You dont have javascript enabled! Please enable it!
Elsubha menjamin Garansi 100% Uang Kembali jika barang yang diterima adalah PALSU

Amalan Sayyidi Syaikh Ahmad at-Tijany Ra; Shalawat al Ghaibiyyah fi al Haqiqat al Ahmadiyyah

بسم الله الرحمن الرحيم اللهم صل على سيدنا محمد الفاتح لما أغلق والخاتم لما سبق ناصر الحق بالحق والهادي إلى صراطك المستقيم وعلى آله حق قدره ومقداره العظيم

Elsubha.com – Shalawat al Ghaibiyyah fi al Haqiqat al Ahmadiyyah

“Untuk mengamalkan wirid ikhtiyari, alangkah lebih bijak jika dikonsultasikan terlebih dahulu kepada muqaddam masing-masing”

Shalawat ini muncul dari hadhrah ghaib dan bukan buatan manusia

Sayyidi syaikh Ahmad at-Tijany Ra tidak menyebutkan keutamaan shalawat ini lantaran cakupan maknanya yang dahsyat. Syaikh Ibrahim Inyas al Kulkhi pernah mengatakan, “Sungguh Sayyidi Syaikh Ahmad at-Tijany Ra hanya mengungkapkan keutamaan tata kata dalam shalawat ini dan tidak menyebutkan keutamaannya, bisa jadi itu lantaran ragam rahasia hakekat al Ahmadiyyah yang belum di-tajallikan kepada seorangpun.”

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلَّمْ عَلَى عَيْنِ (1)

ذَاتِكَ الْعَلِيَّةِ بِأَنْوَاعِ كَمَالَاتِكَ الْبَهِيَّةِ، فِي حَضْرَةِ ذَاتِكَ الْأَبَدِيَّةِ عَلَى عَبْدِكَ الْقَائِمِ بِكَ مِنْكَ لَكَ إِلَيْكَ (2)،

بِأَتَمِّ الصَّلَوَاتِ الزَّكِيَّةِ الْمُصَلَّى فِي مِحْرَابِ عَيْنِ هَاءِ الْهُوِيَّةِ (3)

التَّالِي السَّبْعَ الْمَثَانِيَ بِصِفَاتِكَ النَّفْسِيَّةِ الْمُخَاطَبِ بِقَوْلِكَ لَهُ (4)

وَاسْجُدْ وَاقْتَرِبْ” الدَّاعِي لَكَ بِإِذْنِكَ لِكَافَةِ شُؤُوْنِكَ الْعِلْمِيَّةِ، فَمَنْ أَجَابَ أَصْطُفِيَ وَقُرِّبَ،

Ya Allah, haturkanlah shalawat dan salam teruntuk (nabi) yang merupakan inti Dzat-Mu yang luhur dengan segenap kesempurnaanya yang elok pada hadhrah Dzat-Mu yang abadi; yaitu teruntuk hamba-Mu yang kokok berpijak dengan-Mu, (mendapatkan kekuatan) dari-Mu, (berdakwah) untuk-Mu dan (menyeru) pada-Mu dengan paling sempumanya shalawat yang suci; sosok Nabi yang diberi limpahan karunia (shalawat) pada inti lafazh Hu (huwa =Allah); sosok nabi yang membaca surah al Fatihah dengan ragam sifat ke-diri-an-Mu; sosok Nabi yang dijadikan objek, “bersujud dan bertaqarrublah,”; sosok Nabi yang menyeru dengan (kekuatan)-Mu, untuk-Mu dengan izin-Mu pada segenap sisi perbuatan-Mu yang rasional, maka orang yang menjawab (seruan) tersebut akan dipilih dan didekatkan ke-sisi-Nya;

الْمُفِيْضِ عَلَى كَافَّةِ مَنْ أَوْجَدْتَهُ بِقَيَوْمِيَّةِ سِرِّكَ، الْمَدَدِ السَّارِي فِي كُلِّيَّةِ أَجْزَاءِ مَوْهِبَةِ فَضْلِكَ، الْمُتَجَلَّي عَلَيْهِ فِي مِحْرَابِ قُدْسِكَ وَأُنْسِكَ بِكَمَالَاتِ أُلُوْهِيَّتِكَ، فِي عَوَالِمِكَ وَبَرِّكَ وَبَحْرِكَ، فَصَلِّ اللَّهُمَّ عَلَيْهِ صَلَاةً كَامِلَةً تَامَّةً بِكَ وَمِنْكَ وَإِلَيْكَ وَعَلَيْكَ (5)

وَسَلِّمْ عَلَيْهِ (6)

سَلَامًا تَامَّا عَامًا شَامِلًا لأنْوَاعِ كَمَالَاتِ قُدْسِكَ، دَائِمَيْنِ مُتَّصِلَيْنِ عَلَى خَلِيْلِكَ وَحَبِيْبِكَ مِنْ خَلْقِكَ، عَدَدَ مَا فِي عِلْمِكَ الْقَدِيمِ وَعَمِيمِ فَضْلِكَ الْعَظِيمِ، وَنُبْ عَنَّا بِمَحْضِ فَضْلِكَ الْكَرِيمِ فِي الصَّلَاةِ عَلَيْهِ، صَلَاتَكَ الَّتِي صَلَّيْتَ عَلَيْهِ فِي مِحْرَابِ قُدْسِكَ وَهُوِيَّةِ أُنْسِكَ وَعَلَى آلِهِ وَصَحَابَةِ رَسُوْلِكَ وَنَبِيِّكَ، وَسَلَّمْ عَلَيْهِمْ تَسْلِيمًا (7)

عَدَدَ إِحَاطَةِ عِلْمِكَ.

sosok nabi yang menyambungkan kucuran karunia ilahiyyah pada segenap orang yang Kau dapati dengan kokohnya rahasia-Mu; sosok nabi yang memberikan bantuan ruhani yang senantiasa mengalir pada seluruh bagian pemberian utama-Mu; sosok nabi yang menjadi objek tajalli-Mu pada mihrab dan kesendirian-Mu nan suci dengan ragam kesempurnaan sisi uluhiyyah-Mu dalam semua alam-Mu; baik di darat maupun di laut, maka haturkanlah ya Allah kepadanya (beliau) shalawat, yang lengkap nan sempuma dengan (kemampuan)-Mu, yang berasal dari-Mu dan kepada-Mu serta atas-Mu; haturkanlah pula salam kepada beliau dengan salam yang sempurna, yang umum, yang komprehensif dengan ragam macam kesempurnaan-Mu nan suci; shalawat dan salam yang senantiasa bersambung pada kekasih dan sosok yang Engkau cinta dari makhluk-Mu sebanyak bilangan yang ada dalam ilmu-Mu yang qadim dan karunia-Mu yang agung; wakilkanlah kami dengan murninya keutamaan-Mu yang Pemurah dalam rangkaian shalawat padanya (beliau) dengan shalawat-Mu padanya yang telah Engkau sampaikan pada mihrab suci dan sisi kesendirian dzat-Mu; haturkanlah pula shalawat tersebut pada keluarga, para sahabat rasul dan Nabi-Mu dan haturkan pula salam-Mu kepada mereka sebanyak yang ada dalam cangkupan-Mu.

Catatan :

1. Redaksi ini mengindikasikan makna kepemilikan, seperti untanya Allah, ruhnya Allah. Contoh ini menunjukkan sisi kekhususan dengan redaksi tambahan kata tersebut; tujuannya tak lain adalah sebagai bentuk pemuliaan dan juga untuk menjabarkan suatu kekhususan. Kata, “Ain (inti),” sama seperti makna “Ainul ma (mata air);” maka beliau (Nabi Saw) adalah inti dzat; maksudnya adalah bahwa beliau Saw adalah inti dimana semua sisi tajalliyat Allah yang sempuma mengalir pada beliau Saw dan dari situlah kemudian mengalir pada yang lainnya, sesuai dengan firman Allah Swt,

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَمَاۤ اَرْسَلْنٰكَ اِلَّا رَحْمَةً لِّـلْعٰلَمِيْنَ
wa maaa arsalnaaka illaa rohmatal lil-‘aalamiin

“Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam.”
(QS. Al-Anbiya 21: Ayat 107); Dalam sisi bahasa kata “Ain” memiliki makna yang banyak, maka janganlah bersandar kecuali pada makna yang sesuai dengan bahasannya; baik sesuai dengan tijauan etimologi maupun tinjauan terminologi. Orang yang beranggapan bawa Nabi Saw adalah inti dzat sebenarnya; yaitu bahwa beliau Saw adalah Dzat Allah, maka dia telah kafir -Kami memohon perlindungan kepada Allah dari perkara tersebut-, maka dia telah keluar dari Islam. Sayyidi Syaikh Ahmad at- Tijany Ra telah menyebutkan ini dalam kitab Jawahir al Ma’ani, tetapi yang harus diyakini adalah bahwa Nabi Saw adalah hamba sekaligus utusan Allah Swt.

2. Maknanya adalah dengan-Mu lah adanya pertolongan itu. Kata, “Minka (Dari-Mu)” maksudnya adalah dari muminya keutamaan-Mu, dan untuk-Mulah tulusnya (penghambaan) ini.

3. Maksudnya adalah ketika seorang hamba lenyap (diri) saat mengingat Rabbnya, ia tenggelam pada hadhrah Jalal-Nya Allah, sampai-sampai ia mengucapkan, “Huw, huw.”maknanya adalah tidak ada yang bisa memaparkan kesempurnaan-Nya kecuali bahwa kesempurnaan-Nya Dia adalah kesempurnaan itu sendiri. sehingga ungkapan kata-kata pun tak mampu mewakili untuk menjelaskan kesempurnaan-Nya Allah Swt, maka Dia (Allah) adalah Dia.

4. Dalam al Jami’, Mizaburrahmah dan Ar-Rimah disebutkan dengan menghilangkan redaksi, (لَهُ)

5. Dan atasmu; aku telah jadikan shalawat tersebut benar-benar untukmu ditinjau dari sisi keutamaan mesti bukan suatu kewajiban.

6. Dalam ar-Rimah disebutkan dengan redaksi, (وَسَلِّمِ اللَّهُمَّ عَلَيْهِ)

7. Dalam al Jami’ disebutkan dengan menghilangkan redaksi, (تَسْلِيْمًا), bisa juga redaksi ini hilang dalam naskah aslinya.

Sumber : BUKU AHZAB WA AWRAD (AHZAB WA AWRAD AL QUTHB AR-RABBANI WA AL ‘ARIF ASH-SHAMDANI) SAYYIDI SYAIKH AHMAD AT-TIJANY RA, TAHQIQ : SYAIKH MUHAMMAD AL HAFIZ AT-TIJANY AL MISHRI