
Elsubha.com – Aku bertanya kepada Syaikh Ahmad At-Tijany Ra tentang maksud sabda Nabi Saw,
يَنْزِلُ رَبُّنَا كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا
“Rabb kita turun ke langit dunia setiap malam……”
Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra menjawab:
Ketahuilah, bahwa dalam martabat Dzat-Nya Allah Swt memiliki dua nisbat:
Pertama: Nisbat kunh. martabat ini sangat jauh untuk mengalami perubahan sebab masa, tempat, nisbat, idhafah, arah dan tawajjuh. martabat ini sedikit pun tidak menerima beragam nisbat tersebut; baik zhahir maupun bathin, baik secara hakikat maupun secara majaz.
Kedua: Nisbat tanazzul. Adakalanya dengan niyabah (pengganti), adakalanya dengan rahmat dan fadhal, adakalanya dengan ghadhab (marah) dan bathsy (kekerasan) dan adakalanya dengan isytirak (perserikatan).
Nisbat niyabah ini seperti yang tertera dalam sabda Nabi Muhammad Saw,
السُّلْطَانُ ظِلُّ اللَّهِ فِي الْأَرْضِ
“Pemimpin adalah pengganti Allah di muka bumi.”
Maksudnya, seorang pemimpin adalah pengganti Allah Swt untuk melakukan kebaikan demi kemaslahatan bumi. Juga seperti firman Allah Swt,
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَاِ ذْ قَا لَ رَبُّكَ لِلْمَلٰٓئِكَةِ اِنِّيْ جَا عِلٌ فِى الْاَ رْضِ خَلِيْفَةً ۗ قَا لُوْۤا اَتَجْعَلُ فِيْهَا مَنْ يُّفْسِدُ فِيْهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَآءَ ۚ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَـكَ ۗ قَا لَ اِنِّيْۤ اَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ
wa iz qoola robbuka lil-malaaa-ikati innii jaa’ilung fil-ardhi kholiifah, qooluuu a taj’alu fiihaa may yufsidu fiihaa wa yasfikud-dimaaa, wa nahnu nusabbihu bihamdika wa nuqoddisu lak, qoola inniii a’lamu maa laa ta’lamuun
“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.” Mereka berkata, “Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?” Dia berfirman, “Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.””
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 30)
Demikianlah yang dimaksud dengan tanazzul niyabah.
Sedangkan tanazzul rahmat dan fadhal seperti apa yang dikatakan tentang hajar aswad, bahwa ia adalah tangan kanan Allah Swt di muka bumi. Orang yang hendak menciumnya, seakan ia mencium tangan Allah Swt. Maksudnya, ia tenggelam dalam lautan rahmat dan fadhal. Contoh tanazzul semacam ini seperti sabda Nabi Saw,
يَنْزِلُ رَبُّنَا كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا
“Rabb kita turun ke langit dunia setiap malam.” Demikianlah yang dimaksud dengan tanazzul rahmat dan fadhal. Contoh lain sebagaimana yang disebutkan dalam akhir hadits,
هَلْ مِنْ دَاعِ يَدْعُوْنِي فَأَسْتَجِيْبَ لَهُ؟ هَلْ مِنْ مُسْتَغْفِرٍ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ؟، هَلْ مِنْ تَائِبٍ يَتُوْبُ فَأَتُوْبَ عَلَيْهِ؟ هَلْ مِنْ سَائِلٍ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ؟
“Adakah orang yang berdo’a kepada-Ku, Aku akan mengabulkannya? Adakah orang yang meminta ampun kepada-Ku, Aku akan mengampuninya? Adakah orang yang bertobat kepada-Ku, Aku akan menerima tobatnya? Adakah orang yang meminta kepada-Ku, Aku akan beri permintaanya?”.
Contoh lainnya juga sebagaimana Baitul Haram yang dijadikan rumah khusus untuk-Nya (Baitullah). Maksudnya, Allah menurunkan rahmat dan fadhal-Nya di dalamnya, agar Baitul Haram itu menjadi pembatas-Nya. Maka barangsiapa yang berlindung pada pembatas-Nya dari kalangan orang-orang yang thawaf kepada-Nya, ia berhak mendapatkan ridha dan ampunan-Nya,
Allah Swt menutupi Baitul Haram dengan kiswah keagungan dan kemuliaan-Nya. Oleh karena itu, siapa yang melihatnya, ia akan merasa hina dan rendah, sebab Baitul Haram itu ditutupi dengan keagungan dan kemuliaan.
Baitul Haram juga ditutupi dengan kiswah rahmat dan fadhal-Nya, berdasarkan apa yang telah disebutkan dalam sebuah khabar, bahwa dalam setiap hari ada seratus dua puluh rahmah yang turun kepadanya; enam puluh diantaranya untuk orang-orang yang thawaf, empat puluh untuk orang-orang yang shalat dan dua puluh untuk orang-orang yang melihat.
Disamping itu, ia juga ditutupi dengan kiswah bathsy (kekerasan) dan ghadhab (murka) bagi orang yang berniat buruk kepadanya. Kebinasaannya ada yang disegerakan di dunia, ada pula yang ditangguhkan. Sebab, beratnya siksaan dan pedihnya balasan di akhirat yang tidak terhitung dan tidak terhingga. Demikianlah yang dimaksud dengan turunnya Allah Swt di muka bumi.
Pertama kali yang dilihat oleh Allah Swt di muka bumi ini adalah ka’bah dan makam Nabi Saw sebelum belahan bumi lainnya. “Melihat” dalam konteks ini menggunakan penglihatan idhafah, bukan penglihatan sifat. Sebab penglihatan sifat tidak ada sesuatu yang dilihatnya pertama kali, karena Allah Swt telah melihat bumi sejak zaman azali sebelum bumi itu tercipta, sebagaimana penglihatan-Nya saat bumi sudah tercipta, tidak ada yang berbeda sedikit pun. Pendapat ini menyelisihi pendapat mayoritas ulama mutakallimin (teologis). Pendapat mayoritas ulama menyatakan bahwa mendengar dan melihat hanya berkaitan dengan sesuatu yang sudah ada, bukan dengan sesuatu yang tidak ada.
Sementara melihatnya Allah Swt kepada seluruh semesta menggunakan penglihatan idhafah, yaitu Dia melihatnya dengan pandangan rahmat, ta’zhim, pandangan yang memuliakan dan cinta. Segala sesuatu dalam pandangan ini berbeda-beda, dan bagian didalamnya juga sudah jelas.
Diriwayatkan dari Muhammad bin ‘Ali bin Abi Thalib Ra bahwa ia berkata, “Sesungguhnya Allah melihat makhluk-Nya dalam setiap hari sebanyak tiga ratus enam puluh kali.” Semua pandangan ini menggunakan pandangan idhafah.
Maka, yang dimaksud dengan melihat tersebut adalah pemberian dan anugerah yang Allah turunkan dari simpanan fadhal-Nya. Kemudian anugerah itu disebut “melihat” secara majaz. Tempat yang dilihat oleh Allah Swt di muka bumi ini adalah raudhah-Nya yang menyimpan jasad manusia mulia, Muhammad Saw dan ka ‘bah syarifah. Inilah tempat melihat-Nya di muka bumi. Sebagaimana insan yang sempurna adalah tempat melihatnya Allah Swt dari semesta ini, demikian pula beliau Saw menjadi tempat yang dilihat oleh Allah Swt dari seluruh makhluk, sejak zaman.
Sedangkan melihatnya Allah Swt dengan murka dan kekerasan (tanazzul ghadhab wal bathsy) -wal ‘iyâdzu billâh seperti yang tergambar dalam firman-Nya,
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
هُوَ الَّذِيْۤ اَخْرَجَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا مِنْ اَهْلِ الْكِتٰبِ مِنْ دِيَا رِهِمْ لِاَ وَّلِ الْحَشْرِ ۗ مَا ظَنَنْـتُمْ اَنْ يَّخْرُجُوْا وَظَنُّوْۤا اَنَّهُمْ مَّا نِعَتُهُمْ حُصُوْنُهُمْ مِّنَ اللّٰهِ فَاَ تٰٮهُمُ اللّٰهُ مِنْ حَيْثُ لَمْ يَحْتَسِبُوْاوَقَذَفَ فِيْ قُلُوْبِهِمُ الرُّعْبَ يُخْرِبُوْنَ بُيُوْتَهُمْ بِاَ يْدِيْهِمْ وَاَ يْدِى الْمُؤْمِنِيْنَ ۙ فَا عْتَبِـرُوْا يٰۤاُ ولِى الْاَ بْصَا رِ
huwallaziii akhrojallaziina kafaruu min ahlil-kitaabi ming diyaarihim li-awwalil-hasyr, maa zhonangtum ay yakhrujuu wa zhonnuuu annahum maani’atuhum hushuunuhum minallohi fa ataahumullohu min haisu lam yahtasibuu wa qozafa fii quluubihimur-ru’ba yukhribuuna buyuutahum bi-aidiihim wa aidil-mu-miniina fa’tabiruu yaaa ulil-abshoor
“Dialah yang mengeluarkan orang-orang kafir di antara Ahli Kitab dari kampung halamannya pada saat pengusiran yang pertama. Kamu tidak menyangka, bahwa mereka akan keluar dan mereka pun yakin, benteng-benteng mereka akan dapat mempertahankan mereka dari (siksaan) Allah; maka Allah mendatangkan (siksaan) kepada mereka dari arah yang tidak mereka sangka-sangka. Dan Allah menanamkan rasa takut ke dalam hati mereka; sehingga mereka memusnahkan rumah-rumah mereka dengan tangannya sendiri dan tangan orang-orang mukmin. Maka ambillah (kejadian itu) untuk menjadi pelajaran, wahai orang-orang yang mempunyai pandangan!”
(QS. Al-Hasyr 59: Ayat 2)
Sebagaimana yang sudah diketahui bersama bahwa tidak ada yang mampu menaklukkan mereka kecuali Nabi Saw dan para sahabatnya yang dapat menaklukkan mereka.
Sedangkan turunnya Allah Swt dengan berserikat (tanazzul isytirak) adalah seperti pada firman-Nya,
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَّجَآءَ رَبُّكَ وَا لْمَلَكُ صَفًّا صَفًّا
wa jaaa-a robbuka wal-malaku shoffang shoffaa
“dan datanglah Tuhanmu; dan malaikat berbaris-baris,”
(QS. Al-Fajr 89: Ayat 22)
Dalam konteks ini, Allah Swt menurunkan fadhal dan rahmat-Nya pada satu kelompok, serta menurunkan kekerasan dan murka-Nya pada kelompok yang lain di tempat dan waktu yang sama. Demikianlah yang dimaksud dengan tanazzul isytirak. Contoh lainnya sebagaimana yang tertera pada firman-Nya dalam Taurat, “Allah datang dari Tursina, muncul dari Saghin, dan tampak dari Baran.”
Tursina adalah tempat turunnya Taurat yang memuat hukum-hukum ilahi dan syari’at. Saghin adalah tempat turunnya Injil yang memuat hukum-hukum ilahi dan syari’at. Dan Baran adalah gunung Makkah yang menjadi tempat turunnya Al Qur’an, dengan memuat hukum-hukum ilahi dan syari’at. Di dalam Taurat menyebutkan tentang kedatangan Allah Swt. Yang dimaksud dengan kedatangan-Nya itu adalah tanazzul isytirak, karena tiga syari’at yang telah disebutkan di atas meliputi turunnya rahmat dan fadhal pada satu kelompok, serta turunnya murka dan kekerasan pada kelompok yang lain.
Yang juga termasuk tanazzul isytirak adalah firman Allah Swt yang terdapat dalam sebuah hadits qudsi,
مَا وَسَعَنِي أَرْضِي وَلَا سَمَائِي وَسَعَنِي قَلْبُ عَبْدِي الْمُؤْمِنِ
“Bumi dan langit-Ku tidak mampu menampung-Ku. Namun, yang mampu menampung-Ku adalah hati hamba-Ku yang beriman.”
Allah Swt turun kepadanya dengan ber-tajalli menggunakan seluruh sifat dan nama-Nya, dalam keadaan mulia, indah dan berserikat, sebagai anugerah dari-Nya, serta rahmat dan kemuliaan bagi hamba-Nya. Hal ini khusus untuk manusia, yaitu orang yang ma’rifat pada Allah saja. Allah Swt tidak ber-tajalli dalam setiap dzarrah dari seluruh alam ini kecuali dengan satu nama, kecuali pada insan kamil (Nabi Muhammad Saw).
Tidak ada dua dzarrah yang berserikat dalam satu nama, dan tidak pula Allah ber-tajalli dengan dua nama dalam satu dzarrah. Maksudnya, Rabb kita tidak ber-tajalli dengan satu nama dalam dua hakikat, tidak pula dengan dua nama dalam satu hakikat, selain pada manusia. Demikianlah maksud hadits di atas.
Allah Swt memiliki dua tanazzul. Pertama, tanazzul wujud, dan kedua, tanazzul imdad.
Tanazzul pertama: Tanazzul wujud adalah turunnya Allah Swt dari sisi Ahadiyyah (Kemahaesaan) ke sisi Uluhiyyah (Ketuhanan), kerena Dia berfirman dalam sebuah hadits qudsi,
كُنْتُ كَنزاً لَمْ أُعْرَفُ، فَأَحْبَبْتُ أَنْ أُعْرَفَ، فَخَلَقْتُ الْخَلْقَ، فَتَعَرَّفْتُ لَهُمْ، فَبِيَ عَرَفُوْنِي
“Aku adalah simpanan yang belum dikenal. Aku ingin dikenal, maka Aku ciptakan makhluk, lalu Aku mengenalkan diri kepada mereka, hingga mereka pun mengenal-Ku karena Aku.”
Wujudnya Allah Swt yang pertama berupa Dzat Syadzaj (yang menyendiri), tidak ada penampakan bagi yang lain dan kecondongan pada lainnya, hal ini lantaran kecemburuan-Nya yang begitu besar, begitu tinggi kemuliaan-Nya dan begitu besar keagungan-Nya, karena dalam keadaan itu Allah Swt memiliki keluhuran, kebesaran dan keagungan yang sempurna. Allah juga memiliki kemuliaan yang sempurna, yang perkaranya tidak dapat dicapai dan hakekatnya tidak bisa diketahui.
Siapa saja makhuk-Nya yang berusaha untuk mengenal Rabbnya dalam martabat itu, maka usahanya akan percuma dan usianya terbuang sia-sia. Ia tidak mendapatkan apa-apa kecuali penyesalan dan kerugian. martabat itu adalah martabah kunhil haq, tidak ada yang mengetahuinya selain Dia (Allah).
Martabat inilah yang dinamakan hadhrah thamsi, ‘ama dzati dan buthûn akbar, tidak ada harapan bagi seorang pun untuk mengetahui hakekatnya. Di dalamnya hanya terdapat sifat-sifat yang agung, berupa keluhuran, kebesaran keagungan, kemuliaan, kedermawanan dan semua sifat yang serupa dengannya. Sifat-sifat tersebut adalah sifat Dzat Syadzaj, yang tidak dapat dicapai oleh akal dan pikiran walaupun hanya sedikit, apalagi merasakannya.
Dalam martabat ini dikatakan, “Tidak ada yang tahu bagaimana Dzat-Nya kecuali Dia.” Setiap sifat yang disebutkan sebagai milik Dzat Syadzaj yang jauh dari akal, pikiran dan pemahaman. Sendainya dari martabat ini Allah tampakkan kepada makhluk walau hanya sekecil debu, maka semua makhluk akan habis terbakar, kemudian Dia pun akan sirna, sebab tidak ada satu makhluk pun yang mampu mengenal-Nya dalam martabat tersebut. Kemudian Allah Swt turun dari hadhrah uluwwi ke hadhrah ta’ali, dari hadhrah kibriya ke hadhrah takabbur, sehingga makhluk pun bisa mengenal-Nya. Karena takabbur dan ta’ali adalah dua sifat yang qadim, yang dapat diketahui dengan wujudnya makhluk. Walaupun keduanya adalah sifat Dzat, tetapi Allah Swt menampakkan bahwa tidak ada makhluk yang lebih besar dari-Nya, dan Maha Tinggi dari sifat-sifat makhluk-Nya.
Martabat inilah yang menuntut keberadaan makhluk, dan tanazzul ini (turunnya Allah dari hadhrah ‘uluwwi ke hadhrah ta’all) tidak bisa dikatakan hadits (baru). Justru, ia qadim dan termasuk salah satu dari ragam sifat Dzat. Hanya saja, keberadaan makhluk dalam martabah ini, dimana Allah Swt turun kepadanya adalah, perkara yang dituntut oleh kesempurnaan Dzat Yang Maha Tinggi. Karena sifat takabbur dan ta ‘ali adalah dua sifat dari kesempurnaan Dzat Yang Maha Tinggi.
Sebagaimana Dzat dalam martabat kunhi yang telah kita bicarakan, terkait tidak diinginkan adanya wujud lain selain Dzat Allah Swt lantaran besarnya kemuliaan dan ketinggian Allah Swt, maka demikian pula dengan Dzat Allah dalam martabat ini yang menuntut keberadaan makhluk, karena keberadaan makhluk dalam martabat ini termasuk bagian dari kesempurnaan Dzat Allah Swt, sebab andaikan tidak ada makhluk, maka kebesaran dan keluhuran-Nya tidak akan diketahui, sebab tidak ada yang lebih rendah dari ketinggian-Nya dan tidak ada yang lebih kecil dari kebesaran-Nya.
Dengan demikian, martabat yang pertama adalah martabat buthun akbar bagi Allah Swt, sedangkan martabat yang kedua adalah hadhrah ta’ali dan takabbur, yaitu hadhrah tampaknya Allah Swt pada selain-Nya, dimana inilah yang menuntut adanya makhluk. Demikianlah martabat tanazzul dalam menciptakan mahkluk. Hal ini telah diisyaratkan dalam hadits qudsi,
فَأَحْبَبْتُ أَنْ أَعْرَفَ، فَخَلَقْتُ التخللْقَ، فَتَعَرَّفْتُ لَهُمْ، فَبِيَ عَرَفُوْنِي
“Namun Aku ingin dikenal, maka Aku ciptakan makhluk, lalu Aku mengenalkan diri kepada mereka, hingga mereka pun mengenal-Ku karena Aku.” Demikianlah martabat tanazzul dalam menciptakan makhluk.
Sedangkan martabat yang pertama, yang tidak ada selain-Nya di dalamnya, ini sesuai dengan firman dalam hadits qudsi,
كُنْتُ كَنْزَاً لَمْ أَعْرَفُ
“Aku adalah perbendaharaan yang tidak dikenal.” Maksudnya, tidak ada yang mengenal-Ku selain Aku, dimana tidak ada pula dzat yang lain selain Aku.
Tanazzul ini menuntut keberadaan makhluk, baik secara umum maupun khusus, secara global maupun terperinci, sejak pertama kali adanya semesta alam hingga selamanya. Ini adalah martabat wujudnya dzat-dzat makhluk; yang celaka dan yang bahagia, yang disayang dan yang disiksa.
Tanazzul kedua: Tanazzul Imdad adalah
tanazzul-nya Allah Swt yang berupa pemberian rahmat ilahiyyah yang disebut “Nafas Rahmani”; yaitu sesuatu yang sesuai dengan keinginan makhluk, berupa syahwat, perkara yang enak-enak, dan perkara yang mudah secara mutlak. Ini adalah tanazzul dengan rahmat yang diberikan kepada setiap makhluk. Tidak ada makhluk pun kecuali ia mendapatkan rahmat, baik yang kafir ataupun yang mukmin. Ini adalah tanazzul yang kedua dan tanazzul yang pertama. Keduanya terdapat dalam hakekat Al Muhammadiyyah, karena ialah yang pertama kali ada, yang Allah Swt ciptakan dari hadhrah ‘Ama Rabbani. Dan Allah Swt menjadikannya dapat meliputi seluruh dzat makhluk sejak zaman azali hingga selamanya. Setiap makhluk yang ada keluar dari hadhrah Al Muhammadiyyah ini. Sebagaimana wujudnya Adam As meliputi keberadaan anak keturunannya hingga hari Kiamat, sehingga dapat dikatakan semua manusia keluar darinya. Demikian pula dengan keberadaan makhluk yang ada sejak zaman azali hingga selamanya, keluar dari hakikat Al Muhammadiyyah, karena ia adalah bapak yang pertama bagi semua makhluk. Demikianlah tanazzul yang pertama, yaitu tanazzul dalam menciptakan dzat-dzat makhluk.
Tanazzul yang kedua, yang berupa pemberian rahmat ilahiyyah yang dituntut oleh “Nafas Rahmani juga terdapat didalam hakekat Al Muhammadiyyah. Tidak ada rahmat bagi makhluk pun, baik yang naik atau yang turun, yang umum ataupun yang khusus, kecuali itu hanyalah setitik dari aliran samudera hakekat Al Muhammadiyyah. Sebagaimana Nabi Muhammad Saw adalah sebab terciptanya semua makhluk, demikian pula beliau menjadi sebab bagi mereka mendapatkan anugerah rahmat ilahiyyah.
Tanazzul yang pertama, yaitu wujudnya dzat-dzat makhluk, telah diisyaratkan dalam firman Allah Swt,
قُلْ اِنْ كَا نَ لِلرَّحْمٰنِ وَلَدٌ ۖ فَاَ نَاۡ اَوَّلُ الْعٰبِدِيْنَ
qul ing kaana lir-rohmaani waladung fa ana awwalul-‘aabidiin
“Katakanlah (Muhammad), “Jika benar Tuhan Yang Maha Pengasih mempunyai anak, maka akulah orang yang mula-mula memuliakan (anak itu).”
(QS. Az-Zukhruf 43: Ayat 81)
Demikian itu, karena Nabi Saw adalah makhluk pertama yang menyembah Allah Swt. Sebab tidak ada satu makhluk pun yang lebih dahulu tercipta sebelum beliau Saw.
Sedangkan tanazzul yang kedua, yaitu Nafas Rahmani, telah diisyaratkan dalam firman Allah Swt,
وَمَاۤ اَرْسَلْنٰكَ اِلَّا رَحْمَةً لِّـلْعٰلَمِيْنَ
wa maaa arsalnaaka illaa rohmatal lil-‘aalamiin
“Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam.”
(QS. Al-Anbiya 21: Ayat 107)
Martabat Ahadiyyah adalah martabah kunhil haq (hakekat Allah Al Haq), yaitu Dzat Syadzaj yang tidak ada harapan bagi seorang pun untuk wushul kepadanya. martabat ini disebut hadhrah thamsi dan ‘ama dzati, yang telah dirumuskan dalam sabda Rasulullah Saw saat ada seseorang yang bertanya kepada beliau,
أَيْنَ كَانَ رَبُّنَا قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَاوَاتِ وَ الْأَرْضِ ؟ قَالَ: كَانَ
فِي عَمَاءٍ وَمَا فَوْقَهُ هَوَاءٌ وَمَا تَحْتَهُ هَوَاءٌ
“Dimanakah Rabb kita sebelum menciptakan langit dan bumi?” Nabi Saw menjawab, “Dia berada di ‘Ama (tempat yang tidak ada petunjuknya), di atas dan bawahnya hanya ada udara.”
Tempat yang tidak ada petunjuknya adalah puncak buthunil haq (sisi Allah yang tersembunyi), sehingga tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui hakekat-Nya. Hal ini diisyaratkan dalam firman Allah Swt,
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
يَعْلَمُ مَا بَيْنَ اَيْدِيْهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلَا يُحِيْطُوْنَ بِهٖ عِلْمًا
ya’lamu maa baina aidiihim wa maa kholfahum wa laa yuhiithuuna bihii ‘ilmaa
“Dia (Allah) mengetahui apa yang di hadapan mereka (yang akan terjadi) dan apa yang di belakang mereka (yang telah terjadi), sedang ilmu mereka tidak dapat meliputi ilmu-Nya.”
(QS. Ta-Ha 20: Ayat 110)
Inilah yang dimaksud dengan buthûnil haq, yaitu buthûn akbar.
Hadhrah Ta’ali dan hadhrah takabbur adalah martabat zhuhûril haq (sisi Dzat Allah yang nampak) kepada selain-Nya. Jika engkau bertanya tentang hakekat Ahadiyyah, maka ia adalah martabat zhuhuril haq (sisi Allah yang nampak) dengan martabat kesendirian-Nya dalam wujud, hingga tidak ada satu pun yang wujud bersama-Nya.
Perbedaan antara Ahadiyyah dan Dzat Sadzaj adalah, Dzat Sadzaj di dalamnya tidak bisa dibedakan untuk Ahadiyyah dan Katsrah, karena semua nisbat dihapuskan di dalamnya, sehingga di dalamnya tidak ada kekhususan nisbat atas nisbat yang lain. Ialah puncak kesamaran dan inilah yang disebut dengan ‘Ama. Sedangkan Ahadiyyah hampir sama dengan Dzat Sadzaj, hanya saja di dalamnya tampak perbedaan antara nisbat Ahadiyyah dengan nisbat yang lainnya. Inilah yang disebut dengan martabat zhuhûril haq.
Martabat Wahdah adalah tajalli-Nya Allah Swt dengan kesempurnaan Dzat-Nya dalam hakekat Al Muhammadiyyah. Ia juga Dzat Sadzaj, Dia (Allah) ber-tajalli dengannya dalam hakekat Al Muhammadiyah. Dia ber-tajalli dengan Dzat-Nya dari Dzat-Nya untuk selain-Nya dalam selain-Nya. Inilah yang dimaksud dengan martabat wahdah.
Martabat Wahidiyyah adalah tajalli-nya Allah Swt dengan kesempurnaan sifat dan nama-Nya, dalam Dzat-Nya yang tampak. Inilah yang disebut dengan hadhrah Lahut, dan inilah hakekat Adamiyah. Perbedaan antara empat martabat itu adalah: Dzat Sadzaj ialah tajalli-Nya dengan Dzat-Nya dalam Dzat-Nya untuk Dzat-Nya dari Dzat-Nya, serta tidak adanya nisbat, sehingga tidak ada Ahadiyah, tidak ada sisi yang banyak, tidak ada sifat dan tidak pula ada nama, yang dijauhkan dari nisbat dan idhafah. Sedangkan Ahadiyyah adalah tajalli-Nya Allah dengan Dzat-Nya dalam Dzat-Nya untuk Dzat-Nya dari Dzat-Nya, serta tampaknya nisbat Ahadiyah dan dengan menghapus semua nisbat; baik nama, sifat, jumlah dan selain-Nya.
Jadi, yang pertama adalah martabat buthûnil haq dan yang kedua adalah martabat zhuhûril haq. Sedangkan Wahdah adalah tajalli-Nya Allah dengan Dzat-Nya dari Dzat-Nya dalam hakekat Al Muhammadiyah. hakekat Al Muhammadiyah adalah sesuatu yang nampak bagi Allah dalam dzat-Nya, yaitu tajalli-Nya Allah untuk selain-Nya dalam selain-Nya. Wahidiyah adalah tajalli-Nya Allah dengan nama dan sifat-Nya dalam selain-Nya untuk selain-Nya. Inilah hakekat Adamiyah. Demikianlah perbedaan antara empat martabat tersebut.
Hakekat Dzat Sadzaj artinya adalah bersih dan murni, sebagai contoh dan Allah mempunyai sifat Yang Maha Tinggi adalah matahari, jika ia tenggelam di malarn hari, maka bintang-bintang mulai tampak kelihatan. Lalu, jika matahari sudah mulai terbit, maka sinar bintang-bintang pun hilang, bahkan wujudnya pun sirna. Tetapi, bintang-bintang itu hilang karena pengaruh matahari.
Demikian pula dengan nama-nama dan sifat-sifat ilahiyyah itu ada, namun tidak dapat dilihat oleh orang yang melihat.
Kemudian orang yang memiliki akal mencoba untuk memikirkan ragam nama dan sifat tersebut, hanya saja ia terhalang oleh Dzat-Nya Allah. Jika Dzat Yang Maha Tinggi ini muncul, maka hilanglah beragam nama dan sifat itu dari pandangan orang yang melihatnya, walaupun sebenarnya ia masih tetap ada, sehingga tidak ada lagi nama dan sifat. Ini adalah wujud mutlak, buthun dzati, dan ‘ama dzati.
Dalam hal ini, Al Jilli Ra bersenandung,
فَلِلَّهِ خَلْفَ الإِسْمِ وَالْوَصْفِ مَظْهَرُ # وَعَنْهُ عُيُونُ الْعَالَمِينَ هَوَاجِعُ
وَلَيْسَ يُرَى الرَّحْمَانُ إِلَّا بِعَيْنِهِ # وَذَلِكَ حُكْمٌ فِي الْحَقِيقَةِ وَاقِعُ
وَإِيَّاكَ لَا تَسْتَبْعِدِ الْأَمْرَ إِنَّهُ # قَرِيبٌ عَلَى مَنْ فِيْهِ لِلْحَقِّ تَابِعُ
“Di belakang nama dan sifat, Allah tampak, # mata-mata makhluk tidak dapat melihat-Nya.
Ar-Rahman tidak dapat dilihat kecuali dengan pandangan-Nya, # demikianlah aturan yang terjadi dalam hakekat(Nya).
Hanya kepada-Mu (aku meminta) agar Engkau tidak menjauhkan perkara ini, # Dia dekat dengan orang yang mengikuti kebenaran.”
-Selesai sudah apa di-imla kan Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra kepada kami dari hafalan maupun dari catatan beliau.-
Kemudian Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra berkata: Kumpulan semua martabat tersebut adalah hadhrah yang lima:
Hadhrah yang pertama ialah hadhrah alam nasut, yaitu martabat wujudnya ragam jasad yang tebal.
Hadhrah yang kedua ialah martabat alam malakut, yaitu martabat Faidhul Anwar Qudsiyah dari langit yang pertama sampai langit yang ke tujuh. Ia adalah alan mitsal, yaitu alam ruhani dan jagad raya.
Hadhrah yang ketiga ialah hadhrah alam jabarut, yaitu dari langit ke tujuh sampai Al Kursi. Ia adalah Hadhrah Faidhul Asrar Ilahiyyah, dan ini adalah alam arwah yang murni, yaitu alam malaikat.
Hadhrah yang keempat ialah hadhrah alam lahut, yaitu hadhrah tampaknya beragam nama dan sifat Allah Swt dengan asrar, anwar, fuyudh dan tajalliyat-nya.
Hadhrah yang kelima ialah hadhrah hahut, yaitu Hadhrah Buthûn Dzati dan ‘Ama Dzati. Martabat inilah yang tidak ada harapan untuk mencapainya, kecuali hanya ber-ta’alluq kepadanya.
Nama-nama martabat dalam tanazzul sebagai berikut: Pertama, martabat Dzat Sadzaj. Kedua, martabat Ahadiyyah. Ketiga, martabat Wahdah. Keempat, martabat Wahidiyah. Kelima, martabat Arwah. Keenam, martabat Mitsal. Ketujuh, martabat Hissi Pada setiap martabat memiliki beberapa nama:
Pertama: Dzat Sadzaj adalah Kunhul Haq, Hadhrah Thamsi, ‘Ama Dzati, Buthun Akbar.
Kedua: Martabat Ahadiyyah adalah Aqdamu Qidam, Ahadiyyah Muthlaqah, Ahadiyyah Wahdiyyah, Maknûnul Maknûn, Ahadiyyah Sharfun, Wujudun Sharfun, Haqqul Haq, Dzatun Bahtsun, ‘Adamul ‘Adam, Dzatun Sharfun, Dzatun bila Ta’addud, Buthûnul Buthûn, Dzatun Syadzajun, Wujûdun Muthlaqun, Majhûl Na’ti, Dzatul Hawiyyah, Dzatun Muthlaqun, ‘Ainul Kâfür, Dzatun Ahadiyyatun, Mujarradusy-Syu’un, Azalul Azal, Lâ Ta’ayyunun, Abadul Åbâd, Awwalu Lâ Nihayah, Lâhut, Akhirun bilā Nihayah, Ghaibul Ghaib, Ghaibun Mashûn, Misykâtul Ghaib.
Ketiga: Martabat Wahdah adalah Al Ismul A’zham, Al Haqîqah Al Muhammadiyyah, Ummul Faidhi, Al Qalamul A’la, Al Barzakh Al Kubra, Ummul Kitab, Kanzul Kunûz, Alamul Jabarût, Kanzush-shifat, Alamun Muthlaqun, Maujūdun Ijmâliyyun, Maujudun Awwalun, Al Wahdah Ash-Shirfah, Ahadiyatul Jam’i, Ad-Durratul Baidha, Haqiqatul Haqâ ‘iq, Barzakhul Barâzikh, Al Khalqul Awwalu, Ar-Rûh Al A’zham, Abul Arwah, Waladul Akbar, ‘Ainul Awwali, An-Nasyâthul Awwalu, Azh-Zhillul Awwalu, Al ‘Aqlul Awwalu, Al Mabda’ul Awwalu, Azh Zhuhurul Awwalu, Alamur-Rumüz, Alamul Wahdati, Alamush-Shifat.
Keempat: Martabat Wahidiyyah adalah Hadhratul Uuhiyyah, Hadhratul Jam’i, Hadhratur-Rubübiyyah, Munba’atsul Wujûd, Al Maujûdul Fayyadhu, Zhahirul Wujûd, Zhillul Wahdah, Ahadiyyatul Katsrah, Azh-Zhillul Mamdûd, ‘Alamul Asma’, Shuwarul Asma Al Illahiyyah, Al A’yân Ats-Tsâbitah, Asma `ush-Shifat, Mansya ‘ul Katsarât, At-Ta’ayyunul Awwal, Al Bad`uts-Tsâni, An-Nasyathuts-Tsâni, Manzilul Qudus, Al’ Ân Ad-Dâ`im, Qabiliyatuzh-Zhuhûr, Nafasur-Rahman, Asma ‘ul Mabda `its-Tsâni, Muntahal Ma’rifah, Muntahal ‘Arifin, Muntahal ‘Abidin, Haqqul Yaqîn, Ilmul Yaqîn, Ainul Yaqîn.
Kelima: Martabat Arwah adalah At-Ta’ayyunul Awwal, Alamul Amr, An-Nufûs Al Mujarradah, Alamul Bâthin, Haqiqatul Insan, Qâbu Qausain, Ma’dinul Arwah, Kanzul Arwah, Majma’ul Arwah, ‘Alamul Ma’âni, Alamul Malakut, Alamul ‘Uqûl, Ma’adul Arwah, Maqâmul Arwah, Rutbatul Arwah.
Keenam: Martabat Mitsal adalah At-Ta’ayyunur-Rabi’, Al Kaunul Jâmi’, Mansya`un-Nûr, Rutbatul Khayal, Al Munfashil, Al Murakkabatuth-Thabî’i, Mâlikul Jinan, Bâthinul Mulk, Hadhratul Asmâ’, Al ‘Aqlul Kulli, An-Nafsul Kulli, Ath-Thabi’ah Al Kulliyyah, Asy-Syaklul Kulli, Al Huyūlul Kulli, Al Jismul Kulli.
Ketujuh: Martabat Hissi adalah Alamul Hissi, Alamul Ajsâm, Al Murakkabâtul Katsifah, Alamusy Syahadah, Alamul Mulk, Alamul Khalq, At-Ta’ayyun, Martabatul Insân, Al Martabatul Jâmi’ah.
Demikianlah nama-nama lain untuk kelima hadhrah tersebut.
Kemudian Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra berkata: Sementara makna dari An-Nafs, Al Ain, Adz-Dzât, Al Haqiqah, Al Mahiyah dan Al Ma `iyah; semuanya merupakan kata-kata muradif (sinonim), yaitu istilah-istilah untuk satu nama. Semua dapat digunakan untuk menunjukkan makna dzat sesuai dengan perkataan nabi Isa As,
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَاِ ذْ قَا لَ اللّٰهُ يٰعِيْسَى ابْنَ مَرْيَمَ ءَاَنْتَ قُلْتَ لِلنَّا سِ اتَّخِذُوْنِيْ وَاُ مِّيَ اِلٰهَيْنِ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ ۗ قَا لَ سُبْحٰنَكَ مَا يَكُوْنُ لِيْۤ اَنْ اَقُوْلَ مَا لَـيْسَ لِيْ بِحَقٍّ ۗ اِنْ كُنْتُ قُلْتُهٗ فَقَدْ عَلِمْتَهٗ ۗ تَعْلَمُ مَا فِيْ نَفْسِيْ وَلَاۤ اَعْلَمُ مَا فِيْ نَفْسِكَ ۗ اِنَّكَ اَنْتَ عَلَّا مُ الْغُيُوْبِ
wa iz qoolallohu yaa ‘iisabna maryama a angta qulta lin-naasittakhizuunii wa ummiya ilaahaini ming duunillaah, qoola sub-haanaka maa yakuunu liii an aquula maa laisa lii bihaqq, ing kungtu qultuhuu fa qod ‘alimtah, ta’lamu maa fii nafsii wa laaa a’lamu maa fii nafsik, innaka angta ‘allaamul-ghuyuub
“Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman, “Wahai ‘Isa putra Maryam! Engkaukah yang mengatakan kepada orang-orang, jadikanlah aku dan ibuku sebagai dua Tuhan selain Allah?” (‘Isa) menjawab, “Maha Suci Engkau, tidak patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku. Jika aku pernah mengatakannya tentulah Engkau telah mengetahuinya. Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada-Mu. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Mengetahui segala yang gaib.”
(QS. Al-Ma’idah 5: Ayat 116)
