
Elsubha.com – As-Syama `il At-Tijaniyyah : Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany radhiyallahu ‘anhu Mendengarkan Musik
Bagi orang yang memiliki perasaan yang halus tidak akan memungkiri bahwa jiwapun akan terpengaruh ketika mendengar suara alat musik, bahkan orang gila pun ketika mendengar alunan musik, diapun akan berjoget. Mendengarkan alunan musik hukumnya dikembalikan kepada ulama syari’at, yaitu ada yang mengharamkan (melarang) dan ada pula yang menghalalkan (memperbolehkannya). Kami tidak akan bahas hukum tersebut di sini, yang kami bicarakan adalah apa yang biasa digunakan oleh Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra.
Telah sampai informasi pada kami bahwa suatu malam ada yang melantunkan nasyid di hadapan beliau, sampai Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra mendapat-kan wijdan, kemudian beliau mengatakan, “Apa disini ada yang bisa bermusik?” Beliau pun meminta yang bersangkutan juga menghadirkan keluarga ke hadapan Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra, kemudian yang bersangkutan diperbantukan untuk melantunkan nasyid dengan sembilan orang lainnya, dimana ketika itu bertepatan pada bulan Ramadhan. Pada malam pertama yang disenandungkan adalah perkataannya Ibnu Al Faridh dan tokoh sufi lainnya. (Lihat kitab Al Ifadah Al Ahmadiyyah, Bab Huruf Alif. Terkait penyebabnya, Sayyidi Ath-Thayyib As-Sufyani berkata: Sebabnya adalah Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra pada suatu momentum mendengarkan alunan sya’ir yang dibacakan hingga beliau mendapati kondisi wijdan, lalu beliau Ra berkata, “Apakah disini ada yang bisa memainkan musik? Ada sahabat yang menjawab, “Ada wahai Sayyidi,” Oleh karena itu Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra meminta agar dia bisa menghadirkan orang yang bisa bermain musik tersebut.” Kemudian untuk beberapa malam dihadirkan 9 orang, dimana ketika itu bertepatan dengan bulan Ramadhan. Pada malam pertama, mereka membacakan syai’rnya Ibnu Al Farid dan tokoh sufi lainnya. Keesokan malam selanjutnya Sayyidi Syaikh Ra bertanya mengapa mereka tidak menggunakan alat-alat musik. Mereka pun mengabarkan bahwa hanya melakukan yang demikian itu dengan tujuan agar tetap menjaga adab terhadap Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra dan mereka yang berkumpul bersama beliau Ra. Lalu Sayyidi Syaikh Ra memerintahkan mereka menggunakan alat yang mereka bisa mainkan. Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra pun meninta sekelompok orang tersebut untuk bermalam bersama Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra satu malam saja. Mereka pun datang ke zawiyah sekitar pukul 22:00 malam. Suatu ketika Sayyidi Syaikh Ra bertanya tentang upah mereka, Sayyidi Syaikh Ra menganggap upah mereka terlalu sedikit.” Sayyidi Syaikh Ra lalu berkata, ” Itu tidak cukup bagi kami, tambahkan lebih dari itu.” Sayyidi Syaikh Ra pun meminta mereka agar datang sekali lagi di rumah para anak beliau. Permintan tersebutpun dipenuhi dan mereka datang pada siang hari. Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra tidak bisa datang kepada mereka setelah matahari tergelincir (siang bolong), beliaupun tidak mendekat tempat mereka berada. Ketika Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra mendengarkan mereka, beliau mendengarkan dengan keseluruhan jiwa, beliaupun tidak berbicara kecuali untuk memperbaiki jika ada kesalahan atau perubahan kata-kata tersebut. Beliaupun memper-baiki kesalahan tersebut setelah beliau mendengarkan seluruhnya. Dalam majelis beliau yang ada hanya alat musik gitar ‘ud (gitar gambus), gitar rebab, biola dan itu pun atas perintah dari Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra.
Diantara perkara yang menakjubkan adalah bahwa pada malam itu Mu’allim Abdul Haq Ar-Raba ibi tidak bisa datang, Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra menanyakan prihal beliau. Kemudian dikabarkan kepada Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra bahwa beliau berhalangan hadir dan kami sudah menggantikan-nya dengan yang lain, namun Sayyidi Syaikh Ra memerintahkan untuk membatalkan acara tersebut. Terlebih aneh daripada itu adalah pada hari akhir kamipun berkumpul bersama Sayyidi Syaikh Ra dan meminta do’a dibacakan surah Al Fatihah untuk beliau (Mu’allim Abdul Haq Ar-Raba`ibi). Setelah selesai dibacakan surah Al Fatihah mendo’akan mu’allim Abdul Haqq, tiba-tiba cangkir Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra terjatuh dan airnya pun tumpah, maka itulah perkumpulan terakhir kami dengan mereka. Lihat Kasyful Hijab karya Al ‘Allamah Sukairij, hal. 275).
