendaki.”
(QS. Hud 11: Ayat 107)
Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra menjawab:
Maknanya dapat digiring kepada arti “Selagi langit dan bumi ini masih kokoh,” dan ini akan terus menerus terjadi sampai selamanya, seolah-olah dia berkata, “Selamanya mereka kekal didalamnya.”
Sebagian ahli tafsir mengatakan, “Itu adalah diksi yang digunakan kalangan Arab untuk menyatakan bahwa sesuatu itu tidak ada puncak atau titik akhirnya, sehingga seringkali mereka mengatakan, ‘selagi langit dan bumi masih berdiri kokoh’.”
Redaksi,
خٰلِدِيْنَ فِيْهَا مَا دَا مَتِ السَّمٰوٰتُ وَا لْاَ رْضُ اِلَّا مَا شَآءَ رَبُّكَ ۗ اِنَّ رَبَّكَ فَعَّا لٌ لِّمَا يُرِيْدُ
khoolidiina fiihaa maa daamatis-samaawaatu wal-ardhu illaa maa syaaa-a robbuk, inna robbaka fa”aalul limaa yuriid
“Mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain). Sungguh, Tuhanmu Maha Pelaksana terhadap apa yang Dia kehendaki.”
(QS. Hud 11: Ayat 107)
Makna pengecualian yang ada pada dua ayat ini adalah; orang mukmin pendosa yang mendapatkan ancaman Allah Swt, mereka memiliki jatah kesengsaraan lantaran banyaknya kedurjanaan dan kemaksiatan yang mereka lakukan; mereka ini kelak masuk ke dalam neraka bersama orang-orang kafir, kemudian mereka dikeluarkan lantaran ada keimanan dalam diri; dimana inilah batasan pengecualian bagi penghuni neraka (yaitu adanya keimanan diri, sementara mereka [orang kafir] tidak memilikinya), mereka pun memiliki jatah kebahagiaan dengan modal keimanan; dimana inilah batasan pengecualian bagi orang-orang yang mendapatkan kebahagiaan (yaitu lantaran adanya keimanan diri).
-Selesai sudah apa yang di-imla’ kan pada kami dari hafalan dan perkataan Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra.-
