
Elsubha.com – Apa itu Asrar??
Ketahuilah bahwa asrar ada didalam jiwamu, bukan pada perkara tambahan dari jiwamu. Asrar adalah ruh yang Allah Swt tiupkan padamu. Maka kenalilah ia, duduklah bersamanya setiap hari niscaya engkau tahu asrar-mu
Asrar adalah rahasia yang ada antara orang yang berdzikir dengan Dzat yang di dzikiri, tidak ada campur tangan dzikiran didalamnya. Dzikiran (yang kau baca) bukanlah (Dzat) yang didzikiri. Terkait beragam dzikiran, di dalamnya tidak ada asrar-nya
Didalam thariqah, tidak dibedakan bahwa dzikiran ini memiliki asrar, dan dzikiran lain tidak memiliki asrar. Yang ada hanyalah dzikiran yang diberikan dengan izin khusus dan juga dzikiran yang diberikan dengan izin umum.
A. Semua dzikiran yang disebutkan didalam Al Qur’an dan As-Sunnah, didalamnya memiliki izin umum bagi kaum muslimin untuk membaca atau mengamalkannya.
B. Semua dzikiran thariqah diberikan oleh murabbi (guru) dengan izin khusus, diantaranya: Dzikiran lazim dalam thariqah, yaitu: wiridan pagi, wiridan petang, wazhifah dan hailalah, selain itu bukanlah wiridan lazim dalam thariqah, tetapi semua itu adalah tambahan amalan bagi orang yang sedang ber tarqiyah dan izin dzikiran ini diberikan oleh Syaikh murabbi.
C. Ada dzikiran yang khusus bagi empunya, tidak ada orang lain yang boleh membacanya, dzikiran yang seperti ini adalah isim a’zham yang khusus dimiliki oleh Rasulullah Saw, isim yang dimiliki oleh Imam ‘Ali Ra, isim yang khusus dimiliki oleh Sayyidi Ahmad At-Tijany Ra dan yang lainnya. Dzikiran semacam ini khusus bagi empunya, memasuki dizikiran ini dan bahkan mencarinya merupakan su’ul adab. Khasiat dzikiran ini hanya khusus bagi empunya saja, tidak ada orang lain yang bisa mendapatkannya.
D. Ada juga dzikiran yang digunakan oleh Sayyidi Syaikh Ra, kemudian Rasulullah Saw melarangnya, seperti menggunakan wafaq semisal daur al anwar dan lain sebagainya. Sayyidi Syaikh Ra belakangan melarang keras wafaq tersebut dan mencukupi diri dengan Al Qur’an dan shalawat kepada Rasulillah Saw.
E. Ada juga dzikiran yang asrar-nya tetap ada sampai hari Kiamat, yaitu:
1. Dzikiran yang dibarengi dengan ayat Al Qur’an, seperti bacaan surah Al Fatihah dengan isim a’zham, dairah al ihathah yang terangkai dengan huruf muqaththa’ah.
Semua huruf, kalimat, ayat, surah-surah Al Qur’an memiliki asrar tersendiri, asrar ini senantiasa terbaharui dan merasuki kalbu orang yang membaca Al Qur’an secara khusus. Ketika asrar ini merasuki kalbu, maka orang yang membaca Al Qur’an tadi akan merasakan kenikmatan besar yang mewakili semua kenikmatan yang ada. Allah Swt berfirman,
نَزَلَ بِهِ الرُّوْحُ الْاَ مِيْنُ
nazala bihir-ruuhul-amiin
“Yang dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril),”
(QS. Asy-Syu’ara’ 26: Ayat 193)
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
عَلٰى قَلْبِكَ لِتَكُوْنَ مِنَ الْمُنْذِرِيْنَ
‘alaa qolbika litakuuna minal-mungziriin
“ke dalam hatimu (Muhammad) agar engkau termasuk orang yang memberi peringatan,”
(QS. Asy-Syu’ara’ 26: Ayat 194)
Sedangkan Dairah Al Ihathah yang terangkai dari perkataan yang tidak dapat dipahami, beragam asma dan juga sifat yang tidak diketahui, maka itu bukan bagian dari amalan thariqah, ia hanya rekaan orang yang bukan empunya, maka janganlah engkau menoleh pada amalan yang demikian.
2. Beragam dzikiran yang disanding-kan dengan shalawat kepada Rasulullah Saw, seperti shalawat fatih dengan ketiga martabatnya, juga shalawat fatih dengan niatan isim a’zham.
3. Beragam dzikiran yang terdiri dari do’a dan sikap merendah kepada Allah Swt, seperti bacaan “Ya man azharal jamil, hizb bahr. Asrar dzikiran ini sangat berkaitan dengan kehadiran kalbu ketika berdo’a dengan dzikiran tersebut.
4. Do’a “Rahasia dua hari” dan semua asmaul husna, yang tujuannya untuk menolak bala maupun mendatangkan manfaat. Syarat dzikiran ini haruslah ada keikhlasan ketika membacanya dan juga konsisten dalam mengamalkannya sampai dzikiran tersebut tersebar keseluruh tubuh, terasa hasilnya dan nampak kemanjurannya.
Sumber : BUKU FAEDAH TIJANY (AR-RAHIQ AL-MAKHTUM FI THARIQAH AL QUTHBIL MAKTUM) SYAIKH SHALAHUDDIN AT-TIJANY
