You dont have javascript enabled! Please enable it!
Elsubha menjamin Garansi 100% Uang Kembali jika barang yang diterima adalah PALSU

Doa untuk Nabi ﷺ

بسم الله الرحمن الرحيم اللهم صل على سيدنا محمد الفاتح لما أغلق والخاتم لما سبق ناصر الحق بالحق والهادي إلى صراطك المستقيم وعلى آله حق قدره ومقداره العظيم

Elsubha.com – [Kutipan dari Zachary Wright, On the Path of the Prophet ﷺ: Shaykh Ahmad Tijani and the Tariqa Muhammadiyya ﷺ (Atlanta: African American Islamic Institute, 2005), hlm. 104-108. Beberapa bagian telah disunting untuk keperluan situs ini dan direproduksi dengan izin dari penerbit.]


Syaikh Ahmad Tijani khususnya sangat memperhatikan penjelasan tentang manfaat shalat untuk Nabi ﷺ, yang beliau nyatakan sebagai bentuk ibadah sunnah yang terbaik.1 Beliau menjelaskan lebih lanjut

Adapun orang yang tekun dalam salat untuk Nabi ﷺ -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, sekalipun ditimpakan kepadanya semua dosa yang dilakukan oleh seluruh penduduk bumi, dan dosa-dosa itu terus bertambah tanpa henti sejak dunia diciptakan hingga akhir zaman, niscaya Allah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- akan mengampuni dosa-dosanya itu di lautan ampunan-Nya dan karunia-Nya. 2

Penekanan Syaikh Ahmad Tijani untuk mengirimkan shalawat kepada Nabi ﷺ tidak luput dari perhatian para ulama Tijani di kemudian hari. Muhammad al-‘Arabi bin Sa’ih mengemukakan praktik tersebut sebagai salah satu alasan utama mengapa Tijaniyya disebut Tariqa Muhammadiyya ﷺ: “Poros yang menjadi pusat kedatangan (suluk) dalam Tariqa Muhammadiyya ﷺ kita adalah mengirimkan banyak shalawat dan salam kepada Rasulullah … dan ini dilakukan sambil mengharapkan kehadiran wajah mulia beliau.” Menurut Ibn Sa’ih, mengirimkan shalawat kepada Nabi ﷺ memberikan calon Tijani kemampuan untuk benar-benar bersama Nabi ﷺ. Pertama, calon akan memikirkan Nabi ﷺ saat mengirimkan shalawat kepadanya, kemudian ia akan memvisualisasikannya di depan matanya saat mengirimkan shalawat kepadanya. Selanjutnya, Nabi ﷺ akan terus hadir kepadanya, baik saat tidur maupun terjaga, di “mata hatinya.” Akhirnya, orang yang berhasrat akan melihat Nabi ﷺ dengan mata kepalanya sendiri, dalam keadaan terjaga. Kelompok terakhir ini terbagi menjadi dua, mereka yang merasakan ruh Nabi ﷺ, dan mereka yang melihat “realitas pribadinya (dhat), seolah-olah mereka bersamanya dalam kehidupannya.” Dengan kata lain, salat ‘ala-nabiyy dalam Tariqa Muhammadiyya ﷺ Tijaniyya dimaksudkan untuk menghubungkan semua orang yang berhasrat dengan kehadiran Nabi Muhammad ﷺ yang sebenarnya.

Syaikh Ahmad Tijani sangat ingin menyebutkan, berdasarkan apa yang telah disampaikan Nabi ﷺ kepadanya, manfaat-manfaat Salat al-Fatih. Diturunkan pada selembar cahaya kepada Muhammad al-Bakri (w. 1545) saat ia sedang berzikir di dalam Kakbah untuk mencari cara terbaik untuk mengirimkan shalawat kepada Nabi ﷺ, doa ini “setara dengan pembacaan semua doa pemuliaan kepada Tuhan (tasbih) yang pernah diucapkan di alam semesta, semua doa Sufi atau dzikir, setiap doa (doa) yang panjang atau pendek…”3 Naskah doa tersebut adalah sebagai berikut:

Ya Allah, limpahkanlah rahmat kepada junjungan kami Muhammad, yang telah membuka apa yang tertutup, yang telah menutup apa yang telah lalu , penolong kebenaran di jalan kebenaran, pemberi petunjuk ke jalan-Mu yang lurus, dan atas keluarganya, semoga doa ini setara dengan kedudukan dan keagungannya.

Nilai doa ini tampaknya sebagian besar didasarkan pada keyakinan akan asal-usulnya yang Ilahi dan karena deskripsinya tentang Haqiqa Muhammadiyya ﷺ, cahaya yang dengannya Tuhan “membuka,” atau membawa ciptaan dari ketiadaan menjadi ada. 5

Para reformis Salafi terkemuka terkadang menafsirkan kecintaan orang Tijani terhadap Salat al-Fatih di luar konteks untuk mengklaim bahwa orang Tijani percaya bahwa salat ini lebih baik daripada membaca Al-Qur’an atau ibadah wajib lainnya dalam Islam. Pernyataan yang paling sering dikutip dalam hal ini adalah pernyataan dalam Jawahir al-Ma’ani bahwa satu kali bacaan salat untuk Nabi ﷺ yang disebut Salat al-Fatih setara dengan membaca Al-Qur’an enam ribu kali. Tentu saja argumennya adalah bahwa Al-Qur’an, sebagai firman Tuhan, lebih baik daripada salat apa pun yang dibuat oleh manusia.

Penting untuk mengontekstualisasikan pernyataan di atas tentang Salat al-Fatih dengan perspektif Syaikh Ahmad Tijani sendiri tentang Al-Qur’an dari Jawahir. Secara umum, tampak bahwa banyak pernyataan Syaikh yang tercatat dalam Jawahir berkaitan dengan uraian tentang karunia Allah yang terkait dengan pahala khusus untuk pembacaan doa atau ayat-ayat Al-Qur’an tertentu. Misalnya, ia mengatakan bahwa setiap surat Al-Qur’an mengandung pahala semua doa ciptaan lainnya. Ada beberapa surat, seperti al-Fatihah (Pembukaan), al-Qadr (Malam Kemuliaan) dan al-Ikhlas (Iman Murni), yang ia beri bobot khusus, sering mengutip Hadits. Membaca Surat al-Ikhlas 100.000 kali, misalnya, akan melindungi seseorang dari api Neraka. Meskipun ia sering mengutip hadits yang diketahui, ia menekankan bahwa pengetahuan tentang manfaat besar dari ayat-ayat tertentu ini diperoleh langsung dari Nabi ﷺ dalam penglihatan yang terjaga. Dan beliau tidak hanya berbicara tentang kemaslahatan Al-Qur’an saja, akan tetapi beliau juga menguraikan tentang pahala mengulang-ulang kalimat syahadat, shalat fardhu, shalat malam, dzikir, puasa, dan bersedekah, dan sebagainya.

Meskipun Salat al-Fatih memiliki nilai yang besar, Syaikh Ahmad Tijani menegaskan bahwa salat ini tidak dimaksudkan untuk menggantikan bacaan Al-Qur’an. Salat untuk Nabi ﷺ merupakan sunnah, sedangkan bacaan Al-Qur’an adalah wajib. Meninggalkan bacaan Al-Qur’an, yang merupakan dasar syariat, berarti mendatangkan murka Allah, sedangkan Salat al-Fatih dapat ditinggalkan atau diambil sesuai keinginan orang tersebut. 6 Hubungan ini selanjutnya dikontekstualisasikan oleh uraian Syaikh Ahmad Tijani tentang manfaat menyebut nama Allah yang paling agung. Mengucapkan nama ini sekali saja sama dengan satu kali membaca surat pembuka Al-Qur’an (al-Fatihah), satu kali membaca Al-Qur’an secara keseluruhan atau mengucapkan Salat al-Fatih sebanyak 6.000 kali. 7 Implikasinya, sebagaimana telah ditunjukkan oleh banyak ahli Tijani di kemudian hari, 8 membaca Al-Fatih atau keseluruhan Al-Qur’an adalah 6.000 kali lebih besar daripada Salat al-Fatih.

Bagaimanapun, tegas Syaikh Hassan, memang benar tidak ada yang lebih baik dari Al-Qur’an, tetapi dalam konteks hamba Allah yang penuh kesalahan, terkadang lebih baik baginya untuk mengucapkan doa dalam bentuk apa pun kepada Nabi ﷺ daripada membaca Al-Qur’an. Ini karena Al-Qur’an, menurut Hadits, dapat mengutuk pembacanya jika ia tidak mematuhi perintahnya untuk tidak berzina, mencuri, berbohong, menggunjing, dll., sedangkan tidak ada Hadits yang menyatakan bahwa seseorang dapat mengirimkan doa kepada Nabi ﷺ dan mengutuknya. Sebaliknya, satu Hadits menyatakan bahwa Allah mengirimkan sepuluh doa kepada seseorang untuk setiap satu doa yang Ia kirimkan kepada Nabi. 9 Pendapat serupa sebenarnya diungkapkan oleh Syaikh Ahmad Tijani sendiri, yang menggambarkan dua kelas pembaca Al-Qur’an, satu yang mengamalkan apa yang mereka baca dan yang lain yang tidak. Bagi mereka yang pertama, Al-Qur’an adalah yang terbaik bagi mereka, sedangkan bagi mereka yang kedua, salat atas Nabi ﷺ lebih bermanfaat. 10

Tuduhan terhadap Tijaniyya dalam hal ini bersumber dari kecenderungan umum kaum polemis untuk mengutip musuh-musuhnya di luar konteks, alih-alih meneliti gagasan dan tindakan para ulama Tijani sendiri. Kaum Tijani merupakan beberapa pendukung utama hafalan, pembacaan, dan penafsiran Al-Qur’an di mana pun mereka tinggal. Syaikh Ahmad Tijani sendiri mendesak para pengikutnya untuk membaca dua hizb (1/30) Al-Qur’an setiap hari. 11 Sahabat Syaikh, Ibrahim Riyahi, dilaporkan biasa meminta kaum Tijani untuk membaca dalam jumlah yang sama. 12 Syaikh Ibrahim Niasse juga biasa meminta para pengikutnya untuk membaca dua hizb Al-Qur’an sehari, dan ia sendiri biasa membaca seluruh Al-Qur’an dua kali setiap minggu, sekali dengan membaca dan sekali dengan menghafal. 13

1 Jawahir, hal. 64. Hal ini mengingatkan kita pada beberapa hadis, seperti yang diriwayatkan oleh Ibnu Mas’ud dan terdapat dalam al-Tirmidzi, “Orang-orang yang paling dekat denganku pada Hari Kiamat adalah mereka yang paling banyak mendoakanku,” atau yang diriwayatkan oleh Ubayy ibn Ka’b dan terdapat dalam al-Tirmidzi di mana Nabi mendesak Ubayy untuk menghabiskan seluruh waktu shalatnya dengan mengucapkan shalawat kepadanya. Lihat Qadi Iyad ibn Musa, Ash-Shifa (terjemahan Aisha Bewley, Muhammad Messenger of Allah, Granada: Medinah Press, 1991), hlm. 259-260.

2 Jawahir, dikutip dalam Triaud, “La Tijaniyya, voie infaillible,” hlm. 180.

3 Jawahir, hlm. 57.

4 Sebagaimana telah dicatat oleh Tijanis, teks doa ini sangat mirip dengan doa tentang Nabi yang ditulis oleh Ali bin Abi Thalib. Lihat Sheikh Abubakar Abayawo, Toriqat Tijaniyat: jalan Allah dan Rasul-Nya dari Al-Qur’an Suci dan tradisi Nabi (SAW) (Ilorin, Nigeria, tanggal tidak diketahui), hlm. 42-43. Shaykh Abayawo mengutip dari Ibn Kathir, Tafsir, jilid iii, hlm. 510.

5 Jawahir, hlm. 60; Kitab al-Jami’, b. I, hlm. 41

6 Jawahir, hlm. 59.

7 Jawahir, hlm. 32.

8 Wawancara dengan Abdelaziz Benabdellah, Rabat, Maroko, Oktober 2002.

9 Wawancara dengan Syekh Hassan Cisse, Medina Kaolack, Senegal, November 2002, dan Februari 2003.

10 Kitab al-Jami’, b. I, hal. 50-51

11 Ifadat al-Ahmadiyya, hal. 28. Lihat juga Syekh Ibrahim Niasse, Kashf al-‘Ilbas, hal. 84-85, untuk pembahasan tentang rasa hormat Syekh Ahmad Tijani yang besar terhadap Al-Qur’an.

12 Benabdellah, La Tijania, hal. 45.

13 Syekh Ibrahim Niasse, “Lumières sur la Tijaniyya,” hal. 5. Juga wawancara dengan Syekh Hassan Cisse, Medina Kaolack, Senegal, Agustus 1997.

Sumber : https://tijani.org/teachings/prayer-on-the-prophet