
Elsubha.com – Catatan Berharga Sayyidi Syaikh Ahmad at-Tijany Ra : Peringatan Untuk Tidak Mendustai Para Wali Allah Bahkan Memusuhi Mereka
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
بَلْ كَذَّبُوْا بِمَا لَمْ يُحِيْطُوْا بِعِلْمِهٖ وَلَمَّا يَأْتِهِمْ تَأْوِيْلُهٗ ۗ كَذٰلِكَ كَذَّبَ الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَا نْظُرْ كَيْفَ كَا نَ عَا قِبَةُ الظّٰلِمِيْنَ
bal kazzabuu bimaa lam yuhiithuu bi’ilmihii wa lammaa ya-tihim ta-wiiluh, kazaalika kazzaballaziina ming qoblihim fangzhur kaifa kaana ‘aaqibatuzh-zhoolimiin
“Bahkan (yang sebenarnya), mereka mendustakan apa yang mereka belum mengetahuinya dengan sempurna dan belum mereka peroleh penjelasannya. Demikianlah halnya umat-umat yang ada sebelum mereka telah mendustakan (Rasul). Maka perhatikanlah bagaimana akibat orang yang zalim.”
(QS. Yunus 10: Ayat 39)
Imam al Junaid al Baghdadi Ra pernah berkata: Aku setuju dengan pendapat mereka yang mengatakan, bahwa orang yang yang sedang berdzikir bisa sampai tidak merasakan tebasan pedang saat ia berdzikir, sampai kami sendiri menemukan kenyataannya seperti apa yang mereka katakan.
Rasulullah Saw bersabda,
مَنْ عَادَ لِي وَلِيًّا فَقَدْ أَذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ
“Sungguh Allah Swt berfirman, “Barangsiapa yang menyakiti waliku, maka Aku tabuh genderang perang dengannya.”
Sifat hasad pun bisa mengundang permusuhan dimana Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
اَمْ يَحْسُدُوْنَ النَّا سَ عَلٰى مَاۤ اٰتٰٮهُمُ اللّٰهُ مِنْ فَضْلِهٖ ۚ فَقَدْ اٰتَيْنَاۤ اٰلَ اِبْرٰهِيْمَ الْـكِتٰبَ وَا لْحِكْمَةَ وَاٰ تَيْنٰهُمْ مُّلْكًا عَظِيْمًا
am yahsuduunan-naasa ‘alaa maaa aataahumullohu ming fadhlih, fa qod aatainaaa aala ibroohiimal-kitaaba wal-hikmata wa aatainaahum mulkan ‘azhiimaa
“Ataukah mereka dengki kepada manusia (Muhammad) karena karunia yang telah diberikan Allah kepadanya? Sungguh, Kami telah memberikan kitab dan hikmah kepada keluarga Ibrahim, dan Kami telah memberikan kepada mereka kerajaan (kekuasaan) yang besar.”
(QS. An-Nisa’ 4: Ayat 54)
Berapa banyak orang beranggapan, bahwa para wali Allah adalah orang yang menampakkan diri dengan pakaian yang penuh kewibawaan dan kesahajaan seperti halnya Sidiqîn atau ia memiliki firasat dan beragam perbuatan di luar nalar manusia bisa menghilang dari kebanyakan orang, dimana taufiq dan kebahagiaan sebenarnya dari Allah Swt.
Sayyidi ‘Ali bin Abi Thalib Ra mengatakan, “Manusia itu adalah musuh dari apa yang mereka tidak ketahui.”
Syaikh Ali Khawas Ra berkata, “Berhati-hatilah kalian untuk tidak mengingkari salah seorang wali Allah kecuali setelah ber-tawajjuh kepada Rasulullah Saw agar terhindar dari hal tersebut, karena jika tidak demikian, maka bisa jadi keingkaran tersebut menyebabkan kehancuran diri kalian sendiri.”
Syaikh Abu al Hasan asy-Syadzili Ra pernah berkata, “Perkara yang wajib bagi seorang yang ingin mendekatkan diri kepada Allah Swt, para Rasul dan para wali-Nya: Hendaknya ia tidak mencari-cari kesalahan dan tidak mendebat perkataan mereka, akan tetapi menerima untuk diamalkan setiap perintahnya sebagai bentuk penerimaan seorang hamba yang shaleh dalam mengerjakan perintah Tuhannya.”
Syaikh Abdul Qadir al Jilani Ra juga pernah berkata, “Manusia yang paling berhak mendapatkan kemurkaan adalah orang ‘alim lagi durjana dan banyak mendebat, dia tidak melihat pada orang yang lain selain apa yang menjadi anggapannya, dia pun mengaku-ngaku, keinginannya hanyalah ketika ia berbicara semena-mena dan andai ia diam, dia pun panas (tidak puas dengan perkataan orang lain).”
Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad at-Tijany Ra juga pernah berkata, “Diantara tanda orang yang diusir dari hadhrah Allah, yaitu kulit dan kalbu mereka tidak tertarik untuk berdzikir pada Allah Swt.”
Ada beberapa orang menyebutkan pada beliau Ra, bahwa ada seorang ulama pada masa itu yang juga dipuji pernah mengatakan, “Tinggalkan kami, jangan kau sebut orang yang ditolak oleh Allah,” orang-orang pun berkata, “Wahai tuanku, bagaimana bisa demikian, dia adalah seorang ulama Islam.” Beliau Ra berkata, “Dia tidak memiliki ilmu kecuali namanya saja,” Bagaimana bisa begitu wahai tuanku? “Beliau Ra kembali menjawab, “Apakah kalian pernah melihat seorang yang cinta pada Allah Swt namun berat bagi dirinya untuk mengulang-ulang nama orang yang dicintai dan kalbunya merasa himpit apabila diperintahkan untuk itu?” Orang-orang menjawab lagi, “Tidak,” Beliau Ra melanjutkan, “Aku tidak mempersulit salah seorang dari mereka untuk mengatakan padanya, ‘Tinggalkan pelajaranmu dalam ilmu Nahwu dan bahasa atau pada beragam masalah yang engkau telah ketahui ragam dalilnya dari Al Qur’an dan As-Sunnah dan kemarilah untuk berzikir pada Allah satu jam saja, bukankah Allah Swt pernah bersabda dalam hadits Qudsi,
أَنَا جَلِيسُ مَنْ ذَكَرَنِي
“Aku adalah teman duduk orang yang mengingat-Ku.”
Banyak juga orang yang ragu dengan beragam perkataan metafora berikut:
سَلَّمْ لِلْخَاوِي تَنْجُ مِنَ الْعَامِرِ
“Serahkan diri pada kehampaan, engkau akan selamat dari keramaian.”
Dan perkataan:
كُنْ مَعَ شَيْخِكَ كَالْمَيِّتِ مَعَ غَسَّالِهِ يَفْعَلُ مَا يَشَاءُ
“Jadilah engkau bersama Syaikhmu seperti mayit dihadapan orang yang memandikannya, (sebab) ia bisa berbuat apapun padamu.”
