You dont have javascript enabled! Please enable it!
Elsubha menjamin Garansi 100% Uang Kembali jika barang yang diterima adalah PALSU

Catatan Berharga Sayyidi Syaikh Ahmad at-Tijany Ra : Surat Sayyidi Syaikh Ahmad Bin Muhammad At-Tijany Ra Tentang Ma’rifat Pada Allah Swt dan Mengobati Penyakit Jiwa

بسم الله الرحمن الرحيم اللهم صل على سيدنا محمد الفاتح لما أغلق والخاتم لما سبق ناصر الحق بالحق والهادي إلى صراطك المستقيم وعلى آله حق قدره ومقداره العظيم

Elsubha.com – Catatan Berharga Sayyidi Syaikh Ahmad at-Tijany Ra : Surat Sayyidi Syaikh Ahmad Bin Muhammad At-Tijany Ra Tentang Ma’rifat Pada Allah Swt dan Mengobati Penyakit Jiwa

Sayyidi Syaikh Ra setelah memuji Allah Swt dan mensucikan-Nya berkata: Semoga tulisan ini sampai kepada semua ikhwan yang berada di Fess dan Maghrib… Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, yang senantiasa menyertai kalian selagi kerajaan Allah Swt masih kokoh berdiri… Dari seorang hamba yang fakir pada Allah Swt; Ahmad bin Muhammad At Tijany Ra

Kami memohon pada Allah yang kemampuan-Nya dahsyat dan luhur kebesaran-Nya, agar Dia memandang kalian semua dengan pandangan cinta, ridha, mencurahkan perhatian kucuran keutamaan-Nya, yang berupa ishthifa` dan ijtiba, sehingga Dia tidak luputkan kalian dari kebaikan agama, dunia dan akhirat kecuali Dia datangi pada kalian dengan bagian yang besar; Semoga Dia pun tidak sisakan pada kalian satu dari beragam keburukan agama, dunia, dan akhirat, kecuali Dia pun jauhkan dan jaga kalian dari hal tersebut, sehingga tidak tersisa dosa-dosa kalian, baik yang kecil maupun yang besar, kecuali Dia tenggelamkan itu dalam lautan ampunan dan kemurahan-Nya, sehingga kalian pun tidak dipintai pertanggungjawaban akan dosa-dosa tersebut lantaran Dia telah memaafkan dan menghapusnya; Semoga Dia pun tidak meluputkan suatu hajat atau permintaan kalian (selagi tidak mengandung unsur maksiat pada Allah), kecuali Dia percepat pengkabulannya dan kuatkan kalian dengan pertolongan serta kekokohan jiwa dalam melampaui hal tersebut; (Andai perkara diatas sesuai dengan hukum-Nya yang berlaku).

Namun jika ini sesuai dengan hukum yang berlaku pada masa azali, kami pun memohon pada Allah Swt untuk menggantikan bagi kalian, dengan yang terbaik dan paling tinggi dari beragam perkara tersebut, sehingga Dia pun tidak luputkan satu dari ragam keburukan makhluk, kecuali Dia pun jadikan antara kalian dan ragam keburukan itu adanya pasukan dari sisi kehegemonian dan keperkasaan-Nya, ketika itu tidak berkaitan dengan takdir yang sudah tidak bisa dirubah pada masa azali. Andai toh itu pun berkaitan dengan takdir yang sudah ditetapkan pada masa azali, kami pun memohon pada Allah Swt agar memberikan lutuf maknawi pada kalian dengan beragam kemudahan, sehingga Dia tidak tinggalkan kalian kecuali dalam kondisi ‘afiyah (terjaga dari fitnah).

Aku pun berwasiat untuk kalian dan juga bagi diriku dengan takwa pada Allah Swt dengan senantiasa waspada dari beragam perbuatan dosa, karena sungguh setiap dosa itu mendatangkan dua musibah: Musibah pertama di dunia dan musibah yang lainnya akan terjadi di akhirat nanti, kecuali jika dosa-dosa tersebut dibalas oleh Allah dengan ampunan-Nya, dimana musibah dunia tetap berlaku pada setiap orang yang melakukan dosa kecuali ia menolaknya dengan apa yang sudah datang dari warid ilahi; yaitu bersedekah pada orang miskin atau menyambung tali silaturahmi dengan harta atau juga membayarkan hutang orang yang sedang terlilit akannya atau Allah pun memaafkan dosa tersebut. Jika tidak, maka musibah pun tetap akan terjadi padanya.

Berhati-hatilah dari menyelisihi perintah Allah. Jika engkau telah menyelisihi perintah-Nya (dimana hakikat seorang hamba tidaklah ma’sum), maka solusinya adalah segera bertobat dan kembali pada Allah Swt. Jika tidak, maka ketahuilah bahwa hamba tersebut telah jatuh dari pandangan Allah dan siap untuk mendapatkan kemurkaan-Nya, kecuali jika Allah mengkaruniakannya ampunan seraya kondisi (kesadaran) itu terus hadir dalam kalbunya, bahwa sungguh dia pun layak untuk mendapatkan hal itu dari Allah. Maka kondisi pecahnya kalbu secara terus-menerus dan (kesadaran) bahwa derajat dirinya turun dihadapan Allah tanpa dirinya tertipu. Selagi seorang hamba pada kondisi ini, maka dia pun ada pada kebaikan.

Berhati-hatilah kalian dan berlindunglah pada Allah Swt dari merasa aman terhadap makar-Nya Allah kala melakukan ragam dosa; yaitu dengan keyakinan bahwa hamba tersebut aman dari adzab-Nya pada waktu itu. Sungguh, jika sang hamba terus berada dalam gambaran tersebut (merasa aman dari adzab kala bermaksiat) dihadapan Allah, maka itu pertanda dia bisa mati dalam kondisi kafir. Wal ‘iyâdzu billah.

Terkait dengan apa yang pernah kalian dengar dari beragam kekhususan wiridan, maka itu benar adanya. Berhati-hatilah dan janganlah kalian lalai dari wiridan walaupun satu kali dalam seumur hidup. Dimana beragam syarat wiridan itu adalah dengan senantiasa menjaga shalat secara berjama’ah dan juga menjaga beragam perkara syariat. Berhati-hatilah kalian dari merasa aman terhadap murka-Nya Allah ketika melakukan dosa, karena sungguh itu merupakan inti dari kebinasaan.

Aku pun menekankan antara kalian untuk saling menziarahi karena Allah, saling menyambung silaturahmi karena Allah, saling memberikan makan karena Allah semampu kalian tanpa memberatkan. Hendaknya kalian juga bersabar terhadap ujian dan cobaan yang menimpa, karena sungguh dunia adalah tempatnya fitnah dan ujian, seperti halnya ombak di lautan. Tidaklah Allah Swt turunkan anak cucu Adam ke dunia kecuali untuk menghadapi beragam fitnah dan dan cobaan-Nya, maka tidak seorangpun anak keturunan nabi Adam yang bisa keluar dari cobaan ini selagi dia masih berada di dunia.

Tentu bersabar itu sesuai dengan kondisi ahwal-nya; seluruh manusia berdasar pada kadar ketaatan dan kemampuannya. Ketahuilah, bahwa pada diri kalian ada sisi hiburan ketika cobaan dan ujian menimpa salah seorang dari kalian. Ketahuilah pula, bahwa untuk itulah (diuji) dia diciptakan di dunia dan untuk inilah (kesabaran) manusia diciptakan. Seluruh manusia tenggelam di dunia, maka ketahuilah bahwa salah seorang diantara kalian pun berstatus sama dengan yang lainnya.

Ketahuilah, bahwa tidak ada seorangpun yang dapat terpisah dari beragam dosa pada zaman ini, sungguh dosa menyirami manusia seperti halnya air hujan yang deras, meski demikian kondisinya; perbanyaklah oleh kalian beragam hal-hal yang mampu menggugurkan dosa (mukaffirât adz-dzunûb). Terkait dengan itu, aku tekankan untuk senantiasa membaca shalawat Fatih, karena ia pun tidak akan menyisakan ragam dosa sedikitpun; (amalkan) juga seperti shalat tasbih atau yang semakna dengan shalat tersebut; (yaitu amalan) yang dapat dilazimkan seseorang setiap hari sebanyak 3 kali, yaitu bacaan:

اللَّهُمَّ مَغْفِرَتُكَ أَوْسَعُ مِنْ ذُنُوبِي وَرَحْمَتُكَ أَرْجَى عِنْدِي مِنْ عَمَلِي

“Ya Allah, ampunan-Mu lebih luas daripada dosa-dosaku dan rahmat-Mu lebih aku harapkan daripada amalanku. Begitu juga (amalan lain yang bisa engkau amalkan) sebagai tugas harianmu yang kaubaca sekali dalam sehari semalam yaitu bacaan,

لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ، لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ، لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيمِ

“Tiada ilâh yang patut disembah melainkan Allah; Allah Maha Besar; Tiada ilâh yang patut disembah melainkan Allah yang menyendiri dan tiada sekutu bagi-Nya; Tiada ilah yang patut disembah melainkan Allah, milik-Nya segala kerajaan dan pujaan; Tiada ilâh yang patut disembah melainkan Allah dan tiada daya dan upaya melainkan dengan (pertolongan) Allah yang Luhur nan Agung.”

Yang juga bisa diamalkan adalah, hizib saifi bagi orang yang telah hafal akannya. Juga bacaan istighfar (pelebur dosa) berikut:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْتَغْفِرُكَ لِمَا تُبْتُ إِلَيْكَ مِنْهُ ثُمَّ عُدْتُ فِيْهِ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا وَعَدْتُكَ مِنْ نَفْسِي ثُمَّ أَخْلَفْتُكَ فِيْهِ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا أَرَدْتُ بِهِ وَجْهَكَ فَخَالَطَنِي فِيْهِ مَا لَيْسَ لَكَ، وَ أَسْتَغْفِرُكَ لِلنِّعَمِ الَّتِي أَنْعَمْتَ بِمَا عَلَيَّ فَتَقَوَّيْتُ بِمَا عَلَى مَعَاصِيْكَ، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّوْمُ عَالِمٌ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيمُ، لِكُلِّ ذَنْبٍ أَذْنَبْتُهُ وَلِكُلِّ مَعْصِيَّةٍ ارْتَكَبْتُهَا وَلِكُلِّ ذَنْبٍ أَحَاطَ بِهِ عِلْمُ اللَّهُ

“Ya Allah sungguh aku meminta ampunan-Mu atas perkara yang aku bertobat darinya kemudian aku kembali padanya. akupun meminta ampunan dari-Mu atas apa yang telah kujanjikan pada diriku lalu aku langgar, akupun meminta ampunan-Mu atas perkara yang awalnya aku ingin peruntukkan wajah-Mu, kemudian kucampur adukkan dengan selain yang utuk-Mu. Akupun meminta ampunan-Mu atas ragam nikmat yang telah Kau berikan padaku dan kugunakan itu untuk berbuat maksiat terhadap-Mu, akupun memohon ampunan Allah yang tiada ilâh yang patut disembah melainkan Dia yang Maha Hidup lagi Maha Berdiri Sendiri, Dzat yang mengetahui alam ghaib dan nyata, Dialah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang atas setiap dosa yang telah kulakukan, atas setiap kemaksiatan yang kuperbuat dan atas setiap dosa yang dalam lingkup ilmunya Allah Swt.

Yang juga bisa diamalkan adalah do’a ya man azhara al jamil, redaksinya sebagai berikut:

يَا مَنْ أَظْهَرَ الْجَمِيْلَ، وَسَتَرَ الْقَبِيحَ، وَلَمْ يُؤَاخِذْ بِالْحَرِيرَةِ، وَلَمْ يَهْتِكِ السِّتْرَ، وَيَا عَظِيمَ الْعَفْوِ، وَيَا حَسَنَ التَّجَاوُزِ، وَيَا وَاسِعَ الْمَغْفِرَةِ، وَيَا بَاسِطَ الْيَدَيْنِ بِالرَّحْمَةِ، وَيَا سَامِعَ كُلِّ نَحْوَى، وَيَا مُنْتَهَى كُلِّ شَكْوَى، وَيَا كَرِيمَ الصَّفْحِ، وَيَا عَظِيمَ الْمَنِّ، وَيَا مُقِيلَ الْعَثَرَاتِ، وَيَا مُبْتَدِنَّا بِالنِّعَمِ قَبْلَ اسْتِحْقَاقِهَا، يَا رَبِّي وَيَا سَيِّدِي وَيَا مَوْلانَا وَيَا غَايَةَ رَغْبَتِي، أَسْأَلُكَ أَنْ لَا تُشَوِّهَ خِلْقَتِي بِبَلَاءِ الدُّنْيَا وَلَا بِعَذَابِ النَّارِ

“Wahai Dzat yang telah menampakkan keindahan, yang telah menutupi keburukan, yang tidak langsung membalas dosa yang dilakukan secara terang-terangan, yang tidak mengkoyakkan penutup dari aib yang ada, wahai Dzat yang memiliki ampunan yang agung, yang baik dalam memaafkan, wahai Dzat yang memiliki ampunan yang luas, wahai Dzat yang membentangkan kedua tangan-Nya dengan penuh rahmat, wahai Dzat yang mendengar setiap bisikan, wahai Dzat yang menjadi muara dari segala pengaduan, wahai Dzat yang mulia dalam memaafkan, wahai Dzat yang memiliki anugerah yang agung, wahai Dzat yang mampu menyedikitkan dosa, wahai Dzat yang memula pemberian ragam nikmat sebelum menentukan keberhaknya, wahai Rabbku, wahai Penghuluku, wahai Tuanku, wahai Dzat yang menjadi puncak kegandrunganku, aku memohon pada-Mu agar jangan Engkau burukkan fitrah penciptaanku dengan cobaan dunia dan tidak pula dengan adzab api neraka.”

Kemudian Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad at-Tijany Ra kembali melanjutkan perkataan beliau.. “Bergembiralah, sungguh setiap orang yang mencintai kami sampai meninggal dunia, ia akan dibangkitkan bersama golongan orang-orang yang aman bagaimanapun kondisinya; selagi ia tidak merasa aman dari makar Allah. Begitu juga orang yang telah mengambil wiridan kami, akan dibangkitkan bersama orang-orang yang aman; dia pun akan masuk surga tanpa hisab dan juga tanpa ‘iqab; dia, kedua orang tuanya, istri dan anak keturunannya yang terpisah darinya, selain cucu; tentu syaratnya adalah memiliki keyakinan yang kuat dan mahabbah-nya tidak luntur, serta tidak merasa aman dari makar Allah Swt, sebagaimana yang telah kami suguhkan di atas. Dia pun nanti akan berada di sisi Nabi Saw pada surga yang tertinggi dan tergolong orang-orang yang aman sejak kematiannya hingga masuk ke dalam surganya Allah Swt. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

(Selesai apa yang diimla kan oleh Sayyidi Syaikh Ra).

Sumber : BUKU NAFA `IS SUKAIRIJIYYAH (AN-NAFA `IS AS-SUKAIRIJIYYAH) SYAIKH AHMAD BIN AL ‘IYASY SUKAIRIJ AT-TIJANY