
Elsubha.com – Dalil Syarat Terkabulnya Doa
وِفِي التَّرْمُذِي مِنْ حَدِيثِ النَّضْرِ بْنِ شُمَيْلِ عَنْ أَبِي قُرَّةٍ الْأَسَدِي عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيَّبِ عَنْ عُمَرَ بن الخطاب رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : إِنَّ الدُّعَاءَ مَوْقُوفٌ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ لَا يَصْعَدُ مِنْهُ شَيْءٌ حَتَّى تُصَلِّيَ عَلَى نَبِيِّكَ ( سنن الترمذي)
Sayidina Umar bin Khatthab telah meriwayatkan hadits dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabada: “Bahwasanya do’a dihentikan antara langit dan bumi, tidak diangkat darinya sesuatu kecuali engkau bershalawat atas nabimu shallallahu alaihi wasallam.”
Saudara saudariku yang tercinta. Banyak sekali orang-orang yang mengeluh dengan sebab tidak terkabulnya do’a-do’a mereka. Diantara mereka ada yang mengatakan sambil menyalahkan, “Bahwa amalan atau do’a yang mereka terima dan mereka amalkan itu tidak ampuh dan tidak mustajab”. Sementara ada orang lain yang meng amalkan amalan atau do’a yang sama, hanya dalam satu minggu sudah terlihat kabulnya dengan nyata. Ada pula yang hanya dalam waktu yang kurang dari satu bulan, bahkan ada yang hanya khatar hatinya yang bersenghaja sudah didengar dan dikabulkan Allah dalam waktu yang kurang dari satu jam. Bagi do’a ada syarat-syaratnya dan adab-adabnya supaya terkabul ketika di dunia disertai dengan dihindarkan Allah dari bencana yang sudah tertulis di Lauhil-mahfuzh dan akan dilihat pula kelak di dalam surga.
1. Di antaranya adalah pakaian yang dipakai dan makanan yang dimakan wajib halalnya dan jauh dari yang syubhat apakan lagi yang haram.
2. Harus sabar dan tidak boleh mendesak Allah untuk dicepatkan kabulnya, sebab berdo’a itu adalah ibadah yang dilakukan hanyalah untuk menjunjung perintah Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam.
3. Ikhlas dalam berdo’a dan tidak pernah putus asa apabila belum terlihat tanda-tanda bagi kabulnya.
4. Berdo’a di waktu-waktu, tempat-tempat mustajab serta ketika ia merasakan kedekatannya dengan Allah, seperti setelah azan dikumandangkan atau di waktu sujud, di waktu tengah malam dan setelah salam di setiap shalat didirikan.
5. Berdo’a dimulai dengan pujian kepada Allah dan shalawat atas nabi dan dengan menyebut nama-mama Allah yang Husna.
6. Memohon ampunan Allah sebelum berdo’a. seperti yang dicontohkan oleh nabi Sulaiman dan nabi kita Muhammad shallallahu alaihim wasallam.
Bertawassul dengan kekasih Allah nabi kita Muhammad shallallahu alaihi wasallam seperti yang telah dilajarkan oleh nabi dan dilakukan serta dicontohkan oleh para shahabat ridhwanullahi ‘alaihim.
Ada pertanyaan singkat dari saudara saudari yang meng inginkan do’anya cepat dikabulkan Allah subhanahu wa ta’ala. Pertanyaanya sebagai berikut, Mengapa Allah tidak mengabulkan do’a dan permintaan sebahagian hamba-Nya, bukankah Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman?
وَاِ ذَا سَاَ لَـكَ عِبَا دِيْ عَنِّيْ فَاِ نِّيْ قَرِيْبٌ ۗ اُجِيْبُ دَعْوَةَ الدَّا عِ اِذَا دَعَا نِ ۙ فَلْيَسْتَجِيْبُوْا لِيْ وَلْيُؤْمِنُوْا بِيْ لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُوْنَ
wa izaa sa-alaka ‘ibaadii ‘annii fa innii qoriib, ujiibu da’watad-daa’i izaa da’aani falyastajiibuu lii walyu-minuu bii la’allahum yarsyuduun
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Hendaklah mereka itu memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku agar mereka memperoleh kebenaran.”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 186)
Diantara Syarat diqabulkannya do’a adalah Makanan dan Minumannya halal, Pakaiannya halal dan tempat tinggalnya halal.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ لَا يَقْبَلُ إِلَّا طَيِّبًا وَإِنَّ اللَّهَ أَمَرَ الْمُؤْمِنِينَ بِمَا أَمَرَ بِهِ الْمُرْسَلِينَ فَقَالَ ( يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنْ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا إِنِّي بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ ) وَقَالَ ( يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ ) قَالَ وَذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَهُ إِلَى السَّمَاءِ يَا رَبِّ يَا رَبِّ وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِّيَ بِالْحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ (رواه مسلم
Dari Abu Hurairah ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Wahai sekalian manusia, sesungguh nya Allah Maha Baik dan hanya menerima yang baik, sesungguhnya Allah memerintahkan kaum mukminin seperti yang diperintahkan kepada para rasul, Dia ber firman: “Wahai para rasul, Makanlah dari yang baik-baik dan berbuatlah kebaikan, sesungguhnya Aku mengetahui yang kalian lakukan”. Dia juga berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, makanlah yang baik-baik dari rezeki yang Kuberikan padamu.” Lalu Beliau menyebutkan tentang orang yang memperlama perjalanannya, rambut nya acak-acakan dan berdebu, ia membentangkan tangan nya ke langit sambil berdo’a; “wahai Tuhanku, wahai Tuhanku”. sementara makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram dan diliputi dengan yang haram, lalu bagaimana akan dikabulkan do’anya.” (Riwayat Imam Muslim)
Apabila persyaratan persyaratan untuk dikabulkan do’a sudah lengkap, Allah pun mengabulkannya dengan 3 cara yang Dia kehendaki bukan sesuai dengan kehendak kita. Disebutkan dalam sebuah hadits riwayat Imam Ahmad.
عَنْ أَبِي سَعِيدٍ
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَدْعُو بِدَعْوَةٍ لَيْسَ فِيهَا إِثْمٌ وَلَا قَطِيعَ رَحِمٍ إِلَّا إِلَّا الا أَعْطَاهُ اللهُ بِهَا إِحْدَى ثَلَاثٍ إِمَّا إِمَّا أَنْ أ تُعَجِّلَ لَهُ دَعْوَتُهُ وَإِمَّا أَنْ يَدْخِرَهَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ وَإِمَّا أَنْ يَصْرِفَ عَنْهُ مِنْ السُّوءِ مِثْلَهَا قَالُوا إِذَا نُكْثِرُ قَالَ اللَّهُ أَكْثَرُ (مسند إمام احمد )
Dari Abu Sa’id (Al-Khudri) berkata; Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidaklah seorang muslim yang berdoa dengan doa yang tidak untuk keburukan dan tidak untuk memutus tali kekeluargaan, kecuali Allah akan memberinya tiga kemungkinan; doanya akan segera dibalas, akan ditunda sampai di akhirat, atau ia akan dijauhkan dari keburukan yang semisal”. Para sahabat bertanya, “Jika demikian kita minta y ang lebih banyak, “Beliau bersabda: “Allah memiliki yang lebih banyak.” (Musnad Imam Ahmad)
Bershalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak memerlukan syarat untuk dikabulkan dan mujarrab nya di dunia dan di akhirat tidak diragukan lagi serta pembacanya dihindarkan dari yang tidak disukai dengan izin Allah subhanahu wa ta’ala.
Inilah sebagian kecil dan yang terpenting di antara syarat-syarat dan adab-adab berdo’a. di dalam buku ini ter himpun segala macam do’a-do’a yang diperlukan bagi keperluan hidup di dunia dan akhirat serta agama dan permohonan pangkat dan kedudukan di sisi Allah dan di sisi hamba-hamba-Nya serta minta hindarkan dari segala sesuatu yang tidak disukai. Do’a-do’a ini dikemas oleh Syekh Muhammad bin Abdul-Wahid An-Nazhiifi dalam bentuk shalawat kepada nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, dan bagi shalawat sudah dima’lumi semua kepastian diterimanya sekalipun bagi pembacanya masih ada kekurangan syarat dan adabnya.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda: “Bahwasanya do’a dihentikan antara langit dan bumi, tidak diangkat darinya sesuatu kecuali engkau ber shalawat atas nabi shallallahu alaihi wasallam”. Shalawat ini disusun oleh Syekh Muhammad bin Abdul-Wahid An-Nazhiifi atas huruf-huruf hijaiyah yang terdiri dari dua puluh delapan (29) huruf dan dimulai dari huruf “alif” (hamzah) dan diakhiri dengan huruf “ya”, dan disebutkan pada setiap hurufnya “sebelas” bintang melainkan huruf “ya” ada “tujuh” bintang yang sinarannya sangat memancar sehingga diulang-ulangi kesemua huruf-huruf nya atas jumlah ahli Badar dan jumlah nama junjungan kita nabi Muhammad atas jumlah yang besar yaitu Tiga Ratus Lima Belas (315) dalam riwayat. Dan diterbitkan dengan beberapa shigat yang diantaranya diterima dari para shahabat Abi-Faidh Ahmad bin Muhammad At-Tijani Al-Hasani semoga Allah selalu mencurahkan ridha-Nya kepada beliau dan kepada kita sekalian dengan ridha yang abadi dan semoga Allah memberi manfa’at akan ini kitab akan manfa’at yang luas bagi pengarang, penulis dan pembacanya beserta semua anggota keluarganya di dunia dan di akhirat kelak dengan pangkat junjungan kita nabi yang agung Muhammad ‘alaihi wa afdhalush Shalati wa atammut Taslim dan dengan pangkat kedudukan Al-Quthbul Maktum wal Khatmil Muhammadiyil ma’luum Abil-Faidh Syaikhuna Ahmad bin Muhammad At-Tijani radhiallahu ‘anhu wa ‘anna bihi amin Allahumma amin.
Mengamalkan shalawat dengan rutin sudah kita ketahui semua fadhilatnya yang sangat banyak. Andai saja bagi membaca shalawat tidak ada kelebihannya selain yang disebutkan oleh lisan nabi kita yang mulia.
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرُو بْنِ الْعَاصِ ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ يَقُولُ: مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلاةً، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا (رواه مسلم)
Dari Abdallah bin Amr bin ‘Ash radhiallahu ‘anhuma bahwasanya ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Siapa yang bershalawat kepadaku satu kali niscaya Allah bershalawat kepadanya dengan sebab shalawatnya itu 10 kali”(Shahih Muslim)
وَعَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ قَالَ: أَوْلَى النَّاسِ بِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَكْثَرُهُمْ عَلَيَّ صَلاةٌ (رواه الترمذي)
Dari Abdallah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “orang yang paling utama denganku pada hari kiamat adalah orang yang paling banyak mereka bershalawat atasku”. (Sunan At-Tirmidzi)
وَعَنْ أَوْسِ بْنِ أَوْسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ : إِنَّ مِنْ أَفْضَلِ أَيَّامِكُمْ يَوْمَ الجُمُعَةِ فِيهِ خُلِقَ آدَمُ وَفِيهِ قُبِضَ وَفِيهِ النَّفْخَةُ وَفِيهِ الصَّعْقَةُ فَأَكْثِرُوا عَلَيَّ مِنَ الصلاةِ فِيهِ، فَإِنَّ صَلَاتَكُمْ مَعْرُوضَةً عَلَيَّ فَقَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ، وَكَيْفَ تُعْرَضُ صَلَاتُنَا عَلَيْكَ وَقَدْ أَرِمْتَ ؟
قَالَ: يَقُولُ: بَلِيْتَ، قَالَ: إِنَّ اللَّهَ حَرَّمَ عَلَى الأَرْضِ أَجْسَادَ الْأَنْبِيَاءِ. (رواه أبو داود)
Dari Aus bin Aus radhiallahu ‘anhu bahwasanya ia berkata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Bahwa sanya hari hari kamu yang paling mempunyai kelebihan adalah hari Jum’at. Karena pada hari Jum’at itu Adam diciptakan dan pada hari itu beliau wafat, pada hari itu juga ditiup (sangkakala) dan pada hari itu juga mereka pingsan. Maka perbanyaklah shalawat kepadaku, karena shalawat kalian akan disampaikan kepadaku.” Aus bin Aus berkata; para sahabat bertanya; “Ya Rasulullah, bagai mana mungkin shalawat kami bisa disampaikan kepada mu, sementara Tuan telah tiada (meninggal)? -atau mereka berkata; “Telah hancur (menjadi tulang)”- Beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla telah meng haramkan bumi untuk memakan jasad para nabi”.
Andaisaja tidak ada fadhilat bagi membaca shalawat selain Allah bershalawat kepada orang yang bershalawat kepada kekasih-Nya Muhammad tentu satu kali shalawat Allah sudah melebihi semua kelebihan dan keutamaan membaca shalawat dan sebagai nilai tambah dari Allah. Membaca shalawat atas nabi bukan masalah pahala yang didapat akan tetapi shalawat Allah lah yang dimaksud. Karenanya, perbanyaklah membaca shalawat dan berniat lah dalam hati untuk memurnikan beribadah karena Allah dan mendekatkan diri kepada-Nya dan kepada kekasih-Nya nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, dan termasuk “Berdo’a Dalam Shalawat” berniatlah karena menjunjung perintah-Nya dan menampakkan kehambaan kita dihadapan keagungan dan kemuliaan-Nya. Alhamdulillah kita semua telah dibimbing oleh Sayiduna Syekh Ahmad At-Tijani radhiallah ‘anhu dengan banyak bershalawat yang didalamnya ada dua huruf alif dan huruf lam آل yang diambil dari kalimat,
وعلى آله حق قدره ومقداره العظيم
Dua huruf ini artinya keluarga Rasulullah. Dan dua huruf ini sebesar besar tanda kita mencintai keluarga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
Selamat Mengamalkan
Wahai saudara saudariku di jalan Allah.
Hadirkanlah selalu kekasih Allah yang kamu ber- shalawat untuknya di dalam hati dan jiwamu.
Jangan lupa menghaturkan Al-Fatihah dan Al-Fatih untuk Beliau dan untuk Syaikhuna Ahmad At-Tijani dan juga pengarang serta al-faqir yang menulis menterjemahkan dan mengijazahkan shalawat ini kepada ikhwan akhawat sekalian.
Selamat Mengamalkan
Saudaramu Di Jalan Allah Dan Rasul-Nya
Ahmad Anshari Bin Haji Hasan Basri
الطَّيْبُ الْفَائِحُ وَالْوِرْدُ السَّائِحُ فِي صَلَاةِ الْفَاتِحِ
Minyak Yang Harum Semerbak Wirid Yang Berkelana Jauh, Pada Shalawat Pembuka Segala Kebaikan
