
Elsubha.com – Catatan Berharga Sayyidi Syaikh Ahmad at-Tijany Ra : Jawahir As-Sab’ah (7 Mutiara Kalbu)
Diantara perkara yang di-imla-kan oleh Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad at-Tijany Ra dalam majelis beliau adalah: Mutiara kalbu itu ada tujuh. Kalbu memiliki tujuh tempat penyimpanan, dimana setiap tempat penyimpanan itu menjadi tempat untuk setiap mutiara yang ada. Berikut ketujuh mutiara tersebut: Pertama, mutiara pertama adalah mutiara dzikir; Kedua, mutiara kedua adalah mutiara kerinduan; Ketiga, Mutiara ketiga adalah mutiara kecintaan pada Allah dan rindu pada-Nya; Keempat, mutiara keempat adalah mutiara rahasia Allah Swt; termasuk sisi ghaib yang tidak diketahui seluk beluknya; Kelima, mutiara kelima adalah mutiara ruh; Keenam, mutiara keenam adalah mutiara ma’rifat, dan Ketujuh, mutiara ketujuh adalah mutiara ke-faqiran.
Penjelasan mengenai ragam mutiara diatas adalah sebagai berikut:
Mutiara pertama adalah mutiara dzikir: Apabila mutiara ini terbuka didalam kalbu seorang hamba, niscaya hamba tersebut selamanya suka menyendiri dari manusia lainnya, sisi penyaksian jiwanya hilang, kondisi ini biasa dibahasakan dikalangan salikin dengan merasa terkejut dengan alam semesta dan tenangnya kalbu dengan dzikir pada Allah Swt.
Mutiara kedua adalah mutiara kerinduan pada Allah Swt: Yaitu kondisi seorang hamba yang senantiasa rindu dan merindu pada Allah Swt. Dia senantiasa minta kematian pada Allah Swt lantaran panasnya merindu yang dia alami.
Mutiara ketiga adalah mutiara kecintaan pada Allah Swt. Jika ini terbuka pada kalbu seorang hamba, maka hamba tadi selamanya akan ridha kepada Allah Swt dan ridha pula dengan segala hukum-Nya, serta akan lebih mendahulukan hukum Allah Swt daripada yang lainnya, bahkan jika pada suatu waktu terjadi perkara besar yang membinasakan, maka itu lebih ia pilih dibanding semua syahwat yang ada.
Mutiara keempat adalah mutiara sirr yang merupakan sisi ghaib-Nya Allah Swt yang tidak diketahui seluk beluknya. Hukum mutiara ini adalah seorang hamba pada kondisi ini tidak bergerak kecuali untuk Allah Swt, dia tidak tenang kecuali dengan Allah, dirinya tidak melakukan perkara yang dilarang syari’at lantaran dia sudah bersuci dengan sempurna.
Mutiara kelima adalah mutiara ruh; yaitu Allah ungkapkan padanya beragam hakekat dan seluk beluk sesuatu dengan kasyaf yang hakiki lagi dapat diindera, dimana secara global maupun terperinci tidak ada yang aneh dan nyeleh. Ini adalah kondisi datangnya ishtilâm yang bentuknya mabuk diri, tidak sadarkan diri dan terhapusnya jiwa.
Mutiara keenam adalah mutiara ma’rifat yang berupa keajekan seorang hamba dalam melakukan sesuatu antata hakekat Rububiyah dan hakekat Ubudiyyah. Pada mutiara inipun seorang hamba akan mengetahui segala hakekat dengan ragam hukum, tuntutan dan ragam perkara lazim pada hakekat tersebut. Ini adalah hadhrah al Baqa.
Mutiara ketujuh adalah mutiara ke-faqiran. Jika ini dibukakan pada seorang hamba, maka dia akan menyaksikan kebutuhan jiwanya pada Allah dan merasa sangat membutuhkan-Nya, sehingga dia pun tidak lagi terkejut dengan datangnya perkara antonim dari kefaqiran dirinya.
Orang yang bisa konsisten dengan ragam mutiara ini, niscaya dia akan menjadi hamba Allah Swt yang paling kaya dari segala sesuatu yang ada, dimana diapun tidak lagi mempedulikan semua makhluk yang ada, apakah manusia mencintainya atau malah membencinya, menerimanya atau menolaknya, hal ini lantaran kekayaan jiwanya yang sempurna pada Allah Swt. Orang yang bisa konsisten dengan mutiara ini, maka ia akan aman dari ketercabutan iman di hadhrah Allah Swt.
