You dont have javascript enabled! Please enable it!
Elsubha menjamin Garansi 100% Uang Kembali jika barang yang diterima adalah PALSU

Pembahasan 7. Aku bertanya kepada Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra tentang hakekat mimpi yang disebutkan dalam sebuah hadits, yaitu sabda Nabi Saw,
الرُّؤْيَةُ الصَّالِحَةُ….

بسم الله الرحمن الرحيم اللهم صل على سيدنا محمد الفاتح لما أغلق والخاتم لما سبق ناصر الحق بالحق والهادي إلى صراطك المستقيم وعلى آله حق قدره ومقداره العظيم

Elsubha.com – Aku bertanya kepada Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra tentang hakekat mimpi yang disebutkan dalam sebuah hadits, yaitu sabda Nabi Saw,

الرُّؤْيَةُ الصَّالِحَةُ….

“Mimpi yang baik…….”

Sayyidi. Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra menjawab:

Ketahuilah, bahwa sesuatu yang dilihat oleh orang yang tidur adalah ragam getaran jiwa yang datang pada kalbunya saat tidur, kemudian malaikat yang dipasrahi untuk mengurus mimpi, membentuk gambar yang sesuai dengan getaran itu, sesuai dengan kadar yang ada dalam khayalannya, demikianlah hakekat mimpi.

Kemudian mimpi itu adalah gambaran jasad dari malaikat untuk orang yang bermimpi, sesuai dengan kadar kuat dan lemahnya suatu khayalan. Kuatnya khayalan sesuai dengan kuatnya kalbu yang bersangkutan. Jika kalbu pemiliknya murni hanya ke hadhrah ilahiyyah, kokoh karena keyakinan yang bersih, maka malaikat akan menggambarkan jasad karena getaran hatinya, sesuai dengan kadar kebersihannya, kemudian ia dianugerahi ilmu ladunni secara ghaib. la diberi ilmu itu melalui gambaran-gambaran tersebut, serta bagaimana tafsir dan maksud dari mimpi itu dalam keadaan terjaga.

Demikian ta ‘bir dan penjelasan tentang hal ini, tidak keliru. Bahkan, mimpi itu menjadi media mukasyafah yang shahih. Atau Allah Swt memberi kepadanya perkara lain di dalam mimpi.

Apabila Allah Swt hendak memberitahukan kepadanya perkara ghaib, maka Dia akan memerintahkan malaikat tersebut untuk menggambar jasad yang ada hubungannya dengan perkara ghaib tersebut, yaitu sosok yang dapat memberi kabar. Hal itu bukan sekedar getaran biasa dalam kalbu, tetapi ini adalah wahyu ilahiyyah yang diberikan kepada ruh yang tenang dari hadhrah qudsiyyah, kemudian Allah Swt memberinya ilmu bersamaan dengan gambar sesuatu yang dilihat dalam mimpi, lengkap dengan contoh dan maksudnya.

Contoh dalam masalah ini adalah sabda Nabi Saw,

بَيْنَمَا أَنَا نَائِمٌ رَأَيْتُ فِي يَدَيَّ سِوَارَيْنِ مِنْ ذَهَبٍ، فَكَرِهْتُهُمَا، فَنَفَخْتُهُمَا، فَطَارًا، فَوَقَعَ أَحَدُهُمَا بِالْيَمَامَةِ وَالْأَخَرُ بِالْيَمَنِ، فَقِيلَ لَهُ : ما أَوَّلْتَهُمَا يَارَسُوْلَ اللهِ ؟ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَوَّلْتُهُمَا كَذَّابَيْنِ يَخْرُجَانِ مِنْ بَعْدِي

“Saat aku tidur, aku melihat dua gelang emas di tanganku. Aku tidak suka, maka aku meniupnya, hingga kedua gelang itu terbang. Yang satu jatuh di Yamamah dan yang satu jatuh di Yaman.” Ada yang bertanya kepada beliau, “Apa ta ‘wilmu tentang dua gelang itu, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Aku mena ‘wilnya dengan dua orang pendusta yang akan muncul setelahku.”

Hubungan antara mimpi dengan ta’bir mimpi itu adalah, ketika emas memiliki tingkatan paling tinggi dalam pertambangan, maka ia setara dengan tingkatan risalah dalam kehidupan manusia, karena risalah adalah kesempurnaan manusiawi paling tinggi, tidak ada kesempurnaan lagi yang melebihinya.

Kemudian dua gelang emas itu diberikan kepada Nabi Saw dan diletakkan dipergelangan beliau, sebagai isyarat bahwa kedua pendusta itu telah ada saat Nabi Saw masih hidup dan akan mengaku sebagai nabi, sesuai dengan redaksi hadits, “Dua pendusta yang akan muncul setelahku menunjukkan bahwa hal itu tidak lama lagi akan muncul. Saat Nabi Saw menjelang wafat, maka kedua pendusta itu muncul di sana (Yamamah dan Yaman), hingga seakan-akan kedua pendusta itu muncul setelah Nabi Saw wafat.

Yang dimaksud dengan, “Setelah” dalam hadits itu adalah setelah risalah, dan masanya telah selesai, karena ketika ayat,

اِذَا جَآءَ نَصْرُ اللّٰهِ وَا لْفَتْحُ 
izaa jaaa-a nashrullohi wal-fat-h

“Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan,”
(QS. An-Nasr 110: Ayat 1); turun kepada Nabi Saw, beliau tahu bahwa ayat itu memberitahukan tentang wafatnya beliau. Di dalamnya juga mengabarkan tentang habisnya masa risalah beliau.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَا سْتَغْفِرْهُ ۗ اِنَّهٗ كَا نَ تَوَّا بًا
fa sabbih bihamdi robbika wastaghfir-h, innahuu kaana tawwaabaa

“maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampunan kepada-Nya. Sungguh, Dia Maha Penerima Tobat.”
(QS. An-Nasr 110: Ayat 3) dan seterusnya. Nabi Saw masih berada dalam masa risalah, berkutat antara ragam keadaan dan hukum risalah, memperbaiki jalurnya dan meratakan jalannya, menahan diri dari sikap manusia yang berbeda-beda tingkatannya, dan mencapai setiap martabah yang telah ditentukan oleh hukum ilahiyyah dan ini sangat melelahkan. Beliau menanggungnya karena Allah, dengan Allah. Ruh beliau yang suci sebelum risalah, berada dalam kenikmatan yang tiada tara, dalam kemurnian waktu dan kenikmatan hidup yang tidak ada bandingannya. Namun, kemudian Allah Swt menghadapkan beliau pada ragam martabat makhluk, mendidik dan memberi petunjuk pada mereka, serta menanggung beban mereka karena jauh dari hadhrah Ilahiyyah.

Ketika Allah Swt berfirman kepada Nabi Saw,

اِذَا جَآءَ نَصْرُ اللّٰهِ وَا لْفَتْحُ 
izaa jaaa-a nashrullohi wal-fat-h

“Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan,”
(QS. An-Nasr 110: Ayat 1)

Yang dimaksud dengan kemenangan ini adalah Fathu Makkah,

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَرَاَ يْتَ النَّا سَ يَدْخُلُوْنَ فِيْ دِيْنِ اللّٰهِ اَفْوَا جًا 
wa ro-aitan-naasa yadkhuluuna fii diinillaahi afwaajaa

“dan engkau melihat manusia berbondong-bondong masuk agama Allah,”
(QS. An-Nasr 110: Ayat 2)

فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَا سْتَغْفِرْهُ ۗ اِنَّهٗ كَا نَ تَوَّا بًا
fa sabbih bihamdi robbika wastaghfir-h, innahuu kaana tawwaabaa

“maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampunan kepada-Nya. Sungguh, Dia Maha Penerima Tobat.”
(QS. An-Nasr 110: Ayat 3)

Allah Swt mengabarkan dan mengisyaratkan kepada Nabi Saw bahwa matahari waktu yang akan mengembalikan beliau kepada keadaan yang pertama akan segera tenggelam, yaitu keadaan dimana beliau hanya bersama dengan Allah Swt dalam hadhrah qudsi-Nya dan tidak ada tujuan kepada selain-Nya, sehingga beliau akan merasakan kenikmatan sebagaimana kenikmatan yang pertama.

Ketika waktu risalah telah habis dan apa yang diinginkan telah tercapai, maka seakan-akan usia Nabi Saw telah sampai, hingga dua orang terlaknat tersebut muncul setelah masa risalah habis. Benarlah sabda Nabi Saw, “Dua pendusta yang akan muncul setelahku.” Musailamah mengaku sabagi rasul di Yamamah, dan Aswad Al ‘Ansiyy mengaku sebagai rasul di Yaman.

Juga sebagaimana sabda Nabi Saw,

رَأَى اللَّيْلَةَ رَجُلٌ صَالِحٌ نِيْطَ أَبَا بَكْرٍ بِرَسُوْلِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَنِيْطَ عُمَرُ بِأَبِي بَكْرٍ وَنِيْطَ عُثْمَانُ بِعُمَرَ

“Pada suatu malam, seorang yang shalih melihat Abu Bakar bergantung kepada Rasulullah, Umar bergantung kepada Abu Bakar, dan Utsman bergantung kepada Umar.”

Maksud hadits ini adalah mereka akkan bergantian memegang tampuk kekhilafahan.

Jika khayalan yang kuat itu berada di puncak kelemahan lantaran kalbu pemiliknya yang lemah, -kalbu yang lemah adalah kalbu yang merasa nyaman dengan kebiasaan-kebiasaan yang ada, tenggelam dalam lautan karakter manusiawi, merasa nyaman dengan kesia-siaan dan permainan, masuk ke dalam qil (katanya) dan qal (ia berkata), serta masuk ke dalam khudz (ambillah) dan hati (kemarilah), lalu disingkapkan hijab antara dirinya dan hadhrah Ilahiyyah, namun tidak ada kabar dari cahaya Ilahi-, maka malaikat akan menggambarkan kepadanya sesuai dengan kadar kalbunya yang tenggelam dalam lautan kegelapan tersebut, hingga mimpinya banyak yang dusta, tidak bisa dianggap. Ini adalah martabat jiwa yang jauh dari Allah Swt.

Perbedaan antara martabat ini dan martabat yang sebelumnya sangatlah banyak. Setiap martabat memiliki hukum tersendiri yang sesuai dengannya. Sumber semua mimpi, adakalanya dari alam khowatir (getaran-getaran kalbu) dan adakalanya dari alam wahyu. Wahyu dalam mimpi itu seperti yaqzhah (terjaga) bagi ruh yang berada dalam kesucian, dan kejauhannya sesuai dengan kadar kejauhan ruh dari kesucian. Alam naum (tidur) itu meliputi alam khowatir dan alam wahyu.

Sedangkan mimpi yang benar dari sebagian orang-orang kafir, maka mimpi itu haq bagi sebagian Ahlullah (orang-orang yang dekat dengan Allah), seperti mimpinya Al Aziz (panggilan raja Mesir) bagi Sayyidina Yusuf As, dan mimpinya Mu’abbadan Kisra bagi Nabi Saw dan kebenaran agama beliau. Penafsiran tentang mimpi tidak boleh disampaikan oleh seorang pun, kecuali ia mengetahui ta ‘wilnya. Tidak ada yang mengetahui ta ‘wil nya, kecuali para Shiddiqin, atau orang yang dekat dengan maqam shiddiqiyah.

-Selesai sudah apa yang diimla ‘kan oleh Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra kepada kami.-

Nabi Saw pernah bersabda,

مَا مِنْ أَحَدٍ يُسَلِّمُ عَلَيَّ إِلَّا رَدَّ اللَّهُ عَلَى رُوْحِي حَتَّى أَرُدَّ عَلَيْهِ

السَّلَامَ

“Tidak seorang pun yang mengucapkan salam kepadaku, kecuali Allah mengembalikan ruhku kepadaku, kemudian aku menjawab salamnya.”

Yang dijadikan sebagai aqidah dan wajib dijadikan rujukan adalah, bahwa Nabi Saw itu hidup di dalam kuburnya dengan dzat beliau yang mulia, yang pernah ada di dunia. Disamping itu, ruhnya yang mulia selalu berada dalam hadhrah Al Qudsiyyah untuk selama-lamanya.

Maksud hidupnya Nabi Saw dalam kubur adalah, karena ruh itu menyirami jasad dalam kubur dengan nur-nya yang berasal dari hadhrah Al Qudsiyyah. Demikianlah yang dimaksud dengan hidup di dalam kubur. Demikian pula hidupnya orang-orang Arifbillah.

Redaksi, إِلَّا رَدُّ اللَّهُ عَلَى رُوحِي “Kecuali Allah mengembalikan ruhku kepadaku.” Maksudnya, ruh Nabi Saw yang ada di dalam hadhrah Al Qudsiyyah kembali ke jasad beliau yang mulia untuk menjawab orang yang mengucapkan salam kepada beliau. Kemudian ia akan kembali ke tempatnya, yaitu hadhrah Al Qudsiyyah. -Selesai sudah apa yang di-imla ‘kan Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra kepada kami.-

Diantara perkara yang di-imla ‘kan Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra kepada kami adalah, beliau berkata:

Disebutkan dalam sebuah hadits bahwa Nabi Saw bersabda,

لَا أَعْلَمُ عُزَيْرٌ نَبِيٌّ أَمْ لَا

“Aku tidak tahu, apakah ‘Uzair itu nabi atau bukan.”

Pernyataan ini Nabi Saw sampaikan sebelum mengetahui kenabian ‘Uzair. ‘Uzair adalah pemilik keledai yang Allah Swt sebutkan dalam sebuah ayat,

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

اَوْ كَا لَّذِيْ مَرَّ عَلٰى قَرْيَةٍ وَّ هِيَ خَاوِيَةٌ عَلٰى عُرُوْشِهَا ۚ قَا لَ اَنّٰى يُحْيٖ هٰذِهِ اللّٰهُ بَعْدَ مَوْتِهَا ۚ فَاَ مَا تَهُ اللّٰهُ مِائَةَ عَا مٍ ثُمَّ بَعَثَهٗ ۗ قَا لَ كَمْ لَبِثْتَ ۗ قَا لَ لَبِثْتُ يَوْمًا اَوْ بَعْضَ يَوْمٍ ۗ قَا لَ بَلْ لَّبِثْتَ مِائَةَ عَا مٍ فَا نْظُرْ اِلٰى طَعَا مِكَ وَشَرَا بِكَ لَمْ يَتَسَنَّهْ ۚ وَا نْظُرْ اِلٰى حِمَا رِكَ ۗ وَلِنَجْعَلَكَ اٰيَةً لِّلنَّا سِ وَا نْظُرْ اِلَى الْعِظَا مِ كَيْفَ نُـنْشِزُهَا ثُمَّ نَكْسُوْهَا لَحْمًا ۗ فَلَمَّا تَبَيَّنَ لَهٗ ۙ قَا لَ اَعْلَمُ اَنَّ اللّٰهَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
au kallazii marro ‘alaa qoryatiw wa hiya khoowiyatun ‘alaa ‘uruusyihaa, qoola annaa yuhyii haazihillaahu ba’da mautihaa, fa amaatahullohu mi-ata ‘aaming summa ba’asah, qoola kam labist, qoola labistu yauman au ba’dho yauum, qoola bal labista mi-ata ‘aaming fangzhur ilaa tho’aamika wa syaroobika lam yatasannah, wangzhur ilaa himaarik, wa linaj’alaka aayatal lin-naasi wangzhur ilal-‘izhoomi kaifa nungsyizuhaa summa naksuuhaa lahmaa, fa lammaa tabayyana lahuu qoola a’lamu annalloha ‘alaa kulli syai-ing qodiir

“Atau seperti orang yang melewati suatu negeri yang (bangunan-bangunannya) telah roboh hingga menutupi (reruntuhan) atap-atapnya, dia berkata, “Bagaimana Allah menghidupkan kembali (negeri) ini setelah hancur?” Lalu Allah mematikannya (orang itu) selama seratus tahun, kemudian membangkitkannya (menghidupkannya) kembali. Dan (Allah) bertanya, “Berapa lama engkau tinggal (di sini)?” Dia (orang itu) menjawab, “Aku tinggal (di sini) sehari atau setengah hari.” Allah berfirman, “Tidak! Engkau telah tinggal seratus tahun. Lihatlah makanan dan minumanmu yang belum berubah, tetapi lihatlah keledaimu (yang telah menjadi tulang-belulang). Dan agar Kami jadikan engkau tanda kekuasaan Kami bagi manusia. Lihatlah tulang-belulang (keledai itu), bagaimana Kami menyusunnya kembali kemudian Kami membalutnya dengan daging.” Maka ketika telah nyata baginya, dia pun berkata, “Saya mengetahui bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.””
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 259)
Uzair mendapati keledainya tanpa bekas.

وَا نْظُرْ اِلَى الْعِظَا مِ كَيْفَ نُـنْشِزُهَا
wangzhur ilal-‘izhoomi kaifa nungsyizuhaa

“Lihatlah tulang-belulang (keledai itu), bagaimana Kami menyusunnya kembali.” (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 259).

Kemudian Allah Swt menghidupkan kembali keledai tersebut seketika itu.

قَا لَ اَعْلَمُ اَنَّ اللّٰهَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
qoola a’lamu annalloha ‘alaa kulli syai-ing qodiir

“dia pun berkata, “Saya mengetahui bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 259).

Suatu ketika ‘Uzair pernah mengadu kepada Allah Swt saat ia menjadi tawanan Bukht Nashshara, ia berkata, “Tuhan, bani Israil telah melakukan ini dan itu kepadaku, perbuatan buruk yang dibenci oleh semua tabiat-, serta merobohkan tempat ibadah-Mu.” Lalu turunlah malaikat kepadanya, dan berkata, “Hai Uzair, aku datang kepadamu untuk bertanya. Beritahukan kepadaku, berapa teteskah air laut itu? Dan berapa jumlah pasir yang ada di bumi?”

Malaikat itu menanyakan banyak hal yang tidak dapat dijangkau oleh akal. ‘Uzair berkata, “Siapa yang bisa menghitung ini? Atau siapa yang bisa mengetahui ini?” Malaikat itu berkata kepadanya, “Orang itu bertanya tentang apa yang tidak diketahuinya.” Kemudian malaikat itu berkata lagi, “Bagaimana menurutmu, jika bumi dan lautan mengadu kepadamu? Lautan berkata, ‘Keadaanku semakin sempit karena makhluk Tuhanku. Aku ingin memuntahkannya ke bumi, agar keadaanku semakin luas dari makhluk Tuhanku. Kemudian bumi juga berkata kepadamu, ‘Keadaanku semakin sempit karena makhluk Tuhanku. Aku ingin memuntahkannya ke laut, agar keadaanku semakin luas dari makhluk Tuhanku.’ Bagaimana engkau memutuskan diantara keduanya?” ‘Uzair menjawab, “Aku akan katakan kepada keduanya, masing-masing dari kalian datang dengan membawa alasan yang tidak berguna. Sungguh, Allah Swt telah menentukan kadar dan batasan untuk kalian berdua yang tidak akan melampaui batas. Maka, tidak ada cara untuk mewujudkan keinginan kalian.” Malaikat berkata kepadanya, “Tidakkah engkau memutuskan demikian kepada dirimu sendiri?” Yang dimaksud malaikat itu, apa yang sedang engkau dan Bukht Nashshara hadapi, masing-masing memiliki batasan di sisi Allah Swt yang tidak akan melampaui batas. -Selesai sudah apa yang di-imla ‘kan Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra kepada kami.-

Kemudian Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra berkata:

Ketika Taurat hilang dari tangan bani Israil, kemudian Allah Swt mengembalikan kepada bani Israil setelah bepergian mereka. Mereka melihat Taurat, namun mereka tidak mendapati apapun di dalamnya. Maka, ‘Uzair memohon dengan penuh harap kepada Allah Swt untuk mengembalikan Taurat kepada mereka. Allah pun memenuhi dada ‘Uzair dengan anugerah Ilahi (hapal Taurat), kemudian ia membacakan Taurat kepada Bani Israil, lalu mereka mencatatnya dari hapalan ‘Uzair. Selesai sudah apa yang di-imla ‘kan Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra dari hafalan beliau kepada kami.-

Nabi Saw juga pernah bersabda,

لَوْ أُرْسِلَ حَجَرٌ مِنَ السَّمَاءِ إِلَى الْأَرْضِ، لَوَصَلَ مِنَ الصُّبْحِ إِلَى اللَّيْلِ، وَهَذَا الحَجَرُ أُلْقِيَ مِنْ رَأْسِ جَهَنَّمَ مُنْذُ سَبْعِينَ سَنَةً، مَا بَلَغَ قَعْرَهَا إِلَى الْأَنِ

“Seandainya batu dilemparkan dari langit ke bumi, maka ia akan sampai (ke bumi) dari waktu Subuh sampai malam hari. Sedangkan batu yang dilemparkan dari atas neraka Jahannam selama tujuhpuluh tahun, maka ia tidak akan mencapai dasarnya hingga saat ini.”

Kemudian Nabi Saw menyebutkan bahwa neraka Jahannam dipenuhi oleh jin dan manusia. Setiap siang dan malam batu itu menempuh perjalanan selama seribu tahun, kemudian bilangan ini terus berputar selama tujuh puluh tahun. Maka, jumlahnya adalah dua puluh empat juta, tujuh ratus delapan puluh ribu tahun. Inilah jarak neraka Jahannam antara dua sisi, yaitu atas dan dasarnya. Semoga Allah melindungi kita semua darinya dengan anugerah dan kedermawanan-Nya. Âmîn. Selesai sudah apa yang diimla ‘kan oleh Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra kepada kami.-

Dalam sebuah hadits, Nabi Saw pernah bersabda,

غَشِيَتْكُمُ السَّكْرَتَانِ : سَكْرَةُ حُبُّ الْعَيْشِ وَسَكْرَةُ حُبُّ الْمَالِ، فَعِنْدَ ذَلِكَ لاَ يَأْمُرُوْنَ بِالمَعْرُوفِ وَلاَ يَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ، وَالقَائِمُ بِالْكِتَابِ وَالسُّنَةِ كَالسَّابِقِيْنَ الأَوَّلِينَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ.

“Ada dua hal yang akan membuat kalian mabuk: (1) Mabuk karena cinta hidup dan (2) mabuk karena cinta harta. Pada saat demikian itu, mereka tidak akan memerintah yang makruf dan mencegah yang munkar. Dan orang yang memegang teguh Al Kitab dan As-Sunnah seperti As-Sabiqunal Awwalun dari kalangan muhajirin dan anshar.”

Disebutkan dalam hadits lainnya,

الْعَمَلُ فِي الفَرْجِ كَالهِجْرَةٍ مَعِي أَوْ كَالهِجْرَةٍ إِلَيَّ

“Amal baik pada zaman fitnah (pahalanya) seperti hijrah bersamaku, atau berhijrah kepadaku.” -Selesai.-

Nabi Saw bersabda,

مَا عُبِدَ اللَّهُ بِشَيْءٍ أَفْضَلَ مِنْ فِقْهِ فِي الدِّيْنِ، وَلَفَقِيْهُ وَاحِدٌ أَشَدُّ عَلَى الشَّيْطَانِ مِنْ أَلْفِ عَابِدٍ

“Tidaklah Allah disembah dengan sesuatu yang lebih utama daripada pemahaman dalam agama. Satu orang faqih lebih berat bagi syeithan (untuk menggodanya) daripada seribu ahli ibadah.”

Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra berkata, “Yang dimaksud dengan faqih adalah orang yang ma’rifat pada Allah Swt.” -Selesai.-

Sumber : BUKU SAYYIDI SYAIKH RA MENJAWAB JILID 2 – KAJIAN SEPUTAR HADITS, SULUK, DAN FIKIH (JAWAHIR AL MA’ANI) SYAIKH AL HAJJ ALI HARAZIM AT-TIJANY