You dont have javascript enabled! Please enable it!
Elsubha menjamin Garansi 100% Uang Kembali jika barang yang diterima adalah PALSU

As-Syama `il At-Tijaniyyah : Keturunan Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany radhiyallahu ‘anhu

بسم الله الرحمن الرحيم اللهم صل على سيدنا محمد الفاتح لما أغلق والخاتم لما سبق ناصر الحق بالحق والهادي إلى صراطك المستقيم وعلى آله حق قدره ومقداره العظيم

Elsubha.com – As-Syama `il At-Tijaniyyah : Keturunan Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany radhiyallahu ‘anhu

Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra semasa hidup beliau memiliki 10 anak; 6 laki-laki dan 4 perempuan. Anak Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra yang laki-laki mereka adalah (1) Sayyidi Muhammad Al Habib Al Awwal, (2) Sayyidi Al Mukhtar, (3) Sayyidi Khalifah yang meninggal dunia ketika kecil di Fess, (4) Sayyidi Isma’il yang juga meninggal dunia ketika kecil di Abu Samghun, (5) Sayyidi Muhammad Al Kabir (Sayyidi Muhammad Al kabir bin Asy-Syaikh Abul Abbas At-Tijany Ra meupakan sosok yang mendiami desa Abu Samghun di Padang pasir sebelah timur, ibu beliau adalah A-Sayyidah Al Fadhilah; Mabrukah. Belau meninggal dunia sebagai syahid dekat kota Umm ‘Askar yang merupakan bagian dari Al Jaza ir; yaitu setelah terjadi peperangan Thanjah antara sekelompok orang dengan pasukan Al Bay Turki. Dalam kejadian ini 300 lelaki daerah Abu Samghun meninggal dunia. Perang ini terjadi pada tahun 1238 H.

Terkait dengan ini Al’ Allamah Ibnu Muhammad Al ‘Alawi Asy-Syinjithi dalam pendahuluan kitab Raudhu Syama ‘il Ahlil Haqiqah menuliskan: Sayyidina Muhammad Al Kabir ikut berperang melawan pasukan Turki yang berada di Ummu ‘Askar dan Al Jaza ir, pasukan beliau kalah, dimana beliau dan pasukan lainnya jatuh gugur; mati syahid. Telah sampai informasi padaku bahwa semua saudara kami dari Abu Samghun sernuanya mati pada kejadian itu, yang tersisa hanya para wanita tanpa suami hingga anak lelaki mereka kembali dewasa. Pasukan Turki memenggal kepala beliau, kepala beliau digantung beberapa saat. Kemudian Allah pun mampu mengalahkan mereka dan membuat pasukan Turki keluar dari Al Jaza`ir.

Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra telah disingkapkan bahwa pasukan Turki akan membunuh anak beliau, sehingga beliau berdo’a, “Allah kelak menangkan Al Jaza `ir dihadapan wajah mereka sebagaimana Allah menangkan Jazirah Andalus.” Allah Swt pun mengabulkan do’a beliau, oleh karenanya sejak itu hingga kini tidak ada lagi orang berkebangsaan Turki di sana sampai hari ini.

Al ‘Allamah Sukairij menyebutkan dalam Rafun-Niqab, vol. I, hal. 239, demikian redaksinya: Telah sampai infomasi padaku dari sumber yang terpercaya bahwa Sayyidi Muhammad Al Kabir bin Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra, ketika beliau khalwat di Abu Samghun dan mendengar suara yang memintanya untuk bangun dari situasi khalwat untuk menolong agama dan mengangkis penjajah di Al Jaza ir, Al ‘Arifbillah Sayyidi Balqasim Al Unabi At-Tunisi bermusyawarah dengan saudaranya; Sayyiduna Muhammad Al Habib, terkait perintah tersebut. Sayyidi Muhammad Al Kabir menjawab kepada keduanya, “Jika perkara ini adalah perintah dari Allah Al Haqq, maka patut dilaksanakan.” Akan tetapi Sayyidi Balqasim Al Unabi meminta beliau agar menyisakan separuh kaum bersama Sayyidi Muhammad Al Habib di Abu Samghun. Ketika semua kaum yang tediri dari laki-laki mengambil janji setia untuk menolong/ikut berperang meski ajal datang menjemput, Sayyidi Muhammad Al Kabir membagi pasukan menjadi dua bagian; separuh pasukan bersama Sayyidi Muhammad Al Habib dan sebagian lainnya berperang bersama Sayyidi Muhammad Al Kabir. Ketika inilah Al ‘Arifbillah Sayyidi Balqasim Al Unabi mensyiarkan kepada Sayyidi Muhammad Al Habib agar memberikan pesan perpisahan bagi saudara beliau; Sayyidi Muhammad Al Kabir dan pasukan yang ikut berperang bersamanya dengan pesan terakhir seakan tidak akan bertemu lagi, beliau berkata, “Perkara ini telah ditetapkan, kita semua dipaksa untuk menerima tajalli, kita tidak punya pilihan kecuali melaksanakannya; biarlah perkara Allah itu berjalan. Sungguh tidak akan ada yang kembali dari pasukan tersebut kecuali empat orang….(hingga akhir perkataan).”

Al ‘Allamah Sukairij menyebutkan dalam Raf’un-Niqab, vol. III, hal. 34, dengan redaksi berikut: Ketika sampai berita tersebut kepada Al Hajj ‘Ali At-Tamasini Ra, beliau mencela sahabat Sayyidi Syaikh yang tidak ikut berperang, seraya berkata kepada mereka, “Kalian memiliki hak untuk mencegah Sayyidi Muhammad Al Kabir itu untuk pergi, sekalipun dengan cara kalian memotong tali pelana kuda beliau.” Sahabat Sayyidi Syaikh Ra pada berkata balik kepada beliau, “Jika saudara beliau; yaitu Sayyidi Muhammad Al Habib ingin berperang kamipun akan ikut, kamipun tidak lagi peduli apa yang akan terjadi pada kami demi melaksanakan perintah beliau.” Al Hajj Ali At-Tamasini mendo’akan mereka lantaran ketulusan cinta mereka (Sahabat Sayyidi Syaikh Ra), lalu beliau berkata kepada mereka, “Sungguh ada seseorang yang diajak berbicara dengan Allah Al Haqq pada suatu perkara, kemudian perkara tersebut benar terjadi, sungguh perkara Allah itu telah ditetapkan.”

Al ‘Allamah Sukairij pun menggubah sya’ir ritsa atas meninggalnya Sayyidi Muhammad Al Kabir,

عَلَى مَا تَبْكِي وَتَسْتَبْكِي دُمُوعَ دَم # وَالصَّبْرُ أَجِمَلَ عِنْدَ كُلِّ مُصْطَدِم

“Untuk apa menangis dan engkau kelak juga akan menangis dengan tangisan darah # kesabaran itulah yang terbaik pada setiap kejadian.”

Hingga perkataan beliau:

تَبْكِيْكَ يَا ابْنَ التَّحَانِي أَعْيُنٌ هَمَلَتْ # بِأَدْمُعِ ذَرَفَتْ مِنْ كُلِّ مُحْتَرَمِ

تَبْكِيكَ أَعْيُنُ أَحْبَابِ رَأَوْكَ وَقَدْ كَادَتْ صُدُورُهُمْ تَنْشَقُ مِنْ ضَرَمِ

“Mata banyak orang menangisimu wahai anak keturunan At-Tijany #kucuran air mata mengalir dari setiap orang yang mulia Orang-orang yang cinta padamu pun menangis telah melihatmu (demikian)# dengan tangisan yang penuh isak seolah dada mereka sesak.”)

dan (6) Sayyidi Muhammad Al Habib. (Sayyidi Muhammad Al Habib bin Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra datang ke kota Fess pada tahun 1215 H; Ibu beliau adalah Sayyidah Al Fadhilah Ambarikah, dimana ketika ayah beliau; Sayyidi Syaikh Ra wafat, kala itu usia beliau 15 tahun. Sepeninggalan Sayyidi Syaikh Ra, beliau hanya sembilan bulan menetap di kota Fess, kemudian beliau berhijrah ke Ainu Madhi di padang sahara bagian timur mengikuti saudara beliau; Sayyidi Muhammad Al Kabir dan Al Khalifah Al Quthb Sayyidi Al Hajj ‘Ali At-Tamâsini.

Sebelum Sayyidi Muhammad Al Habib meninggal dunia, beliau sempat menunaikan ibadah haji melalui jalur darat Tharabulus, saat itu bertepatan dengan tahun 1265 H. Beliau berhaji kala itu ditemani oleh sekelompok tokoh thariqah Al Ahmadiyyah At-Tijaniyyah. Ketika beliau sampai di kota Mesir, banyak ulama mendatangi beliau, namun beliau tidak berbicara sepatah katapun pada mereka lantaran beliau sedang sibuk dengan bacaan dzikiran beliau, sebagaimana beliaupun takut memberikan mudharat kepada mereka dengan pelajaran dari beliau, sebab beliau tidak begitu mengetahui kaidah bahasa Arab secara mendetail. Setelah beliau pulang ke Ainu Madhi, beliaupun mendalami ilmu nahwu dan sharaf, bahkan beliau mahir dengan itu dalam waktu singkat. Beliau meninggal dunia pada hari Sabtu awal Jumadat-Tsâniyah tahun 1267 H, dengan usia 52 tahun. Beliau dimakamkan dalam
satu liang bersama anak beliau; Sayyidi Ahmad.

Al ‘Allamah Sukairij memberikan pujian untuk beliau dengan sya’irnya:

فُؤَادِي بِالصَّبَابَةِ فِيْكَ عَانِي # فَدَارِكْنِي فَإِنِّي فِيْكَ فَانِي

وَقَصِرَ مَنْ جَفَاكَ وَلَا تَزِدْنِي # عَذَابًا لَيْسَ يَحْمِلُهُ جِنَابِي

“Lantaran rindu kepayang padamu, hatiku pun bersedih# maka tolonglah aku sebab padamulah aku fana

Sungguh miris orang yang menjauhimu, namun itu tidak membuatku tersiksa selagi engkau ada di sisiku.”)

Sedangkan yang perempuan Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra adalah (1) Lala As-Sa’diyyah, (2) Lala Zainab, (3) Lala Fathimah dan (4) Lala ‘Aisyah.

Sepeninggal Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra hanya menyisakan dua putra, yaitu (1) Sayyidi Muhammad Al Kabir (Sayyidi Muhammad Al Kabir tidak meninggalkan anak keturunan laki-laki tetapi dua keturunan anak perempuan; Pertama: Lala Ruqayyah yang menikah dengan anak pamannya (Sayyidi Ahmad bin Sayyidi Muhammad Al Habib)/Ibnu Sayyidah Zahra Al Habasyiyyah. Setelah suami Lala Ruqayyah meninggal dunia dan masa iddah-nya sudah selesai, iapun menikah dengan adiknya Sayyidi Ahmad yang bernama Sayyidi Ahmad ‘Ammar, darinyalah ia melahirkan seorang anak perempuan yang diberi nama Lala Fathimah. Oleh karena itu, beliau pun mengadakan pesta atas akad ini, sehingga sebagian penyair mengatakan:

بُشْرَى لَنَا زَمَنَ الْأَفْرَاحِ عِوَضَنَا # دَهْرَ الشَّوائِبِ وَالْأَحْزَانِ وَالدَيْفِ

وَذَاكَ إِذْ نَكَحَ الْإِبْرِيزُ فِضَّتَهُ # وَالْجَوْهَرُ اللُّؤْلُؤُ الْمَكْنُونُ فِي صَدَفٍ

زَفَّتْ لَهُ وَسِوَاهَا لَيْسَ يُكَفِّؤُوْهُ # فَهَلْ يُبَاعُ ثَمِينُ الدُّرِّ بِالْخَزَفِ

“Berita gembira bagi kami dengan pesta digelar sebagai pengganti masa sulit, sedih dan sakit semenaun Dan itu ketika emas murni menikahi perak dan batu mulia

menikahi mutiara secara bersamaan Dia pun diboyong untuknya, dimana selainnya tidaklah pantas # apakah mutiara pantas dijual dengan porslen?”

Lala Ruqayyah meninggal dunia pada bulan Rajab tahun 1309 H, sedangkan anak keturunan perempuan kedua dari Sayyidi Muhammad Al Kabir; yaitu Lala Fathimah, ia menikah dengan Muqaddam Al Fadhil Sayyidi Muhammad Najlul Quthb; Sayyidi Al Hajj Ali At-Tamasini.) dan (2) Sayyidi Muhammad Al Habib, (Sayyidi Muhammad Al Habib meninggalkan dua anak katurunan laki-lai; yaitu Sayyidi Ahmad ‘Ammar yang meninggal dunia 18 Dzul Qa’dah 1314 H, yang dikebumikan di Kardan dekat dengan Ainu Madhi. Putra keduanya adalah Sayyidi Muhammad Al Basyir yang dilahirkan tahun 1266 H dan meninggal dunia malam sabtu 12 Jumadats-Tsâniyah 1329 H pukul 23:00 di Kardan, kemudian dipindahkan ke Ainu Madhi dan dikuburkan dalam satu liang bersama ayah beliau Sayyidi Muhammad Al Habib.

Sayyidi Muhammad Al Habib juga meninggalkan 14 keturunan anak perempuan; yaitu: Lala Aisyah, Lala Halimah, Lala Mama, Lala Mubarokah, Lala Khadijah Kayinah, Lala Khadijah Kubro, Lala Biiri, Lala Ummu Kultsum, Lala Hafshah, Lala Yaminah. Mayoritas mereka menikah dengan keturunan Al Quthb Sayyidi Al Hajj ‘Ali At-Tamasini.) sementara yang lain meninggal dunia ketika Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra masih hidup.

Sumber : BUKU SYAMA’IL TIJANY (AS-SYAMA`IL AT-TIJANIYYAH) SYAIKH AL ‘ALLAMAH AHMAD BIN AL ‘IYASYI SUKAIRIJ AT-TIJANY