
Elsubha.com – Biografi Sayyidi Syekh Ahmad Tijani radhiyallahu ‘anhu (1150-1230 H)
Beliau adalah Sayyidi Abu Al ‘Abbas Ahmad bin Muhammad bin Al Mukhtar bin Ahmad bin Muhammad bin Salim bin Al ‘lîd bin Salim bin Ahmad bin Ahmad bin ‘Ali bin ‘Abdullah bin Al ‘Abbas bin ‘Abdul Al Jabbar bin Idris bin Idris bin Ishaq bin ‘Ali Zainal Abidin bin Ahmad bin Muhammad bin Hasan Al Mutsannā bin Al Hasan As-Sabt bin ‘Ali bin Abi Thâlib; suami dari Fathimah Az-Zahra’; penghulunya wanita penghuni surga; yang juga merupakan putri Rasulullah Saw.
Sayyidi Syaikh Ra termasuk keturunan Nabi yang mulia, pemilik futuh akbar; sosok yang memiliki pangkat tinggi, wali quthb tersembunyi dan imam yang mulia.
Futuh Akbar adalah beragam perkara ruhani yang Allah Swt bukakan pada kalbu seorang hamba; baik itu berupa maqam kewalian dan tajalli-nya beragam cahaya dari suatu nama ketuhanan pada kalbu. Lih. Abdurrazzaq Al Kāsyāni, Mu’jam Isthilähät Ash-Shufiyyah, hal 147. (Pent).
Suatu ketika pernah ada yang mengatakan kepada beliau, “Apa kelak akan ada orang yang berbohong atas namamu?” Sayyidi Syaikh Ra menjawab, “Iya, maka jika kalian mendengar sesuatu dariku, timbanglah itu dengan neraca syariat. Jika sesuai, maka amalkanlah dan jika bertentangan, maka tinggalkanlah.”
Itulah gambaran amaliah seseorang, maka jika seseorang tidak mengikuti syariat, ia tidak bisa wushul kepada Allah Swt. Ada kaidah ilmiah yang menyatakan, “Orang yang meninggalkan ushul (Al Qur’an dan Hadits), maka dirinya tidak pernah bisa wushul pada Allah Swt.” Orang yang tidak mengikuti syariat, dia pun tidak bisa mencium semerbak wangi bau kewalian sama sekali.
Dalam perjalanan ruhani, Sayyidi Syaikh Ra juga merasakan lapar, haus, tidur dan begadang serta merasa takut, namun perlu diketahui bahwa thariqah beliau merupakan thariqah mumi pemberian dari Allah Swt dalam rangka melepaskan jiwa dari daya dan upaya yang dimiliki manusia, memumikan tauhid kepada Allah Swt dan berusaha selalu menghadirkan jiwa dalam setiap ibadah. Bentuk thariqah semacam ini tak lain karena thariqah tersebut selalu berporos pada sisi Rububiyah Allah Swt semata.
Wushul adalah berinteraksinya seseorang dengan Allah Swt sesuai kadar keteputusan seorang hamba dari makhluk. Yang terendah adalah ber-musyahadah dengan mata hati. Saat hijab terbuka dan Allah bertajalli baginya, pada saat ini seorang salik dapat disebut washil (orang yang sampai kepada Allah). Lih. Syaikh Abdul Qadir Al Jīlāni, Sirr Asrar. (Damaskus, Dår As-Sanabil, 1993 M), hal. 42.
Thariqah Sayyidi Syaikh Ra merupakan thariqah tauhid; baik dalam sifat, hukum, maupun beragam kondisi jiwa di dalamnya. Thariqah Tijaniyyah juga merupakan perwujudan gambaran syariat dari segi zhahir dan bathin.
Sayyidi Syaikh Ra merupakan sosok ulama yang menguasai ilmu syariat dan hakikat, menguasai beragam dalil. Beliau selalu berpedoman pada Al Qur’an dan As-Sunnah. Beliau memiliki dua metode dalam mentarbiyah para muridnya. Beliau selalu mengikuti tuntunan baginda Nabi Muhammad Saw, bahkan beliau mampu menggapai semua maqamat yang ada, kecuali maqam kenabian, yang mustahil digapai oleh wali manapun.
Manusia sejatinya memiliki guru, begitu pula dengan jin dan malaikat dan Syaikh Ahmad At-Tijany Ra adalah guru semuanya itu. Meski Allah Swt telah menganugerahkan banyak keutamaan; seperti kemampuan ber-tasharruf di belahan bumi manapun dan juga pada tingkatan manusia serta golongan apapun, namun Sayyidi Syaikh Ra tidak menghiraukan semua keutamaan itu dan memilih jalur peribadatan murni.
Dengan perantara jalur peribadatan inilah, beliau yakin bahwa karena Allah lah beliau dapat berbicara, lantaran diberikan oleh Allah lah beliau bisa berbagi dan atas perintah Allah lah beliau dapat melakukan hal tersebut. Manusia dalam pandangan Sayyidi Syaikh Ra layaknya sebuah botol kaca, apa pun yang ada di dalamnya akan tercermin jelas di bagian luar.
Allah Swt juga memberikan anugerah kepada Sayyidi Syaikh Ra berupa pandangan batin pada empat sísí: Satu sísi dimana beliau melihat kepada isi dunia, satu sisi lainnya dimana beliau melihat kepada sisi akhirat. Satu sisi lainnya dimana beliau melihat kepada makhluk dan satu sisi yang terakhir adalah, dimana beliau memandang kepada sisi Al Haq (Allah).
Allah Swt pula menjadikan Sayyidi Syaikh Ra sebagai khalifah-Nya di atas bumi, langit dan semua alam lainnya, hingga ada ulama yang mengatakan kepada beliau, seperti yang tertera dalam Al Qur`an,
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَقَا لَ الْمَلِكُ ائْتُوْنِيْ بِهٖۤ اَسْتَخْلِصْهُ لِنَفْسِيْ ۚ فَلَمَّا كَلَّمَهٗ قَا لَ اِنَّكَ الْيَوْمَ لَدَيْنَا مَكِيْنٌ اَمِيْنٌ
wa qoolal-maliku-tuunii bihiii astakhlish-hu linafsii, fa lammaa kallamahuu qoola innakal-yauma ladainaa makiinun amiin
“Dan raja berkata, “Bawalah dia (Yusuf) kepadaku, agar aku memilih dia (sebagai orang yang dekat) kepadaku.” Ketika dia (raja) telah bercakap-cakap dengan dia, dia (raja) berkata, “Sesungguhnya kamu (mulai) hari ini menjadi seorang yang berkedudukan tinggi di lingkungan kami dan dipercaya.”
(QS. Yusuf 12: Ayat 54)
Terkadang perkara luar biasa yang tidak dapat dicerna akal bisa terlihat dengan jelas berkat Sayyidi Syaikh Ra, bahkan terkadang berasal dari diri beliau. Begitu pula perkara tidak dapat dilihat oleh seseorang dalam mimpi, beliau dapat melihatnya, sekalipun Allah Swt telah berfirman,
وَّا لْخَـيْلَ وَا لْبِغَا لَ وَا لْحَمِيْرَ لِتَرْكَبُوْهَا وَزِيْنَةً ۗ وَيَخْلُقُ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ
wal-khoila wal-bighoola wal-hamiiro litarkabuuhaa wa ziinah, wa yakhluqu maa laa ta’lamuun
“dan (Dia telah menciptakan) kuda, bagal, dan keledai, untuk kamu tunggangi dan (menjadi) perhiasan. Allah menciptakan apa yang tidak kamu ketahui.”
(QS. An-Nahl 16: Ayat 8)
Namun kita sebagai manusia biasa harus menyadari, bahwa kita tidak bisa mengetahui seluruh informasi dan karunia yang Allah Swt berikan kepada beliau.
Ada ulama di luar thariqah Tijaniyyah yang turut menuliskan biografi beliau, seperti Syaikh Muhammad Al Basyir Zhafir dalam Al Yawâqit Ats-Tsamâniyah Fi A’yân Madzhab ‘Alim Al Madaniyyah.
“Sayyidi Ahmad At-Tijany bin Al Mukhtar bin Ahmad bin Muhammad bin Salim yang terkenal dengan -Asy-Syarif At-Tijany; sosok qudwah yang sempurna; seorang ‘Arif dengan ilmu yang mumpuni; menguasai Sunnah dan agama; ‘Allamah, sosok yang menggabungkan antara syari’at dan hakikat; sosok yang sangat langka di zamannya, bahkan dia merupakan lentera zaman itu.”
Syaikh Al ‘Allamah Maghrib; Syaikh Al Kattani berkata mengenai beliau:
“Beliau (Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra) merupakan ulama yang mengamalkan ilmunya; seorang imam mujtahid; sosok yang menggabungkan antara kemuliaan dunia dan agama; ilmu, amal dan keyakinan; memiliki ahwal rabbani nan agung dan maqamat yang tinggi; zhahir dan bathinnya kuat; kebaikan dalam diri beliau sempurna; sosoknya enak dipandang: perawakannya bagus; janggutnya bercahaya; wibawanya besar; memiliki kedudukan yang tinggi; namanya banyak disebut orang; terkenal dimana-mana; ahwal dirinya sangat memberikan manfaat; ucapannya mengena, khususnya berkenan dengan bentuk anjuran mengerjakan suatu kebaikan dan juga bentuk pencegahan dari perkara yang mungkar.
Sejak awal, beliau banyak menyibukkan diri dengan menuntut beragam ilmu dasar beserta cabangnya dan juga sastra, hingga beliau menguasai semua itu, bahkan beliau dapat menyibak sisi rahasia maknanya.
Nabi Saw memberikan izin kepada beliau untuk mentalqin orang secara umum, tepatnya pada tahun 1196 H. Sosoknya memiliki segudang kebaikan danı bentuk perubahan ahwal yang sangat banyak, beliau meninggal dunia pada pagi hari kamis, 17 Syawwal 1230 H, dimana kala itu tidak terhitung lagi ulama, orang shaleh, para petinggi, pejabat dan pemimpin penduduk Fes yang datang melayat jenazah beliau. Beliau dikebumikan di zawiyah yang berada di Humah Al Balidah.”
Ahwal adalah pemberian Allah Swt kepada hambanya sebagai balasan atas usahanya dalam mensucikan jiwa dan membersihkan kalbunya, dia disebut ahwal karena dapat berubah-ubah. Lih. ‘Abdul Razzaq Al Kâsyāni (w.730H), Mu’jam Isthilähät Ash-Shufiyyah, (Kairo, Dår Al-Manar, 1992), hal.47.(Pent)
Maqamât: Kata ini merupakan bentuk plural dari asal kata maqam, yang memiliki arti: Posisi seorang hamba dihadapan Allah atas apa yang diusahakannya dari bermujahadah, menggembleng hawa nafsu dan dalam ibadah yang lainnya, seperti tobat, zuhud, bersabar, tawakkal. Seseorang tidak mampu meningkat ke maqam selanjutnya jika belum dapat memenuhi maqam sebelumnya. Lih. Syaikh Abdul Qadir Al Jīlāni, Sirr Asrar, (Damaskus, Dâr As-Sanabil, 1993 M), hal. 42.
Sedangkan orang yang menulis biografi beliau dari pengikut thariqahnya, sungguh tidak terhitung lagi jumlahnya.
Sayyidi Syaikh Ra dilahirkan tahun 1150 H/1737M, di Ainu Madhi Al Jazair; negeri para leluhur beliau. Kakek beliau yang ke empat; Sayyidi Muhammad bin Salim pernah berpindah bersama keluarganya dari desa ‘Abdah yang berada di penghujung kota Maghrib ke Bani Tijanah dan menikah dengan gadis setempat, sehingga anak cucu keturunannya dikenal dengan “Tijaniyyin.”
Sayyidi Syaikh Ra termasuk keturunan Nabi Saw dari jalur Sayyidina Al Hasan. Di awal perjalanan suluk, beliau tidak menganggap penting silsilah nasab beliau ini hingga terjadi sebuah kejadian, dimana Rasulullah Saw bersabda (dalam bisyarah) kepada beliau secara terjaga dan tidak tertidur, “Anta waladi haqqan, wa nasabuka ila al Hasan bin ‘Ali shahih,” (Kamu benar-benar anakku [maksudnya anak keturunan), nasabmu kepada Al Hasan bin ‘Ali adalah benar adanya).
‘Ainu Madhi merupakan daerah yang sangat kental dengan tradisi keilmuan, tak ayal banyak keturunan Nabi Saw di Maghrib yang membuka zawiyah atau majelis ilmu, termasuk orang tua dan para kakek Sayyidi Syaikh Ra. Zawiyah yang didirikan leluhur beliau sudah berkiprah cukup lama dalam menyebarkan ajaran Islam yang menyentuh ruhani dan mencakup beragam ilmu pengetahuan di Negara itu, bahkan nama zawiyah tersebut terkenal hingga bagian utara Afrika, kawasan padang pasir dan Afrika bagian tengah.
Besarnya peranan keluarga beliau dalam penyebaran ilmu pengetahuan sudah ditunjukkan dalam sejarah, bahwa As-Sayyid Muhammad bin Al Mukhtar; ayah Sayyidi Syaikh Ra, merupakan seorang Syaikh zawiyah besar yang letaknya di kota ‘Ainu Madhi. Sayyidi ‘Ali Harâzim Barrâdah menggambarkan, bahwa Sayyid Muhammad bin Al Mukhtar adalah seorang guru besar Islam yang menjadi rujukan banyak orang.
Ibu Sayyidi Syaikh Ra adalah Sayyidah ‘Aisyah binti Sayyidi Muhammad As-Sanusi At-Tijany Al Madhawi; keturunan ulama yang dikenal dengan keshalehan, kewalian dan kedudukannya yang tinggi di sisi Allah Swt.
Kakek beliau; As-Sayyid Muhammad yang juga biasa dipanggil Ibnu Umar, beliau adalah seorang Alim kenamaan yang hafal Al Qur’an dan banyak memberikan kontribusi bagi ilmu syari’at, selain juga pakar dalam ilmu fara idh. Sedangkan kakek beliau yang ketiga; yaitu Ahmad bin Muhammad, merupakan ulama yang ‘alim, pemukanya para pemimpin, ahwal beliau menunjukkan sisi kuatnya jiwa, dimana ada luapan cahaya yang selalu terpancar dari diri beliau. Begitu pula kakeknya yang keempat: Sayyidi Muhammad bin Sâlim; seorang guru besar, wali yang berkedudukan tinggi, sosok yang terkenal dengan luapan pancaran cahaya ilahiyyah dengan sisi jadzab yang nampak, bahkan kakek beliau ini kerap menutupi wajah saat berjalan menuju masjid dan juga saat kembalinya ke rumah, sampai tempat khalwat beliau.
Sayyidi Syaikh Ra pernah ditanya tentang kondisi kakeknya yang keempat itu, beliau berkata: “Bahwa kakeknya yang keempat itu sudah sampai pada derajat kewalian. Orang yang telah sampai pada derajat ini, jika ada orang yang melihat wajah beliau, maka yang bersangkutan kelak tidak mau berpisah dengan sang wali Allah Swt tersebut. Jika orang itu sampai berpisah atau bahkan penglihatannya terhalang untuk dapat melihat wajah sang wali itu, maka yang bersangkutan akan meninggal dunia seketika.”
Jadzbah adalah tarikan ruhani yang datangnya dari Allah Swt (Pent.)
Sayyidi Syaikh Ra dibesarkan dalam keluarga shaleh, yang selalu menjaga kehormatan diri dan juga merupakan keturunan Nabi Muhammad Saw. Beliau sangat terkenal dengan kecerdasan yang dimiliki, memiliki kemauan diri yang kuat, jika beliau menginginkan sesuatu, beliau akan berusaha mengerjakannya, bahkan di saat beliau mengerjakannya, beliau tidak akan berhenti kecuali sampai batas optimal.
Beliau memiliki akhlak yang terpuji, jiwa yang tenang namun pasti, pemalu dan penuh dengan adab terpuji, penampilan beliau baik dan sosoknya banyak diam, berwibawa saat bertutur kata. Beliau telah hafal Al Qur’an dengan riwayat Imam Warsy saat berumur 7 tahun, dí tangan seorang pakar qira`at; Sayyidi Muhammad bin Himawi At-Tijany Al Madhawi, yang juga murid Al ‘Arif billah Sayyidi ‘Isa Bu ‘Akāz Al Madhawi At-Tijany.
Ayah dan Ibu beliau meninggal dunia pada hari yang sama dan keduanya di kuburkan di ‘Ainu Madhi, hal ini terjadi saat itu usia beliau masih sebelas tahun.
Gambaran postur tubuh Sayyidi Syaikh Ra: Berjenggot putih sedikit kemerahan, fostur tubuh tegap, berhidung mancung, beralis lebat, kening lapang, janggut terlihat bersinar cerah, memiliki suara yang lantang, lisan yang fasih dan tutur kata yang enak didengar.
Beliau banyak mempelajari ilmu-ilmu dasar dan cabangnya termasuk belajar ilmu sastra, beliau pelajari semua ilmu itu di negerinya, bahkan sampai titik dimana beliau layak disebut sebagai guru besar yang bisa memberikan fatwa. Ini semua terjadi sebelum beliau melakukan perjalanan yang pertama ke kota Fes, kemudian beliau melanjutkan perjalanan tersebut ke ‘Ainu Madhi, namun di sana beliau tidak berdiarn lama, hingga beliau memiliki keinginan untuk berzuhud, menyendiri dan bertafakkur. Sejak itulah beliau semakin cinta akan ibadah dan shalat malam.
Kondisi ini terjadi sampai beliau menginjak dewasa dan menjadi sosok yang senantiasa menunjukkan orang pada Allah Swt, memberikan nasehat kepada para hamba Allah dan juga menggeluti Sunnah Rasulullah Saw, hingga beliau mendapat julukan “Muhyiddin,” (Sang penghidup agama). Lalu Sayyidi Syaikh Ra menggantikan sang ayah sebagai khalifah di zawiyah milik sang ayah, meski umur beliau baru 16 tahun. Di sana beliau mengajarkan Al Qur’an dan ilmu-ilmu hadits selama 5 tahun lamanya.
Saat Sayyidi Syaikh Ra berusia 21 tahun (1171 H/1758 M), beliau melakukan perjalanan ke kota Al Idrisiyyah untuk pertama kalinya, disana beliau menyempatkan diri untuk menghadiri beragam majelis ilmu; baik itu yang mengajarkan tafsir, hadits dan fikih, bahkan hingga beliau berhasil mendapatkan banyak ijazah dalam ragam ilmu tersebut. Beliau juga banyak melakukan diskusi dan debat dengan para petinggi ulama Fes dan yang tak kalah pentingnya, beliau juga mempelajari qiraât sab’ah kepada para pakarnya.
Di tengah perjalanan beliau ini, tepatnya di kota Wazzan, beliau bertemu dengan Al ‘Arif billah Maulaya Ath-Thayyib bin Sayyidi Muhammad bin Maulaya ‘Abdullah bin Ibrahim Al ‘Ilmi Al Wazzani; Syaikh thariqah wazzaniyyah, kala itu sang Syaikh memberikan izin untuk mentalqinkan thariqahnya, namun Sayyidi Syaikh Ra enggan menerima hal tersebut. Dalam perjalanan beliau di area bukit Az-Zabib, beliau bertemu dengan Al ‘Arif billah Sayyidi Muhammad bin Al Hasan Al Wanjali, sang Syaikh mengabarkan kepada beliau, bahwa Sayyidi Syaikh akan mendapati derajat Al Quthb Al Kabîr Abu Al Hasan Asy-Syadzili. Syaikh tersebut juga memberikan saran agar beliau segera kembali ke negerinya.
Di kota Fes, beliau juga bertemu dengan seorang wali yang shaleh; Sayyidi ‘Abdullah bin Sayyidi Al ‘Arabi Al Andalusi. Sayyidi Syaikh Ra sempat berbincang-bincang dengannya dalam beragam permasalahan, bahkan wali tersebut banyak memberikan do’a untuk beliau. Di kota Tâzzah, beliau mengambil thariqah dari seorang wali shaleh Al Mulâmati; Sayyidi Ahmad Ath-Thawwasy Ra, wali ini mentalqinkan Sayyidi Syaikh Ra suatu asma dan meminta beliau agar senantiasa menyepi dan menyendiri serta bersabar hingga Allah Swt memberikan futuh. Sayyidi Syaikh Ra sempat melazimkan wiridan ini, namun kemudian beliau tinggalkan. Sayyidi Syaikh Ra lalu mengambil wiridan thariqah Al Qadiriyyah yang berada di Fes, namun beliau tinggalkan lagi.
Sayyidi Syaikh Ra juga mendapat penggemblengan tarbiyah dalam thariqah An-Nashiriyyah setelah beliau bertemu dengan seorang wali shaleh; Sayyidi Ahmad bin ‘Abdullah At-Tazzani, namun thariqah tersebut kembali beliau tinggalkan. Sayyidi Syaikh Ra kemudian mengambil wiridan thariqah Ash-Shiddiqiyyah, yang dinisbatkan kepada seorang wali Quthb terkenal; Sayyidi Ahmad Al Habib bin Muhammad Al Ghimâri As-Siljimasi Ash-Shiddiqi.
Kemudian beliau pulang ke ‘Ainu Madhi, yang perjalanannya melewati kota Al Abyadh; sebuah kota kecil bagian dari kawasan ‘Ainu Madhi, di sana Sayyidi Syaikh Ra bertemu dengan seorang wali Quthb terkenal; Sayyidi ‘Abdul Qadir bin Muhammad Al Abyadh, wali tersebut menawarkan sebuah rumah untuk beliau, bahkan mengharapkan beliau bisa menetap di rumah tersebut. Di tempat itulah Sayyidi Syaikh Ra banyak menyendiri untuk beribadah, mengajar dan memberikan manfaat lainnya dalam kurun waktu 5 tahun. Letak tempat ini berada diantara zawiyahnya Sayyidi ‘Abdul Qadir dan kota ‘Ainu Madhi.
Setelah lima tahun lamanya, Sayyidi Syaikh Ra kembali melakukan perjalanan ke Tilimsan pada tahun 1186 H/1772 M. Pada tahun yang sama beliau juga kembali pergi dari Tilimsan untuk menunaikan ibadah haji ke baitullah dan menziarahi Nabi Saw, kala itu usia beliau mendekati 40 tahun.
Saat beliau tiba di negeri Zawâwah -negeri yang berada dalam jalur perjalanan dari Al Jaza `ir menuju Tunis-, beliau menziarahi Sayyidi Muhammad bin ‘Abdurrahman Al Azhari; ulama kenamaan, yang memiliki zawiyah besar dan pengikut yang banyak, darinyalah Sayyidi Syaikh Ra mengambil wiridan thariqah Khalwatiyyah.
Setibanya di Tunis pada tahun yang sama, Sayyidi Syaikh Ra banyak bertemu dengan wali Allah diantaranya: Sayyidi Abdusshamad Ar-Rahawi -murid wali Quthb negeri tersebut-, sang wali ini tidak pernah mengizinkan seorang pun bertemu dengannya. Maka melalui seorang utusan khususnyalah, sang wali menyampaikan, bahwa Sayyidi Syaikh Ra adalah sosok yang banyak dicintai manusia. Sayyidi Syaikh Ra tinggal di Tunis selama satu tahun. Beberapa bulan beliau tinggal di kota Sûsah dan selebihnya tinggal di ibukota Tunis. Beliau tinggal di sana dan mengajar beragam buku dan juga berfatwa. Diantara buku yang Sayyidi Syaikh Ra ajarkan adalah, kitab Al Hikam karya Ibnu ‘Athâillah As-Sakandari.
Mulai dari sini, nama Sayyidi Syaikh Ra semakin terkenal, bahkan kabar mengenai beliaupun terdengar sampai kepada pemimpin Negara. Sang pemimpin meminta Sayyidi Syaikh Ra untuk tinggal lebih lama di Tunis, guna mengajar dan memberikan fatwa, akan tetapi beliau meminta maaf tidak dapat menerima tawaran itu, kemudian Sayyidi Syaikh Ra meningggalkan negeri tersebut dan sampai di Mesir melalui jalur laut.
Setibanya di Mesir, Sayyidi Syaikh Ra langsung mencari Syaikh yang terkenal saat itu; Sayyidi Mahmud Al Kurdi Al Mashri, yang bertempat tinggal di Mesir namun asalnya dari negeri Irak- untuk menanyakan mimpi beliau saat beliau berada di Tunis. Saat bertemu dengannya, Syaikh Mahmud Al Kurdi berkata, “Engkau adalah orang yang dicintai di dunia dan di akhirat.” Sayyidi Syaikh Ra berkata, “Darimana engkau tahu akan hal itu?” Syaikh Mahmud Al Kurdi menimpali, “Dari Allah.” Kemudian Sayyidi Syaikh Ra menceritakan mimpi beliau saat berada di Tunis; yaitu tentang perkataan yang Sayyidi Syaikh Ra ucapkan kepada Sayyidi Mahmud Al Kurdi dalam mimpi; “Semua Dzatku adalah tembaga.” Dalam mimpi itu Sayyidi Mahmud Al Kurdi menimpali, “Maka Aku ubah tembagamu itu menjadi emas.”
Setelah beliau menceritakan mimpi tersebut, Sayyidi Mahmud Al Kurdi berkata, “Itu memang seperti yang engkau lihat, lantas sekarang apa permintaanmu?” Sayyidi Syaikh Ra berkata, “Al Quthbaniyyah Al Uzhma,” (Derajat wali quthb terbesar). Syaikh Mahmud Al Kurdi melanjutkan, “Bahkan engkau akan mendapatkan lebih dari itu.” Sayyidi Syaikh Ra bergumam, “Berarti di atas dirimu?” Dia menjawab, “Iya.”
Setelah kejadian itu, Sayyidi Syaikh Ra pergi menuju Makkah melalui jalur laut. Beliau sampai di Makkah bulan Syawwal 1187 H/1773 M. Kala itu Sayyidi Syaikh Ra mendengar keberadaan seorang Syaikh yang tidak mengizinkan siapapun untuk bertemu dengannya; yaitu Syaikh Abu Al ‘Abbas Sayyidi Ahmad ‘Abdullah Al Hindi. Sekalipun kondisinya demikian, Sayyidi Syaikh Ra tetap bisa mendapatkan ilmu, asrar dan luapan cahaya keimanan, sekalipun tanpa adanya proses pertemuan.
Hal itu dilakukan dengan cara saling berkirim surat melalui seorang pelayan yang menghubungkan antara keduanya. Syaikh Ahmad bin ‘Abdullah Al Hindi menuliskan surat untuk Sayyidi Syaikh Ra yang dibawa oleh pelayannya berisikan kata-kata: “Engkau adalah pewaris ilmu, rahasia, pemberian Allah dan luapan cahaya keimananku.” Sang pelayan berkata kepada Syaikh Ahmad bin ‘Abdullah Al Hindi, “Kata-kata itu terucap kepadanya sementara aku sudah berkhidmah padamu selama 18 tahun.” Ada orang datang dari arah Maghrib seraya berkata, “Dia adalah pewarisku!” Syaikh Ahmad bin ‘Abdullah Al Hindi tersebut spontan berkata (mengutip firman Allah swt),
يَّخْتَصُّ بِرَحْمَتِهٖ مَنْ يَّشَآءُ ۗ وَا للّٰهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيْمِ
yakhtashshu birohmatihii may yasyaaa, wallohu zul-fadhlil-‘azhiim
“Dia menentukan rahmat-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah memiliki karunia yang besar.”
(QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 74)
Andai aku bisa memilih, maka aku berikan pilihan itu untuk anakku terlebih dahulu sebelum dirimu.”
Sayyidi Syaikh Ra melakukan perjalanan menuju Madinah untuk menziarahi Nabi Muhammad Saw. Setelah berziarah, beliau bertemu dengan seorang wali quthb tersohor; Abu Abdillah Sayyidi Muhammad Abdul Karim, yang terkenal dengan, “As-Sammân.” Ketika itu pula Syaikh Sammån memberi izin Sayyidi Syaikh Ra untuk mengamalkan semua asma (Nama-nama Allah yang memiliki keutamaan dan rahasia di dalamnya). Syaikh Sammân juga memberitahukan perubahan kondisi jiwa yang akan dialami Sayyidi Syaikh Ra, bahwa beliau adalah Al Quthb Al Jami’.
Setelah ritual manasik haji dan ziarah usai, Sayyidi Syaikh Ra kembali pulang ke Mesir dan tinggal di rumah Sayyidi Mahmud Al Kurdi. Syaikh Al Kurdi ini ingin mentalqinkan beliau thariqah Khalwatiyah, agar setelah itu Sayyidi Syaikh Ra bisa mengajak banyak orang masuk ke dalam thariqah Khalwatiyyah serta mentarbiyah mereka dengan ragam wiridan yang ada dalam thariqah tersebut, namun Sayyidi Syaikh Ra menolak hal itu. Syaikh Mahmud Al Kurdi kemudian berkata menegaskan, “Talqinlah orang banyak dan aku yang akan menjamin hal itu.” Sayyidi Syaikh Ra ketika itu menjawab, “Baiklah jika begitu.” Kemudian Syaikh Mahmud Al Kurdi mendo’akannya dan Sayyidi Syaikh Ra kembali melakukan perjalanan menuju Tunis.
Sayyidi Syaikh Ra berpindah dari Tunis ke Tilimsan pada tahun 1188 H/1774 M, di Tilimsan lah Sayyidi Syaikh Ra menetap selama tiga tahun yang beliau gunakan untuk beribadah dan ber-mujahadah. Ditahun tersebut, Sayyidi Syaikh Ra bertemu dengan dengan juru tulis dan pemegang asrar, Sayyidi Muhammad bin Al Musyri Al Hasani As-Siba As-Saihi At-Tikrati. Sayyidi Syaikh Ra mentalqinkanınıya thariqah Khalwatiyyah. Sejak pertemuan inilah Syaikh Al Musyri kerap menjadi imam dalam shalatnya Sayyidi Syaikh Ra. Sejak itu pula Syaikh Al Musyri menggantikan posisi Sayyidi Syaikh Ra dalam menuliskan jawaban dari beragam pertanyaan yang datang. Kondisi ini berlangsung hingga tahun 1208 H/1794 M. Pada tahun inilah, Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra mulai menjadi Imam (pengemban thariqah Tijaniyyah), seperti apa yang diperintahkan oleh Nabi Muhammad Saw.
Pada tahun 1191 H/1777 M, Sayyidi Syaikh Ra sering melakukan perjalanan dari Tilimsan menuju Fes-ini merupakan perjalanan yang kedua kalinya ke sana- dalam perjalanan beliau kali ini tujuannya adalah ingin menziarahi Maulana Idris Al Azhari. Di tengah perjalanan, Sayyidi Syaikh Ra bertemu dengan Sayyidi ‘Ali Harâzim Barrâdah Al Fasi untuk pertama kalinya, Sayyidi Syaikh Ra lalu mentalqinkannya thariqah Khalwatiyyah dan sejak itulah Sayyidi ‘Ali Harazim pergi bersama Sayyidi Syaikh Ra ke Fes.
Setelah Sayyidi Syaikh Ra menziarahi kuburan Sayyidi Idris Al Azhari, Sayyidi ‘Ali Harazim beliau tinggalkan di Fes, sementara Sayyidi Syaikh Ra kembali ke Tilimsan. Pada tahun 1196 H/ 1781 M, Sayyidi Syaikh Ra kembali meninggalkarı kota Tilimsan untuk pergi ke Asy-Syalalah dan tinggal di sana selama tiga tahun. Sayyidi Syaikh Ra kembali melakukan perjalanan untuk tinggal di kawasan Abi Samghûn, di sana terdapat kuburan seorang wali besar Abi Samghûn.
Sayyidi Syaikh Ra tinggal di Abi Samghûn selama 14 tahun, di sana beliau mendapatkan futuh terbesar dan derajat kewalian yang paling agung, inilah karunia yang beliau tunggu-tunggu dengan penuh kesabaran. Disela menetapnya Sayyidi Syaikh Ra di Abi Samghûn, beliau sesekali pergi ke Tawât bagian barat untuk menziarahi Sayyidi Muhammad bin Al Fudhail dan saling bertukaran asrar diantara mereka. Kemudian Sayyidi Syaikh Ra melakukan perjalanan untuk kedua kalinya ke kota Tâzah, disana beliau bertemu murid dan sahabatnya; Al ‘Arif billah Sayyidi Muhammad bin Al ‘Arabi Ad-Damrawi At-Tâzi.
Pada tahun 1196 H yang merupakan tahun pertama kepergian Sayyidi Syaikh Ra ke Abi Samghûn, beliau mendapatkan futuh. Nabi Saw memberikan izin Sayyidi Syaikh Ra-secara terjaga dan tidak dalam mimpi- untuk mentalqin orang-orang secara umum dan mutlak, dimana Nabi jua lah yang menentukan wiridan yang ditalqinkan. Wiridan itu berupa membaca istighfar sebanyak 100 kali dan membaca shalawat sebanyak 100 kali. Tepatnya pada tahun 1200 H, Nabi Saw menambahkan bacaan hailalah sebanyak 100 kali kedalam wiridan tersebut.
Nabi Muhammad Saw mengabarkan kepada Sayyidi Syaikh Ra-secara terjaga dan tidak dalam kondisi tidur- bahwa Rasulullahlah sang guru dan penanggung beliau, seseorang tidak akan bisa wushul kepada Allah Swt kecuali dengan Nabi Saw dan juga perantaranya. Nabi bersabda (dalam bisyarah tersebut) kepada beliau, “Tidak ada lagi kebaikan Syaikh manapun bagimu, akulah yang memberimu madad. Tinggalkanlah semua yang engkau ambil dari mereka dan lazimkanlah thariqah ini, tanpa perlu khalwat dan menyendiri dari khalayak ramai, sampai engkau menggapai derajat yang dijanjikan, bahkan engkau dalam keadaan itu, tanpa banyak menemui kesulitan dan mujahadah.”
Setelah Sayyidi Syaikh Ra mendapatkan derajat kewalian, beliau lalu pergi ke ‘Ainu Madhi dan membuat zawiyah di sana. Kala itu Sayyidi Syaikh Ra kerap melakukan perjalanan ke area sekitar ‘Ainu Madhi, Abi Samghûn dan Tawât. Sayyidi ‘Ali Harâzim sempat menziarahi Sayyidi Syaikh Ra di Abi Samghûn, tepatnya tahun 1203 H/1789 Μ.
Sejak tahun 1198 H/1783 M, semakin banyak orang yang masuk kedalam thariqah Sayyidi Syaikh Ra dan thariqah Tijaniyyah pun semakin tersebar luas, disaat thariqah Tijaniyyah ini nampak kuat mengakar di masyarakat, pemerintahan Turki semakin khawatir akan perkembangan ini, untuk itu pada tahun 1199 H/1784 M dan tahun 1201-1202 H/1787 M, pemerintah Turki pun mengirimkan agresi militer ke ‘Ainu Madhi dan mewajibkan upeti bagi Sayyidi Syaikh Ra dan para pengikutnya. Hal ini pun membuat Sayyidi Syaikh Ra terdesak dan mengharuskan beliau pergi ke Fes.
Pada tanggal 17 Rabi’ul Awwal 1213 H/1798 M, sultan Sulaiman beserta seluruh petinggi pemerintahan menyambut hangat Sayyidi Syaikh Ra, bahkan mereka pun berdesak-desakan memenuhi jalan kota. Acara penyambutan ini pun dilakukan oleh sultan Sulaiman, lantaran dia melihat bahwa sistem pengajaran thariqah Tijaniyyah ini sesuai dengan Al Qur’an dan As-Sunnah serta menolak segala ragam bid’ah.
Dari gambaran di atas, engkau bisa melihat bagaimana adab sultan Sulaiman kepada Sayyidi Syaikh Ra, bahkan hal itu tecermin dalam surat yang sang sultan kirimkan sebelumnya, di dalam surat itu tertulis, “….Setelah ucapan bismillah dan shalawat terhadap Nabi: Gantikanlah orang tua kami, wahai sayyidina wa syaikhana wa qudwatana al Muhammady, Abul Abbas Sayyidi Ahmad, Aku memuji Allah dan bershalawat kepada nabi-Nya yang terpuji. Telah sampai kepada kami surat anda yang penuh dengan keberkahan dan kami memuji Allah atas apa yang Allah khususkan kepada kami dengan orang yang diridhai….”
Pada hari senin, 6 Rabi’ut Tsani tahun 1213 H/1798 M, Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra sampai di kota Fes, kota dimana beliau dirikan sebuah zawiyah. Zawiyah inilah yang kemudian menjadi tempat tinggal beliau terakhir. Sayyidi Syaikh Ra tiba bersama Sayyidi ‘Ali Harazim. Dengan kedatangan beliau ini segala penjuru negeri Maghrib merasakan keberkahan itu. Saat beliau berada di zawiyah inilah, tingkatan kondisi jiwa beliau semakin melesat dan derajat beliaupun semakin meninggi hingga beliau mencapai tingkatan khatmiyyah dan juga mampu menggapai magam katmiyyah. Tak ada satu ulama pun yang menafikan, bahwa beliau adalah mujaddid abad ke-13 H. Hal ini sebagaimana pernah diriwayatkan oleh Abu Hurairah, bahwa Rasulullah Saw bersabda,
إِنَّ اللَّهَ يَبْعَثُ لِهَذِهِ الْأُمَّةِ عَلَى رَأْسِ كُلِّ مِائَةِ سَنَةٍ مَنْ يُجَدِّدُ لَهَا دِيْنَهَا.
“Sungguh Allah kelak mengutus seseorang bagi umat ini pada setiap seratus tahun, yang akan memperbaharui tata cara beragama.” (HR. Abu Daud; Al Hakim dalam Al Mustadrak, Ath-Thabrani dalam Al Kabir dan Al Ausath, dan Al Baihaqi dalam Al Ma’rifah; At-Tabrizi dalam Misykät Al Mashabih; Ibnu Asakir dalam Tarikh-nya; dan Al Khathib dalam Tarikh Baghdad.)
Disebutkan pula dalam riwayat Abu Daud,
الْمُجَدِّدُ مِنَّا أَهْلُ الْبَيْتِ
“Sosok pembaharu dari kalangan kami adalah dari golongan Ahl Bait.”
Disanalah orang berduyun-duyun masuk kedalam thariqah Tijaniyyah; baik dari kalangan ulama, ahli fikih, para menteri dan rakyat lainnya. Dari kota Fes inilah thariqah Tijaniyyah mulai tersebar luas hingga pelosok negeri Maghrib, negeri Tunisia beserta padang pasirnya dan juga Sudan bagian barat.
Di kota Fes ini, Sayyidi Syaikh Ra menetap di rumah leluhunya Sayyidi Ali Harâzim yang beralamatkan di desa Darb Ath-Thawil, nomer 20. Di Masjid Ad-Diwan yang berada dekat rumah inilah, Sayyidi Syaikh Ra banyak menyampaikan beragam pelajaran, sehingga dari masjid inilah, nama beliau semakin tenar, bahkan kabar ini sampai pula di telinga sultan Sulaiman. Syaikh ‘Abdul Qadir bin Syaqrun -seorang petinggi ulama dan petinggi hakim pada masanya dan Syaikh Al ‘Allamah Al ‘Abbas bin Kairân -seorang ulama bagi keluarga sang sultan, yang juga merupakan hakim di Kota Mankas-memuji Syaikh Ahmad At-Tijany Ra di hadapan sang sultan. Sultan Sulaiman pun mengundang beliau untuk hadir dan menjadi pembicara didalam majelis sultan. Sayyidi Syaikh Ra pun memenuhi perintah sultan Sulaiman tersebut.
Dalam majelis itulah, Sayyidi Syaikh Ra mulai menampakkan sisi keilmuan yang beliau miliki; baik itu sisi rasionalitas, naql dan ilmu ladunni yang membuat semua hadirin tercengang, sehingga orang yang semula mengingkari beliau itu malah berbalik mencintai.
Kejadian yang menunjukkan keluasan ilmu dan kedalaman pemahaman Sayyidi Syaikh Ra yang sampai pada taraf mujtahid adalah, ketika para ulama yang pakar dalam suatu bidang ilmu pengetahuan, pakar mengajar dan pakar membaca suatu tafsir berkumpul di sekeliling Sultan dalam sebuah majelis yang Sultan adakan. Ulama besar yang datang bersama beliau saat itu, diantaranya Syaikh Ath-Thayyib bin Kairan (w. 1227 H), Syaikh Sayyidi Abdul Qadir bin Ahmad bin Al ‘Arabi bin Syaqrûn (w. 11 Sya’ban 1219 H) -dimana dari kedua Syaikh inilah sang sultan banyak menimba ilmu-, Syaikh As-Sayyid Al ‘Abbasi Asy-Syarâyini seorang ulama magra tersohor-. Sang sultan pun sepakat untuk menghadirkan Sayyidi Syaikh Ra bersama para ulama yang lain setibanya beliau di kota Fes.
Syaikh Ibnu Kairân mengawali majelis sultan itu dengan kalimat pembuka yang biasa ia ucapkan pada awal pertemuan di hadapan sang sultan, hal itu dia lakukan lantaran kemahirannya dalam ilmu zhahir dan nalar. Dia mengemukakan dan kembali menegaskan ucapannya itu, dia mengira bahwa tidak ada orang yang memiliki ilmu seperti dirinya, yang mana orang yang hadir pun seolah-olah sepakat dengan dirinya, kemudian sultan Sulaiman menoleh kepada Sayyidi Syaikh Ra seraya berkata, “Lantas bagaimana pendapat Syaikh tentang ayat ini?.” Sayyidi Syaikh Ra pun menjelaskan ayat tersebut dengan keterangan yang mencengangkan; baik itu keterangan yang berkaitan dengan ilmu syari’at, maupun ilmu nalar dan Sayyidi Syaikh Ra dapat memberikan keterangan yang lebih baik dari apa yang diutarakan oleh Syaikh Ibnu Kairân.
Keterangan Sayyidi Syaikh Ra membuat Syaikh Ibnu Kairan tersentak, Sayyidi Syaikh Ra pun menilai bahwa apa yang dilontarkan Syaikh Ibnu Kairan sebelumnya tidak sesuai dengan apa yang seharusnya disimpulkan, Sayyidi Syaikh Ra kala itu berkata “Apa yang telah disebutkan oleh mufassir ini tidaklah benar, dimana hal itu tidak bisa diterima oleh para intelektual.” Syaikh Ibnu Kairân lantas berkata, “Apakah anda ingin menentang kami dan mengatakan orang yang berpendapat demikian adalah mufassir fulan dan si fulan,” Syaikh Ath-Thayyib bin Kairan menyalahkan pernyataan Sayyidi Syaikh Ra. Sayyidi Syaikh Ra mempertegas ucapan sebelumnya seraya berkata, “Penyataanku ini tidak tertuju padamu dan juga bukan bagi orang yang membawa beban berat yang engkau giring pada makna yang bukan tempatnya, tetapi pernyataanku ini adalah untuk mufassir itu.”
Kemudian Sayyidi Syaikh Ra menjelaskan hal yang benar itu dengan dalil naqli dan juga ‘aqli, sehingga keraguan sirna dan tersibak kebenaran. Para pembesar ulama yang hadir di dalam majelis itu pun mengakui penjelasan tersebut, seraya menyatakan, “Demi Allah, inilah hal yang benar.” Semua pernyataan yang diucapkan Sayyidi Syaikh Ra ini juga didengar oleh sultan Sulaiman, setelah penjelasan ini, majelis pun selesai. Para ulama yang mengakui kebenaran penjelasan ini pun mengucapkan terimakasih kepada Sayyidi Syaikh Ra.
Setelah majelis tersebut selesai, sang sultan bersama sisa orang yang hadir pun bercakap-cakap, sultan Sulaiman mengatakan, “Kalian kini telah mengetahui kedudukan dan keunggulan beliau dalam ilmu zhahir. Sementara mengenai ilmu bathin, ilmu bathin sejatinya memiliki induk sumber dan beliau adalah anak dari induk ini, bagaimana menurut kalian?,” Mereka menjawab, “Demi Allah pernyataannya itu benar dan kebenaran itu pun tersibak dengan jelas”.
Seorang ulama terkemuka Tunis; Sayyidi Syaikh Muhammad bin Sulaiman Al Mannâ’i pernah berkata setelah berkumpul di majelis tersebut, “Aku lihat, banyak orang mencari alasan untuk dapat mengungkapkan hal yang cocok para hadirin dalam majelis yang sempurna ini, namun tidak seperti sang Imam yang satu ini (Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra), keilmuan beliau dalam syari’at laksana lautan tak bertepi”. Tidak ada orang yang menandingi beliau dalam beberapa hal yang telah aku lihat sendiri, diantaranya:
1. Beliau hafal diluar kepala beberapa buku fikih, diantaranya; Mukhtashar Ibnu Hajib, Mukhtashar Asy-Syaikh Khalil dan Tahdzīb Al Bardza’i. Ada orang yang menceritakan kepadaku, bahwa beliau dapat menghafal itu semua dalam satu kali dengar, lantas dengan keadaan beliau yang seperti ini, apakah orang yang tidak memiliki wawasan luas itu masih akan menentang pernyataan beliau dalam hal fardhunya wudhu’?!.
2. Diantara buku hadits yang beliau hafal diluar kepala adalah, Shahih Al Bukhari, Shahih Muslim dan juga Al Muwaththa karya Imam Malik.
3. Terkait dengan ragam buku tauhid, Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra hampir mirip dengan Al Ghazali, yang menyatakan, “Semua hati ada pada genggaman Allah, terserah yang Allah inginkan dari hati tersebut.”
Sayyidi Syaikh Ra tidak tinggal lama di kediaman keluarga Syaikh ‘Ali Harâzim, sultan Sulaiman menghadiahkan beliau sebuah rumah yang dapat dimanfaatkan oleh keluarga beliau. Sang sultan pun telah menetapkan pemberian sejumlah uang untuk keperluan sehari-hari beliau.
Pada awalnya, Sayyidi Syaikh Ra enggan menerima itu semua sampai sang sultan menjelaskan panjang lebar, bahwa itu semua bukanlah milik Negara, itu semua diambil dari harta pribadi sang sultan. Sayyidi Syaikh Ra tidak nyaman tinggal di sana sampai Rasulullah Saw menyetujui untuk tinggal di sana, dengan syarat agar beliau mensedekahkan sejumlah nominal dari rumah itu, yang disedekahkan kepada orang-orang fakir miskin dan beliaupun melakukan hal itu.
Sayyidi Syaikh Ra kerap berkumpul dengan para sahabatnya untuk berdzikir dan membaca wazhifah di bagian pintu rumah beliau dan terkadang di sebuah masjid yang berada di kota itu, sampai Nabi Saw memerintahkan beliau untuk membangun zawiyah. Akhirnya beliau pun membeli sebidang tanah yang terletak di kota Fes lama, tepatnya di Hay Al Balīdah, Sayyidi Syaikh Ra membeli tanah tersebut dengan uang pribadi beliau. Sebelum dibangunnya sebuah zawiyah, sebidang tanah ini merupakan tanah yang menakutkan dan banyak mengandung hal mistis, tidak ada orang yang berani memasuki tanah ini sendirian, sebab terkadang terdengar suara dzikir secara berjamaah yaitu dzikimya para orang yang majdzub dari penduduk Fes.- Selain itu, Sayyidi Syaikh Ra juga membeli tanah yang berada di samping tanah sebelumnya untuk memperluas bangunan zawiyah.
Ada banyak orang yang tidak suka kepada Sayyidi Syaikh Ra seraya mengingkari pendirian bangunan zawiyah tersebut, kondisi itu sampai membuat Sayyidi Syaikh Ra berpikir untuk meninggalkan kota Fes dan pergi ke Syiria. Saat sang sultan mengetahui keinginan orang-orang yang mengingkari Syaikh Ahmad At-Tijany Ra dan pembangunan zawiyah itu, maka sang Sultan mengeluarkan surat perintah untuk melanjutkan pembangunan zawiyah itu sekalipun banyak orang yang mengingkarinya. Tak hanya itu saja, sang Sultan pun mengeluarkan sejumlah harta yang cukup besar guna membantu pembangunan zawiyah tersebut. Sayyidi Syaikh Ra menanggapi semua permasalahan yang ada dengan sangat santun dan halus, seraya berkata, “Dengan izin Allah Swt, zawiyah ini akan terus berdiri.”
Bangunan zawiyah diselesaikan sekitar tahun 1215 H /1800 M. Sayyidi Syaikh Ra pun menyampaikan keutamaan dan keberkahan zawiyah ini, dengan perkataan, “Seandainya para pembesar orang-orang yang ‘Arif billah itu tahu keutamaan zawiyah ini, maka mereka akan memacu tunggangan untuk segera sampai ke sini.” Beliau juga pernah berkata, “Shalat di zawiyah ini pasti diterima.”
Seseorang Akan Bersama Orang Yang Dicintainya (Al Hadits)
