
Elsubha.com – Akupun bertanya kepada Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra tentang perkataan mereka bahwa lingkaran dakwah seorang wali Allah Swt itu lebih luas daripada lingkaran dakwah seorang nabi
Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra menjawab:
Yang dimaksud dengan wali pada perkataan diatas adalah walinya ummat ini saja dan yang dimaksud dengan seorang wali adalah sosok manusia yang diperintahkan Allah untuk berdakwah di kalangannya, mereka inilah yang lingkaran lebih luas dari lingkaran para nabi As; maka ukuran luas tidaknya cakupan lingkaran dakwah mereka sesuai dengan kelompok yang mereka dakwahkan.
Seluruh nabi yang ada selain Nabi Muhammad Saw, risalah mereka khusus bagi sebuah daerah, jenis tertentu atau negara dan tidak melebar pada yang lainnya, sedangkan nabi kita; Nabi Muhammad Saw risalah beliau berlaku umum bagi semua daerah, iklim, ragam jenis kelompok, ragam umat dan bagi semua masa. Maka para da’i Allah Swt dari umat Nabi Muhammad Saw, dakwah mereka berlaku umum seperti umumnya risalah nabi mereka; Muhammad Saw; inilah yang dimaksud dengan luasnya cakupan lingkaran dakwah seorang wali daripada lingkaran dakwah seorang nabi.
Dakwah pada Allah pada hak seorang nabi senantisa terikat dengan syari’at yang nyata sesuai dengan sabda Nabi Saw,
بَلِّغُوْا عَنِّى وَلَوْ أَيَةً
“Sampaikanlah dariku meski satu ayat.”
Juga seperti sabdanya Saw,
مُرُوا بِالْمَعْرُوْفِ وَانْهَوْا عَنِ الْمُنْكَرِ
“Perintahkanlah mereka berbuat yang ma’ruf (baik) dan laranglah mereka dari kemungkaran.”
Akan tetapi dakwah yang kami sebutkan disini sesungguhnya dengan izin khusus seperti risalah. Orang yang bersigera mendakwahi manusia, mengajak mereka pada Allah dengan izin khusus dari Allah, niscaya kata-katanya akan mengalir pada semua kalbu dan ada penerimaan dari manusia sehingga proses pelaksanaan perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya pada manusia teraplikasikan, kata-katanya yang manis ditaati dan bisa masuk kedalam kalbu. Berbeda dengan orang yang bersigera mendakwahi manusia dengan izin umum tanpa memiliki izin khusus, maka manusia tidak akan mendapatkan manfaat dari kata-katanya, tidak ada penerimaan dari kalbu mereka. Sebab, Lisan Allah Al Haqq seolah-olah akan berkata padanya dengan lisan hal dirinya tentang banyak hakekat, “Kami tidak perintahkan engkau untuk ini dimana engkau juga bukan ahlinya, engkau hanya orang yang suka campur tangan saja.” Maka orang yang berada pada kondisi ini, ia akan diuji dengan tuntutan jiwa yang berupa ingin kepemimpinan, riya, membuat-buat dalam bertingkah laku, tidak ada yang untuk Allah senata. Ibnu Al Faridh berkata:
فَعَالِمُنَا مِنْهُمْ نَبِيْءٌ وَمَنْ دَعَا # إِلَى الْحَقِّ مِنَّا قَامَ بِالرُّسُلِيَّةِ
“Orang yang alim diantara kami adalah ada seorang nabi dan orang yang mengajak kami # kepada Allah Al Haqq diantara kami ada yang menempati posisi utusan.”
Ibnu ‘Athaillah As-Sakandari pernah berkata:
مَنْ أُذِنَ لَهُ فِي التَّعْبِيْرِ، فُهِمَتْ فِي مَسَامِعِ الْخَلْقِ عِبَارَتُهُ وَ جُلِّيَتْ لَدَيْهِمْ إِشَارَتُهُ
“Siapa saja yang diizinkan (oleh Allah) dalam menjelaskan sesuatu, maka pendengaran manusia akan dibuat paham dan isyaratnya akan nampak pada mereka.
Ada pula kisah Syaikh Abdul Qadir Al Jilani Ra yang terkenal: Aku kemarin berpuasa, Ummu Yahya menaruh beberapa telur untukku berbuka di tepi ranjangku, kemudian ada anak kucing yang mengambilnya…” Maka orang-orang pun pada menangis hingga akhir kisah ini.
Maka orang yang mengaku memiliki izin khusus dari Allah untuk berdakwah pada-Nya dan ternyata dia dusta, maka dia akan mati dalam keadaan kafir kecuali jika dia bertobat. Maka kamipun memohon keselamatan dan keterjagaan dari fitnah dengan kemuliaan nabi Muhammad Saw dan keluarga beliau. -Selesai sudah apa yang di-imla kan Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra kepada kami.-
