You dont have javascript enabled! Please enable it!
Elsubha menjamin Garansi 100% Uang Kembali jika barang yang diterima adalah PALSU

Pembahasan 17. Akupun bertanya kepada Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra tentang hakekat Quthbaniyyah

بسم الله الرحمن الرحيم اللهم صل على سيدنا محمد الفاتح لما أغلق والخاتم لما سبق ناصر الحق بالحق والهادي إلى صراطك المستقيم وعلى آله حق قدره ومقداره العظيم

Elsubha.com – Akupun bertanya kepada Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra tentang hakekat Quthbaniyyah

Sayyidi. Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra menjawab:

Perlu diketahui bahwa hakekat Quthbaniyyah adalah khilafah ‘uzhma yang mutlak dari Allah Al Haqq pada semua alam semesta secara global maupun terperinci, dimana di alam ini Allah sebagai Tuhan yang patut disembah, maka dia adalah khalifah-Nya Allah dalam melaksanakan hukum bagi yang menjadikan Allah sebagai Tuhan mereka, kemudian diapun berperan sebagai barzakhiyyah ‘uzhma antara Allah Al Haqq dan manusia, maka tidak ada apapun yang bisa sampai kepada manusia dari Allah Swt kecuali dengan hukum wali quthb, perwakilannya dari Allah pada perkara itu, diapun yang menyampaikan setiap bagian dari Allah sesuai porsinya, lalu diapun berdiri dengan ruhaniyahnya di hadapan setiap atom di alam semesta ini secara global dan terperinci.

Sehingga engkau bisa melihat seluruh alam ini berupa bentangan yang tidak ada gerakannya, akan tetapi sesungguhnya dialah ruh dari alam ini secara global dan terperinci. Dia berdiri di alam semesta ini pada sisi ruh dan asybah-nya, kemudian diapun bertindak pada ragam martabat wali Allah, sehingga dia dapat merasakan ragam dzauq para wali, oleh karenanya tidak ada satu martabat pun dari martabat orang-orang yang ‘Arifbillah dan para wali yang keluar dari dzauq-nya, dialah yang bertindak dan memberikan madad bagi pemiliknya, diapun memiliki kekhususan rahasia Allah yang tersembunyi, yang tidak bisa diketahui oleh siapapun.

Maka makna Barzakhiyyah Al ‘Uzhma adalah memposiskan diri diantara Allah Al Haqq dan manusia, mewakili hakekat Al Muhammadiyyah. Kekhususan dirinya juga adalah dia senantiasa mengejawantahkan perintah Allah Swt pada setiap martabat manusia, dia memberikan hak pada setiap martabat Allah Swt dan martabat manusia yang didalamnya menuntut adanya adab. Kondisi ini tidak dimiliki oleh orang-orang yang ‘Arifbillah dan tidak pula dimiliki oleh Mafâtih Al Kunûz. Pada semua perkara ini dia adalah khalifahnya Nabi Saw selain para wali yang lainnya.

Secara global ulasan diatas adalah bahwa sang wali quthb al aqthab pada setiap martabat berada pada hadhrah Allah Al Haqq, disisi Allah dia dinisbatkan kepada semua makhluk dari kalangan orang yang ‘Arifbillah. Sosok dibalik mereka menempati posisi manusia yang dapat dilihat dengan mata, dengan wujud inilah dia menyayangi makhluk yang ada, dengan ini pula dia memberikan kucuran ilahiyyah yang berupa ragam faedah bagi semua makhluk, dengan inilah makhluk yang ada tetap pada tirai penghalang sisi rahmat dan lembut-Nya Allah, dengannya makhluk tetap ada sebagai simbol rahmat bagi setiap hamba Allah dan awan hujan yang menyelimuti semua negeri.

Keberadaan dirinya pada makhluk ini merupakan simbol kehidupan ruh alam semesta secara menyeluruh, dengan nafas dirinyalah Allah Swt memberikan kucuran rahmat bagi makhluk yang ada di atas dataran maupun bawah, dzat dirinya hanyalah cermin, dimana setiap orang yang menginginkan sesuatu dapat melihat maksudnya, hadhrah dirinya merupakan pewarna yang dapat mewarnai setiap orang yang mengikutinya terkait apa yang di-tawajjuh-kan dan diangan-angankannya. Jika engkau belum bisa menyaksikan itu pada dirinya, maka itulah yang dilepas padamu dan apa yang dinisbatkan padanya, ia bisa jadikan itu untukmu. Janganlah sampai engkau tidak menghormati ashabul waqti (Wali pada zaman itu), sebab itu bisa menjadikanmu diusir dan mendapat laknat. Orang yang mengingkari wali zamannya, maka akan diharamkan pula keberkahan waktu tersebut. Orang yang berjualan dengan barang zaman ini, diapun akan diberikan rizki suatu masa. Orang yang ingkar dan banyak berdebat, maka dia telah menghalangi dirinya untuk membeli. Semoga Allah meridhoi Imam ini dan kumpulkan kami pada golongannya dengan kemuliaan khairal anâm; Nabi Muhammad Saw.-Wassalam.

-Selesai sudah apa yang di-imla ‘kan Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra kepada kami.

Kemudian Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra berkata: Ketahuilah bahwa kekuatan para wali Allah yang jujur zhahir dan batinnya sekuat seratus lelaki, orang yang ‘Arifbillah merupakan penduduk alam mulki, setiap dari mereka memiliki kekuatan tiga ratus lelaki, sedangkan penduduk alam malakut, setiap dari mereka memiliki kekuatan lima ratus lelaki. Begitu juga penduduk alam jabarut, setiap mereka memiliki kekuatan tujuh ratus lelaki. Lain halnya dengan kekuatan penduduk alam ‘Amr, setiap mereka memiliki kekuatan seribu lelaki, sedangkan wali quthb al aqthab memiliki kekuatan seribu lima ratus lelaki, kekuatan wali afrâd yang empat sejumlah seratus tujuh puluh lima lelaki, sementara kekuatan mafatih al kunûz setara dengan dua ribu lelaki.-Selesai-

Makna dari Alam Mulki, Alam Malakut, Alam Jabarut dan Alam Amr

Alam mulki adalah alam dari batasan langit ke bumi, Alam malakut dari langit pertama hinggga langit ke tujuh, sedangkan Alam jabarut dari langit ke tujuh hingga kursi, sementara Alam amr dari kursi hingga ke ‘Arasy sampai dibelakangnya.

Makna Alam mulki adalah alamnya manusia, alam yang sangat pekat; Dzat Allah ber-tajalli padanya dengan gambaran jasad yang tebal. Sedangkan Alam malakut merupakan alam cahaya dimana Allah ber-tajalli pada alam ini dengan gambaran alam yang lembut. Sementara Alam jabarut adalah alam ragam rahasia, Dzat Allah ber-tajalli dengan gambaran jasad nan suci yang cocok dengan Dzat-Nya. Begitu pula Alam Amr, Dzat Allah ber-tajalli dengan gambaran ruhani nan suci yang suci dari keterkaitan materi dan natural. Pada setiap alam yang ada Allah ber-tajalli dengan kadar tajalli yang dinisbatkan pada hadhrahilahiyyah. Selesai sudah apa yang di-imla kan Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra kepada kami.-

Kemudian Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra berkata:

Asal muasal adanya setiap atom di alam ini dikembalikan pada martabat Allah Al Haqq, dimana Dzat-Nya ber-tajalli di alam ini dengan tindakan dan hukum yang Dia kehendaki. Semua makhluk yang ada merupakan penampakan dari ragam hukum dan ragam sisi kesempurnaan ilahiyyah, maka engkau tidak lihat ada satupun biji atom di alam ini yang keluar dari perkara ini, tak lain semuanya mengarah pada sisi ulûhiyyah yang sempurna, begitu juga hewan, benda mati dan manusia serta yang lainnyapun masuk ke dalam perkara ini, tidak ada bedanya antara manusia yang beriman dan yang kafir, pada sisi ini semuanya sama, dimana orang kafir pun pada sisi ini patut dihormati, sebab dia termasuk satu dari sekian martabat Allah Al Haqq. Sementara sisi pengkerdilan, penghinaan, penyerangan pada seorang mukmin termasuk perkara tambahan yang adanya belakangan. Perkara ini tidak menghancurkan ragam kaidah asli, sebab perkara asli tidak akan hancur, sedangkan beragam hukum darurat itu perkara yang nampak belakangan dimana titik kembalinya adalah pada perkara yang asli bukan pada yang tambahan.

Kesempurnaan ilmu pada asal muasalnya seharus-nya diagungkan, sebab itu merupakan satu martabat Allah Swt, dimana Allah ber-tajalli didalamnya dengan ragam hukumnya, akan tetapi kesempurnaan ilmu itu diagungkan secara batin, sementara kesempurnaan ilmu itu dihinakan, dikerdilkan dan dibunuh secara zhahir, sebab itu merupakan hukum syari’at dan hikmah. Ini adalah pandangan orang-orang yang Arifbillah saja dan bukan dalam pandangan sisi syari’at, kepada inilah isyarat sabda Rasulullah Saw,

لَا تَعْلُوْا عَلَى اللهِ فِي بِلادِهِ وَعِبَادِهِ، فَإِنَّ مَنْ عَلَا عَلَى الْعِبَادِ عَلا عَلَى اللَّهِ وَتَكَبَّرَ عَلَيْهِ

“Janganlah engkau tinggi dihadapan Allah di negara dan pada sisi hamba-Nya, sebab sungguh siapa saja yang merasa dirinya tinggi daripada hamba-hamba Allah lainnya, maka ia telah merasa tinggi di hadapan Allah dan takabbur.”

Pengejawantahan apa yang ada di dalam hadits seperti apa yang sudah kami sampaikan pertama kali; yaitu bahwa semua makhluk merupakan ragam martabat dari Allah Al Haq, seharusnya kita berserah diri kepada-Nya pada ragam hukum dan pada setiap perkara yang Dia tegakkan pada makhluk-Nya dan tidak mempertentangkan-nya. Kemudian hukum syari’at selain perkara asal ini diberlakukan secara zhahir dan batin. Hal ini tidaklah akan terjadi kecuali bagi orang yang mengetahui konsep wahdatul wujud, sehingga dia bisa menyaksikan adanya keterpisahan dan ketersambungan pada perkara syari’at. Sesungguhnya makhluk yang ada ini merupakan satu Dzat, tidak terpisah-pisah menjadi beragam jenis dan macam.

Satunya dzat makhluk yang ada tidak membuatnya keluar dari terpisahnya dzat manusia dengan ragam hukum dan ragam kekhususan, inilah yang kerap dibahasakan oleh orang yang ‘Arifbillah dengan “Yang banyak adalah inti yang satu dan yang satu adalah inti yang banyak,” maka barangsiapa pada banyaknya makhluk dengan terpisahnya bagiannya, niscaya ia melihat satu Dzat pada banyaknya makhluk dan barangsiapa yang melihat satu Dzat saja, niscaya dia akan melihat makhluk yang sangat banyak bahkan tak terhingga. Pandangan ini hanya bagi orang ‘Arifbillah saja dan bukan bagi yang lainnya dari kalangan orang yang ter-hijab. Inilah kondisi bathin orang yang memperhatikan “sisi yang satu” itu secara dzauqiyyah dan bukan pada gambaran wujud yang nampak. Perkara ini tidak bisa diperbincangkan. Maksud dari makna keter-sambungan dan keterpisahan disini adalah: Al Wahdah berarti ketersambungan dan Al Katsrah berarti keterpisahan.

Kemudian dibalik hakekat ini Allah Swt ber-tajalli pada mereka dengan nampaknya tirai penghalang yang tebal, tirai tersebut menutupi mereka dari melihat perbuatan Allah Swt, gerakan dan diamnya Allah Swt, juga melihat apa yang Allah Swt tegakkan pada hamba-Nya sesuai kehendaknya. Dengan sisi tajalli dan ter-hijab ini pula Allah Swt berikan mereka kemampuan untuk melihat sisi tirani diri mereka dengan bentuk perbuatan, mampu melihat tirani mereka dengan adanya usaha, gerak dan diam, mampu melihat tirani diri mereka dengan keterbolak-balikan dan tindakan, dimana mereka menginginkan yang mereka inginkan tanpa adanya perantara dan penghalang untuk menyelam di bidang ini. Mereka melihat bahwa tidak ada yang melakukan sesuatu pada mereka kecuali diri mereka sendiri, tidak ada yang menggerakkan mereka kecuali mereka sendiri dan tidak ada yang menolong dalam usaha mereka kecuali mereka sendiri.

Atas dasar sisi tajalli dan keter-hijab-an inilah adanya ragam perkara syari’at, diutusnya para utusan Allah yang memberikan kabar gembira dan peringatan, ditetapkannya ragam hukum dan batasannya dan dipikulkan pernbebanan dengan perintah ilahiyyah pada tengkuk manusia, yang berupa perintah, larangan, perbuatan yang harus dilakukan, perbuatan yang harus ditinggalkan, ketaatan dan kemaksiatan, perkara wajib dan perkara yang haram dilakukan. Allah pun atur ragam balasan di akhirat nanti yang berupa nikmat dan adzab, kemarahan dan cercaan, pujian dan sanjungan. Sisi tajalli dan keter-hijab-an inilah yang menyebarkan ragam hikmah dan syari’at. -Selesai sudah apa yang di-imla-kan Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra dari hafalan dan lafazh beliau.-

Sumber : BUKU SAYYIDI SYAIKH RA MENJAWAB JILID 2 – KAJIAN SEPUTAR HADITS, SULUK, DAN FIKIH (JAWAHIR AL MA’ANI) SYAIKH AL HAJJ ALI HARAZIM AT-TIJANY