You dont have javascript enabled! Please enable it!
Elsubha menjamin Garansi 100% Uang Kembali jika barang yang diterima adalah PALSU

Pembahasan 6. Aku bertanya kepada Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra tentang sabda Rasulullah Saw,
حُبِّبَ إِلَيَّ مِنْ دُنْيَاكُمُ ثَلَاثَ

بسم الله الرحمن الرحيم اللهم صل على سيدنا محمد الفاتح لما أغلق والخاتم لما سبق ناصر الحق بالحق والهادي إلى صراطك المستقيم وعلى آله حق قدره ومقداره العظيم

Elsubha.com – Aku bertanya kepada Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra tentang sabda Rasulullah Saw,

حُبِّبَ إِلَيَّ مِنْ دُنْيَاكُمُ ثَلَاثَ

“Ada tiga hal yang membuatku mencintai dunia kalian.”

Sayyidi. Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra menjawab:

Cintanya Nabi Saw kepada wanita dan wewangian sebagaimana yang disebutkan dalam hadits shahih, mengindikasikan bahwa beliau memiliki sifat manusiawi, sebagaimana kita.

Ketahuilah, bahwa Nabi Saw memiliki sifat manusiawi (basyariah) seperti para nabi dan rasul lainnya. Tetapi, sifat manusiawi tersebut terpelihara dari menyelisihi hukum-hukum ilahiyyah, boleh melakukan apa saja yang dilegalkan (syari’at), seperti melakukan hubungan intim dengan istri, makan dan minum. Sifat manusiawi itu tidak terpelihara dari semua tuntutan-tuntutannya. Karena jika demikian, maka terputuslah keturunan dari jasad Adam As dan Hawwa tidak akan keluar dari dirinya. Tujuan untuk meramaikan dunia dan akhirat pun tidak akan terwujud, dimana itulah yang menjadi tujuan Allah Swt menciptakan semesta alam ini.

Ketahuilah, bahwa setiap orang ‘Arifbillah memiliki dua cinta: Pertama, cinta yang ada dalam ruhnya; Kedua, cinta yang ada pada sisi basyariyyah-nya.

Cinta yang ada dalam ruh senantiasa dikaitkan dengan Dzat Allah yang Maha Suci. Kecintaan ini tercipta dari memandang sisi Jamal-Nya Allah Swt. Cinta ini menjadi akar dan urat semua ragam cinta, berdasarkan sabda Rasulullah Saw,

اللَّهُمَّ اجْعَلْ حُبَّكَ أَحَبَّ إِلَيَّ مِنْ نَفْسِي وَأَهْلِي ، وَمِنَ الْمَاءِ البَارِدِ

“Ya Allah, jadikanlah cinta-Mu yang paling aku cintai sampai redaksi “dari air dingin bagi orang yang haus.”

Inilah cinta yang ada dalam ruh. Sedangkan dasar cinta Rasulullah Saw dari sisi basyariyyah adalah sabda beliau,

حُبِّبَ إِلَى مِنْ دُنْيَاكُمُ

“Aku mencinta dunia kalian…”

Cinta ini tidak bertentangan dengan cinta yang ada dalam ruh dan tidak bisa disebut sebagai sebuah kekurangan. Karena cinta ini memang ada dalam diri manusia. Allah Swt memberikannya kepada para rasul agar bisa berbaur dengan makhluk, menegakkan hukum-hukum ilahiyyah, menyampaikan risalah, dan memiliki keturunan yang menjadi sarana untuk meramaikan dunia dan akhirat. Sungguh hal itu adalah bentuk kesempurnaan ilahiyyah, karena jika Rasulullah Saw hanya memiliki cinta yang pertama (cinta dalam ruh) tanpa memiliki cinta basyariah, maka hukum-hukum ilahiyyah akan sia-sia, risalah dan keturunan pun akan terputus dan tujuan untuk meramaikan dunia dan akhirat tidak akan terwujud, karena orang yang memiliki cinta tersebut tidak akan menoleh kepada selain Allah Swt.

Sebagai penguat dalam hal ini adalah, para malaikat yang mulia tenggelam dalam cinta kepada Dzat Allah Swt.

Mereka terbuai dalam keindahan dan keagungan-Nya. Mabuk karena cinta hingga tidak pernah sadarkan diri. Seandainya dalam diri mereka tidak ada cinta yang kedua (cinta basyariyyah), maka mereka tidak akan mengenal Adam dan iblis, mereka tidak akan diperintahkan untuk sujud kepada Adam dan tidak akan hadir dalam bai’at Quthub, karena mereka tidak ingin bersama dengan selain Allah Swt. Jika para rasul seperti itu, maka risalah akan terputus, karena tidak ada keinginan untuk bersama dengan selain Allah Swt. Ketika Allah Swt hendak mewujudkan apa yang ada dalam ilmu-Nya yang terdahulu, yaitu mengutus para rasul kepada makhluk-Nya, maka Allah Swt meletakkan cinta basyariyyah dalam diri mereka, agar mereka bisa berbaur dengan selain Allah, hingga terwujudlah dengan sempurna kehendak Allah Swt untuk menyampaikan risalah, menetapkan hukum-hukum ilahiyyah, menegakkan hak taklif, berlanjutnya garis keturunan dan kesempurnaan meramaikan dunia dan akhirat.

Inilah puncak kesempurnaan, karena cinta basyariyyah ada dalam diri mereka, sedikit pun tidak mengurangi cinta mereka sebagaimana cintanya para malaikat yang mulia- terhadap Dzat Allah Swt. Cinta para rasul sebanding dengan cinta para malaikat, bahkan para rasul lebih sempurna karena mereka memiliki cinta basyariyyah. Setiap cinta dalam diri para rasul, yaitu cinta basyariyyah dan ashliyyah, tidak menghancurkan yang lainnya. Karena itu, Rasulullah Saw berhak menjadi khalifah karena beliau berbaur bersama semesta alam dengan cinta basyariyyah. Inilah yang dimaksud dengan nama beliau, Muhammad, yaitu dipuji oleh seluruh alam, karena anugerah yang didapatnya dari hadhrah ilahiyyah.

Cinta ashliyyah adalah cinta yang Nabi Saw diberi nama Ahmad, karena didalam hadhrah ini tidak ada seorang pun yang bersamanya. Beliau adalah Ahmad, yaitu orang yang memuji Allah Swt didalam maqam tersebut, karena keluhuran ma’rifat beliau terhadap Allah Swt, tidak ada harapan bagi seorang pun untuk menggapainya. Semoga penjelasan ini membuka wawasanmu tentang dua hadhrah Nabi Saw, yaitu Hadhrah Al Muhammadiyyah dan Hadhrah Al Ahmadiyyah.

Kemudian Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra berkata: Ke-khilafah-an manusia berlaku atas seluruh alam, jika setiap bagian dari alam mendapati porsinya di alam tersebut, yaitu porsi untuk sisi kebinatangan; berupa makan, minum dan jinak; serta porsi untuk sisi malaikat; berupa kecintaan yang mendalam pada Al Hadhrah Al Qudsiyyah dan kesempurnaan haiman (cinta yang meluap-luap) dalam keagungan dan keindahan Allah Swt, maka kesibukannya hanya dengan hadhrah Al Qudsiyyah, yaitu hadhrah yang di dalamnya terdapat para malaikat. Ia tidak akan sibuk dengan memenuhi hak-hak hadhrah baha `im (kecenderungan hewaniah), berupa makan, minum, jimak dan lainnya yang membuat manusia berubah-ubah. Hal ini tidak akan menyibukkannya hingga melupakan cinta yang meluap-luap didalam hadhrah ilahiyyah.

Masing-masing dari kedua hadhrah (Hadhrah Al Qudsiyyah dan Hadhrah Al Baha ‘im) ini adalah bukti dari kesempurnaan ilahiyyah. Orang yang berada dalam hadhrah baha `im dicela jika ia hanya sibuk dengannya, hingga lupa masuk ke dalam hadhrah ilahiyyah, namun jika ia hanya memberikan hak sesuai porsinya, maka yang demikian itu adalah puncak kesempurnaan.

Apa yang engkau dengar tentang istilah hadhrah baha ‘im, maka tidak boleh diucapkan terhadap manusia yang sempurna; Muhammad Saw. Tidak boleh dikatakan bahwa beliau memiliki sifat hewani. Tetapi, katakanlah bahwa didalam diri manusia terdapat hubungan dengan hadhrah Ilahiyyah, yang juga terdapat hubungan dengan apa yang ada dalam diri hewan, sebagaimana makhluk lainnya. Demikian itu untuk menyempurnakan sisi kemanusiaan beliau; bahwa beliau adalah penampakan dari sisi hadhrah ilahiyyah dan tidak ada niatan untuk mencela beliau. -Selesai sudah apa yang di-imla ‘kan Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra kepada kami.-

Sumber : BUKU SAYYIDI SYAIKH RA MENJAWAB JILID 2 – KAJIAN SEPUTAR HADITS, SULUK, DAN FIKIH (JAWAHIR AL MA’ANI) SYAIKH AL HAJJ ALI HARAZIM AT-TIJANY