You dont have javascript enabled! Please enable it!
Elsubha menjamin Garansi 100% Uang Kembali jika barang yang diterima adalah PALSU

Pembahasan 1. Aku bertanya kepada Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra tentang maksud hadits qudsi yang dikabarkan dari Allah Swt. Allah Swt berfirman,
أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِي فَإِنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِي نَفْسِي وَإِنْ ذَكَرَنِي فِي مَلَإٍ ذَكَرْتُهُ فِي مَلَإٍ خَيْرٍ مِنْهُمْ وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ بِشِبْرٍ تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ ذِرَاعًا وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ ذِرَاعًا تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ بَاعًا وَإِنْ أَتَانِي يَمْشِي أَتَيْتُهُ هَرْوَلَةً

بسم الله الرحمن الرحيم اللهم صل على سيدنا محمد الفاتح لما أغلق والخاتم لما سبق ناصر الحق بالحق والهادي إلى صراطك المستقيم وعلى آله حق قدره ومقداره العظيم

Elsubha.com – Aku bertanya kepada Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra tentang maksud hadits qudsi yang dikabarkan dari Allah Swt. Allah Swt berfirman,

أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِي فَإِنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِي نَفْسِي وَإِنْ ذَكَرَنِي فِي مَلَإٍ ذَكَرْتُهُ فِي مَلَإٍ خَيْرٍ مِنْهُمْ وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ بِشِبْرٍ تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ ذِرَاعًا وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ ذِرَاعًا تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ بَاعًا وَإِنْ أَتَانِي يَمْشِي أَتَيْتُهُ هَرْوَلَةً

“Aku sesuai prasangka hamba-Ku kepada-Ku. Dan Aku selalu bersamanya selama ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku dalam dirinya, maka Aku mengingatnya dalam diri-Ku. Jika ia mengingat-Ku dalam suatu kelompok, maka Aku mengingatnya dalam kelompok yang lebih baik darinya. Barangsiapa mendekat kepada-Ku sejengkal, maka Aku mendekat kapadanya sehasta. Jika ia mendekat kepada-Ku sehasta, maka Aku mendekat kepadanya sedepa. Jika ia mendatangi-Ku dengan berjalan kaki, maka Aku mendatanginya dengan berlari.”

Aku bertanya kepada beliau tentang maksud hadits yang mulia ini dan rahasia besar yang tersimpan di dalamnya.

Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra menjawab:

Redaksi kata “عِنْدَ” dalam hadits tersebut termasuk kalimat kinayah ilahiyyah. Ilmu tentang kinayah ilahiyyah adalah ilmu yang khusus dimiliki oleh para rasul.

Dalam ilmu kinayah ada ragam ungkapan yang secara kasat mata mustahil dilakukan secara nyata oleh Dzat Allah Swt; seperti turun, mendekat, bergantung, menyertai, bersama, datang, tertawa dan kagum. Contoh yang lain banyak sekali dalam syari’at dan secara zhahir mustahil dilakukan oleh Allah Swt. Hanya saja, ungkapan-ungkapan tersebut diucapkan oleh para rasul untuk menjelaskan hal-hal ghaib yang tidak diketahui kenyataannya dalam hakikat Allah Swt. Kemudian mereka mengungkap kannya dengan ungkapan yang dapat dimengerti oleh para makhluk.

Golongan Shiddiqin lah yang memahami maksud ungkapan tersebut. Sedangkan orang yang tidak termasuk golongan mereka, ia tidak akan memahaminya sedikitpun. Dan diantara contoh ilmu kinayah adalah hadits di atas.

Redaksi, أَنَا عِنْدَ ظَنْ عَبْدِي بِي ” Aku sesuai prasangka hamba-Ku”. Kata “عِنْدَ (disisi)” mengindikasikan bahwa Allah Swt ada di sebuah tempat, karena hamba tersebut menetap di sebuah tempat. Yang demikian itu mustahil bagi Allah Swt, karena mustahil bagi-Nya tinggal di sebuah tempat dan keluar darinya. Yang dimaksud kata “عِنْدَ” adalah Allah Swt memenuhi keinginan hamba tersebut sesuai dengan prasangkanya kepada-Nya. Barangsiapa yang berprasangka baik kepada Tuhannya, ia akan mendapatkan kebaikan dari-Nya dan barangsiapa yang berprasangka selain itu kepada-Nya, ia akan mendapatkan selain itu pula.

Kulit-kulit orang musyrik pun akan bersaksi atas perbuatan mereka di hadapan Allah Swt saat orang-orang musyrik berkata kepada kulit-kulit mereka, “Kenapa kalian bersaksi terhadap kami?” Kulit-kulit itupun berkata kepada mereka,

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَقَا لُوْا لِجُلُوْدِهِمْ لِمَ شَهِدْتُّمْ عَلَيْنَا ۗ قَا لُوْۤا اَنْطَقَنَا اللّٰهُ الَّذِيْۤ اَنْطَقَ كُلَّ شَيْءٍ وَّهُوَ خَلَقَكُمْ اَوَّلَ مَرَّةٍ وَّاِلَيْهِ تُرْجَعُوْنَ
wa qooluu lijuluudihim lima syahittum ‘alainaa, qooluuu angthoqonallohullaziii angthoqo kulla syai-iw wa huwa kholaqokum awwala marrotiw wa ilaihi turja’uun

“Dan mereka berkata kepada kulit mereka, “Mengapa kamu menjadi saksi terhadap kami?” (Kulit) mereka menjawab, “Yang menjadikan kami dapat berbicara adalah Allah, yang (juga) menjadikan segala sesuatu dapat berbicara, dan Dialah yang menciptakan kamu yang pertama kali dan hanya kepada-Nya kamu dikembalikan.””
(QS. Fussilat 41: Ayat 21)

وَمَا كُنْتُمْ تَسْتَتِرُوْنَ اَنْ يَّشْهَدَ عَلَيْكُمْ سَمْعُكُمْ وَلَاۤ اَبْصَا رُكُمْ وَلَا جُلُوْدُكُمْ وَلٰكِنْ ظَنَنْتُمْ اَنَّ اللّٰهَ لَا يَعْلَمُ كَثِيْرًا مِّمَّا تَعْمَلُوْنَ
wa maa kungtum tastatiruuna ay yasy-hada ‘alaikum sam’ukum wa laaa abshoorukum wa laa juluudukum wa laaking zhonangtum annalloha laa ya’lamu kasiirom mimmaa ta’maluun

“Dan kamu tidak dapat bersembunyi dari kesaksian pendengaran, penglihatan, dan kulitmu terhadapmu bahkan kamu mengira Allah tidak mengetahui banyak tentang apa yang kamu lakukan.”
(QS. Fussilat 41: Ayat 22)

وَذٰلِكُمْ ظَنُّكُمُ الَّذِيْ ظَنَنْتُمْ بِرَبِّكُمْ اَرْدٰٮكُمْ فَاَ صْبَحْتُمْ مِّنَ الْخٰسِرِيْنَ
wa zaalikum zhonnukumullazii zhonangtum birobbikum ardaakum fa ashbahtum minal-khoosiriin

“Dan itulah dugaanmu yang telah kamu sangkakan terhadap Tuhanmu, (dugaan itu) telah membinasakan kamu, sehingga jadilah kamu termasuk orang yang rugi.”
(QS. Fussilat 41: Ayat 23)

Allah Swt juga menyebutkan sifat orang-orang munafik, seraya Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

ثُمَّ اَنْزَلَ عَلَيْكُمْ مِّنْۢ بَعْدِ الْغَمِّ اَمَنَةً نُّعَا سًا يَّغْشٰى طَآئِفَةً مِّنْكُمْ ۙ وَطَآئِفَةٌ قَدْ اَهَمَّتْهُمْ اَنْفُسُهُمْ يَظُنُّوْنَ بِا للّٰهِ غَيْرَ الْحَـقِّ ظَنَّ الْجَـاهِلِيَّةِ ۗ يَقُوْلُوْنَ هَلْ لَّنَا مِنَ الْاَ مْرِ مِنْ شَيْءٍ ۗ قُلْ اِنَّ الْاَ مْرَ كُلَّهٗ لِلّٰهِ ۗ يُخْفُوْنَ فِيْۤ اَنْفُسِهِمْ مَّا لَا يُبْدُوْنَ لَكَ ۗ يَقُوْلُوْنَ لَوْ كَا نَ لَنَا مِنَ الْاَ مْرِ شَيْءٌ مَّا قُتِلْنَا هٰهُنَا ۗ قُلْ لَّوْ كُنْتُمْ فِيْ بُيُوْتِكُمْ لَبَرَزَ الَّذِيْنَ كُتِبَ عَلَيْهِمُ الْقَتْلُ اِلٰى مَضَا جِعِهِمْ ۚ وَلِيَبْتَلِيَ اللّٰهُ مَا فِيْ صُدُوْرِكُمْ وَلِيُمَحِّصَ مَا فِيْ قُلُوْبِكُمْ ۗ وَا للّٰهُ عَلِيْمٌ بِۢذَا تِ الصُّدُوْرِ
summa angzala ‘alaikum mim ba’dil-ghommi amanatan nu’aasay yaghsyaa thooo-ifatam mingkum wa thooo-ifatung qod ahammat-hum angfusuhum yazhunnuuna billaahi ghoirol-haqqi zhonnal-jaahiliyyah, yaquuluuna hal lanaa minal-amri ming syaii, qul innal-amro kullahuu lillaah, yukhfuuna fiii angfusihim maa laa yubduuna lak, yaquuluuna lau kaana lanaa minal-amri syai-um maa qutilnaa haahunaa, qul lau kungtum fii buyuutikum labarozallaziina kutiba ‘alaihimul-qotlu ilaa madhooji’ihim, wa liyabtaliyallohu maa fii shuduurikum wa liyumahhisho maa fii quluubikum, wallohu ‘aliimum bizaatish-shuduur

“Kemudian setelah kamu ditimpa kesedihan, Dia menurunkan rasa aman kepadamu (berupa) kantuk yang meliputi segolongan dari kamu, sedangkan segolongan lagi telah dicemaskan oleh diri mereka sendiri; mereka menyangka yang tidak benar terhadap Allah seperti sangkaan jahiliah. Mereka berkata, “Adakah sesuatu yang dapat kita perbuat dalam urusan ini?” Katakanlah (Muhammad), “Sesungguhnya segala urusan itu di tangan Allah.” Mereka menyembunyikan dalam hatinya apa yang tidak mereka terangkan kepadamu. Mereka berkata, “Sekiranya ada sesuatu yang dapat kita perbuat dalam urusan ini, niscaya kita tidak akan dibunuh (dikalahkan) di sini.” Katakanlah (Muhammad), “Meskipun kamu ada di rumahmu, niscaya orang-orang yang telah ditetapkan akan mati terbunuh itu keluar (juga) ke tempat mereka terbunuh.” Allah (berbuat demikian) untuk menguji apa yang ada dalam dadamu dan untuk membersihkan apa yang ada dalam hatimu. Dan Allah Maha Mengetahui isi hati.”
(QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 154)

Allah Swt menyebutkannya untuk mencela mereka.

Disebutkan dalam sebuah khabar bahwa Allah Swt memanggil seorang hamba ke hadapan-Nya, lalu Dia bertanya kepadanya, “Apa yang mendorongmu untuk berbuat maksiat kepada-Ku, sehingga kamu menyelisihi perintah-Ku?” -atau yang semakna dengannya-. Hamba itu menjawab, “Tuhan, aku menduga bahwa Engkau akan mengampuniku.” Lalu Dia pun mengampuninya sebab prasangkanya yang baik itu.

Diriwayatkan tentang Yahya bin Aktsam-dan kepribadiannya cukup dikenal-, bahwa orang yang melihatnya dalam mimpi berkata dan bertanya kepadanya, “Apa yang Allah perbuat kepadamu?” Dia menjawab, “Dia telah mengampuniku.” Orang itu bertanya lagi, “Sebab apa?” Dia menjawab, “Allah Swt berkata kepadaku, ‘Kamu telah melakukan ini, kamu telah melakukan ini, dan kamu telah melakukan ini’. Aku berkata, ‘Tuhanku, tidak seperti ini yang diceritakan kepadaku tentang-Mu.’ Dia bertanya, ‘Lantas apa yang diceritakan kepadamu tentang Aku?’ Aku menjawab, ‘Fulan menceritakan kepadaku dari fulan, -kemudian ia menyebutkan semua periwayat hingga sampai kepada Nabi Saw-, bahwa Nabi Saw bersabda,

إِنَّ اللَّهَ يَسْتَحْيِ مِنْ ذِي الشَّيْبَةِ الْمُسْلِمِ أَنْ يُعَذِّبَهُ

“Sesungguhnya Allah Swt malu kepada seorang muslim yang telah beruban (tua) untuk mengadzabnya.” -atau hadits yang semakna dengannya-.’ Dia pun berkata, ‘Benar apa yang dikatakan si fulan dan fulan.’ Kemudian Dia menyebutkan semua periwayat, lalu Dia berkata, ‘Pergilah, Aku mengampunimu’.”

Inilah pengaruh berbaik sangka kepada Allah Swt. Orang yang berprasangka baik kepada Allah, maka Dia akan memperlakukannya dengan baik dan orang yang berprasangka buruk, maka Diapun akan memperlakukan-nya sesuai dengan prasangkanya. Jika yang berprasangka bahwa Allah Swt hanya memiliki siksa dan adzab, maka Allah Swt akan memperlakukannya dengan itu dan orang yang berprasangka bahwa Allah Swt memiliki ampunan, maka Allah Swt akan memperlaku kannya dengan itu pula.

Nabi Saw bersabda saat seorang A’rabi bertanya kepada beliau, “Siapa yang akan menguasai hisab (amal) manusia pada Hari Kiamat?” Nabi Saw menjawab,

اللّٰهُ يَتَوَلَّى حِسَابَ الْخَلْقِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Allah-lah yang akan menguasai hisab (amal) manusia pada Hari Kiamat.”

A’rabi itu bertanya lagi, “Dengan diri-Nya sendiri?” Beliau menjawab, “Dengan diri-Nya sendiri.” A’rabi itupun tertawa cukup keras. Nabi Saw bertanya kepadanya, “Kenapa kamu tertawa hai A’rabi? Dia menjawab, “Sungguh bila Dzat Yang Maha Dermawan yang menghisab, maka Dia akan memberi kemurahan dan bila Dia yang berkuasa, maka Dia akan mengampuni.” Nabi Saw pun diam dan meninggalkannya bersama prasangkanya yang baik itu, beliau tidak mengusiknya sedikitpun.

Berprasangka baik kepada Allah Swt, walaupun pemiliknya termasuk orang yang suka berbuat dosa, dimana hal itulah yang tertancap dalam lubuk hatinya-, maka prasangka baik itu akan bermanfaat baginya saat ia berjumpa dengan Allah Swt. Prasangkanya yang baik kepada Allah tidak melampaui batas kebatilan, tetapi tetap dalam koridor syari’at dan mendorong untuk memiliki rasa takut kepada Allah Swt. Para ulama menyebut hakikat prasangka baik ini sebagai bentuk bujukan kepada Allah Swt.

Abu Nawwas sang penyair yang masyhur berkata: “Salah satu orang yang shalih berkata: Aku melihatnya dalam mimpi setelah ia meninggal dunia dalam keadaan yang baik lagi terpuji, aku bertanya kepadanya, “Apa yang Allah lakukan kepadamu?”

Abu Nawwas menjawab, “Dia telah mengampuni-ku.” Aku bertanya lagi, “Sebab apa?” Ia menjawab, “Sebab beberapa bait syair yang aku baca menjelang tidurku.” Aku bertanya, “Dimana bait syair itu?” Ia menjawab, “Ada di bawah bantalku.” Akupun mencari bantal itu dan di bawahnya terdapat empat bait syair berikut:

يَا رَبِّ إِنْ عَظُمَتْ ذُنُوبِي كَثْرَةً # فَلَقَدْ عَلِمْتُ بِأَنَّ عَفْوَكَ أَعْظَمُ

أَدْعُوْكَ رَبِّي كَمَا أَمَرْتَ تَضَرُّعًا # فَإِذَا رَدَدْتَ يَدِي فَمَنْ ذَا يَرْحَمُ

إِنْ كَانَ لَا يَرْجُوْكَ إِلَّا مُحْسِنٌ # فَمَنِ الَّذِي يَرْجُوا الْمُسِيءُ الْمُجْرِمُ

مَا لِي إِلَيْكَ وَسِيْلَةٌ إِلَّا الرَّجَا # وَجَمِيلٌ ظَنِّى ثُمَّ إِنِّي مُسْلِمُ

“Wahai Tuhanku, andai memang dosaku begitu besar # maka sungguh aku tahu bahwa ampunan-Mu lebih besar.

Aku berdoa kepada-Mu hai Tuhan-Ku sebagaimana yang Kau perintahkan dengan sepenuh hati # Bila Kau tak mengabulkan doaku, maka siapa lagi yang memiliki kasih sayang (selain-Mu).

Andai tak ada yang berharap kepada-Mu selain orang yang baik, # lantas kepada siapakah pelaku dosa akan berharap.

Tak ada perantara antara aku dan Engkau selain harapan # dan prasangkaku yang baik, kemudian aku berserah diri.”

Allah Swt mengampuni dosanya sebab beberapa bait syair tersebut. Secara keseluruhan yang dapat dijadikan hujjah adalah orang yang berjumpa dengan Allah Swt dalam keadaan berprasangka baik, bahwa Dia akan mengampuni dosa-dosanya, walaupun ia termasuk orang yang suka berbuat dosa, maka ia akan mendapatkan ampunan dari Tuhannya.

Begitu pula orang yang tidak berprasangka demikian, maka urusannya kembali kepada Allah Swt. Bahkan lebih baik lagi jika ia senantiasa bersungguh-sungguh (meminta ampunan) dari dosa-dosanya dalam kesehariannya, dengan memohon ampunan dan dijauhkan dari siksaan, maka tidak ada lagi kondisi kebatilan dirinya di hadapan Allah. Nah, orang yang menginginkan kondisi diri seperti ini, seyogyanya banyak membaca hizb tadharru. Silahkan cek kembali hizb tersebut.

Diriwayatkan dari sebagian orang awam yang suka melakukan perbuatan yang tidak disukai. Lalu ia meninggal dunia. Kemudian terlihat dalam sebuah mimpi bahwa ia dalam keadaan yang baik. Orang yang bermimpi itu bertanya kepadanya, “Apa yang dilakukan Allah kepadamu?” Ia menjawab, “Allah melakukan demikian dan demikian kepadaku, maksudnya kebaikan-.” la bertanya lagi, “Sebab apa?” la menjawab, “Sebab do’a yang aku panjatkan dengan sungguh-sungguh.” la bertanya lagi, “Do’a apa itu?” la menjawab, “Aku mengucapkan:

أَللَّهُمَّ يَا سَيِّدِى، حَبَسْتَ مَنْ حَبَسْتَ عَنْ خِدْمَتِكَ، وَأَطْلَقْتَ لَهَا مَنْ أَحْبَبْتَ مِنْ خَلْقِكَ غَيْرَ ظَالِمٍ وَلَا مَسْؤُوْلٍ عَنْ فِعْلِكَ، وَقَدْ تَقَدَّمَتْ لِي فِيْكَ أَمَالٌ، فَلَا تَجْمَعْ عَلَيَّ الْمَنْعَ مِنَ الطَّاعَةِ مَعَ خَيْبَةِ الْأَمَالِ فِيْكَ يَا كَرِيمُ

‘Ya Allah, wahai Tuanku, Engkau menahan orang yang Kau tahan dari melayani-Mu dan melepaskan untuk melakukannya, orang yang Kau cintai dari makhluk-Mu. (Kau berbuat itu) tanpa berbuat zhalim dan tanpa dimintai pertanggungjawaban dari perbuatan-Mu. Banyak keinginanku yang aku panjatkan kepada-Mu, maka jauhkanlah dariku halangan untuk melakukan ketaatan bersama hilangnya harapanku kepada-Mu, wahai Dzat Yang Maha Dermawan’.”

Redaksi, وَأَناَ مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِي “Dan Aku selalu
bersamanya selama ia mengingat-Ku”. Maksud kata “bersama” dalam hadits ini termasuk kata kinayah ilahiyyah, kecuali kata “bersama” didalam firman Allah Swt, ۚAllah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

هُوَ الَّذِيْ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَا لْاَ رْضَ فِيْ سِتَّةِ اَيَّا مٍ ثُمَّ اسْتَوٰى عَلَى الْعَرْشِ ۗ يَعْلَمُ مَا يَلِجُ فِى الْاَ رْضِ وَمَا يَخْرُجُ مِنْهَا وَمَا يَنْزِلُ مِنَ السَّمَآءِ وَمَا يَعْرُجُ فِيْهَا ۗ وَهُوَ مَعَكُمْ اَيْنَ مَا كُنْتُمْ ۗ وَا للّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ بَصِيْرٌ
huwallazii kholaqos-samaawaati wal-ardho fii sittati ayyaaming summastawaa ‘alal-‘arsy, ya’lamu maa yaliju fil-ardhi wa maa yakhruju min-haa wa maa yangzilu minas-samaaa-i wa maa ya’ruju fiihaa, wa huwa ma’akum aina maa kungtum, wallohu bimaa ta’maluuna bashiir

“Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa; kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar dari dalamnya, apa yang turun dari langit dan apa yang naik ke sana. Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.”
(QS. Al-Hadid 57: Ayat 4); karena kata “bersama” dalam ayat ini adalah sifat yang melekat bagi Allah Swt. Sedangkan kata “bersama” dalam hadits di atas adalah bersama dengan memberi pertolongan dan cinta, karena Dia selalu bersama orang yang berdzikir dengan memberi pertolongan dan cinta, sebagaimana kebersamaan-Nya beserta orang yang sabar dalam jihad dengan memberi bantuan dan kekuatan.

Hal ini juga seperti firman Allah Swt,

فَلَا تَهِنُوْا وَتَدْعُوْۤا اِلَى السَّلْمِ ۖ وَاَ نْـتُمُ الْاَ عْلَوْنَ ۖ وَا للّٰهُ مَعَكُمْ وَلَنْ يَّتِـرَكُمْ اَعْمَا لَـكُمْ
fa laa tahinuu wa tad’uuu ilas-salmi wa angtumul-a’lauun, wallohu ma’akum wa lay yatirokum a’maalakum

“Maka janganlah kamu lemah dan mengajak damai, karena kamulah yang lebih unggul, dan Allah (pun) bersama kamu, dan Dia tidak akan mengurangi segala amalmu.”
(QS. Muhammad 47: Ayat 35)

Redaksi, مَعَكُمْ “bersama” dalam ayat ini adalah dengan memberi bantuan dan kekuatan setelah cinta dan pertolongan, karena Allah Swt bersama orang yang sabar dalam berjihad di jalan-Nya dengan memberi pertolongan, cinta, bantuan dan kekuatan.

Hal ini pun seperti yang disinyalir dalam hadits Nabi Saw,

إِنَّ اللَّهَ مَعَ الدَّائِنِ حَتَّى يَقْضِيَ دَيْنَهُ

“Allah bersama orang yang memberi hutang hingga orang yang berhutang melunasinya.”

Redaksi, مَعَ “bersama” dalam hadits ini adalah memberi pertolongan dan kemudahan. Bahkan Abdullah bin Ja’far Ra yang merupakan salah satu sahabat yang kaya raya, tidak mau terlepas dari utang-piutang. Ada yang berkata kepadanya, “Kamu tidak butuh pada hal ini.” Lantas ia menyebutkan hadits di atas. Kemudian ia berkata, “Aku ingin Allah selalu bersamaku.”

Redaksi, مَعَكُمْ “bersama” disini maksudnya adalah kebersamaan sifat. Yaitu bersama orang yang berdzikir dengan cinta dan pertolongan, bersama orang yang sabar dalam jihad dengan cinta, pertolongan, bantuan dan kekuatan dan bersama orang yang memberi hutang dengan pertolongan dan kemudahan.

Dengan demikian, maka مَعَكُمْ “bersama” dalam firman Allah Swt, وَهُوَ مَعَكُمْ اَيْنَ مَا كُنْتُمْ “Dan Dia bersama kamu dimana saja kamu berada.” (Qs. Al Hadid [57]: 4) adalah kebersamaan Dzat. Karena Allah bersama setiap sesuatu dengan Dzat-Nya. Hal ini tidak mungkin terpisah; maksudnya adalah terpisah dari tingkatan ini, karena Allah selalu bersama setiap sesuatu, tanpa harus menempati dan bersentuhan. Juga tanpa berpisah, tanpa jarak, dekat dan jauh, karena yang demikian itu adalah sifat Dzat-Nya Allah Swt.

Yang perlu dicatat adalah, bahwa kebersamaan sifat ini masih terikat dengan syarat. Misalnya, bersama orang yang berdzikir dengan cinta dan pertolongan bila ia adalah orang yang berdzikir. Kondisi ini bisa hilang, jika yang bersangkutan tidak berdzikir sama sekali atau tanpa berdzikir kembali. Namun, jika ia berhenti untuk istirahat diantara waktu-waktu dzikir, maka kebersamaan Allah tidak akan terputus darinya. Allah akan senantiasa bersamanya dengan cinta dan pertolongan, karena Dia berfirman dalam hadits qudsi,

إِذَا اطَّلَعْتُ عَلَى قَلْبِ عَبْدِي، فَرَأَيْتُ الْغَالِبَ عَلَيْهِ ذِكْرِى مَلَاتُهُ بِحُبِّي

“Apabila Aku muncul dalam hati hamba-Ku, lalu Aku melihat dzikir kepada-Ku menguasai hatinya, maka Aku akan memenuhinya dengan cinta-Ku.”

Yang jelas, cinta Allah adalah puncak semua tujuan. Maka barangsiapa yang mendapatkan cinta Allah Swt, pasti ia akan bahagia selamanya.

Nabi Saw pernah mencambuk seseorang karena minum khamer. la sering melakukannya, hingga Nabi Saw mencambuknya. Lalu seorang sahabat berkata kepada orang tersebut, “Semoga Allah melaknatmu.” Maka, Nabi Saw bersabda,

لاَ تَلْعَنْهُ فَإِنَّهُ يُحِبُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ

“Janganlah kamu melaknatnya, karena ia mencintai Allah dan Rasul-Nya.”

Dosanya tidak dapat mengeluarkan kemuliaan cintanya kepada Allah Swt.”

Nabi Saw bersabda dalam hadits lainnya,

وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ …

“Dia (Allah) berfirman: Hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan sunah hingga Aku mencintai-Nya. Bila Aku sudah mencintainya, maka Aku menjadi pendengaran-Nya…….”

Yang perlu menjadi catatan disini adalah, bahwa amalan sunah yang paling dahsyat sebagai media untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt adalah berdzikir. Demikian juga dengan shalat yang disertai dengan hadirnya hati, karena shalat itu seperti dzikir. Sesekali seorang hamba akan berdzikir dan sesekali ia akan beristirahat, jika Allah Swt melihatnya dalam kondisi ini, maka Dia akan menuangkan cahaya ilahiyyah ke dalam hatinya, cahaya yang dapat membuat hatinya melupakan selain Allah Swt. Hatinya pun dipenuhi dzikir kepada Allah Swt.

Dengan itulah, hati akan menjadi tenang dengan dzikir kepada Allah, kemudian dari rasa tenang itu, ia akan berpindah kepada murâqabah (merasa diawasi Allah)- yaitu kondisi jiwa yang sangat mulia, yang tidak bisa didapat kecuali oleh para salik (penempuh jalan spiritual)-. Jika kondisi itu sudah dimiliki oleh seorang hamba dan bersemayam dalam hatinya, maka itu akan membuatnya lupa akan semua ciptaan Allah (dzuhul), kemudian membuatnnya mabuk (sakr)-yaitu situasi di atas dzuhul, kemudian membuatnya fana dari semua ciptaan Allah Swt namun ia masih merasakan ke-fanaan dirinya serta kemudian membuatnya fana dari kondisi fana’.

Jika ia sudah sampai pada batasan ini, maka simalah selain Allah Swt dengan hancurnya semua ilustrasi dan ketakjuban, hancur pula semua pengaruh hingga tidak ada yang tersisa selain Allah, dengan Allah, di dalam Allah, dari Allah. Inilah pintu masuk menuju cinta Dzat Allah Swt; puncak di atas segala puncak.

Apabila seorang hamba sudah sampai pada batas ini, maka tersingkaplah baginya hijab hadrah Allah yang Maha Suci, kemudian muncullah cahaya ma’rifat padanya, lalu diangkatlah semua penutup sisi hadhrah ilahiyyah yang berupa ilmu, ma’rifat, asrâr, anwâr, ahwâl yang luhur, akhlak yang mulia, tauhid, tajrîd, tafrid, hikmah, hakikat dan keajaiban yang tidak dapat dipelajari dan tidak dapat diceritakan. Inilah puncak di atas segala puncak.

Amalan sunah yang paling banyak mengantarkan pada puncak itu adalah dzikir yang dilakukan secara terus menerus, karena dzikiranlah yang dapat mendatangkan semua pemberian Allah Swt tersebut.

Redaksi, فَإِنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ في نَفْسِي “Andai ia mengingat-Ku dalam dirinya, maka Aku mengingatnya dalam diri-Ku.” Maksud sabda Nabi Saw ini adalah mengabarkan dari Allah Swt bahwa jika ia (seorang hamba) mengingat-Ku dalam dirinya, maka Aku mengingatnya dalam diri-Ku. Kalimat ini termasuk kalimat kinayah ilahiyyah. Karena pada hakikatnya tidak ada satu perkara pun yang keluar dari ingatan-Nya, sebab semua ciptaan terekam jelas dalam hakikat pengetahuan ilahiyyah, yang tidak akan pernah terlupakan walau hanya sesaat.

Jadi, simbol Allah mengingat dalam diri-Nya adalah hakikat pengetahuan-Nya Allah Swt terhadap semua ciptaan. Jika hal ini telah diketahui, maka hadits itu menunjukkan bahwa mengingat di dalamnya adalah mengingat secara khusus, bukan mengingat yang terdapat dalam hakikat pengetahuan ilahiyyah, karena mengingat khusus ini dijadikan balasan Allah Swt terhadap ingatnya seorang hamba dimana Allah Swt sampai berfirman,

فَا ذْكُرُوْنِيْۤ اَذْكُرْكُمْ وَا شْکُرُوْا لِيْ وَلَا تَكْفُرُوْنِ
fazkuruuniii azkurkum wasykuruu lii wa laa takfuruun

“Maka ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu ingkar kepada-Ku.”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 152)

Maksud mengingat dalam ayat ini adalah pemberian pahala dzikir saja. Kemudian, jika seorang hamba mengingat dalam dirinya, maka Allah Swt akan memberinya pahala yang tidak dapat dihitung oleh akal  dan Dia akan menyembunyikannya dari makhluk. Allah Swt tidak akan menampakkan pahala itu kepadanya, kecuali setelah Dia memasukkannya ke dalam surga. Allah akan berkata kepadanya, “Inilah pahalamu yang telah mengingat-Ku.” Tidak ada satu malaikat pun yang datang kepadanya hingga malaikat hafazhah sekalipun.

Redaksi, وَإِنْ ذَكَرَنِي فِي مَلَإٍ ذَكَرْتُهُ فِي مَلَإٍ خَيْرٍ مِنْهُمْ “Andai ia  mengingat-Ku dalam sebuah kelompok, maka Aku akan mengingatnya dalam kelompok yang lebih baik darinya.” Maksudnya adalah, jika ia menampakkan dzikir kepada-Ku dalam sekumpulan manusia dan memperlihatkannya, maka Aku akan menyebutnya dalam sekumpulan yang lebih baik darinya, karena Allah Swt berfirman, “Aku persaksikan kepada kalian, bahwa Aku memberikan kepada si fulan karena ia mengingat-Ku, ini dan itu, ini dan itu dari berbagai macam kebaikan.”

Inilah dzikir yang Allah Swt tampakkan kepada para malaikat. Allah memadukan antara pujian terhadap seorang hamba dengan pemberian kepadanya.

Redaksi, خَيْرٍ مِنْهُمْ “Lebih baik darinya”. Maksudnya, dari kalangan para malaikat yang menempati posisi tertinggi. Kemudian, di sana Allah Swt akan menyebutkan kepada mereka dengan sebutan yang baik-baik terhadap anak cucu Adam.

Inilah yang menjadi perbedaan pendapat diantara para ulama: (Pertama;) Lebih mengutamakan manusia daripada malaikat secara mutlak, kecuali malaikat-malaikat yang menjadi utusan. Mereka lebih utama, karena mereka sebagai utusan. (Kedua;) Lebih mengutamakan malaikat daripada manusia secara mutlak, kecuali para nabi dan rasul.

Para ulama berbeda pendapat tentang selain para utusan dari kalangan malaikat dan selain para nabi dari kalangan manusia:

Sebagian ulama lebih mengutamakan para malaikat secara mutlak, hal ini sesuai dengan hadits, ْذَكَرْتُهُ فِي مَلَإٍ خَيْرٍ مِنْهُم “Aku mengingatnya dalam kelompok yang lebih baik darinya.”

Sebagian yang lain lebih mengutamakan manusia daripada malaikat, selain orang kafir, hal ini sesuai dengan firman Allah Swt,

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

اِنَّ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ ۙ اُولٰٓئِكَ هُمْ خَيْرُ الْبَرِيَّةِ 
innallaziina aamanuu wa ‘amilush-shoolihaati ulaaa-ika hum khoirul-bariyyah

“Sungguh, orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk.”
(QS. Al-Bayyinah 98: Ayat 7)

Sebagian lainnya menyatakan bahwa para malaikat juga termasuk bagian dari makhluk. Hal ini sesuai dengan hadits Nabi Saw,

إِنَّ اللَّهَ خَلَقَ الْخَلْقَ حَتَّى إِذَا فَرَغَ مِنْ خَلْقِهِ إِخْتَارَ مِنْهُمْ بَنِي أَدَمَ

“Sesungguhnya Allah menciptakan semua makhluk. Hingga setelah Dia selesai menciptakannya, maka Dia memilih manusia di antara mereka.”

Inilah yang menjadi perdebatan diantara para ulama, dan setiap kelompok memiliki hujjah masing-masing.

Syaikhul Akbar; Ibnu ‘Araby Ra pernah bermimpi berjumpa dengan Nabi Saw, lalu ia menanyakan tentang masalah ini, “Manakah yang lebih utama, manusia atau malaikat?” Nabi Saw menjawab, “Malaikat lebih utama.” la berkata, “Wahai Rasulullah, para ulama menentangku dalam masalah ini. Lantas, apa yang dapat aku jadikan hujjah terhadap mereka?” Nabi Saw menyebutkan hadits yang sama, yaitu, ذَكَّرْتُهُ فِي مَلَإٍ خَيْرٍ مِنْهُمْ “la mengingat-Ku dalam sebuah kelompok, maka Aku akan mengingatnya dalam kelompok yang lebih baik darinya.” Kemudian setelah mereka melakukan perdebatan, maka muncullah kesimpulan bahwa malaikat lebih utama dan manusia lebih sempurna.

Yang kami maksud dengan “manusia” dalam masalah ini adalah orang-orang yang ma’rifat kepada Allah, karena dalam hal ini mereka lebih sempurna daripada malaikat. Allah Swt ber-tajalli kepada seorang ‘Arifbillah, dengan semua nama dan sifat-Nya yang tampak pada seluruh semesta. Sedangkan malaikat hanya memiliki satu nama, Allah Swt ber-tajalli kepadanya hanya dengan satu nama itu. Allah Swt tidak ber-tajalli kepada semua ciptaan dari kalangan malaikat dan yang lainnya dalam satu Dzat dengan dua nama atau lebih. Tetapi hanya satu nama dalam setiap ciptaan.

Manusia dapat meliputi semua ciptaan, karena hakikat seorang ‘Arifbillah adalah meliputi semua malaikat dan semua ciptaan, mulai dari ‘Arasy hingga bumi bagian terbawah. Ia melihat semua itu dengan dirinya sendiri satu persatu, bahkan jika ia ingin melihat hal ghaib yang ada di Lauhul Mahfuzh, maka ia akan melihatnya dan menelitinya. Kesempurnaan seperti ini tidak akan dimiliki kecuali oleh manusia. Oleh karena itu, manusia dijadikan sebagai khalifah Allah di muka bumi, karena kemampuan dalarn meliputi tersebut.

Diriwayatkan dalam sebuah khabar, bahwa para malaikat melihat apa yang dipersiapkan Allah Swt untuk manusia di dalam surga; yaitu sesuatu yang tidak pernah terdetik dalam hati dan tidak pernah terpikirkan oleh akal. Mereka berkata, “Ya Rabb, berilah kami bagian dari apa yang telah Engkau persiapkan untuk mereka.” Allah Swt menjawab, “Aku tidak akan menjadikan (persiapan) keturunan makhluk yang Aku ciptakan dengan tangan-Ku (Adam) seperti (makhluk yang Aku ciptakan dengan) Aku katakan, jadilah, maka jadilah ia.” Para malaikat pun terdiam dan putus asa (untuk mendapatkannya), selain Ruhul A’zham, karena ia diluar kaidah ini.

Para ulama yang mengatakan, bahwa Nabi Saw adalah seorang utusan untuk para malaikat, sebagaimana beliau adalah seorang utusan untuk manusia dan jin ber-hujjah dengan riwayat di atas. Karena Ruhul A’zham adalah ruh yang dapat mendengar firman Allah Swt, memperlajari perintah dan larangan dari-Nya, kemudian mengajarkannya kepada para malaikat. Ia menjadi perantara antara Allah Swt dan para malaikat. Tidak ada satu malaikat pun yang bisa mempelajari perintah dari Allah Swt secara langsung, kecuali melalui Ruhul A’zham.

Dengan berkaca pada ini, maka Nabi Saw adalah seorang utusan untuk para malaikat. Kami katakan, bahwa Ruhul A’zham adalah salah satu diantara ragam penampakan sisi hakikat Al Muhammadiyah. Inilah sisi batinnya Nabi Saw, beliaulah satu dari seratus ribu bagian dan dua puluh empat bagian yang lain.

Dalam hadits qudsi yang lain disebutkan,

وَمَنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ شِبْرًا تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ ذِرَاعًا ، وَمَنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ ذِرَاعًا تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ بَاعًا…

“Barangsiapa yang mendekat kepada-Ku sejengkal, maka Aku mendekat kepadanya sehasta. Barangsiapa yang mendekat kepada-Ku sehasta, maka Aku mendekat kepadanya sedepa…”

Mendekat dalam hadits ini, yaitu mendekatnya Allah Swt kepada seorang hamba adalah termasuk ilmu kinayah, yang para rasul gunakan untuk menggambarkan tentang Allah Swt. Mendekat dan berlari adalah dua keadaan yang mustahil pada Allah Swt.

Yang dimaksud dengan kalimat,

وَمَنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ شِيرًا تَقَرَّنْتُ إِلَيْهِ ذِرَاعًا

“Barangsiapa yang mendekat kepada-Ku sejengkal, maka Aku mendekat kepadanya sehasta”, maka hal ini memiliki dua pembahasan.

Pertama, pembahasan dalam syari’at. Kedua, pembahasan dalam tingkatan spiritual dan hakekat.

Pertama: Pembahasan secara syari’at adalah

barangsiapa yang mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan yang sedikit, maka Aku akan memberinya pahala yang berlipat ganda, hal ini sebagaimana firman Allah Swt,

مَنْ جَآءَ بِا لْحَسَنَةِ فَلَهٗ عَشْرُ اَمْثَا لِهَا ۚ وَمَنْ جَآءَ بِا لسَّيِّئَةِ فَلَا يُجْزٰۤى اِلَّا مِثْلَهَا وَهُمْ لَا يُظْلَمُوْنَ
mang jaaa-a bil-hasanati fa lahuu ‘asyru amsaalihaa, wa mang jaaa-a bis-sayyi-ati fa laa yujzaaa illaa mislahaa wa hum laa yuzhlamuun

“Barang siapa berbuat kebaikan mendapat balasan sepuluh kali lipat amalnya. Dan barang siapa berbuat kejahatan dibalas seimbang dengan kejahatannya. Mereka sedikit pun tidak dirugikan (dizalimi).”
(QS. Al-An’am 6: Ayat 160)

Juga sebagaimana firman-Nya,

مَثَلُ الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ اَمْوَا لَهُمْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ اَنْۢبَتَتْ سَبْعَ سَنَا بِلَ فِيْ كُلِّ سُنْۢبُلَةٍ مِّائَةُ حَبَّةٍ ۗ وَا للّٰهُ يُضٰعِفُ لِمَنْ يَّشَآءُ  ۗ وَا للّٰهُ وَا سِعٌ عَلِيْمٌ
masalullaziina yungfiquuna amwaalahum fii sabiilillaahi kamasali habbatin ambatat sab’a sanaabila fii kulli sumbulatim mi-atu habbah, wallohu yudhoo’ifu limay yasyaaa, wallohu waasi’un ‘aliim

“Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Maha Luas, Maha Mengetahui.”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 261)

Dalam ayat ini, Allah Swt mengabarkan bahwa kebaikan akan dibalas dengan tujuh ratus kali lipat. Demikianlah maksud hadits,

وَمَنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ شِبْرًا تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ ذِرَاعًا ، ومَنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ  تَعْرُبْتُ إِلَيْهِ بَاعًا…..

“Barangsiapa yang mendekat kepada-Ku sejengkal, maka Aku akan mendekat kepadanya sehasta. Dan barangsiapa yang mendekat kepada-Ku sehasta, maka Aku akan mendekat kepadanya sedepa.”

Arti, ذِرَاعًا “sedepa” dalam hadits ini adalah dua langkah, dalam setiap langkah berjarak sehasta setengah. Kami katakan, bahwa “sejengkal” adalah isyarat amal yang paling sedikit, yang digunakan oleh seorang hamba untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt, maka Dia akan memberinya balasan yang berlipat ganda. Demikian pengertian jarak sebagaimana yang disebutkan dalam sebuah hadits, bahwa dengan satu kata dari dzikir, Allah Swt akan membalas setiap huruf dengan sepuluh kebaikan. Demikian pula atas panjang dan lebarnya, sedikit dan banyaknya. (Balasan) ini untuk semua manusia secara umum.

Sedangkan untuk orang-orang khusus, maka kadar pahala yang diberikan kepada mereka tidak ada yang mengetahuinya, bahkan satu orang dari kalangan orang-orang khusus jika mengucapkan satu kalimat saja, maka hal itu sebanding dengan amal penduduk dua alam (jin dan manusia). Demikianlah yang dimaksud jarak dalam hadits ini, yaitu setiap amal yang digunakan seorang hamba untuk mendekatkan diri kepada Allah, maka Dia akan membalasnya dengan berlipat ganda.

Misal dalam kalimat Al Ikhlas (yang menandakan ketulusan jiwa), “La ilaha illallâhu”. Dalam kalimat ini ada lima belas huruf, maka pahala membacanya adalah seratus lima puluh kebaikan jika ia membacanya satu kali. Nah, jika ia membacanya sebanyak seratus kali misalnya, maka pahalanya seratus lima puluh ribu kebaikan. Demikian maksud jarak yang ada dalam hadits tersebut.

Dalam bershalawat kepada Nabi Saw seperti, Allahumma shalli ‘alâ sayyidinâ Muhammadin, maka setiap hurufnya dibalas sepuluh kebaikan. Disamping itu, setiap malaikat dalam semesta ini akan bershalawat untuknya sepuluh kali, dimana shalawatnya malaikat tidak seperti shalawatnya manusia, karena setiap huruf dalam shalawatnya malaikat dibalas dengan seratus kebaikan, sementara kebaikan dari malaikat tidak seperti kebaikan manusia, sebab kebaikan manusia itu seperti biji-bijian, seperti ukuran uqiyah dan rithl, seperti bukit dan gunung, sesuai kadar hati mereka. Jumlahnya memang sama, namun timbangan jelas berbeda.

Sedangkan kebaikan malaikat seperti gunung yang panjangnya sejauh duapuluh tahun perjalanan. Demikian juga dengan lebar dan tingginya. Apabila dalam shalawatnya malaikat dicatat seratus kebaikan dalam setiap huruf, lantas bagaimana caranya dapat menghitung pahala tersebut, karena banyaknya jumlah malaikat. Jumlahnya tidak dapat dihitung oleh siapapun selain Allah Swt. Maka, perhatikanlah apa yang mampu diraup dari shalawat atas Rasulillah Saw dari bilangan dzikir, karena shalawat tidak bisa dibandingkan dengan dzikir.

Redaksi, وَإِنْ أَتَانِي يَمْشِي أَتَيْتُهُ هَرْوَلَةٌ “Andai ia datang kepada-Ku dengan berjalan kaki, maka Aku akan mendatanginya dengan berlari.” Maksudnya, jika ia menghabiskan semua waktunya untuk berdzikir kepada-Ku, maka Aku akan memberinya pahala yang tidak terjangkau oleh akal dan tidak pula terlintas dalam pikiran.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

اِنَّ الْمُسْلِمِيْنَ وَا لْمُسْلِمٰتِ وَا لْمُؤْمِنِيْنَ وَا لْمُؤْمِنٰتِ وَا لْقٰنِتِيْنَ وَا لْقٰنِتٰتِ وَا لصّٰدِقِيْنَ وَا لصّٰدِقٰتِ وَا لصّٰبِرِيْنَ وَا لصّٰبِرٰتِ وَا لْخٰشِعِيْنَ وَا لْخٰشِعٰتِ وَا لْمُتَصَدِّقِيْنَ وَ الْمُتَصَدِّقٰتِ وَا لصَّآئِمِيْنَ وَا لصّٰٓئِمٰتِ وَا لْحٰفِظِيْنَ فُرُوْجَهُمْ وَا لْحٰـفِظٰتِ وَا لذّٰكِرِيْنَ اللّٰهَ كَثِيْرًا وَّ الذّٰكِرٰتِ ۙ اَعَدَّ اللّٰهُ لَهُمْ مَّغْفِرَةً وَّاَجْرًا عَظِيْمًا
innal-muslimiina wal-muslimaati wal-mu-miniina wal-mu-minaati wal-qoonitiina wal-qoonitaati wash-shoodiqiina wash-shoodiqooti wash-shoobiriina wash-shoobirooti wal-khoosyi’iina wal-khoosyi’aati wal-mutashoddiqiina wal-mutashoddiqooti wash-shooo-imiina wash-shooo-imaati wal-haafizhiina furuujahum wal-haafizhooti waz-zaakiriinalloha kasiirow waz-zaakirooti a’addallohu lahum maghfirotaw wa ajron ‘azhiimaa

“Sungguh, laki-laki dan perempuan muslim, laki-laki dan perempuan mukmin, laki laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.”
(QS. Al-Ahzab 33: Ayat 35)

Diriwayatkan dalam sebuah hadits Nabi Saw bahwa Rasulullah Saw berjalan lalu beliau melihat gunung (yang bernama Jumdan), beliau bersabda,

قَالَ : سِيْرُوا سَبَقَ الْمُفَرِّدُوْنَ قِيلَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَمَنِ الْمُفَرِّدُوْنَ؟ قَالَ : الْمُسْتَهْتَرُونَ بِذِكْرِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ يَضَعُ الذِّكْرُ عَنْهُمْ أَثْقَالَهُمْ، فَيَأْتُوْنَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ خِفَافًا

“Berangkatlah, karena orang-orang yang meng-asingkan diri telah melewati Jumdan ini.” Para sahabat bertanya, “Siapa orang-orang yang mengasingkan diri itu, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Orang-orang yang suka dan fokus berdzikir kepada Allah. Dzikir itu akan menghapus beban (dosa) mereka, sehingga mereka datang pada Hari Kiamat dalam keadaan ringan (tanpa dosa).”

Inilah maksud Allah Swt berlari, yaitu Dia akan memberinya pahala yang tidak terjangkau oleh akal dan tidak pernah terlintas dalam pikiran serta tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah Swt. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam firman Allah Swt,

فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَّاۤ اُخْفِيَ لَهُمْ مِّنْ قُرَّةِ اَعْيُنٍ ۚ جَزَآءً بِۢمَا كَا نُوْا يَعْمَلُوْنَ
fa laa ta’lamu nafsum maaa ukhfiya lahum ming qurroti a’yun, jazaaa-am bimaa kaanuu ya’maluun

“Maka tidak seorang pun mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka yaitu (bermacam-macam nikmat) yang menyenangkan hati sebagai balasan terhadap apa yang mereka kerjakan.”
(QS. As-Sajdah 32: Ayat 17)

Juga sebagaimana sabda didalam hadits qudsi; Rasulullah Saw mengabarkan dari Allah Swt,

أَعْدَدْتُ لِعِبَادِي الصَّالِحِيْنَ مَا لَا عَيْنٌ رَأَتْ وَلَا أُذُنٌ سَمِعَتْ وَلَا خَطَرَ عَلَى قَلْبِ بَشَرٍ

“Aku menyiapkan untuk hamba-hamba-Ku sesuatu yang tidak pernah dilihat oleh mata, didengar oleh telinga dan tidak terlintas dalam hati manusia.”

Sungguh Allah Swt akan memberinya balasan tanpa batas dan hitungan. Demikianlah maksud Allah Swt berlari.

Kedua: Pembahasan secara hakikat dan spiritual. Batasannya adalah kembali kepada Allah Swt serta meninggalkan keinginan-keinginan hawa (kecondongan negatif diri). Karena seorang hamba tercipta dengan memiliki karakter menjauh dari Allah Swt dan lebih sibuk dengan hal-hal yang sesuai dengan hawa nya. Kemudian syari’at mewajibkan untuk kembali kepada Allah Swt dari keadaan sebelumnya sesuai dengan firman Allah Swt,

فَفِرُّوْۤا اِلَى اللّٰهِ ۗ اِنِّيْ لَـكُمْ مِّنْهُ نَذِيْرٌ مُّبِيْنٌ 
fa firruuu ilalloh, innii lakum min-hu naziirum mubiin

“Maka segeralah kembali kepada (menaati) Allah. Sungguh, aku seorang pemberi peringatan yang jelas dari Allah untukmu.”
(QS. Az-Zariyat 51: Ayat 50) Maksudnya, kembali dari keinginan dan hasrat kalian.

Hal ini juga sesuai dengan firman Allah Swt,

وَاَ نِيْبُوْۤا اِلٰى رَبِّكُمْ وَاَ سْلِمُوْا لَهٗ مِنْ قَبْلِ اَنْ يَّأْتِيَكُمُ الْعَذَا بُ ثُمَّ لَا تُنْصَرُوْنَ
wa aniibuuu ilaa robbikum wa aslimuu lahuu ming qobli ay ya-tiyakumul-‘azaabu summa laa tungshoruun

“Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong.”
(QS. Az-Zumar 39: Ayat 54)

Kembali kepada sesuatu berarti meninggalkan kebalikannya dan kembali kepada Allah berarti tidak mengikuti hasrat dan keinginan hawa nafsu.

Inilah jalan yang ditempuh oleh seluruh Shiddiqin, karena mereka berjalan menuju Allah Swt, dengan meninggalkan hasrat dan keinginan hawa nafsu mereka, serta sibuk dengan Allah Swt, bersungguh-sunggah dalam berkhidmat kepada-Nya dan beradab di hadapan-Nya, karena selamanya seorang hamba itu berada di hadapan Allah Swt, baik ia mengetahui tentang hal itu atau tidak.

Sebenarnya, maksud dari hadits di atas itu adalah demikian, yaitu hadits,

وَمَنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ شِبْرًا تَقَرَّنْتُ إِلَيْهِ ذِرَاعًا

“Barangsiapa yang mendekat kepada-Ku sejengkal, maka Aku mendekat kepadanya sehasta.” Maksudnya, jika ia mendekat kepada-Ku dengan tidak mengikuti tuntutan jiwa dan hawa-nya serta kembali kepada-Ku, maka Aku mendekat kepadanya sehasta.

Mendekatnya Allah Swt kepada seorang hamba dalam tingkatan ini bentuknya adalah Allah memberinya sebagian kecil dari sisi hadhrah ilahiyyah, sehingga dengannya ia dapat lupa pada semua makhluk ciptaan Allah Swt dan dapat menghilangkan gambaran itu semua dari akal manusia, kondisi ini datang lantaran apa yang tampak padanya yang berupa ilmu, ma’rifat dan asrar yang tidak dapat disebutkan dan tidak pula bisa dipelajari; serta keajaiban-keajaiban yang tidak mampu dicerna oleh akal. Karena ketika manusia telah berada dalam tingkatan ini, maka keterkaitan dengan semua ciptaan akan sirna. Inilah puncuk kedekatan dengan Allah Swt, karena hakikat wujud tampak jelas dalam akalnya, hawa-nya berhubungan erat dengannya dalam keadaan merasakan kenikmatan, kelezatan dan memperoleh kemenangan.

Oleh karena itu, keterkaitannya dengan hadhrah ilahiyyah sangatlah jauh. Apabila ia mendekatkan diri kepada Allah Swt, dengan meninggalkan semua makhluk dan tidak sibuk dengannya, jika ia melakukan hal itu dengan amal yang sedikit, maka itulah yang dimaksud dengan “sejengkal”-, maka Allah Swt akan mendekat kepadanya sehasta. Karena Allah Swt akan memberinya rasa kenikmatan sibuk (berdzikir) kepada-Nya, kelezatan fokus seorang hamba (beribadah) terhadap-Nya, dan ia melupakan semua ciptaan dalam waktunya itu. Inilah bagian dari keterkaitan dengan hadhrah ilahiyyah. Mengingat Allah dalam dirinya juga termasuk keterkaitan dengan hadhrah ilahiyyah.

Syaikh Abu Al Qasim Al Qusyairi Ra berkata: Dzikir adalah pintu kewalian dan tanda wushul. Barangsiapa yang telah diberi (kenikmatan) berdzikir, berarti ia telah diberi pintu, melaluinya ia bisa duduk di atas permadani kewalian. Karena Allah Swt berfirman dalam hadits qudsi,

أَنَا جَلِيْسٌ مَنْ ذَكَرَنِي

“Aku adalah teman duduk orang yang berdzikir kepada-Ku.” Inilah pengertian, “dekat”.

Redaksi, وَمَنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ ذِرَاعًا تَقَرَّبْتُ إِلَيْهُ بَاعًا “Barangsiapa ia mendekat kepada-Ku sehasta, maka Aku mendekat kepadanya sedepa.” Maksudnya adalah, apabila ia telah meninggalkan banyak aktifitas tuntutan tabi’atnya dan melakukan aktifitas yang sesuai dengan hadhrah ilahiyyah, berupa dzikir dan ibadah, maka Allah Swt akan mendekat kepadanya sedepa.

Pengertian, ُالْبَاع  “sedepa” adalah anugerah yang Allah Swt tampakkan untuk orang yang berdzikir, yaitu: Ketentraman dalam tidur dan terjaga, bahkan sering kali Allah Swt menampakkan kepadanya hal-hal yang diluar kebiasaan (khawâriqul âdat dan iapun dapat melihat cahaya yang turun lalu mengenai dirinya, ia melihatnya menyinari sekitar hatinya, masuk kedalam dadanya, kemudian bersemayam dalam hati dan menyinarinya. Jika ia telah mengalami hal tersebut, maka ia akan mendapatkan ilmu yang sangat besar, hingga ia dapat menjelaskan apa yang tidak bisa dijelaskan oleh para pelajar. la sendiri tidak tahu dari manakah ilmu itu masuk dalam dirinya, sebab ilmu-ilmu tersebut diletakkan dalam hatinya dengan cara ilahiyyah dan inilah pengertian, “Allah mendekat kepadanya sedepa.”

Setelah kondisi diatas berbarengan dengan keteguhan dirinya untuk selalu menyelisihi keinginan hawa dan tabi’at-nya, iapun akan memiliki ragam hal diluar kebiasaan manusia seperti berjalan di atas air, berjalan di udara, memperbanyak yang sedikit, mengeluarkan air dari tanah jika ia mengingin kan, membuat dirham, harta dan uang jika ia membutuhkannya tanpa melalui proses. Juga seperti mengetahui perkara ghaib sebelum terjadi. Inilah maksud “Allah mendekat kepada seorang hamba sedepa.”

Redaksi, وَمَنْ أَتَانِي يَمْشِي أَتَيْتُهُ هَرْوَلَةٌ “Barangsiapa datang kepada-Ku dengan berjalan kaki, maka Aku datang kepadanya dengan berlari.” Maksud “berjalan kaki” dalarn hadits ini adalah sampainya seorang hamba di akhir tingkatan suluk. Awalnya, ia masih terikat dengan keinginan hawa-nya, sehingga ia tidak mampu menapaki perjalanan suluk tersebut, tetapi secara perlahan ia mulai meninggalkan ragam keinginan hawa-nya. Kemudian saat ia sudah konsisten dalam melakukannya, maka akan mudah baginya meninggalkan ragam keinginan hawa yang lainnya.

Awal mulanya adalah mendekatkan diri kepada Allah dengan sejengkal setelah ia mampu meninggalkan banyak dari keinginan hawa-nya. Ketika ia baru meninggalkan sedikit dari rongrongan hawa-nya, maka inilah yang disebut dengan mendekat pada Allah dengan sehasta.

Jika ia terus konsisten dalam melakukan hal tersebut, maka Allah Swt akan menganugerahinya kekuatan ilahiyyah yang membuatnya mampu meninggalkan semua tuntutan tabi’atnya sampai ia berada pada keadaan, dimana ia melihat dirinya terlepas dari semua ikatan hawa dan jiwanya terbebas dari semua tuntutan hawa. Maka ketika ini sempurnalah perjalananya menuju Allah Swt, perjalanan yang tidak sedikitpun terhalang oleh keinginan untuk mengikuti hawa.

Selanjutnya ia menghadap pada Allah Swt secara totalitas, hingga tidak tersisa waktu untuk selain-Nya. Dalam keadaan demikian, Allah Swt akan mengangkat hijab (tirai penghalang) dan memasukkannya ke hadhrah Al Quds, sehingga ia tergolong kedalam kalangan Shiddiqin. Inilah maksud kata “belari-lari kecil dari Allah Swt dalam hadits di atas. Semua ini adalah kalimat kinayah dalam ilmu ilahiyyah, yang hanya diketahui oleh para rasul dan bukan yang lainnya.

Sumber : BUKU SAYYIDI SYAIKH RA MENJAWAB JILID 2 – KAJIAN SEPUTAR HADITS, SULUK, DAN FIKIH (JAWAHIR AL MA’ANI) SYAIKH AL HAJJ ALI HARAZIM AT-TIJANY