
Elsubha.com – Biografi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra
A. Nasab Syaikh Ahmad At-Tijany Ra
Kami akan sebutkan nasab Syaikh Ra yang merupakan perkara amat luhur, sebab beliau tergolong ke dalam cabang nasab yang agung, dan juga berasal dari nasab yang suci Sayyidina Muhammad Saw.
Beliau adalah Maulana Abu Al Abbas Sayyidi Ahmad bin Muhammad, yang memiliki kunyah, Abu Umar bin Al Mukhtar bin Ahmad bin Muhammad bin Sâlim bin Abu Al lid bin Sâliem bin Ahmad, yang dijuluki dengan “Al Alwâni” bin Ahmad bin Ali bin Abdulllah bin Abbas bin Abdul Jabbar bin Idrîs bin Idrîs bin Ishaq bin Ali Zainal Abidin bin Ahmad bin Muhammad An-Nafs Az-Zakiyyah bin Abdulah Al Kâmil; Hasan Al Mutsanna bin Hasan As-Sabath bin Ali bin Abi Thalib Ra dan Sayyidatina Fatimah Az-Zahra; sang pemuka wanita penghuni surga, puteri Rasulillah Muhammad Saw.
B. Sanad Syaikh Ra Dalam Thariqah
Engkau telah tahu nasab Syaikh Ahmad At-Tijany Ra, maka kini kami akan sebutkan nasab ruhani, yang merupakan sanad dalam tarbiyah keruhanian beliau:
Pada awalnya, Syaikh Ra berguru kepada banyak guru namun beliau tidak cukup dengan apa yang telah beliau dapat, kemudian dia mewakafkan dirinya untuk beribadah kepada Allah Swt dan memperbanyak bacaan shalawat kepada Nabi Muhammad Saw, sebagaimana yang telah diketahui oleh para sufi, bahwa bacaan shalawat pasti akan sampai kepada Nabi Saw sekalipun tanpa adanya bimbingan seorang Syaikh. Hal ini bersumber dari sabda Nabi Muhammad Saw, bahwasanya beliau bersabda,
مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلَاةٌ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْراً
“Barangsiapa yang bershalawat kepadaku satu kali, niscaya Allah akan membalasnya dengan sepuluh kali”
(HR. Muslim dalam Shahih-nya, dari riwayat Abdullah bin Amr bí Al ‘Ash, dan juga para periwayat lainnya dari Abu Hurairah Ra.)
Para malaikat pun senantiasa bershalawat (memohonkan rahmat) bagi orang yang bershalawat kepada Nabi Muhammad Saw. Dimana Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
هُوَ الَّذِيْ يُصَلِّيْ عَلَيْكُمْ وَمَلٰٓئِكَتُهٗ لِيُخْرِجَكُمْ مِّنَ الظُّلُمٰتِ اِلَى النُّوْرِ ۗ وَكَا نَ بِا لْمُؤْمِنِيْنَ رَحِيْمًا
huwallazii yushollii ‘alaikum wa malaaa-ikatuhuu liyukhrijakum minazh-zhulumaati ilan-nuur, wa kaana bil-mu-miniina rohiimaa
“Dialah yang memberi rahmat kepadamu dan para malaikat-Nya (memohonkan ampunan untukmu), agar Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya (yang terang). Dan Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman.”
(QS. Al-Ahzab 33: Ayat 43)
Maksudnya adalah, dari gelapnya maksiat menuju cahaya ketaatan, dari gelapnya hijab (tabir penutup kalbu) menuju cahaya terbukanya tabir tersebut.
Banyak para wali Allah yang telah wushul kepada-Nya dengan jalan bershalawat, semisal; Syaikh Nûruddîn As-Syûni, Al ‘Arif Al Mathbûli dan Sayyidi Abdul Rahîm Al Qinnai serta masih banyak yang lainnya.
Kondisi jiwa Syaikh Ahmad At-Tijany Ra seperti ini (selalu memperbanyak bacaan shalawat) hingga beliau ditemui Rasulullah Saw, dimana Rasulullahlah yang men-tarbiyah beliau dengan tarbiyah khass (men-tarbiyah-nya secara khusus) hingga Rasulullah Saw mentalqinkan suatu wiridan kepada beliau. Sebelumnya, Syaikh Ahmad At-Tijany Ra juga sering mengamalkan shalawat fatih. Suatu saat beliau pernah meninggalkan bacaan shalawat fatih tersebut dan beralih pada shalawat lain dengan shighah sebagai berikut,
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ صَلَاةً تَعْدِلُ جَمِيعَ صَلَوَاتِ أَهْلِ مَحَبَّتِكَ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ سَلَامًا يَعْدِلُ سَلَامُهُمْ
“Ya Allah, semoga rahmat selalu tercurahkan atas penghulu kami Muhammad dan juga atas keluarganya, dengan shalawat (rahmat) yang setara dengan semua shalawat orang-orang yang mencintai-Mu, begitu juga (semoga) keselamatan selalu tercurah atas penghulu kami, Muhammad dan juga atas keluarganya, dengan salam yang setara dengan semua salam mereka (orang-orang yang mencintai-Mu).”
Rasulullah Saw menyuruh Syaikh Ahmad At-Tijany Ra untuk kembali mengamalkan shalawat fatih dan mentalqin beliau istighfar dan shalawat. Pada saat itu Syaikh tepatnya berada di Abi Samghun, tepatnya di kawasan gurun Maghrib. Lalu Nabi Muhammad Saw menyempurnakan wiridan tersebut dengan bacaan hailalah. Ruh Rasulullah Saw saat itu masih terus membimbing dan mendidik beliau hingga beliau mencapai kedudukan yang telah dijanjikan, hal ini murni hanya dengan limpahan dan karunia Allah Swt.
Menurut Ahl At-Tahqiq (para sufi), pendidikan semacam ini dinamakan dengan Tarbiyah Ruhani atau Tarbiyah Uwaisiyyah. Ini disebabkan Ruh Nabi Muhammad Saw mendidik ruh Uwais Al Qarni tanpa adanya pertemuan jasad. Tarbiyah yang demikian ini, tidak disyaratkan berkumpulnya dua ruh; baik keduanya sama-sama berada di alam dunia, ataupun hanya salah satunya.
Jangan terkecoh dengan perkataan orang yang tidak berilmu, yang mengatakan, “Orang yang berada di alam akhirat tidak ada lagi hubungan dengan orang yang berada di dunia.” Pendapat ini jelas tidak benar, karena kerajaan Allah Swt itu satu dan ruh orang yang telah meninggal dunia tidak akan keluar dari kerajaan Nya. Ruh tidak akan hilang dengan begitu saja dengan meninggal dunia, akan tetapi ruh itu berpindah tempat dari satu alam ke alam yang lainnya, namun dia tetap dalam kerajaan Allah Swt dan hanya Allah lah yang tahu.
Para ulama telah sepakat, bahwa ruh orang yang masih hidup dapat berkumpul dan bertemu dengan ruh orang yang telah meninggal dunia dalam tidur. Apabila hal ini dapat terjadi di dalam tidur, inipun dapat terjadi secara yaqdzah (alam sadar) dan semuanya ini ada di alam semesta, di bawah kekuasaan Allah Swt. Sebagaimana telah disepakati pula oleh para ulama, bahwa orang yang telah meninggal dunia dapat mendengar ucapan salam orang yang menyampaikan salam untuknya, bahkan dapat menjawabnya. Dia pun akan merasakan kesakitan sebagaimana yang dialami oleh orang yang masih hidup di dunia.
Orang-orang yang tidak berilmu tadi, sebenarnya dia terhalang untuk dapat menyaksikan kebenaran perkara-perkara di atas. Mereka hanya dapat menghukumi dengan sangkaan mereka yang salah. Maka jangan kalian berpaling pada perkataan mereka, sebab sejatinya perkataan mereka itu salah. Seperti halnya malaikat dan jin yang wujudnya ada namun kita tak dapat melihat mereka, kecuali dengan suatu hal yang luar biasa (di luar kemampuan akal manusia).
Nah, begitupula halnya dengan kemungkinan berkumpul dan bertemu dengan orang yang berada di alam akhirat, hal ini merupakan kemampuan yang luar biasa. Hal ini sebenarnya merupakan hal yang bisa saja terjadi menurut akal sehat dan syara’. Dimana hal tersebut juga telah dikabarkan oleh orang yang mumpuni dibidangnya dan terpercaya. Maka penulis tidak lagi meragukan, bahwa hal tersebut dapat terjadi.
namun Apabila cara wushul dengan prihal diatas sudah jelas, maka sanad Syaikh Ahmad At-Tijany Ra adalah dari Nabi Muhammad Saw. Syaikh Ahmad At-Tijany Ra pernah berkata: “Kami mengambil banyak sanad Allah belum dari berbagai masyaikh, memberikan keinginan dan tujuan kami, namun setelah kami bersanad kepada sandaran dan guru karni; Nabi Muhammad Saw, Allah Swt pun mengabulkan keinginan itu dengan diberikannya futuh (terbukanya mata batin) dan dapat wushul kepada Allah Swt dengan tarbiyah beliau, tidak ada masyayikh kami yang dapat melakukan itu kecuali beliau Saw.”
Salah satu keutamaan thariqah At-Tijaniyyah ini adalah, bahwa para murid mewarisi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra dan memiliki sebagian kedudukan dari derajat beliau.
Syaikh An-Nabhâni dalam bukunya Jami’ Karamat Al Auliya dalam biografinya tentang Syaikh Ahmad At-Tijany Ra, beliau menuliskan bahwa Syaikh Ahmad At-Tijany Ra merupakan salah satu khalifah dari Syaikh Ahmad bin Idrîs, hal ini tidaklah benar. Dimana telah disebutkan pula tentang Syaikh Ahmad bin Idrîs tentang biografinya, bahwa dia lahir pada abad ke-13, sedangkan Syaikh Ahmad At-Tijany Ra dilahirkan di pertengahan abad ke-12. Syaikh Ahmad At-Tijany Ra jelas hidup lebih awal dan bukan termasuk bagian dari thariqahnya.
Berikut ini akan kami paparkan pernyataan beberapa orang yang menuliskan biografi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra yang bukan dari pengikut thariqahnya:
Disebutkan dalam Tarikh Al Iqtiqsha` fi Akhbâri Al Maghrib Al Aqsa, jilid IV, halaman: 138, berikut ini perkataannya: “Saat sultan Sulaiman berkumpul dalam majelis beliau, dimana beliau mendengar harumnya nama beliau dan kehebatan majelis ilmu Syaikh Ahmad At-Tijany Ra, sang sultan menerima beliau dengan baik dan percaya terhadapnya, hingga sang sultan menghadiahkan kepada Syaikh sebuah rumah yang semisal dengan rumahnya sang sultan. Dalam membangunnya, sang sultan menghabiskan sekitar 20.000 mitsqal serta memberikan apa yang beliau perlukan. Sehingga banyak orang yang datang kepada beliau berduyun-duyun dan hal ini terdengar di seantero kota Fess dan Maroko. Beliau adalah syaikh thariqah At-Tijaniyyah. Dimana disebutkan pula dalam juz yang sama, halaman 150 mengenai datangnya ajal beliau: Syaikh Al ‘Alim Al ‘Arif Al Imâm, Abul Abbas Ahmad At-Tijany Ra, merupakan Syaikh thariqah At-Tijaniyyah yang meninggal dunia di kota Fess Al Mahrusah.
Syaikh An-Nabhâni dalam bukunya Jâmi’ Karamât Al Auliya menuliskan biografi beliau, seraya menuturkan: Beliau merupakan Imamnya orang-orang yang ‘Arif kepada Allah, salah satu petinggi wali-wali Allah Al Muqarrabuun. Khalifah Syaikh Ahmad At-Tijany Ra; Sayyidi Ali Al Harazim bin Al Araby Barrâdah Al Maghribi Al Fâsy menuliskan di dalam bukunya Jawahirul Ma’ani yang dikarangnya tentang prihal Syaikh Ra, dia menuliskan: Bahwa Syaikh Ra merupakan seorang ulama yang mengamalkan ilmunya, seorang imam mujtahid, seseorang yang mengumpulkan antara keagungan ilmu pokok dan dasar agama, keagungan ilmu dan pengamalannya, ahwal rabbani yang agung dan maqâmât yang tinggi, cita-cita yang tinggi, akhlaq yang suci sebagai perwujudan sifat Rahmân-Nya Allah, beliau pemiliki thariqah sunni yang tersohor, memiliki ilmu laduni dan Sirr Rabbâni yang sempurna, memiliki kemampuan yang luar biasa dan karamat yang nyata, seorang wali Qutb, Al Jâmi’, Al Ghauts, Al Warits Ar-Rahmâni, Al Imam Ar-Rabbani dan lain sebagainya yang menunjukkan betapa mulia sifat beliau.
Thariqah At-Tijaniyyah ini tersebar luas di Maghrib, Sudan dan semua penjuru Afrika, sebagaimana belum pernah tersebarnya suatu thariqah dengan penyebaran yang sedahsyat thariqah At-Tijaniyyah ini, keberadaan thariqah Tijaniyyah juga mendatangkan manfaat yang besar bagi daerah tersebut. Barangsiapa yang ingin mengetahui banyak tentang beliau dan thariqah dan beragam keilmuan lainnya, kiranya dapat merujuk kembali buku Jawahirul Ma’ani yang telah kami sebutkan sebelumnya dan juga kitab Ar-Rimah yang dicetak dengan catatan pinggir Sayyidi Umar Al Fûti; salah seorang khalifah beliau,-semoga Allah Swt meridhai mereka semua dan memberikan kita semua suatu manfaat dengan keberkahan mereka semua- dimana kitab Ar-Rimâh ini dijadikan sebagai catatan pinggir kitab Jawahirul Ma’âni tersebut.
Syaikh Umar Ar-Riyahi At-Tûnisi dalam kitabnya, Ta thîr An-Nawâhi bi Tarjamati Jaddihi Al Allâmah Al Imam Syaikh Ibrahim Ar-Riyahi disebutkan: “Saat Syaikh Ibrahim Ar-Riyahi tiba di Fees, pertama kali dia berjalan ke rumah penghulu kami Al Quthb Al Maktům At-Tijany; Syaikh Ahmad Tijany Ra. Saat dibukakan pintu rumah, sang pelayan berkata: “Apakah Anda Ibrahim Ar-Riyahi At-Tûnisi?” Dia menjawab, “Iya.” Sang pelayan kembali berkata, “Syaikh telah memberitahu kami akan kedatanganmu dan kamu diperbolehkan masuk tanpa perlu izin lagi.” Setelah beliau masuk, beliau juga melihat Syaikh Sayyidi Muhammad Al Musyri dan Sayyidi Muhammad Al Ghali dan yang lainnya, yang selalu mendapatkan kesempatan untuk selalu berada bersama Syaikh Ahmad At-Tijany Ra.
Mereka semua kemudian disuguhi secawan susu, lalu meminumnya. Kemudian Syaikh Ahmad At-Tijany keluar dari khalwat-nya dan duduk bersama mereka. Setelah Syaikh menerima salam dari mereka, dia (Ibrahim Ar-Riyahi At-Tûnisi) lalu mengabarkan, bahwa Syaikh Shalih Al Kawasyi; salah seorang gurunya, baru saja meninggal dunia. Syaikh Ahmad At-Tijany Ra berkata, bahwa beliau baru saja ada di samping jenazahnya. Saat itu tepatnya hari senin tanggal 17 Syawwal 1218 H. Sayyidi Ahmad At-Tijany Ra menziarahi jenazah Syaikh Shalih Al Kawasyi dengan karamah beliau, dimana saat itu Syaikh Ahmad At-Tijany Ra berada di Fess dan jenazah Syaikh Shalih Al Kawasyi berada di Tûnis.” Demikian yang tertulis dalam kitab tersebut.
Syaikh Ibrahim Ar-Riyahi, adalah Abi Ishaq Sayyidi Ibrahim Ar-Riyahi At-Tûnisi, Syaikhul Islaam di Tunis pada masanya. Beliau merupakan salah satu khalifah Syaikh; Sayyidi Ahmad At-Tijany Ra. Penyebab dirinya datang ke kota Fess dikarenakan masa paceklik di Tunis pada tahun 1218H, dimana orang-orang saat itu membutuhkan bantuan dari sultan Maghrib. Beliau memohon bantuan tersebut kepada gubernur Tunis, yang saat itu dia menjadi duta sultan Maghrib; Maulay Sulaiman. Saat beliau sampai di kota Fees, orang yang pertama beliau ziarahi adalah Syaikh Ahmad At-Tijany Ra dimana ia mengabarkan kepada Syaikh prihal yang terjadi, kemudian Syaikh Ahmad At-Tijany Ra mengabarkan kepada beliau bahwa beliau akan berhasil dalam misinya; meminta bantuan. Dia pun kembali ke Tunis dengan membawa apa yang dia inginkan.
C. Wasiat Syaikh Ahmad At-Tijany Ra
Aku berwasiat untuk diriku dan para ikhwan agar selalu berpegang teguh kepada Al Qur’an dan As-Sunnah, baik secara zhahir maupun batin. Menyibukkan diri untuk belajar dan mengamalkan ilmu khususnya yang berkaitan dengan adab suluk menuju Allah Swt. Selalu membaca Al Qur’an walaupun sedikit. Syaikh menganjurkan agar membaca Al Qur’an minimal dua hizb atau satu juz dalam satu hari bagi orang yang mampu.
Juga bermu’amalah dengan baik antara sesama manusia, antara kita dengan Allah Swt, antara kita dengan hawa nafsu diri kita, antara kita dan sesama ikhwan thariqah, sebab menyakiti ikhwan sama halnya dengan menyakiti Nabi Saw. Memelihara diri kita dari beragam perkara yang dapat memutuskan kita dengan Allah Swt dan Nabi Muhammad Saw serta Syaikh Ahmad At-Tijany Ra, terutama beragam perkara yang membawa kepada kekufuran dan semua dosa-dosa besar, lebih khusus yang menjerumuskan kita kepada suul khatimah, -wal lyâdzu billah- seperti memusuhi para wali Allah, riba, durhaka kepada orang tua, kebiasaan berzina dan lainnya yang telah dijelaskan dalam syariat, serta semua perkara yang haram dilakukan.
Telah diketahui, bahwa orang yang meninggalkan thariqah At-Tijaniyyah setelah mengambilnya, maka dia telah berdosa, sebab beragam wiridan yang ada di dalamnya di-nadzar-kan, dimana jika seseorang tidak menunaikan apa yang dia nadzar-kan, maka dia telah berdosa.
Jauhkan diri kita dari orang-orang yang menghambat dan menghalangi kita semua dalam ber-suluk menuju hadrah Ilahi, karena yang kita tuju adalah Allah Swt. Kita telah meninggalkan dunia ini dan menuju Allah Swt.
Semoga Allah Swt mengumpulkan kita di dalam hadrah-Nya yang khusus Fi Maq’adi Shidqin Inda Malikin Muqtadir dan menutup umur kita dengan husnul khatimah.
Alhamdulillah dari awal hinggal akhir, zhahir maupun batin dan semoga Allah selalu mencurahkan shalawat beserta salam-Nya kepada Sayyidina Muhammad Al Fâtih, Al Khâtim dan semua Alu bait serta para sahabat beliau hingga hari akhir, Amin.”
(Muhammad Al Hafizh At-Tijany).
Telah diteliti ulang dan diperbaiki, suatu sore di bulan Sya’ban 1414 H/14 Januari 1994 M (Ahmad bin Muhammad Al Hafizh A-Tijany).
Sumber : BUKU QASDUSSABIL FI ATH-THARIQAH AT-TIJANIYAH, SYAIKH MUHAMMAD AL HAFIZ AT-TIJANY AL MISHRI
