
Elsubha.com – Asal Muasal Wiridan Thariqah
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
فَا ذْكُرُوْنِيْۤ اَذْكُرْكُمْ وَا شْکُرُوْا لِيْ وَلَا تَكْفُرُوْنِ
fazkuruuniii azkurkum wasykuruu lii wa laa takfuruun
“Maka ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu ingkar kepada-Ku.”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 152)
Jika engkau telah mengetahui hakekat perkara ini, maka engkau telah mengingat-Nya sebelum Dia mengingat mu, kemampuan untuk berdzikir pada-Nya merupakan karunia yang Allah Swt berikan padamu. Allah Swt sendiri yang memuji orang yang berdzikir; baik laki-laki dan perempuan.
Paling baiknya dzikiran adalah membaca al Qur’an, bahkan Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad at-Tijany Ra senantiasa menggiatkan para sahabatnya untuk membaca al Qur’an minimal 1 juz dalam sehari, sehingga dalam waktu 30 hari dapat khatam al Qur’an. Kalimat yang paling baik dalam al Qur’an adalah kalimat, لَا إِلَهَ إِلَّا اللّٰهُ “Tiada Ilah yang patut disembah kecuali Allah” (HR. an-Nasa i, al Hakim dari Riwayat Jabir dengan sanad yang shahih.)
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
فَا عْلَمْ اَنَّهٗ لَاۤ اِلٰهَ اِلَّا اللّٰهُ وَا سْتَغْفِرْ لِذَنْبِۢكَ وَلِلْمُؤْمِنِيْنَ وَ الْمُؤْمِنٰتِ ۗ وَا للّٰهُ يَعْلَمُ مُتَقَلَّبَكُمْ وَمَثْوٰٮكُمْ
fa’lam annahuu laaa ilaaha illallohu wastaghfir lizambika wa lil-mu-miniina wal-mu-minaat, wallohu ya’lamu mutaqollabakum wa maswaakum
“Maka ketahuilah, bahwa tidak ada Tuhan (yang patut disembah) selain Allah, dan mohonlah ampunan atas dosamu dan atas (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat usaha dan tempat tinggalmu.”
(QS. Muhammad 47: Ayat 19); Maka kalimat ini merupakan dzikiran dan juga al Qur’an pada satu waktu.
Pada kalimat yang bersumber dari kitabullah inilah, beragam dzikiran dan wiridan thariqah berporos, maka orang yang akan membaca dzikiran pun harus benar-benar memperhatikan adab dalam membacanya.
Istighfâr, karena dengan istighfar inilah jiwa kita bisa suci dari beragam kotoran dan kegelapannya.
Kemudian shalawat kepada Nabi Saw, beliau bersabda,
مَنْ صَلَّى عَلَيَّ مَرَّةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا
“Barangsiapa yang bershalawat kepadaku satu kali, niscaya Allah bershalawat kepadanya 10 kali.”
Didalam al Musnad, hadits ini merupakan hadits hasan yang diriwayatkan dari Abdullah bin ‘Amru Ibn al ‘Ash Ra:
مَنْ صَلَّى عَلَيَّ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَرَّةً وَاحِدَةً صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ بِهَا وَمَلَا ئِكَتُهُ مِائَةَ مَرَّةٍ
“Barangsiapa yang bershalawat kepada Nabi Saw satu kali, Allah dan para malaikatnya akan bershalawat untuknya sebanyak sepuluh kali.”
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
هُوَ الَّذِيْ يُصَلِّيْ عَلَيْكُمْ وَمَلٰٓئِكَتُهٗ لِيُخْرِجَكُمْ مِّنَ الظُّلُمٰتِ اِلَى النُّوْرِ ۗ وَكَا نَ بِا لْمُؤْمِنِيْنَ رَحِيْمًا
huwallazii yushollii ‘alaikum wa malaaa-ikatuhuu liyukhrijakum minazh-zhulumaati ilan-nuur, wa kaana bil-mu-miniina rohiimaa
“Dialah yang memberi rahmat kepadamu dan para malaikat-Nya (memohonkan ampunan untukmu), agar Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya (yang terang). Dan Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman.”
(QS. Al-Ahzab 33: Ayat 43)
Dalam shalawat ada unsur kita memohon syafa’at dengan kecintaan kita kepada nabi Muhammad Saw, karena beliaulah sosok yang paling dicintai Allah Swt, sumber hidayat bagi alam semesta, rahmat Allah, dan harapan keimanan.
Nabi Saw bersabda,
لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُوْنَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ
“Tidaklah beriman salah seorang diantara kalian sampai aku menjadi orang yang paling dicintainya daripada orang tua dan anaknya.”
Seseorang tidak merasa nyaman dalam perbuatannya kecuali didalamnya ada rasa cinta.
Nabi Saw bersabda,
أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ
“Engkau kelak bersama orang yang kau cintai.”
Kecintaan yang tulus haruslah nampak bekasnya di jiwa. Maka ketika kita ingin berdzikir kepada Allah dengan kalimat yang paling dicintai oleh-Nya, setelah sebelumnya kita melakukan persiapan diri, maka kondisi ini memberikan harapan Allah mengaruniakan cahaya dzikiran itu padanya, sehingga dia bisa berjalan pada tahapan pendekatan diri kepada Allah Swt. Dengan demikian, Allah Swt kucurkan ragam pemberian-Nya yang tidak terbatas oleh akal pikiran. Allahlah pemilik keutamaan yang agung.
